Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Kehamilan Arin Terbongkar.


__ADS_3

Pagi itu, saat asisten rumah tangga Yuan Ye membersihkan kamar Arin. Ia menemukan benda berbentuk pipih dan panjang, sebuah alat test kehamilan dibawah ranjangnya.


"Astaga Non Arin hamil, aku harus memberitahu Tuan," ucap Asisten itu seraya pergi meninggalkan kamar.


Arin yang baru saja keluar dari kamar mandi, segera mengetahui jika asistennya menemukan alat test kehamilannya dan akan mengadukannya pada Ayahnya.


"Hey, tunggu! Mau apa kau membawa barang milikku," ucap Arin.


"A-anu non, saya mau membuangnya," ucap asisten itu berbohong.


"Kau kira aku bodoh!" Hardik Arin.


Plaaaak


Ia menampar asistennya itu yang dianggap kurang ajar karena akan mengurusi urusan pribadinya. Kemudian mengambil benda pipih itu dari tangan asistennya.


"Aaaah...." asisten itu kesakitan seraya memegangi pipi yang terkena tamparan.


"Aku tahu kau akan membawa ini kepada Ayah ku kan, dasar tidak sopan! Keluar kau. Awas saja jika aku tahu kau mengadu," ancam Arin.


Asisten itu keluar seraya menahan tangis. Dona yang bersebelahan di kamar Arin kemudian keluar dari kamarnya setelah mendengar sedikit keributan.


Dona bersender pada pintu yang terbuka lebar sembari berpangku tangan. Dan mengamati benda yang dibawa Arin.


"Apa yang kau bawa itu, dan kenapa kau menamparnya?" Tanya Dona.


"Bukan urusanmu, pergi sana!" perintah Arin seraya menyembunyikan alat tes kehamilannya di belakang punggungnya.


Dona pura-pura keluar kemudian ketika Arin mendekat karena akan menutup pintunya, Wanita itu dengan cepat merebut benda yang dipegang Arin.


Benda yang di pegang itu terlepas dan berhasil direbut oleh Dona.


"Hah apa ini? Kau hamil?" Tanya Dona yang sengaja meninggikan suaranya agar ucapannya terdengar ke seluruh anggota keluarganya.


Kebetulan juga Yuan Ye tidak ke kantor, mereka bekerja dirumah melalui media online untuk sementara ini menunggu kabar dari pemerintah kotanya mengantisipasi jika adanya teror lanjutan .

__ADS_1


Yuan Ye menaiki anak tangga menuju kamar Arin karena mendengar suara Dona tentang kehamilan.


"Ada apa ribut-ribut? Siapa yang hamil?" Tanya Yuan Ye saat mendekati Arin dan Dona.


Di depan pintu itu Arin berdiri mematung, ingin rasanya ia menghilang saat itu juga. Namun di depan pintunya berdiri Ayahnya dan Dona. Wajah Arin seketika pucat, napasnya menderu ketakutan pandangannya mulai kabur dan lunglai. Arin pingsan seketika.


Yuan Ye segera menggendong Arin dibantu oleh keponakannya itu, Dona tanpa sadar masih memegang alat kehamilan itu. Pandangan Yuan Ye beralih pada benda yang dipegang Dona.


"Apa itu? Kau hamil?" Tanya Yuan Ye pada Dona dan segera dijawab gelengan kepala oleh keponakannya itu.


"Bukan. Ini bukan milikku paman, ini milik Arin," jelas Dona.


"Apa?! Arin dengan siapa?" Tanya Yuan Ye.


"Sudah pasti dengan Rey, siapa lagi? Dia pria terakhir yang berhubungan dengan Rey, tidak mungkin dengan Polisi buncit yang baru ditemuinya kemarin," sahut Dona.


"Hemm kalau begitu aku harus berbicara dengan Rey dan keluarganya. Mereka harus bertanggung jawab," ucap Yuan Ye.


***


Yuan Ye beserta Istrinya dan Arin yang sudah terbangun dari pingsannya datang ke kediaman Rey untuk meminta pertanggungjawaban.


"Kau sangat mengecewakan Ayah, aku memberikan mu fasilitas nomer satu, selalu membuatmu menjadi yang pertama, tapi apa balasanmu? kau hanya membuat Ayah malu. Untung saja Kakek mu sudah pulang pagi-pagi sekali. Jika tidak, aku takut jantungnya akan kumat lagi," ucap Yuan Ye seraya menutup surat hasil kehamilan dari dokter.


