
Arin melihat sekelilingnya dan mencari keberadaan tempat kendaraan Steve yang berperut buncit terparkir.
"Mana mobilnya?" Tanya Arin.
"Mobil? Aku naik sepeda motor, ayo naiklah. Ini gunakan helmnya," ajak Steve buncit sekaligus menyerahkan helm ke tangan Arin.
Arin menerima helm itu seraya menarik bibir atasnya miring ke atas. Dan bibir bagian bawah ditarik miring ke bawah berlawanan dengan arah bibir yang atas.
"Astaga bau banget helmnya, iyuuuh rambut aku bisa ikutan bau," batin Arin.
"Aku gak mau pake, emangnya pagi-pagi gini tuh kita mau kemana?" Tanya Arin.
"Harus pake demi keselamatan. Bukannya kamu yang ngajak pergi pagi-pagi," jawab Steve.
"Ya tapi gak pake seragam polisi kayak kamu, pakaian aku santai sporty kita bisa jalan-jalan pagi. Tapi kamu ....," ucap Arin yang sengaja tidak meneruskan perkataannya.
"Ya sudah kita cari sarapan aja ya," ucap Steve
"Hem ya sudah cari yang deket rumah," jawab Arin yang kemudian naik ke atas motor tetapi tidak memakai helmnya.
"Helmnya pakai dong,"
"No, the helmet stinks," ucap Arin yang menggunakan bahasa Inggris yang artinya, 'Tidak, helmnya bau,"
__ADS_1
Steve yang berperut buncit sedikit malu dengan ucapan Arin, ia pun hanya diam. Pria itu berhenti di depan warung makan pinggir jalan yang terlihat sepi, akibat teror drakula yang melanda kotanya.
"Pinggir jalan?" Tanya Arin yang tidak terbiasa dengan makan makanan di pinggir jalan.
"Ya, kenapa? Makanan di sini enak, biasanya tempat ini rame tetapi karena ada teror drakula ...," ucapan Steve terhenti karena Arin menyelanya.
"Stop, aku tidak mau makan disini, ini bukan gaya aku. Aku Arin tidak akan pernah makan di tempat kotor seperti ini," ucap Arin dengan nada tinggi seraya membuang helm ke bawah yang sedari tadi hanya dipegangnya.
Ucapan Arin terdengar oleh penjual makanan disitu lantas ia tersulut emosi, dia tidak terima tempatnya dikatakan kotor. Karena satu ucapan buruk akan membuat konsumen yang belum pernah mencoba makanan ditempat itu akan langsung bernilai negatif.
"Heh kalau punya mulut itu dijaga ya? Jangan sembarang mengatai! Saya masaknnya disini bisa, bahan makanan yang belum di olah juga bisa Anda lihat. Anda bisa lihat ketika saya memasak! Lalu Anda cicipi dahulu baru boleh berkomentar!" Seru si penjual yang berkata dengan nada tinggi juga.
"Hhh whatever," ucap Arin yang kemudian pergi.
Ngueeeeeeng.
Sebuah kendaraan mobil melintas dengan sangat kencang, Arin terbelalak menatap kendaraan itu, untung saja Steve buncit menariknya dan jatuh ke pelukannya. Jika terlambat sedetik saja mungkin Arin sudah tertabrak.
"Untung aku bisa menarikmu dengan cepat,"
Arin melepaskan dirinya yang terjatuh ke pelukan pria buncit itu. Sembari membersihkan dirinya. "Kalau mau nolong jangan pake peluk-peluk segala! Huh menyebalkan, tapi thanks ya," ucap Arin yang kemudian melangkah pergi.
"Aku tahu kamu orang berada dan akan malu jika makan di pinggir jalan. Tapi tidak seharusnya kamu mengatai penjual itu. Ayo naik motor, Aku akan mengantarmu pulang," ucap Steve buncit yang masih berbaik hati kepada Arin.
__ADS_1
"Hemm males banget naik motor itu, tapi ketimbang aku jalan?" gumamnya yang kemudian berbalik dan menerima tawaran Steve.
"Aduuh," keluh Arin seraya memegang perutnya.
"Perutmu sakit?" Tanya Steve.
"Iya sepertinya, bisa antarkan aku ke apotik terdekat?" Ucap Arin yang kemudian dituruti Steve.
Sampailah mereka di apotek, Steve menunggunya di luar karena Arin yang meminta. Tentu saja Arin ingin membeli alat tes kehamilan dan tidak ingin orang lain tahu. Setelah itu mereka pulang.
"Cepat sekali pulang?" Tanya Dona sembari tertawa kecil.
"Bukan urusanmu," ucap Arin dan kemudian bergegas ke kamar.
Arin segera ke toilet kamar untuk mengecek alat tes kehamilan yang baru saja dibelinya. Arin tak berani menatap hasil itu namun perlahan matanya terbuka dan kedua bola matanya membulat besar.
Arin hamil, tentu saja ayah dari anak yang dikandungnya adalah Rey. Lututnya melemas dan tubuhnya bergetar seraya tak percaya karena selama ini mereka melakukannya dengan pengaman.
Wanita itu segera meraih ponselnya dan menelepon Rey. Pria yang menamparnya semalam dan memutuskan hubungannya, akankah Rey akan mengangkat ponselnya saat itu juga?
Tut...Tut... Tut.
"Rey angkat," gumam Arin yang mendengar suara tersambung kemudian beralih ke nada sibuk karena Rey langsung mematikan ponselnya.
__ADS_1
"Arghh," ucap Arin seraya melempat ponselnya ke ranjang. Ia kesal karena berkali-kali ia menelepon, Rey tak kunjung mengangkatnya.