Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Dendam Lidah Belati


__ADS_3

"Aku memang tidak sempurna Arin, tapi kau terus menghinaku saat pertama kali kita bertemu. Apa kurang ku? Hah?" Hardik Steve yang berperut buncit.


Pria itu memiliki dendam pada Arin. Ia pun menyelinap masuk dan mencoba membunuh Arin dengan menenggelamkannya di bath up. Ia terus menekan kepala itu dan tidak memberikannya kesempatan bernapas. Masih teringat jelas di kepalanya yang kini menggila dipenuhi dendam karena sakit hati.


Flashback On


Saat Arin pergi dengan Steve seorang polisi berperut buncit dan jerawatan. Arin menolak makan dipinggir jalan, setelah itu ia meminta Steve mengantarkan ke apotek. Steve buncit dengan senang hati mengantarkannya ke apotek dan juga pulang ke rumahnya.


Namun Arin terus menusuknya dengan ucapan kasar lidah nya bagaikan belati, wanita itu berkata, "Setelah ini kita jangan bertemu lagi. Aku salah orang karena yang ingin ku temui adalah Steve yang lebih tampan dari mu dan berperut sixpack bukan yang buncit seperti mu. Selain itu wajahmu yang jerawatan membuatku bergidik ngeri melihatnya,". Ucapan itu membuat Steve buncit marah di buatnya.


"Jika aku bertemu lagi denganmu, lebih baik aku mati saja," ucap Arin.


Flashback Off


"Ini permintaan mu sendiri, kau yang menginginkan kematian itu kan, hahaa...." gumam Steve buncit.


Seketika Lee datang, bukan karena panggilan dari Arin melainkan pria itu memang berniat mendatangi Arin. Ada sesuatu yang ingin ia katakan. Namun Lee malah mendapatkan bayangan jika Arin dalam bahaya.


Lee menendang Steve buncit hingga pria itu melepaskan kepala Arin yang sedari tadi ia celupkan ke dalam air. Arin sudah tak berdaya, ia telah pingsan di dalam bath up.


Tak berapa lama Liana datang menyusul di temani oleh Tuan D, karena panggilan dari Lee lewat telepati mereka. Lee mengangkat tubuh Steve buncit pada bagian lehernya hingga ia tercekik.


"Kak Arin!" Pekik Liana seraya mengambil handuk dekat bath up dan membawanya ke ranjang.


"Dia masih hidup," ucap Tuan D seraya mengeluarkan air yang terhirup masuk ke dalam paru-paru dengan kekuatannya


"Kau berniat membunuhnya, akan ku bunuh kau lebih dulu!" Hardik Lee yang berniat ingin menyedot habis darah orang itu.


"Lee, kau tak bisa sembarangan minum darah manusia tanpa ijin ku," ujar Tuan D


"Ku mohon ijinkan Aku, Raja," ucap Lee yang masih mengangkat tubuh pria itu yang kaku dan tak bisa bergerak, apalagi berucap.


"Tidak, serahkan saja pada polisi. Dia juga polisi pasti tahu akan hukumnya," sahut Tuan D.


Lee kemudian melepaskan Steve buncit dan menjatuhkannya dengan sangat keras. Pria itu terjerembab ke bawah hingga kepalanya terbentur lantai kamar mandi. Pria itu berdarah namun tidak mati ataupun pingsan.


"Lee, tahanlah emosi mu," titah Tuan D yang mencium aroma pembunuhan dari pikiran Lee.

__ADS_1


Liana mengeringkan tubuh Arin dengan kekuatan magis yang baru saja ia dapat serta memakaikan pakaian kering padanya.


"Kak Arin," panggil Liana seraya menepuk pipi Arin.


Yuan Ye mendengar keributan dari kamar Arin, ia pun naik ke atas. Tak hanya Yuan Ye, Kakek dan Nenek juga ikut memperhatikan dari bawah tetapi mereka tidak bisa naik ke atas. Sementara Raline, Dona dan Doni menyusul ke kamar Arin.


"Ada apa sih suaranya rame banget," seru Dona


"Mengganggu konsentrasi ku nih, jangan berisik dong lagi turnamen nih!" seru Doni yang ikut keluar dari kamarnya.


"Hah pikiran mu selalu game dan game saja, sudah tua juga," ujar Raline.


"Tante game itu bikin orang awet muda," ujar Doni


"Ada apa ini," Tanya Yuan Ye yang langsung membuka pintu kamar Arin


"Ayah.... dia mau mencoba membunuh kak Arin. Dia menenggelamkan kepala kak Arin saat mandi di bath up," jelas Liana


"Kalau begitu keluarkan airnya dengan melakukan CPR," seru Yuan Ye


"Air sudah sudah di keluarkan namun...." ucapan Liana terhenti


Liana menghamburkan dirinya memeluk Arin, "Kak...kau baik-baik saja kan?" Tanya Liana cemas.


