
Di sebuah tempat yang letaknya terpencil jauh dari kota dekat dengan perbatasan Transylvania dan Bukares, ada sebuah kastil tua. Tinggallah Dia yang telah lama tertidur. Dia lebih kejam dari drakula, lebih ganas dan lebih menyeramkan. Musuh terbesar kerajaan Drakula sejak dahulu. Sejak jaman Abraham Van Helsing berjaya.
Dia yang namanya tak boleh disebut, ketika manusia menyebut namanya dan membayangkan wajahnya maka dia akan datang dan menyedot isi ubun-ubun hingga habis tanpa sisa.
Namun sudah lama Dia tertidur karena penyatuan kekuatan para penyihir pembasmi drakula dan kekuatan sihir para pengikut Tuan D. Semua terjadi tepatnya setelah hari kelahiran Liana. Dia tak pernah kembali lagi.
Kini Dia yang kejam tanpa ampun telah bangkit. Boscha berada di bawah kakinya menunggu perintah dengan tertunduk penuh ketakutan. Di tanah itu Boscha dapat menginjakkan kakinya di bumi. Karena tidak berada di tanah Trasylvania.
Tidak jelas dia pria atau wanita tetapi sebut saja dia monster karena rupanya yang menakutkan, berbau anyir dan menjijikkan. Dengan mengayunkan tangannya di udara, Boscha terlempar begitu saja.
"Stultus," pekik monster berwajah menyeramkan dengan suara gema berat dan serak. 'Stultus' dalam bahasa latin yang artinya 'Bodoh'.
Boscha terpental hingga melayang ke atas menubruk pilar kastil hingga dinding pilar retak. Boscha kesakitan ia terjatuh namun tak sampai ke dasar karena sudah dapat melayangkan dirinya kembali.
"Aku inginkan dia dan kekasihnya, Ku beri kau satu kesempatan. Sebelum Supermoon menampakkan dirinya. Jika tidak aku akan memusnahkan tubuhmu," ucap monster itu.
Boscha berencana kembali ke Bukares saat pagi menjelang. Sementara Tuan D dan keluarganya tengah berduka terlebih Martin. Sebenarnya ia tahu siapa penyihir itu karena ia sempat mendengar Lauren bergumam menyebut namanya sebelum Lauren pergi menyusul Ratu Bella.
Namun Martin memilih bungkam karena dendamnya terhadap Ratu Bella, ia merasa Ratu Bella harus bertanggung jawab terhadap kematian Lauren karena dia lah istrinya mati.
"Kalian tidak menjaganya dengan baik!" Hardik Martin.
"Bukan begitu, aku sendiri tidak tau jika ia akan datang menyusul karena kita sedang berperan disana bukan sedang pesta," ucap Ratu Bella.
"Sudah jangan saling menyalahkan, Sekarang makamkan dia dengan layak. Kita hidup di dunia manusia, maka ikutlah tradisi mereka. Terlebih lagi D adalah orang terpenting di kota ini," ucap Nenek Mary.
"Kalau saja saat itu kita berpindah tempat, Lauren tidak akan mati seperti ini,"
"Kau pikir dengan kita berpindah-pindah tempat kita akan terbebas darinya? Tidak akan sebelum mereka semuanya musnah," ucap Tuan D
"Kalian diamlah, kalian tidak tahu perasaanku. Benar yang dikatakan Martin, Aku salah karena tidak menjaganya. Dan hukuman yang aku rasakan saat ini adalah penyesalan seumur hidup," ucap Ratu Bella seraya menangis
Setelah itu mereka semua menyiapkan pemakaman selayaknya manusia. Beruntung Lauren tidak di musnahkan Boscha menjadi abu, sehingga jasadnya masih utuh dan dapat di tempatkan di peti mati miliknya.
Tubuh Tuan D perlahan melemah, ia membutuhkan darah manusia terlebih lagi setelah mengeluarkan kekuatan merah itu, tubuhnya menginginkan lebih banyak energi yang membangkitkan. Jika tidak Tuan D akan sakit dan tersiksa.
Ratu Bella sebenarnya kasihan terhadap D serta keluarganya yang memang kodratnya adalah Drakula penghisap darah. Namun hanya darah manusia yang dapat mempertahankan diri mereka sendiri.
"Argghh," gumam Tuan D menahan gairahnya.
__ADS_1
"Bertahanlah sehari saja, untuk sementara ini kau bisa meminum darah binatang yang ada di lemari pendingin," ucap Ratu Bella menyarankan.
"Sayang, jika kau tidak bisa menahannya aku rasa kau bisa memangsa seorang gadis diluar. Jika tidak kau akan tersiksa," ucap Nenek Mary
"Tidak nek, cukup sekali saja saat bulan purnama aku akan memangsa manusia, selebihnya Aku akan berpuas. Bu, kurung aku di peti. Aku sudah berjanji dengan Liana untuk mengurung diri," jawab Tuan D
"Huh kau sedang berbuat apapun dia tidak akan tahu karena dia tidak melihatnya. Dasar bucin, Aku harap lama kelamaan tubuhmu tidak akan kuat dan mulai rapuh kemudian whuuuus, tewas karena kelaparan, haha," ucap Martin dengan tawanya.
Semua melihat kearahnya dengan tatapan tak senang, tanpa tertawa. Jasmine keponakan Lauren, mendekat dan mulai menghias wajah Lauren agar tetap cantik dan terlihat masih hidup.
