Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Rey Memutuskan Tunangannya


__ADS_3

Malam itu di kediaman Yuan Ye, Raline terus saja membicarakan tentang acara pertunangan Arin yang menuai rasa malu hanya karena soal kalung Red Diamond itu.


Yuan Ye yang baru saja tiba dari kantor polisi mendapati serangan kepala, ia sangat pusing hingga terasa berkunang-kunang. Apalagi ditambah Raline yang terus saja mengomel tetapi orang yang disalahkan bukannya Arin melain Liana.


Arin, Dona dan Doni duduk di sofa tengah, mereka sibuk membuka hadiah-hadiah yang diberikan tamu dan teman-teman Arin. Meskipun tadi siang Arin mendapatkan cibiran saat di pesta tetapi sekarang ia sudah tidak mempersoalkannya. Sedangkan Kakek Ye dan Nenek sedang beristirahat di kamar. Dan Liana masih di perjalanan pulang bersama dengan Tuan D.


"Sudahlah! Berhentilah menyalahkan Liana, Arin juga bersalah karena dia yang terus ngotot untuk memakai kalung itu," ucap Yuan Ye seraya memijat pelipisnya di bagian kiri dan kanan.


"Arin tidak akan ngotot seperti itu jika Liana tidak memamerkan ...," ucapan Ralin terputus karena Yuan Ye menyela.


"Diam! Kau bisa diam atau tidak? Aku sudah bilang berhentilah menyalahkan! Kalau sampai ku dengar kau menyalahkan Liana, jangan salahkan Aku jika kita jatuh miskin!" Hardik Yuan Ye seketika Raline terdiam dengan bergumam tidak jelas. Hanya dia yang tahu dirinya berkata apa.


Tak berapa lama datang seseorang mengetuk pintu rumah Yuan Ye dengan sangat keras. Padahal sudah ada bel di samping pintu itu, tetapi ia tidak menekannya dan malah mengetuk dengan sangat kuat.


Dok Dok Dok Dok


(Bukan tok tok tok karena mengetuk dengan kuat jadinya Dok Dok Dok 😁)


"Haduh bertamu kok tidak tahu sopan santun!" Ucap Raline kemudian menyuruh asisten rumah tangganya untuk membuka pintu.


Tak lama setelah pintu di buka, semua orang yang duduk di ruang tengah melemparkan pandangan ke depan pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Rey? Kenapa dia menggedor pintu sekeras itu?" Tanya Doni.


"Mana Arin!" Tanya Rey yang berdiri di depan pintu.


"Non Arin di dalam Tuan," ucap asisten rumah tangga itu.


Rey langsung masuk dan menabrak bahu asisten itu dengan kasar. Raut mukanya menunjukkan jika ia sedang marah. Entah apa yang membuatnya terlihat menyeramkan seperti itu.


"Sayang kamu datang kok gak bilang dulu sih," ucap Arin yang beranjak dari duduknya dan langsung menyambut Rey ke depan.


Plaaak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Arin dengan mulus hingga Arin terjatuh. Suara tamparan yang bersamaan dengan teriakan Arin itu terdengar hingga ke kamar Kakek Ye.

__ADS_1


"Suara apa itu?" Tanya Kakek Ye yang ingin beranjak tidur.


"Sudah jangan dipikirkan mungkin Raline yang sedang marah-marah, Kamu tidur saja ya sayang," ucap Nenek Anie.


Semua keluarga Arin yang memandangnya terkejut bahkan orang tuanya sampai berdiri melihat kelakuan Rey yang kasar terhadap Arin saat itu.


"Rey apa maksud mu!" Pekik Yuan Ye yang geram memperlakukan Arin seperti itu. Baru saja bertunangan tetapi perlakuannya kasar.


"Aku tidak pernah mendapatkan cibiran dari orang hingga keluargaku ikut dipermalukan. Apa maksudmu! mengatakan pada orang-orang jika aku membelikan mu kalung berlian yang harganya milyaran hah?" Pekik Rey dengan nada suara yang marah. Ia berhenti untuk menarik nafas sejenak. Sedangkan Arin masih terduduk memegangi pipinya seraya menangis.


"Kamu tahu mereka mengatakan apa? Mereka mengatakan kalau Aku tidak tahu diri, sampai-sampai harus mengakui kalung pemberian orang lain sebagai pemberian ku. Hey ... lihat Arin! Aku memang tidak mampu memberikannya. Tapi aku tidak pernah mengaku-ngaku. Kamu yang mengatakannya sendiri. Kamu yang berbohong pada mereka. Tapi aku dan keluargaku yang ikut menanggungnya," ucap Rey dengan menudungkan telunjuknya ke arah Arin.


"Hiks... ma-maaf Rey ... hiks," ucap Arin lirih seraya menangis dan memegangi pipinya yang memerah dan sedikit lebam.


Kakek Ye yang tidak bisa beristirahat karena suara-suara yang keras terlontar dari mereka membuatnya untuk keluar dari kamar.


