
Disisi lain, Tuan D kembali di kediamannya. Ratu Bella mengetahui kejadian yang terjadi di rumah Liana.
"Aku sudah bilang, hubungan kalian akan bertentangan. Ini bukan Masalah cinta nak, tetapi masalah perjanjian mistis. Drakula dan manusia tidak dapat bersatu. Kau tidak mungkin menjadi manusia maka dari itulah, Liana harus bersedia berubah menjadi drakula," ucap Ratu Bella
"Bu, aku sedang tidak ingin berdebat dan aku tidak ingin membahasnya," lirih Tuan D
"Kau harus berusaha terus nak, jika bisa kau bawa saja Liana dan menikahinya tanpa restu keluarga itu. Yang terpenting adalah Alexandra menyetujui hubungan kalian.
"Maaf Bu, aku sudah bilang, aku sedang tidak ingin membahasnya. Dan untuk terakhir kalinya aku tidak akan mengubah Liana menjadi drakula atau apapun itu," ucap Tuan D dengan penuh penekanan.
Tuan D kemudian pergi ke tempat Lee. Ia membawa banyak kantong darah dan melemparkannya ke tubuh Lee yang sedang tidur terlentang di ranjangnya.
"Mati kau tikus," ucap Lee yang terbangun dengan terkejut karena terkena lemparan kantong darah.
Ada 20 kantong darah yang terlihat di ranjangnya juga di pangkuannya. Membuat kedua bola matanya membesar dan bahagia.
"Hadiahmu sesuai janjiku, Kau telah mengubah Arin menjadi baik. Selanjutnya kau ingin melanjutkan hubunganmu dengannya atau tidak itu urusanmu," ucap Tuan D yang kemudian merebahkan dirinya di ranjang milik Lee. Membuat pria itu terusir dari ranjangnya sendiri.
"Terimakasih Tuanku haha akhirnya aku bisa pesta darah," ucap Lee yang menciumi kantong darah. Ia tidak menggubris perkataan Tuan D soal menjalin hubungan dengan Arin. Dia sungguh tidak peduli. Sementara Tuan D sudah terlelap tidur melupakan sejenak masalah hatinya.
Hari sudah gelap, Liana bersikeras ingin pulang. Ia pun pulang dengan mata sembab dan hidung yang memerah akibat menangis. Arin mengantarnya ke rumah yang ia sewa.
"Sudah sampai, kau ingin ku temani?" Tanya Arin sedikit ragu karena hubungan mereka yang tak pernah akur. Dan tentu saja akan sulit bagi Liana menerima perubahan kakaknya itu.
"Ya, masuklah," ucap Liana mengangguk pelan dengan wajah datar menatap ke depan kemudian turun dengan malas.
"Kenapa aku tiba-tiba iba padanya," batin Arin kemudian menyusul Liana yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.
"Kak, kamar tamu ada dilantai dua, bersebelahan dengan kamarku. Tetapi jika kau menginap disini, kau jangan meracau ya. Karena tidak semewah rumah Ayah," ucap Liana
"Haha iya, tenang saja," jawab Arin dengan senyum
Liana menangkap perubahan sikap pada kakaknya itu. A terlihat tulus dan tidak dibuat-buat. Bahkan orang pertama yang membantunya berdiri disaat Liana bersedih adalah dirinya.
Arin menutup pintu dan menguncinya. Sedangkan Liana belum beranjak ke kamarnya, ia masih memandangi kakaknya yang sedang mengunci pintu. Arin berbalik dan menyadari jika Liana memperhatikan dirinya.
"Kenapa kau melihatku terus?" Tanya Arin.
"Kau... ada apa denganmu?" Tanya Liana seraya menempelkan punggung tangannya ke kening Arin dan merasakan suhu pada tubuh kakaknya itu.
"Normal," ucap Liana kemudian menarik kembali tangannya
"Aku tidak sakit," jawab Arin.
__ADS_1
"Kau terlihat berbeda, kau tak ingin menyakitiku lagi?" Tanya Liana
"Ah aku sudah bosan menyakitimu. Mulai sekarang aku akan terus menyayangimu," ucap Arin seraya memeluk Liana dan bahkan mencium pipi adiknya itu.
"Haha aku meragukanmu, jujur saja," ucap Liana
"Wajar saja kau meragukan ku karena bertahun-tahun kita tidak pernah akur," jawab Arin yang kemudian menatap adiknya lekat.
"Aku.... seperti mu, mencintai pria drakula," ucap Arin tiba-tiba
"Apa!?" Pekik Liana yang membuat telinga Arin sakit.
"Aww kau bisa tidak berkata pelan?" Tanya Arin yang kemudian melepaskan pelukannya dan mengusap telinganya yang terasa pekak.
"Haha maaf tapi siapa yang kau suka? Jangan bilang kalau kau masih menyukai Tuan D ku," ucap Liana
"Tidak, bukan dia. Hemmm namanya Lee, dia membuatku berdebar-debar dan dia memberiku sebuah pelajaran berharga," aku Arin
"Lee?" Tanya Liana memastikan
"Lee yang wajahnya seperti Lee Min Ho itu?" Liana kembali menimpali.