"Sudahlah ini rumah sakit, ayo kita segera kerumah Rey," ajak Raline.


Kemudian mereka pergi ke rumah Rey sedangkan Arin sedari tadi diam tak bicara. Ia takut jika Rey menolaknya, bagaimana nasibnya nanti.


Suasana hening menyelimuti kedua keluarga itu. Pasalnya keluarga Rey sudah tidak ingin meneruskan hubungannya.


"Ini hasil test kehamilan Arin dan juga surat keterangan dari dokter yang menyatakan jika Arin benar-benar positif," ucap Yuan Ye.


"Saya ingin Rey bertanggungjawab dengan perbuatannya. Kau bisa menceraikan Arin setelah anak itu lahir. Tapi jangan biarkan anak itu lahir tanpa Ayah. Apa kata orang-orang nanti!" Seru Yuan Ye.


"Memangnya itu anak Rey? Saya juga pernah melihat Arin jalan dengan teman prianya selain Rey," ucap Gracia yang tak lain adalah tante Rey. Kebetulan ia tinggal dirumah itu juga.

__ADS_1


"Anda tidak bisa menuduh jika itu adalah anak Rey," bela Ayahnya Rey.


"Ya benar Paman, saya memang pernah melakukannya, tetapi dia juga sering berhubungan dengan teman prianya. Coba tanyakan pada Arin, dia tidur dengan siapa saja?" Ujar Rey yang mengundang amarah Yuan Ye.


Plaaak


"Apa maksudmu berkata seperti itu!" Seru Yuan Ye setelah menampar Rey.


"Hey! Tidak sopan memukul anakku di depanku! Aku saja tak pernah memukulnya seperti itu! Siapa kau berani menyentuhnya?! Keluar dari rumahku ini!" ucap Ayah Rey yang beranjak berdiri seraya menunjuk pintu keluar dengan telunjuknya.


"Ayah ayo kita pulang saja," ucap Arin.


"Diam kau Arin, semua ini salahmu juga. Kenapa kau mau-maunya menyerahkan kesucian mu pada pria breng-sek ini!"


"Dan Kau Rey, ucapanmu seperti menuduh Arin jika dia bukan wanita baik-baik. Aku datang kesini dengan cara baik-baik. Tapi apa perlakuanku tidak ada rasa penyesalan setelah berbuat. Dimana kehormatan mu sebagai pria, yang tidak bisa mempertanggungjawabkan hal yang telah kau tuai! Aku kecewa dengan kalian terutama kau Rey!" Pekik Yuan Ye dengan kemarahan yang membabi-buta.


"Ayo kita pulang! Aku harap, kau akan segera mendapatkan karma," ucap Yuan Ye disertai dengan doanya.


"Jaga mulutmu Yuan Ye!" ucap Ayah Rey pada Yuan Ye yang sudah pergi meninggalkan rumah itu.


Arin menangis tapi tak bersuara, Ibunya mengusap punggung anaknya. Memang semua ini kesalahan Arin tetapi melihat Rey yang tidak ingin bertanggungjawab membuat Arin terlihat seperti korban.


Mereka masuk kedalam mobil. Yuan Ye sama sekali tak memandang wajah Arin. Dan terlintas di pikirannya.


"Jalan satu-satunya kau harus berpacaran dengan polisi buncit itu. Kau harus membuatnya menikahi mu," ujar Yuan Ye memberikan ide liciknya.


"Apa? Ayah aku tidak mau dengannya. Aku tidak menyukainya," bantah Arin.


"Lalu kau ingin melahirkan anak itu dengan caci maki dan dipandang rendah oleh orang-orang! kau mau seperti itu!" Seru Yuan Ye.


Arin terdiam ia tak berani membantah perkataan Ayahnya. Begitupun dengan Raline, jika Yuan Ye telah marah ia tak berani ikut campur karena semua keputusan dialah yang pegang.


"Kita pulang. Raline siapkan makanan terenak untuk makan malam nanti. Dan suruh asisten rumah tangga kita merapikan rumah. Karena malam ini kita akan kedatangan tamu special," ucap Yuan Ye.


"Baiklah, siang ini aku akan berbelanja menu special. Memangnya siapa tamu special kita?" Tanya Raline.

__ADS_1


"Tuan D, kekasihnya Liana. Dia berkata ingin bertemu dengan ku dan mengajak kita sekeluarga makan malam di luar, tetapi aku memintanya untuk makan malam dirumah," ucap Yuan Ye.


***


__ADS_2