Sementara Tuan D masuk peti mati tepatnya berada di ruang bawah tanah di kediamannya. Nenek Mary menguncinya dengan portal ghaib. Dan meninggalkannya sendiri.
Di dalam peti itu Tuan D berkeringat, urat-uratnya terlihat di permukaan kulit. Taringnya semakin meruncing panjang. Kuku kuku tangan dan kakinya juga memanjang. Tubuhnya kesakitan hingga ia mencakar-cakar pintu petinya sendiri seraya berteriak-teriak.
"Lee, jagalah Liana jangan lepas dari jangkauanmu," ucapnya mengirim pesan untuk Lee.
Pagi itu pukul dua dini hari Tuan D menahan sakitnya sebelum akhirnya ia melemas kemudian akhirnya berhibernasi.
Pukul empat pagi Liana terbangun dari tidurnya, ia mendengar Tuan D memanggilnya dan menyuruhnya untuk keluar. Langit saat itu masih menghitam dan belum menampakkan fajar.
"Sayang, Liana ku bangunlah. Aku di luar kemarilah sayang," ucap Tuan D.
"Aku ada di balkon, di luar ruangan ini," ucapnya.
Kamar ruang perawatan Kakek Ye VVIP sehingga mempunyai fasilitas balkon yang bisa digunakan untuk menjemur atau menghirup udara segar. Liana kemudian ia beranjak dari sofa di ruangan itu dan menuju balkon. Lee terbangun dan menghentikan Liana.
"Liana kau mau kemana?" Tanya Lee.
"Tuan D memanggilku dan ingin menemui ku di luar," ucap Liana.
"Tidak jangan! Itu bukan Tuan D," jawab Lee
Liana mengernyitkan dahinya tak mengerti karena suaranya mirip sekali dengan Tuan D dan hanya dia yang bisa berbicara kebatinan dengannya.
"Tapi suaranya mirip dengan Tuan D," jelas Liana
"Tidak, itu bukan dia. Percayalah, karena Tuan D sendiri yang memintaku untuk menjaga mu seharian ini. Jadi sudah pasti jika itu bukan dia," ucap Lee.
Liana ingin sekali mempercayai Lee namun Lee pernah berbuat jahat kepada Tri sehingga ia menjadi ragu untuk mempercayainya.
__ADS_1
"Yang bisa mendengar suara Tuan D adalah aku, mana mungkin suara itu bisa ada yang menyamai," batin Liana.
Lee sama sekali tidak bisa mendengar kata hati Liana karena dia tidak berasal dari keturunan drakula. Sehingga apa yang Liana pikirkan saat itu ia tidak tahu.
"Hemm baiklah, tapi tak ada salahnya kan membuka pintu balkon ruangan ini," ucap Liana seraya bergerak cepat untuk membuka pintu balkon.
Syuuuuut
Angin kencang menerpa Liana dan diluar nampak sosok Tuan D, Liana datang menghampiri. Namun seketika sosok pria itu berubah menjadi bayangan hitam dan menarik Liana. Lee segera menarik Liana dengan kekuatannya dan mencoba mengusir bayangan hitam yang sudah menyelimuti Liana.
"Aaah...," pekik Liana karena tubuhnya tertarik sesuatu. Kemudian Lee mengerahkan semua kekuatan sihir yang baru ia dapatkan dari Tuannya.
Sssrreettzzz
Bayangan hitam yang menarik Liana hilang seketika tetapi Liana menjadi tertarik ke belakang karena tadi Lee menariknya dengan kekuatannya, segera ia menangkap wanita itu agar tidak terjatuh. Liana dengan refleks berpegangan pada leher Lee. Pria itu menjadi kesakitan pada bagian yang tak sengaja bersentuhan dengan tubuh Liana
Nenek Anie terbangun mendengar suara Liana yang menjerit serta suara bising di pintu balkon. Nenek Anie malah melihat Lee dan Liana seperti orang yang berpelukan.
"Ehemm masih pagi sudah pacaran saja," ucap Nenek Anie yang salah mengira hubungan mereka. Liana segera bangkit seraya merapikan pakaiannya.
"Nenek bukan begitu, tadi Liana hampir terpeleset dan Lee menangkap ku," ucap Liana.
"Lanjutkan saja Liana anggap saja Nenek tidak ada di sini," ucap Nenek tertawa kecil kemudian kembali tidur karena masih mengantuk.
"Nenek, aku tidak ada apa-apa," jelas Liana
"Lee maaf, maaf aku tidak sengaja karena takut terjatuh, tidak parah kan sakitnya?" Bisik Liana pada Lee.
"Hemm tidak begitu parah kok, hanya sakit seperti terkena air panas," ucapnya.
"Wah melepuh dong?" ucap Liana seraya ingin melihat tengkuk leher Lee.
Liana melihat kulit di lehernya itu memerah dan terlihat asap yang keluar dari kulitnya.
"Astaga lehermu sepertinya melepuh, biar ku obati sebentar aku punya obatnya," ujar Liana.
"Tidak usah, nanti juga membaik sendiri," ucapnya kemudian menutup pintu balkon namun sebelum itu Lee memandang ke arah luar jendela untuk memastikan keamanan.
"Ada Drakula-drakula pengikut Tuan Bos dibawah, rumah sakit ini tidak aman, Aku harus apa?" Gumam Lee pada dirinya sendiri.
__ADS_1