"Iya, kau.m.kau mengenalnya?" Tanya Arin.
"Tentu saja, dia teman satu kelasku di kampus, karena sebuah insiden dia menjadi manusia setengah drakula lalu Tuan D mengubahnya menjadi pengikutnya dan bersikap baik," jawab Liana yang langsung mendapatkan delikan mata yang membesar.
"Kenapa kau tidak bilang sebelumnya, Aku sangat ingin mengenalnya lebih jauh. Tapi dia sangat dingin," ucap Arin yang kemudian raut wajahnya berubah memelas.
"Dia baru saja putus cinta dan belum bisa melupakan cinta pertamanya," jawab Liana.
"Kasihan, Kau tahu siapa wanita yang sampai membuatnya susah move on?" Tanya Arin.
"Memangnya jika kau kenal, kau ingin apakan dia?" Tanya Liana.
"Tidak ada, aku hanya ingin tahu seperti apa wanita yang dia sukai," ucap Arin.
"Orang itu tidak jauh dariku dan dia sangat dekat denganku," ucap Liana yang membuat Arin harus menerkanya.
"Trivia?" Terka Arin yang dijawab anggukan kecil oleh Liana
"Kau sudah tahu, jadi jangan membuat masalah ya. Dia sahabatku dan dia masa lalu Lee. Jika kau ingin merebut hatinya, jadilah dirimu sendiri. Kau tak perlu menjadi Trivia agar dia bisa suka padamu," ucap Liana yang juga memberikan sedikit saran.
"Kak aku mau membersihkan diriku dulu, jika ada drakula yang masuk kemari teriaklah. Tapi jika aku tak segera datang, kau kekamarku saja atau panggil saja Lee," ujar Liana
__ADS_1
"Memangnya jika kita memanggilnya begitu saja, dia akan datang?" Tanya Arin
"Coba saja," ucap Liana kemudian tersenyum dan pergi meninggalkan Arin.
Setelah Liana pergi dan menjauh hingga tak terlihat, Arin mencoba memanggilnya. Sebelum memanggil Lee, ia merapikan dirinya terlebih dahulu sampai-sampai wanita itu mengeluarkan kaca kecil dari dalam tasnya dan menambahkan bedak pada wajahnya.
"Lee," panggil Arin dengan suara di manis-maniskan seraya melihat sekitarnya.
"Lee... Lee kemarilah?" Panggil Arin lagi lalu melihat disekitarnya untuk memastikan pria itu benar datang atau tidak.
"Huh dia tidak datang, mungkin harus dalam keadaaan terdesak," Ia pun memikirkan ide cemerlang. Wanita itu segera naik keatas dan membersihkan dirinya.
Sementara di dalam kamar mandi, Liana menangis di bawah guyuran shower. Dia kembali teringat pertentangan yang terjadi beberapa jam yang lalu. Mengingatnya saja membuat hatinya teriris sakit tapi tak berdarah.
Arin yang sudah selesai mandi membalutkan dirinya dengan handuk dan keluar dari kamar mandi. Ia lupa tidak membawa pakaian apapun dan dikamar itu tidak ada pakaian yang bisa dipakai. Arin lalu ke kamar Liana yang terlihat sepi, rupanya Liana belum selesai mandi. Terang saja wanita itu mandi sembari menangis.
"Liana aku pinjam bajumu ya," sahut Arin dengan sedikit berteriak.
"Ya kak, ambil saja yang mau kau pakai," jawab Liana dari dalam kamar mandi.
Setelah mengambil pakaian Liana, ia memakainya di kamar itu seraya bercermin.
"Aku cantik, apa yang kurang dariku sehingga Lee bersikap dingin padaku," ucap Arin yang tiba-tiba teringat akan dirinya yang bersikap dingin pada Steve yang berperut buncit. Ia juga pernah bersikap dingin pada pria yang tidak dia sukai.
"Seperti inilah yang dirasakan pria yang pernah ku tolak dan tidak ku suka. Sekarang karma sedang datang padaku," gumam Arin yang menyadari perbuatannya.
Liana keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono nya. Arin menyeka air matanya dengan cepat agar Liana tidak melihatnya.
"Kak Kau sangat cantik dengan pakaian itu," puji Liana
"Benarkah?" Tanya Arin
"Ya benar kau itu cantik karena kau perempuan," canda Liana
"Hah kau ini, ya sudah aku mau ke kamar ku," ucap Arin
Arin memikirkan ide cemerlang untuk memanggil Lee. Ia pun menjatuhkan dirinya dari pagar tangga seraya memanggil Lee.
"Lee," panggil Arin dalam hatinya. Ide gila yang muncul dari pikiran pendeknya. Arin memejamkan matanya berharap Lee datang menolongnya.
Hap
Lee datang menangkap Arin yang terjatuh. Arin pun merasakan ada seseorang yang menangkapnya, ia membuka matanya perlahan. Dirinya kini ada dalam dekapan Lee tetapi Lee menatapnya dengan raut wajah tidak suka.
__ADS_1
"Lee," ucap Arin seraya membelai pipi Lee
"Kau kira aku siapa! Hah!" Bentak Lee tetapi Arin malah pingsan dalam dekapannya.