Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Mencari Jejak Stefani


__ADS_3

Sore itu selepas keluarnya dari sel tahanan sementara, Sebastian langsung ke rumah mengecek status keberadaan Istrinya terkini. Ini bukan kali pertamanya sang Istri pergi maka dari itu Sebastian memasang chip di dalam tubuhnya dengan bantuan seorang Dokter ahli, dengan begitu jika Istrinya kabur lagi maka ia dapat melacaknya segera.


Setelah mengetahui keberadaannya langsung saja Sebastian pergi mencarinya. Pria itu segera menancapkan gas tanpa mengunci pintu rumahnya kembali. Ia juga membawa serta kontainer berukuran 5 0cm x 50 cm dan menaruhnya di tempat duduk di sampingnya. Selang beberapa saat ia pergi, ada seseorang yang mengikutinya.


Sebastian melihatnya dari kaca spion dalam mobilnya, ia merasa diikuti dan kemudian mengubah arah kemudinya. Ia mencoba mengecoh dengan berbelok ke kiri.


"Hah kita lihat siapa yang pintar," ujar Sebastian


Mobil yang mengikutinya pun ikut berbelok ke kiri. Sebastian terus menancapkan gas hingga ia bertemu dengan gang kecil sebelah kiri Sebastian memarkirkan mobilnya disana dan mematikan mesinnya.


Mobil yang mengikutinya ke belakang terus mengikuti arah lurus mengikuti jalanan, tanpa melihat gang kecil tempat Sebastian bersembunyi. Mobil itu melewatkan mobil Sebastian begitu saja. Setelah dirasa cukup aman Sebastian keluar dengan memundurkan mobilnya berbelok ke kanan. Kemudian ia kembali ke jalanan semula.


Seseorang yang mengikuti Sebastian merasa aneh, ia tidak menemukan jejak mobil Sebastian, orang itu kemudian kembali ke jalanan yang ia lalui tadi.


"Siaal, dia mengecoh ku," ucapnya seraya memukul setir.


Beberapa menit kemudian, Sebastian tiba di sebuah hutan. Langit sudah mulai menggelap dan burung hantu bersahutan bersamaan bunyi hewan-hewan kecil yang lainnya. Sebastian turun dari mobil serta membawa kotak kontainer bersamanya.


Pria itu terus menatap alat pendeteksi chip lewat layar monitor, terlihat jejak istrinya yang hampir dekat dengannya. Sebastian melihat sekelilingnya dengan bantuan sinar dari senter kecilnya, namun Sebastian tak melihat keberadaan istrinya juga. Ia pun menatap kembali alat pendeteksi sinyal tapi tiba-tiba layarnya padam.


Sebastian memukul beberapa kali alat itu agar menyala namun tetap saja tak ada perubahan, alat itu mati. Sebastian mendengar suara nafas menderu dibelakangnya dan perlahan semakin terasa dekat. Ia lantas berbalik dengan gesit. Lagi-lagi pria itu tak menemukan apapun.


"Sayang, ini aku. Ayolah aku tahu kau di sana," ucapnya.


Hening kembali terdengar, Pria itu terus menyusuri hutan yang semakin gelap. Ia pun lelah dan duduk bersandar pada pohon yang berakar besar, seraya mengambil air minum dari dalam tasnya.


Terdengar suara anak bayi menangis, Sebastian membuka kontainer itu dan melihat sang bayi di dalamnya yang menjerit kehausan. Pria itu lantas menangis seraya mengenang peristiwa kecelakaan itu.


"Kalau saja malam itu aku dan Stefani tidak kecelakaan, mungkin dia tidak akan meninggal, dan aku tidak akan melakukan perjanjian itu. Drakula itu meminta ku membawa Liana ke hadapannya dengan kondisi masih hidup apapun caranya. Astaga jika aku tidak menyerahkan Liana padanya, Dia akan mengambil nyawaku pada purnama depan," gumam Sebastian dari dalam hati.


