
Steve menemani Trivia di rumahnya. Saat pria itu merebahkan dirinya di sofa ruang tamu, Tri datang memberikannya selimut.
"Ehem, ini selimut untukmu. Kau yakin akan tidur disini?" Tanya Trivia.
"Aku yakin, disini saja," ucap Steve
"Ada kamar tamu yang lebih nyaman, kenapa memilih disini?"
"Lebih nyaman lagi jika tidur di kamarmu," jawab Steve bergurau
"Kau ini," Trivia mengambil bantal kecil yang ada di sofa dan memukul Steve.
"Haha bercanda, disini aku bisa berjaga dan dekat dengan kamarmu kan? Tinggal naik beberapa langkah keatas," jawab Steve dengan senyumnya.
"Oke, kalau begitu aku tinggal ya. Selamat malam," ucap Trivia yang sebenarnya enggan meninggalkan Steve.
Dia ingin bercanda tawa dengan pria itu lebih lama. Tetapi ucapan Steve yang memintanya menjadi kekasihnya membuatnya canggung. Wanita itu masih berdiri menatap Steve dan Steve balik menatapnya, Tri menjadi kikuk.
"Steve,"
"Trivia," Mereka berucap bersamaan
"Kau dulu," sahut Steve
"Tidak kau dulu," balas Trivia
"Kau dulu, kau perempuan. Ladies First," ucap Steve dengan tangan yang direntangkan dengan maksud mempersilahkan wanita itu untuk bicara lebih dulu.
"Hemmm, hehe," Trivia malu untuk berbicara ia pun memainkan jemari tangannya. Steve menarik lengan Trivia untuk duduk di sampingnya.
"Lebih enak jika kau duduk bersamaku, ayo bicaralah," titah Steve.
__ADS_1
"Kau dulu sajalah," pinta Trivia
"Oke baiklah, sebelumnya siapkan hatimu untuk mendengar," ucap Steve.
"Hah?" Tanya Trivia yang bingung maksud pria itu.
"Memangnya Steve ingin mengatakan hal apa?" Batinnya
Steve meraih tangan Trivia dan menyematkan sebuah cincin yang terbuat dari tangkai tanaman yang ia petik di kebun halaman Trivia.
"Aku jatuh cinta padamu sejak melihat mu bersikeras memperbaiki persahabatanmu dengan Liana. Perjuanganmu menyelamatkan sahabatmu, membuatku kagum padamu. Aku seorang yang tidak mudah menaruh perasaan pada orang lain. Tapi aku telah mematri nama mu di jantung hati ku. Trivia menikahlah dengan ku. Jangan pernah mengatakan ini terlalu cepat atau kita belum saling mengenal. Karena kita bisa lebih bahagia jika mengenal cinta itu sendiri dengan sebuah ikatan suci. Apakah kau bersedia menjadikanku suamimu? Aku akan senantiasa membahagiakanmu, melindungi mu dan menemanimu hingga akhir hayat ku," ucap Steve yang mendapat tatapan penuh arti dari mata seorang Trivia.
Ada genangan air di tepi mata wanita itu yang siap mengalir, namun ia menahannya. Trivia masih diam seribu bahasa, sedangkan Steve jantungnya terus berdegup kencang. Pria itu menunggu jawaban Trivia dengan tangannya yang masih menggenggam tangan Tri.
"A-a-a," Trivia terbata-bata ia tak bisa mengucapkan satu patah kata.
"A-a apa?" Tanya Steve dengan hati yang panas dingin.
Hening tercipta. Steve kemudian mengerti jawaban yang hanya diam itu, ia melepaskan genggamannya seraya mengatakan hal yang paling menyedihkan.
"Tidak...tidak aku sudah tidak mengharapkannya. Maaf...aku gugup entah kenapa aku gugup, mungkin karena aku juga mempunyai perasaan yang sama denganmu," jawab Tri yang kemudian ucapannya lancar tanpa hambatan sekalipun.
"Aku ingin kau selalu disisiku, menemaniku dan merajut kebahagiaan denganku hingga maut memisahkan," jawab Trivia dengan malu-malu dan wajah yang memerah.
