Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Sendiri


__ADS_3

Liana keluar dari kamarnya hendak menuju dapur tetapi ia melihat Lee menggendong Arin menuju ruang televisi yang terdekat dengan tangga.


"Lee," gumam Liana seraya berlari kecil menuruni anak tangga.


"Lee, ada apa dengan Arin?" Tanya Liana.


"Ini bukan ulahku," ucapnya merebahkan Arin diatas kursi panjang yang ada di ruang televisi.


"Dia menjatuhkan dirinya dari balkon tangga itu sembari menyebut namaku. Aku menangkapnya dia tak sampai jatuh dan aku yakin, dia tidak terkena apapun saat jatuh tadi, tetapi dia pingsang begitu saja," jelas Lee seraya menggunakan tangannya untuk menjelaskan. Itu kebiasaan Lee jika gugup selalu memakai tangan saat membantunya berbicara.


"Kau tidak perlu menggunakan tanganmu, aku pusing dibuatnya. Kalau begitu sebaiknya aku hubungi dokter, dia terlihat pucat," ucap Liana seraya membuka kunci ponselnya yang sedari tadi ia genggam.


"Kau jangan pergi dulu ya, aku takut terjadi sesuatu dengannya," pinta Liana pada Lee kemudian pria itu menganggukkan kepala.


Liana menelepon dokter keluarga yang dia kenal dan memintanya ke alamat tempat tinggalnya sekarang. Setelah itu ia memeriksa tekanan darah Arin dan mencoba membangunkannya. Tetapi suhunya normal dan wanita itu juga tidak bangun.


Kemudian Liana masuk kedalam untuk mengambil air putih yang hangat, setelah itu ia kembali dengan membawa segelas air putih untuk diminumkan pada Arin dengan sendok secara perlahan


Awalnya tak ada pergerakan dari wanita itu namun lama kelamaan lidahnya terlihat mengecap pelan. Dengan perlahan Arin membuka matanya dan melihat samar-samar orang yang ada didepannya. Melihat itu Liana berhenti menyuapkan air.


"Liana, Lee," sahut Arin lirih seraya bergantian melihat Liana kemudian Lee.


"Kak, kau kenapa? Mana yang sakit?" Tanya Liana pelan. Arin belum sempat menjawabnya tiba-tiba ada suara ketukan pintu.


"Siapa itu, tidak mungkin itu dokter yang aku telepon tadi," gumam Liana.


"Biar aku saja," cegah Lee kemudian berjalan menuju pintu depan.


Saat Lee membuka pintunya, ia melihat dokter itu ketakutan seraya membawa tasnya dalam dekapannya. Kemudian saat sadar pintu telah dibuka sang dokter masuk kedalam dengan terburu-buru.


"Ma-maaf, ini rumah nona Liana?" Tanya dokter memastikan.


"Iya benar," jawab Lee


"Saya tadi sedang bersiap berangkat dan sudah berada di parkiran, namun tiba-tiba saya ada disini begitu saja," jelas sang dokter.


"Itu pasti kerjaan Tuan D," batin Liana yang mendengar perkataan dokter dari jauh.

__ADS_1


"Mungkin hanya perasaan dokter saja," ucap Lee kemudian menyuruhnya masuk. Dokter itupun masuk sedikit ragu.


"Silahkan dokter, ini kakak saya tadi tiba-tiba dia jatuh pingsan," ajak Liana agar dokter itu mendekat kemudian menjelaskan secara runtut kejadiannya.


Dokter mulai memeriksa dan bertanya tentang sakit yang dirasakan. Setelah beberapa menit memeriksa, sang dokter kemudian mengambil sebuah kesimpulan.


"Saya tidak bisa berkata panjang lebar, tapi menurut diagnosa sementara adalah karena Nyonya Arin mengalami stres. Dia sedang mengandung dan usahakan jangan sampai stres atau kelelahan," ucap dokter


"Jika Nyonya masih merasakan sakit kepala berkepanjangan, lebih baik segera periksa di rumah sakit terdekat. Ini saya berikan resep obatnya," timpalnya lagi.


"Dan anda Tuan sebagai suaminya jangan sampai Nyonya Arin mengalami stres. Itu akan berpengaruh pada kesehatan bayi," pesan sang dokter Lee.


"Saya buk..." ucapan Lee terpotong karena Liana menginjak kakinya pertanda jika Lee harus diam dan jangan berucap hal lain.


"Maaf pak, baiklah saya tidak akan membuatnya stres," ucap Lee seraya melirik Arin yang terbaring lemah.


Setelah dokter itu pulang, Lee juga ingin pamit dari rumah itu. Tetapi Liana mencegahnya.


"Lee bisa kita bicara sebentar?" Pinta Liana lewat telepatinya, Lee mengiyakan kemudian mereka janji ketemu di kamar Liana. Lee menghilang dari hadapan Arin.


"Kak sebentar ya, ponselku tertinggal di kamar," ucap Liana


"Hehe maksud ku, headset kak. Aku mau ambil headset ponselku," izin Liana kemudian pergi ke kamarnya.


Di kamar Liana, wanita itu berbicara serius pada Lee.