"Maafkan bayi kecil, kau harus ku jadikan santapan istriku,"


Tak berapa lama ada sekelebat bayangan lewat, dengan suara berisik angin yang menyambar dedaunan. Sebastian segera menoleh tanpa lama seraya menyenterkan sinar ke arah suara itu.


"Stefani?" Panggil Sebastian.


Ketika Sebastian menoleh kembali ke kontainer, bayi itu sudah tak ada di dalamnya. Pria itu terkejut dan terus menyenterkan sinar ke sekeliling. Tidak ada keberadaan Stefani disana hanya terdengar suara bayi menangis.


Sebastian beranjak dan berlari kecil mencari Stefani. Akhirnya ia menemukan istrinya juga. Pria itu kemudian memeluk Stefani dari belakang.

__ADS_1


"Aku mencarimu sepanjang waktu, jangan pergi lagi ya," ucap Sebastian.


"Siapa kau, apakah ini anakmu?" Tanya Stefani yang terlihat lupa dengan suaminya itu.


"Kenapa Stefani malah menimang anak ini, apakah obat profesor itu manjur, ia pernah bilang obatnya akan mengalami hilang ingatan," gumam Sebastian.


"Aku suamimu, bukan dia bukan anak kita. Anak kita sudah besar namanya Trivia," jawab Sebastian sembari melepaskan pelukannya dan membuat Stefani berbalik kepadanya.


"Jadi ini bukan anakmu? Kalau begitu ku makan saja, sepertinya darahnya sangat enak," sahut Stefani yang ternyata masih menyukai darah anak-anak.


Ketika Stefani ingin menghisap darah anak itu, Sebastian mengambil bayi itu tiba-tiba.


"Tidak Stefani, kau harus berubah. Kau hanya perlu menahan keinginan mu itu," ucap Sebastian.


"Kembalikan, itu milikku," pekik Stefani.


Sebastian yang tadinya ingin memberikan anak itu sebagai santapan kemudian berubah pikiran. Ia kemudian berlari menuju tempat saat ia beristirahat tadi. Kemudian menaruh bayi itu di dalam kontainer lalu membawanya lari menuju mobil untuk mengamankan bayinya. Sebastian berlari secepat mungkin karena Stefani terus mengejar.


Stefani meraih kerah baju pria itu tetapi Sebastian berhasil memasukkan bayi itu ke dalam mobil. Kemudian pria itu berbalik ke arah istrinya dan menancapkan obat suntikan yang telah di formulasikan khusus Istrinya.


"Haha Kau tahu, kau menyuntikkan terlalu banyak ke tubuhku hingga aku tak mempan lagi terhadap obat ini," ucap Stefani tersenyum menyeringai.


"Apa, obat pereda itu sudah tak berfungsi?" Ucap Sebastian.


Sebastian terjatuh ke tanah merah itu ia tak dapat bangkit, tubuhnya lemah karena belum menyantap makanan apapun hari ini. Istrinya mendekat kemudian menarik kerah belakang pria itu dengan satu tangannya hingga berdiri dengan lemah. Stefani menyandarkan Sebastian ke pohon dan mulai mendekatkan wajahnya ke leher pria itu. Sebastian pasrah dengan apa yang dilakukan Stefani.


Dor


Sebuah tembakan mengenai bahu Stefani, wanita itu menjerit kesakitan kemudian menoleh ke asal tembakan itu datang. Dengan marah ia mulai mencari si penembak dan meninggalkan Sebastian. Sebastian berteriak memohon kepada si penembak untuk tidak menembaki Istrinya.


"Stop, hentikan tolong jangan lukai istriku," pekiknya.


Dor Dor


Terlambat, Stefani terkena tembakan dua kali pada bagian jantungnya. Wanita itu berteriak kesakitan sebelum akhirnya tewas. Sebastian berlari menghampiri istrinya yang sudah tergeletak di tanah.


"Aku sudah bilang jangan menembaknya, kau tuli! Shiiit siapa kau?" Hardik Sebastian dengan geram.


