
⚠️ Warning jangan baca saat sedang makan⚠️
Di pertengahan cerita, mengandung unsur yang bisa membuat anda muntah.
-----------------------🔥🔥🔥--------------------------
Setelah kepulangan kakek Ye, Lee terus memikirkan ucapan pria tua itu. Tuan D yang berusaha menahan untuk tidak menjadikan Liana drakula saja dapat tergoda apalagi dirinya yang tidak memiliki darah murni seorang drakula. Dan bisa tergoda sewaktu-waktu.
"Lee, Arin...Ayah, Ibu dan yang lainnya pulang dulu ya," pamit Yuan Ye.
Mereka masih berada di bandara untuk mengantar kepulangan sang Kakek dan Nenek. Dan sudah waktunya Yuan Ye melepaskan Arin untuk tinggal bersama Lee.
"Iya Ayah, kabari aku jika kalian sudah sampai," ujar Arin tersenyum senang.
"Hati-hati Tuan Yuan," ucap Lee
"Iya, nanti Ayah kabari. Lee... tolong jaga Arin ya. Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian, kalau kalian berubah pikiran untuk tinggal dengan kami," ujar Yuan Ye
"Aku mau mandiri Yah, dimana pun Lee tinggal, aku harus ikut dengannya," ucap Arin
"Arin, rumahku itu kecil dan banyak tikusnya. Kau yakin tinggal disana, jika kau tak suka disana, kita bisa tinggal dirumah Ayahmu," sahut Lee yang ragu dengan Arin, karena wanita itu terbiasa hidup mewah.
"Aku yakin, nanti aku akan membersihkan rumah mu biar tidak ada tikus yang bersarang lagi," ucap Arin
"Lalu aku makan apa jika semua tikus habis kau singkirkan," batin Lee
"Haha baiklah terserah kau saja, tapi jika kau tidak suka tinggal disana katakan saja ya," ucap Lee yang berharap Arin tidak betah tinggal dirumahnya.
"Lee jaga Arin ya, perhatikan makanannya. Dia butuh asupan nutrisi untuk kandungannya, kami pulang dulu ya," pamit Raline yang dijawab anggukan oleh Lee.
"Kak Aku pulang juga ya, jaga dirimu dan calon ponakan ku ini, bye," sahut Liana sembari mencium pipi kakaknya itu.
__ADS_1
Setelah semuanya pamit, Lee dan Arin juga pulang. Lee membawa wanita kaya itu kerumahnya yang kecil dan jelek. Di kota itu Lee hidup sebatang kara, kedua orangtuanya sudah tiada dan hanya mewarisi rumah yang ia tempati saat ini.
Lee mengemudikan mobil Arin dengan berjalan perlahan, tidak ada pembicaraan karena rasa canggung. Lee yang tadinya tidak suka dengan Arin bahkan sangat malas jika harus berada disamping wanita itu tak menyangka sekarang dia malah menikahinya.
Sepertinya usaha Tuan D menjodohkan Lee dengan Arin terbilang sukses. Walaupun Lee belum sepenuhnya cinta namun sedikit demi sedikit entah kenapa pria itu terus memberikan perhatian lebih pada Arin. Meskipun bibirnya selalu berkata tidak tapi berbeda dengan hatinya yang terus mengatakan iya.
Seketika pria itu tertawa melihat wajah Arin yang sedang melihat jalanan ke depan.
"Haha...." tawa Lee tiba-tiba sembari mengemudi.
Arin melengos ke melihat tingkah Lee yang tiba-tiba tertawa.
"Kenapa? Apa yang lucu?" Tanya Arin tak mengerti.
"Ada bekas lipstik berbentuk bibir di pipi mu," ucap Lee
Wanita yang baru saja menjadi istrinya itu meraih kaca spion tengah di dalam mobil dan melihat wajahnya sendiri.
Hanya sekilas perbincangan kecil itu terjadi, kemudian kembali terdiam satu sama lain. Tak biasanya Arin bertingkah pemalu seperti itu. Demikian halnya dengan Lee. Namun keduanya saling mencuri pandang. Sampai akhirnya mereka sampai di depan rumah Lee.