"Lee, aku tahu kau tidak menyukai Arin. Tetapi kau dengar sendiri kan? Apa kata dokter itu," ucap Liana


"Dokter itu hanya menduga Liana, kita juga tidak tahu kan Arin punya penyakit dalam atau tidak?" tukas Lee


"Tapi, saat ini kau lah orang yang dia dengarkan. Aku rasa kakakku itu stres memikirkan siapa yang akan bertanggung jawab. Aku juga tidak ingin memaksamu. Tapi tolong untuk saat ini. Jadilah temannya, hibur dia, buat dia melupakan masalahnya," ucap Liana dengan perlahan.


"Jika aku mendekatinya disaat dia memiliki segudang masalah, dia akan menaruh harapan besar padaku. Aku tidak ingin dia merasa kalau aku juga menyukainya. Tidak Liana, aku tidak ingin memberi harapan palsu. Dia akan jatuh lebih sakit dari pada ini," ujar Lee


"Kau bisa mengatakannya di awal kalau kau akan berada disisinya sebagai sahabat, kau bisa mengatakan jika kau masih menyukai Trivia. Aku tidak memintamu untuk menyembunyikan perasaan mu. Aku hanya memintamu untuk menjadi temannya, beri dia semangat untuk memulai hidup dengan Arin yang sekarang," ucap Liana kemudian terhenti karena ia menitikkan air mata.


"Kenapa harus aku?" ujar Lee

__ADS_1


"Karena baru saja dia mengakui perasaannya padaku, jika dia menyukai pria drakula yang ditemuinya baru-baru ini. Dan itu adalah kau," jawab Liana


Lee terdiam, di satu sisi ia tidak ingin menemani wanita itu meski hanya sebagai sahabat. Ia sebenarnya takut jika suatu saat akan merasakan cinta lagi. Lee takut tersakiti untuk yang kedua kalinya. Pria itu mengakui secara fisik jika Arin sangat menggoda, meskipun rupanya dan sifatnya, sikapnya lebih cantik Trivia.


"Maaf Liana, aku tidak bisa," ucap Lee menolak secara halus namun mengandung ketegasan.


"Hhhemmmmhhh," Liana membuang napasnya kasar


"Dan lagi...Seandainya aku dan Arin menjalin hubungan, keluarga mu itu sudah pasti akan menentang," timpal Lee yang membuat Liana menatap tajam padanya.


"Dan tolong katakan padanya, untuk melupakan aku, jangan pernah memanggil namaku meskipun dia dalam bahaya sekalipun," ujar Lee namun Liana menangis mendengarnya.


"Oke, pergilah lah. Pergilah kau seperti kekasih ku!" timpalnya lagi.


Liana mulai menangis kembali mengingat kisah asmara dirinya dan Tuan D. Lee pergi menghilang sesuai keinginan Liana.


Sementara Arin yang saat itu ingin kembali ke kamarnya tak sengaja mendengar percakapan Liana dan Lee dari balik pintu kamar Liana.


Arin terdiam, ia tak menangis. Ia tertawa, menertawakan dirinya yang seperti orang bodoh mengharapkan cintanya terbalas. Kemudian air matanya keluar ia menangis. Lalu cepat-cepat ia menyeka air matanya dan kembali ke kamarnya. Dikuncinya pintu kamar itu dan merebahkan tubuhnya. Arin kembali menangis. Ia mengelus perutnya yang masih raya dan belum terlihat membesar.


"Ayahmu... tak menginginkanmu, tak ada yang mau denganku, aku mendapatkan karma ku....hiks...hiks... tapi kau tenang saja nak. Mama akan membesarkan mu sendirian. Kita akan berjuang bersama tanpa seorang papa ....hiks...hiks...," lirih wanita itu seraya mengelus dan berbicara pada janin yang baru saja terbentuk.


Sementara Liana turun mencari keberadaan kakaknya. Wanita itu kemudian mengirim pesan pada ponsel Arin.


"Kak, kau ingin makan apa?" Tanya Liana pada pesan yang baru saja ia kirim


"Aku tidak lapar, aku ingin istirahat," Arin membalas pesan tersebut di ponselnya.


"Ya sudah nanti jika lapar, turunlah aku akan meninggalkan makanan di meja makan," tulis Liana pada pesannya.


"Ok," balas Arin singkat kemudian wanita itu memejamkan matanya dan tidur perlahan.


Sementara Liana mencoba berkomunikasi dengan Tuan D lewat telepatinya, namun tak ada jawaban dari pria itu.


"Apakah kau benar-benar meninggalkan ku? Kenapa kau tidak menjawab ku? Hiks...Hiks...," Liana kembali menangis. Kekasihnya itu sangat menepati janjinya pada Kakek Ye.


Arin telah tertidur pulas, Lee datang ke kamarnya.

__ADS_1


"Apakah yang dikatakan Liana benar? Lalu kenapa kau menyukai ku? Semoga kau mendapatkan yang terbaik," gumam Lee kemudian pergi menghilang seraya bernyanyi.


"Jenuh aku mendengar, manisnya kata cinta, lebih baik sendiri..."


__ADS_2