"Aku pikir aku telah mati,"


"Kalau kau mati aku tidak punya teman untuk di cibir lagi," sahut Dona yang berdiri di pintu kamar.


"Ahh kalah kan...," seru Doni dan semua mata tertuju padanya, sebuah pukulan dari Raline mendarat di lengannya.


"Kau ini serius lah jika keluarga mu terkena musibah," ucap Raline.


"Sayang kalau ada yang sakit bilang ya, nanti kita periksa ke dokter," ucap Raline.


"Kau... bukankah kau seorang polisi yang pernah kemari itu kan? Lantas apa motifmu membunuhnya, hah?" Hardik Yuan Ye dengan sedikit marah.


Pria itu tidak bisa berucap karena Lee mengunci mulutnya, Tuan D menatap Lee dengan tatapan tajamnya. Pria itu menyuruh Lee untuk melepaskan kekuatannya hingga Steve buncit bisa bergerak dan berbicara.

__ADS_1


Swoooooshhhh


Steve buncit kembali bergerak, pria itu sedikit ketakutan melihat Lee yang mengeluarkan taringnya.


"Ka-kalian siapa!" serunya


"Dia pantas di lenyapkan karena ucapannya sangat tajam, lidahnya tidak bisa mengerem mana ucapan yang baik dan buruk. Cantik tapi busuk hatinya, cuih," seru Steve buncit.


Arin tertunduk malu, memang benar yang pria itu katakan. Dia juga tidak tahu kenapa mulutnya sejahat itu. Hati orang siapa yang tahu.


"Mungkin Dia memang menyakiti hatimu dengan ucapannya, tapi bukan berarti kau bisa menghilangkan nyawa seseorang!" pekik Yuan Ye.


"Aku minta maaf Steve jika saat itu aku menyakiti hatimu. Tapi saat itu aku stress memikirkan masalah ku yang baru saja bertunangan dan putus di hari itu juga. Lalu saat diketahui jika aku hamil. Tunangan ku itu tak mau bertanggung jawab, hiks.... dia juga menuduh ku, jika aku melakukannya dengan pria lain juga. Aku...aku ...hiks...Aku minta maaf, jika kau menjadi sasaran kemarahan ku," ujar Arin.


"Hah kau hamil? Pantas saja kau terburu-buru ingin bertemu dengan ku dan ingin kencan dengan ku saat itu rupanya karena kau ingin mencari pengganti Ayah untuk calon bayi mu itu? Haha, Kau seperti mengobral diri Arin. Wanita murahan," ucap Steve


Lee tidak suka dengan ucapan Steve, ia mengeluarkan kekuatannya dan menyumpal mulut Steve berperut buncit.


"Apa bedanya kau dengan Arin yang saat itu menghina mu, kau baru saja menghinanya," seru Lee. Pria itu memang tidak menyukai sikap Arin sebelumnya tapi setidaknya ia ingin berubah sekarang dan menjadi lebih baik, dari pada tidak sama sekali.


Arin tidak menyangka jika Lee akan membelanya seperti itu. Ia pikir Lee juga ikut membencinya.


"Sekarang kau ikut aku ke kantor polisi. Ayo," seru Yuan Ye kemudian Tuan Yuan, Tuan D dan Lee mengantarkan Steve berperut buncit ke kantor polisi terdekat.


Setelah mengurus masalah Steve buncit. Tuan Yuan ditemani Tuan D dan Lee pulang kerumahnya dengan mengendarai mobil Prado miliknya.


"Tuan Yuan Ye, Aku boleh bertanya," ucap Lee tiba-tiba.


"Ya katakan saja," sahutnya


"Apakah kau bersedia jika mempunyai menantu yang juga seorang drakula lagi?" Tanya Lee tiba-tiba.


Yuan Ye membanting setirnya ke kanan dan menginjak pedal rem secra mendadak. Ia sangat terkejut mendengar pertanyaan Lee


"Apa maksudmu?" Tanya Yuan Ye.


"Hemm..a-aku...aku...ingin menikahi Arin, itu pun jika Tuan Yuan mengijinkannya. Jangan salah paham, ini hanya untuk sang bayi agar dia terlahir memiliki seorang Ayah," ucap Lee.

__ADS_1


Yuan Ye masih terdiam mendengar ucapan Lee.


__ADS_2