Ia tak bisa melihat dengan jelas siapa pria yang telah membuat Istrinya yang setengah manusia itu tewas. Pria yang menembak itu mendekat dan memborgol tangan Sebastian.

__ADS_1


"Lepaskan! Siapa Kau? Kenapa aku di borgol?" Tanya Sebastian.


"Kau di tahan kembali atas tuduhan penculikan anak dibawah umur dan kasus lainnya," jawab seseorang yang suaranya terdengar tak asing baginya.


"Kau! Steve? Kenapa kau lagi yang merusak hidupku!?" Ucap Sebastian.


"Hidupmu telah rusak oleh perbuatan mu sendiri," ucap Steve


Kemudian terlihat beberapa orang dengan memakai sarung tangan membawa jasad istri Sebastian untuk di amankan.


"Hey! Kalian mau membawa istriku kemana? Hey!" Pekik Sebastian seraya meronta dengan tangan yang di borgol. Ia pun di paksa berdiri dan berjalan menuju mobil. Sedangkan bayi yang ia culik dari rumah sakit bersalin telah diamankan petugas lainnya.


"Tunggu jangan bawa Istriku!"


Seketika Sebastian terbangun dari tidurnya. Rupanya pria itu tertidur di bawah pohon. Anak bayi yang mungil itu terlihat terlelap kembali setelah Sebastian memberinya susu formula.


Pria itu lalu kembali pulang dan berjalan menuju jalan raya, tidak mungkin ia berjalan di tengah hutan dengan kegelapan apalagi dengan membawa seorang bayi. Setelah sampai di tempat mobilnya terparkir. Sebastian menemukan bekas darah yang menempel di pintu dan kaca jendela dekat pintu kemudi. Ia segera memasukkan bayi itu ke dalam mobil dan menguncinya lalu mencari tahu jejak darah yang terjatuh di aspal.


Sebastian menyeberangi jalan raya dan memasuki pepohonan kembali. Terdengar suara gemerisik di balik semak-semak. Pria itu terus menyenter dan mengamati sekelilingnya.


"Stefani?" Panggil Sebastian seraya memandangi wanita yang sedang menghisap seorang pemuda.


Matanya melotot melihat hal mengerikan itu kemudian melangkah mundur perlahan. Sebastian diam-diam mengambil suntikan yang berisi obat penenang untuk Istrinya dan mengeluarkannya perlahan. Ia bersiap untuk menusukkan jarum suntik itu ketika Stefani akan menyerangnya.


Kini Wanita itu selesai menyerap semua darah pemuda yang tidak ia kenal, lalu Stefani melihat ke arah Sebastian dan langsung menerkamnya layaknya macan betina yang kelaparan.


Sebastian terkejut berusaha untuk menghindari gigitan sang istri, hingga ia jatuh bersamaan dengan suntikan yang ia pegang. Sebastian kehilangan alat suntikan, ia segera meraba alat suntik itu dengan sebelah tangan tetapi tidak ketemu. Kemudian ia mengambil segenggam tanah dan melemparkannya ke mata sang Istri. Stefani berteriak sembari memegangi matanya, kesempatan itu digunakan Sebastian untuk lari.


Sebastian berlari tanpa melihat ke depan, dengan waktu yang bersamaan ada mobil yang lewat di depannya dengan suara klakson yang mengagetkan membuat Sebastian melihat ke depan.


Syuuut


Sebuah tangan besar dengan sigap menarik lengan Sebastian. Nyaris pria itu hampir tertabrak. Betapa terkejutnya pria itu saat Sebastian tahu jika ia diselamatkan oleh seseorang yang ia benci beberapa menit lalu.


"Kau!" serunya


Steve selalu datang tepat waktu, ia lalu mengarahkan pistol ke arah Stefani. Seperti yang terjadi di mimpinya beberapa menit lalu, segera saja Sebastian menghentikannya.


"Stop! Jangan! .... Jangan tembak," pinta Sebastian.

__ADS_1


*****


Apa yang dilakukan Steve? Apakah dia sanggup menembak Stefani? Tunggu kisah selanjutnya ya


__ADS_2