"Kita sudah sampai, ini rumah ku. Kau...yakin? Mau tinggal di sini?" Tanya Lee ragu.
"Iya yakin seyakin-yakinnya," ucap Arin dengan mantap, dia belum tahu jika didalam sangat banyak tikus yang bersarang.
"Ini pertanyaan ku yang terakhir kalinya, awas saja jika kau meminta pulang ke rumah orang tua mu," ancam Lee yang sebenarnya ia tidak serius dengan ancamannya itu.
"Haha janji," ucap Arin bersungguh-sungguh dengan melebarkan senyumnya. Lee terlihat gemas dengan tingkah imut perempuan disampingnya itu. Arin masih memakai gaun pernikahan yang sederhana dan terlihat sangat cantik dari biasanya.
Saat Lee membuka pintu rumah, ia menggandeng tangan Arin untuk masuk. Terlihat Arin memandangi sekitar rumahnya Lee
"Rumah ini terlihat nyaman," ujar Arin seraya melangkah pelan dan melihat isi rumah.
__ADS_1
Tak berapa lama, lewat seekor tikus dan mengenai kakinya. Membuat Arin sontak kaget, ia berteriak dan melompat ke pelukan Lee.
"Aaaaa...Tiiikkuuuuus," ucapnya membuat bulu kuduknya meremang.
"Sudah ku bilang kan rumah ku banyak tikus haha," ujar Lee sembari terkekeh.
"Turunlah aku akan menangkap tikus itu," titah Lee seraya menurunkan Arin dengan pelan.
Dengan kekuatan drakulanya Lee menangkap tikus dengan mudah. Seketika tikus putih itu sudah berada dalam genggamannya. Lee kemudian memasukkan tikus itu kedalam mulutnya dan mengunyahnya hingga darah tikus itu sedikit menyembur keluar.
Lee sengaja memperlihatkan keburukannya kepada Arin. Dia ingin menguji seberapa cintanya Arin kepadanya. Arin melongo dan seketika merasa mual dengan kelakuan Lee.
"Huekk," Arin pergi dan mencari toilet tapi dia tidak tahu tempatnya. Ia pun melesat ke arah dapur dan memuntahkan makanannya di wastafel dapur.
"Hueek huueekk," Arin muntah kemudian menyalakan keran untuk menyiram bekas muntah sekaligus membilas mulutnya.
"Maaf aku tidak bermaksud, Aku..." ucap Arin, ia takut Lee marah karena Arin sedikit jijik.
"Ya aku tahu kau jijik dengan ku? Aku begini adanya. Saat berubah menjadi drakula, inilah makananku," ungkap Lee
"Jadi... apa kau yakin masih ingin bersama ku?" Tanya Lee mendekati Arin dan membuatnya berdiri terpojok di depan wastafel.
Lee menunggu jawaban Arin. Ia mengunci Arin dalam kungkungan nya seraya menatapnya tajam. Arin membalas menatapnya, dia mengalungkan tangannya ke leher Lee dan mencium bibir pria itu.
Arin mencium bibir Lee yang baru saja mengunyah tikus hidup-hidup. Ada sedikit bau anyir yang membekas di mulut Lee. Namun Arin mengecupnya dengan rakus, seakan dia tidak pernah jijik dengan pria pemakan tikus itu. Lee membalas kecupan yang semakin liar. Tangannya tak lagi menyentuh dinding wastafel, pria itu kini meraih pinggang Arin dan mendekapnya erat.
"Aku mungkin belum terbiasa dengan kebiasaan mu, Lee aku sama sekali tidak mempersalahkannya. Aku telah memilih mu dan aku yakin ingin hidup bersamamu," ungkap Arin.
Dalam hati Lee ia begitu senang mendengar ucapan Arin. "Terimakasih, dan aku juga harap kau adalah pilihan terakhir ku,"
"Hmm sekarang kau mandilah dan ganti pakaian mu. Sementara, aku akan membersihkan sedikit rumah ini agar tidak ada tikus yang melewati kakimu lagi hahaha," ucap Lee
__ADS_1
"Haha, kau ...hmmm....tidak ingin mandi dengan ku?" Goda Arin dengan menggambar abstrak di dada Lee.