
"Tidak, kau mandilah sendiri. Aku...aku butuh waktu," ucap Lee menolak Arin dengan halus.
"Apalagi yang kau butuhkan Lee, dia istrimu. Dia meminta haknya untuk disentuh," batin Lee bergejolak dengan hatinya sendiri.
"Tidak, aku akan melakukannya jika aku sudah merasakan cinta itu," batin Lee menjawab bisikan itu seakan-akan batin itu adalah malaikat dan iblis.
"Hah bodoh! Aku tahu kau menginginkannya, kau pria! Jelas pria normal," batin itu berkata lagi menantang dirinya sendiri.
"Hemm oke, aku paham. Baiklah aku akan mandi," jawab Arin melangkah pergi meninggalkan Lee yang masih terpaku disana.
Aroma darah Arin melayang dan masih meninggalkan bekas, Lee tidak bisa menahan jiwa drakulanya yang tiba-tiba muncul. Tetapi Lee harus menahannya demi janjinya pada Kakek Ye. Setidaknya sampai anak Arin lahir ke dunia.
Arin menarik kopernya menuju kamarnya, kemudian keluar lagi dengan membawa pakaian ganti. Kamar mandi itu tidak berada di dalam kamar melainkan di samping kamarnya.
Sementara Arin masuk ke dalam kamar mandi. Lee mulai membersihkan rumahnya. Sedikit berdebu dan juga ia menangkap beberapa tikus dan memasukkannya ke dalam keranjang besar untuk di jual. Bisnis barunya, meskipun bisnis kecil tetapi ada juga yang membeli tikus-tikus itu untuk makanan hewan peliharaan mereka dan bahkan ada juga yang membutuhkan tikus untuk mengerjai seseorang.
Beberapa menit kemudian Lee selesai membersihkan rumahnya. Ia pun berniat untuk mandi setelah Arin selesai, namun sementara waktu Lee memejamkan matanya, melemaskan ototnya dengan bersandar pada sandaran kursi sofa ruang tamu yang sudah sedikit rusak.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, dan aroma Arin kembali melayang menusuk sukmanya. Sungguh Lee tak bisa menahan gejolak drakulanya. Sedikit tersiksa tetapi ia harus menahannya.
Lee dapat merasakan jika Arin mendekat, pria itu segera beranjak untuk menghindar. Tetapi Arin sudah berada di hadapannya dengan balutan handuk yang hanya menutupi separuh dada dan atas pahanya. Tonjolan besar yang membentuk belahan dada itu membuatnya beraksi.
Glek
Lee menelan salivanya saat melihat body goals milik Arin yang sangat menggoda dengan rambut tergerai basah. Seketika ia baru tersadar jika Arin sangat cantik dengan wajah naturalnya tanpa polesan. Wanita itu menggigit bibir bawahnya sengaja menggoda Lee seakan meminta untuk disentuh, ia kemudian duduk di pangkuan Lee.
Arin menyentuh bahu Lee, menatapnya dengan wajah penuh sensual. Pria mana yang akan menolak melihat Arin yang berbody gitar spanyol dan berkulit putih mulus dengan kulit yang sangat kenyal dan berisi serta aroma darah yang kian menggodanya.
"Aku tahu, kau belum memberikan cintamu untukku, tapi aku ingin memanjakan mu. Kau bisa memikirkan wanita lain saat kita melakukannya, aku tak masalah yang terpenting siang ini, aku mendapatkan dirimu sepenuhnya," ucap Arin.
Wanita itu memiliki pemikiran yang gila, kebiasaannya menggoda pria tak pernah hilang namun berbeda dengan yang ini. Dia menggoda lelaki yang mampu membuatnya jatuh cinta. Lee adalah cinta pertama Arin meskipun dia bukan kekasih yang pertama dan bukan pula orang yang pertama melakukan hubungan diluar batas tetapi ia dapat memastikan jika Lee adalah yang terakhir untuknya.
Lee menghembuskan napas dengan kasar dan melemparkan pandangannya ke tempat lain. Ia berusaha menghindar.
"A-arin, aku baru saja bersih-bersih rumah dan aku ingin mandi jadi kau bisa berdiri dulu?" ucap Lee sedikit gugup.
"Aku tidak masalah jika kau kotor, aku suka bau mu saat belum mandi, tidak kecut, tidak asam hemm ya sedikit sih tapi aku suka," goda Arin dengan nada manja dan sedikit mendesaaah, jari jemarinya seraya menggambar abstrak pada dada bidang itu dan wajahnya mulai mendekati Lee seraya ingin mengecup bibirnya.
__ADS_1
Lee tidak bisa menahan lagi pada akhirnya imannya tergoda jua. Ia pun mengecup Arin dengan lembut
"Hmmh...," lenguhan kecil dari bibir Arin membuat Lee semakin mengecupnya dengan rakus.
Bersamaan itu tangannya bermain, meremas sebuah balon yang tidak mudah pecah.
"Lee, aku mencintaimu," bisik Arin mencium leher Lee dan membuat tanda disana. Arin juga bermain di area bawah memaju mundurkan pinggulnya dan membuat suara sensual.