Steve tersenyum lalu menangkup wajah Trivia dan mencumbunya dengan sangat lembut. Trivia terkejut dan membalas cumbuan itu dengan hati yang masih berdebar. Malam teror hari itu menjadi peristiwa yang akan mereka ingat seumur hidup.
Steve melepaskan ciumannya, ia meraih tangan Trivia dan mencium punggung tangannya.
"Tadi kau ingin mengatakan apa? Sayang?" Ucap Steve yang menambah embel-embel kata sayang.
"Hah...hehe aku sebenarnya ingin mengatakannya padamu, tapi aku malu memulainya dari mana," jawab Tri yang masih dengan ekspresi malu-malu.
__ADS_1
"Terimakasih karena telah menerimaku, kau tahu aku menahan napas saat menyatakan cintaku," aku Steve seraya tertawa kecil.
"Apalagi aku, aku bahkan tak bisa berkata-kata," balas Trivia yang juga tertawa kecil lalu ia meneteskan air mata. Air mata kebahagiaan.
Steve tersenyum ia menyeka air mata Tri dan mengelus kepalanya dengan lembut.
"Sudah larut, tidurlah. Atau kau ingin tidur denganku di sofa ini?" Tanya Steve dengan candanya
"Kau ini ingin sekali tidur denganku, jangan bilang kau sudah tidak sabar," Ucap Trivia mencubit pelan lengan Steve yang kekar.
"Haha ampun aku hanya bercanda. Ampun stop jangan mencubit ku, cubitan mu tidak sakit tapi perih," ucap Steve dengan tawanya dan menghadang cubitan Trivia dengan bantal kecil yang ada di sofa.
Perang kecil pun dimulai dan mereka menikmati kebahagiaan dalam buaian asmara.
Disisi lain, Lee kembali kerumah dengan berjalan kaki. Menghirup udara malam dengan kesendiriannya. Luka akibat peperangan itu sudah membaik dan tertutup sendiri. Tetapi luka hatinya belum terobati dan masih membekas di hatinya. Bahkan semakin tersayat. Ia tahu tentang Trivia, apa yang dikatakan wanita yang dicintainya saat wanita itu. Trivia telah menerima Steve menjadi kekasihnya tidak bukan kekasih tetapi akan menjadi suaminya.
Seekor tikus berjalan cepat dihadapannya. Lee mengambilnya lalu memakannya begitu saja. Beberapa pejalan kaki sekitar yang melihatnya merasa jijik, bahkan ada yang muntah ditempat karena Lee makannya hidup-hidup.
Sebenarnya sebelum memakannya Lee menghilangkan bau dan kotoran di tubuh tikus itu dengan sihirnya. Dan menghilangkan bulunya bersamaan saat tikus itu masuk kedalam mulutnya. Tetapi orang yang melihatnya berpikir jika Lee memakan tikus itu begitu saja. Setelah memakannya ia merasa kenyang sedikit, lalu menyeka sisa darah yang menempel di mulutnya.
"Kenapa banyak tikus yang pergi ke arah gang itu, ada apa disana?" Lee bertanya pada dirinya sendiri.
Kemudian dia memutar arah dan mengikuti kemana tikus itu pergi. Tikus itu berlari kencang menuju gang kecil dekat rumahnya. Gang tempat pembuangan sampah.
Kebetulan saat itu tidak ada sampah disana karena telah habis dibawa truk sampah. Tetapi Lee melihat banyak tikus mengerubungi sebuah jasad yang terbaring disana.
Lee kemudian keluar dari gang dan memanggil orang disekitar memberi tahu jika ada sebuah jasad di gang itu.
Tetapi ia dihadang oleh dua drakula jahat. Wajah mereka lebih mengerikan dibanding kebanyakan drakula lainnya. Terlihat melepuh, mempunya taring dan bahkan memiliki tanduk kecil dan ekor.
"Siapa mereka? Teror apalagi ini?" Ucap Lee yang kemudian ia di libas dengan ekor panjangnya.
__ADS_1
Lee terpental jauh, bahkan kibasan ekor yang melibasnya membuat bajunya sobek dan membuat luka di dadanya. Padahal baru saja luka Lee tertutup kini kembali terbuka dan mengeluarkan darah hitam.
"Mana Tuan mu! Panggil dia kemari jika tidak kau akan ku bunuh!" Ancam salah satu drakula yang mengerikan itu.