"Aku menyesal telah bertunangan denganmu! Ambil ini, Aku rasa pertunangan ini lebih baik sampai disini saja!" Ucap Rey seraya melemparkan cincin pertunangannya dan pergi begitu saja meninggalkan Arin dan keluarganya tanpa pamit.


Yuan Ye yang mendengar hal itu semakin pusing di buatnya terlebih Kakek Ye yang mendengarnya tiba-tiba terkena serangan jantung mendadak. Ia pun memegangi dadanya yang terasa sakit dan terjatuh


Semua orang melihat Kakek Ye dan menghampirinya. Yuan Ye kemudian menyuruh Doni untuk memanaskan mobil.


"Ayah, kau jangan panik, tolong jangan pikirkan masalah ini. Doni tolong siapkan mobil," perintah Yuan Ye.


Doni segera menyiapkan mobil tetapi saat ia akan keluar Liana datang.


"Hey kenapa berlari terburu-buru?" Tanya Liana.


"Ini semua salah mu!" Hardik Doni kemudian segera pergi ke tempat mobil di parkir.


"Apa maksudmu?" Tanya Liana tak mengerti


Kemudian Liana melihat Ayahnya dan ibunya mengangkat Kakek Ye yang sedang memegangi dadanya. Di belakangnya ada Arin yang menangis dan Dona yang melihatnya dengan tatapan tajam.


"Kalau terjadi apa-apa dengan kakek itu semua salahmu?" Ucap Dona yang ikut menyalahkan Liana.

__ADS_1


Nenek Anie kemudian datang dengan membawa jaket dan tasnya. Liana yang kebingungan karena semua orang menyalahkannya lantas bertanya pada Nenek.


"Nek Kakek kenapa? Apa jantungnya kambuh karena aku?" Tanya Liana.


"Tidak, bukan karena mu. Ayo ikut ke rumah sakit," ajak Nenek dengan halus.


Liana akhirnya mengikuti Nenek saat ia ingin masuk, mobilnya sudah tidak muat. Ia pun ikut ke rumah sakit dengan mobil milik Arin. Tetapi wanita itu tidak jadi menaikinya karena melihat Tuan D yang bersandar di mobilnya sedang menikmati aroma tembakau.


"Kakek kenapa?" Tanya Tuan D yang melihat Liana panik.


"Sepertinya jantungnya kumat, tapi aku bingung kenapa Dona dan Doni menyalahkan aku dan juga Kak Arin menangis dengan pipinya yang memerah di sebelah kiri. Lalu saat Aku menanyakan pada Nenek, Nenek tidak menyalahkanku. Ahh sudahlah, bisa antarkan aku kerumah sakit sekarang?" ucap Liana tanpa henti.


"Siap Ratu ku," ucap Tuan D kemudian membukakan pintu untuk Liana. Liana masuk dengan tersenyum dan disusul Tuan D yang masuk di kursi kemudi.


"Semoga kakek baik-baik saja," ucap Liana seraya menggenggam kedua tangannya di dada.


Sesampainya di rumah sakit, Kakek Ye dibawa ke dalam ruang Instalasi Gawat Darurat. Yuan Ye mengurusnya didalam sementara yang lain berada di luar ruangan.


"Ini semua karena Liana, kalau saja dia tidak memamerkan kalungnya saat itu, aku tidak akan menjadi bahan cibiran di pestaku sendiri," ucap Arin yang mengarah semua kesalahan pada adiknya.


"Maksud kakak apa berbicara seperti itu?" Tanya Liana yang datang bersama Tuan D disampingnya.


Arin mulai berdrama ia memasang wajah sedihnya dan mulai berdalih.


"Lihat Tuan D, mumpung ada Liana disini. Biar dia jelaskan sehingga namaku bisa bersih. Lian kau sendiri kan yang meminjamkan kalungmu padaku?" Sahut Arin.


"Ya memang Aku yang meminjamkannya padamu tapi ...," ucapan Liana terhenti karena Arin langsung memutusnya.


"Tuan dengar sendirikan, aku tidak merebutnya. Sekarang gara-gara masalah kalung itu Rey memutuskan pertunangannya dengan ku hiks," Arin menangis dan tiba-tiba memeluk Tuan D untuk meminjam dadanya dan bersandar disana.


Tuan D bisa saja mengelak tetapi ia ingin melihat reaksi Liana yang cemburu. Liana mengernyitkan dahinya dan bertolak pinggang melihat drama ikan yang dilakoni kakaknya.


"Jadi dicampakkan dan sekarang berusaha merebut kekasih ku?" Seru Liana seraya ia meraih lengan Arin untuk melepaskan pelukan kemudian mendorongnya pelan tetapi Arin sengaja menjatuhkan dirinya agar Liana terkesan kejam di mata Tuan D


Tuan D malah tersenyum di dalam hatinya karena Liana memperjuangkan dirinya. Ia juga tak menyangka Liana bisa sedikit kejam.

__ADS_1


__ADS_2