Lee semakin penasaran untuk melihat bagian tubuhnya yang membuatnya menegang. Ia hendak membuka balutan handuk yang membungkus tubuh wanita itu. Namun tiba-tiba ia menghentikan aktivitasnya dan memegang pinggul Arin yang maju mundur untuk ikut berhenti.
"Kenapa?" Tanya Arin dengan senyum.
"Aku tidak bisa melakukannya sekarang," ucap Lee menatap Arin dengan tajam walau sebenarnya tubuhnya tergoda.
"Aku tahu kau belum siap, ta-tapi kau bisa melakukannya dengan memikirkan orang lain. Se-seperti Trivia misalnya," ujar Arin meski dia sedikit kesal mendengar nama wanita itu.
"Aku tidak akan melakukannya sebelum aku merasakan cinta,"
"Lee, tapi..." ucapan Arin terhenti.
"Arin cukup! Kau tahu tidak hah? Saat ini dihatiku tidak ada cinta untukmu!" Lee melontarkan ucapannya dengan lugas tegas dan menyakiti hati Arin.
Arin tersentak, dia terdiam terpaku merasakan debaran cinta yang meretak. Bukan retak namun tertusuk hingga perihnya mengeluarkan linangan air mata di pipi Arin.
Lee melihat tumpahan air mata itu, membuatnya menyesal melontarkan kalimat yang menyakiti hati istrinya.
"Aku...aku tahu kau tidak mencintaiku, aku tahu... dan maaf tidak seharusnya aku memaksa mu....," lirih Arin salah tingkah.
"Haha... lebih baik kita tidak saling bersama....pernikahan ini salah,"
Arin beranjak dari pangkuannya, ia merasa malu berbuat seperti itu pada Lee. Menggoda suami yang tidak mencintainya. Dia melangkahkan kakinya dengan langkah yang besar seraya berlari kecil.
Brak..!
Pintu kamar tertutup dengan sedikit bantingan, terdengar seperti hantaman untuk Lee.
"Maaf Arin, aku bukannya tidak bisa mencintaimu, aku bukannya tidak ingin. Argghhh...."
__ADS_1
Pria itu mengusap wajahnya, dan menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia pun pergi mandi menghilangkan penat.
"Hikss....hiks...kenapa cinta ini menyakitkan," ucap Arin seraya memakai pakaiannya dan memeluk guling menutupi wajahnya yang sedang menangis.
Lee masuk ke kamar untuk mengambil baju ganti, kamar itu tidak terkunci. Terlihat Arin sudah tidak menangis namun dia tertelan dengan mata yang sembab.
Lee mendekati Arin, membelai rambutnya dan mengecup pipinya, "Maaf," ucap pria itu namun Arin tak mendengarnya.
Pria itu pun bergegas menuju dapur, mencoba memasak makanan manusia. Lee sudah terbiasa memasak sendiri namun kali ini ia juga menyiapkan untuk Arin.
Satu jam kemudian Lee kemudian setelah masakannya telah matang ia kembali ke kamar untuk membangunkan Arin.
"Arin, bangunlah.... Kau harus makan," seru Lee seraya menepuk lengannya. Ia membangunkannya lagi dengan perkataan yang sama namun kali ini suaranya lebih terdengar sedikit keras.
"Hemmhh aku tidak mau makan, aku mau mati saja," jawabnya yang masih memejamkan mata.
"Kau bicara apa? Ayo bangun dan makan," seru Lee
Wanita itu hanya diam, ia mengambil guling dan menutupi wajahnya.
"Arin...," panggil Lee dengan suara semakin keras.
Lee terpaksalah membangunkannya dengan membuat gelitikan di telapak kakinya.
"Bangun lah, ayo! Aku sudah masak, kau harus makan. Ingat kandungan mu itu perlu diberi makan," titah Lee memperdulikan kandungan Arin.
Arin menahan tawanya untuk tidak tertawa, wanita itu masih marah. Ia pun beranjak duduk.
"Kau dengar tidak? Aku tidak mau makan! Kau tidak usah pedulikan aku, bukannya kau bilang kau tidak mencintaiku? Jadi untuk apa peduli padaku! Pergi sana...!" seru Arin menatap tajam pada Lee
"Aku suamimu, dan kau harus menuruti perkataanku. Sekarang keluar dari kamar dan makan,"
"Hah suami? Disentuh saja kau tidak mau! Kau bilang suami? Aku rasa semua ucapan mu kemarin malam semuanya palsu dan pernikahan ini suatu kesalahan," ucap Arin mendengus kesal
"Arin... aku minta maaf, aku salah... aku hanya belum bisa menyentuhmu saat ini, kau bisa memberiku waktu kan?"
"Rasanya aku terlalu jahat, sampai-sampai kau yang meminta waktu agar kau siap melakukannya. Kalau di novel-novel ini posisi yang salah. Biasanya wanita lah yang meminta waktu, Lee... aku serius dengan ucapan ku. Mencintaimu adalah suatu kesalahan, tenang saja aku akan melupakan cinta ini dan aku tidak akan menyentuhmu, dan kau jangan menyentuhku," ucap Arin
__ADS_1
"Aku mohon kau jangan dekati aku, dan jangan pedulikan aku," lirih Arin pelan tanpa menatap Lee.
"Lee Lee, sekarang rasakan akibatnya...Arin akan melupakan cintanya padamu," batin Lee