
Doni menutup kaca jendela mobil, disaat yang bersamaan kepala petugas tol juga sudah masuk kedalam. Wajahnya yang telah berubah menjadi drakula terus membuka mulut menunjukkan kedua gigi taringnya yang runcing.
Doni tidak bisa menutup karena ada kepala petugas itu sedang terjepit. Yuan Ye kemudian menyuruh Doni untuk menancapkan gas selagi pintu portal terbuka.
"Doni, cepat tancap gas!" Pekik Yuan Ye.
"Ini gimana Paman, kepalanya terjepit dan tidak mau keluar," jawab Doni yang berusaha menutup jendela.
"Sudah tabrak saja, dia kan sudah bukan manusia lagi. Cepet Don, nanti keburu portalnya tertutup," perintah Yuan Ye lagi.
"I-iya paman, nanti kalau Doni dihantui, paman tanggung jawab ya,!" ucapnya.
Doni kemudian segera menginjak pedal gas. Terlihat pintu portal akan menutup. Semua tegang terlebih lagi Yuan Ye dan Doni karena mereka berada di paling depan.Yuan Ye menunduk diikuti Doni yang menundukan kepalanya hingga berada dibalik setir.
Whuuus.
Mobil berhasil keluar dari tol dan setelah itu pintu portal tertutup.
"Untung saja mobilnya bisa melesat duluan," ucap Doni seraya mengelus dadanya.
Ia lupa akan keberadaan drakula itu. Kepalanya terpenggal dan hanya menyisakan lehernya yang terjepit di jendela dengan mata terbelalak dan mulut menganga. Tubuh petugas itu tersangkut dinding portal dan kemudian terjatuh.
"Kyaaa....Doni kepalanya masih nyangkut!" Teriak Arin.
"Huaaa kaget aku," Doni lalu mengambil tas kerja milik Yuan Ye yang ia letakkan di samping pintu mobil. Kemudian di pukulnya tas itu ke kepala petugas yang tersangkut itu.
Gluduk gluduk
Kepala itu pun berhasil keluar dan bergelinding di depan pintu jalan tol. Perjalanan dilanjutkan kembali seraya mencari klinik terdekat.
"Doni siapa yang suruh pukul pakai tas kerja paman? Kamu tahu harga tas itu berapa?" Hardik Yuan Ye yang kemudian dijawab gelengan kepala oleh Doni.
"Harganya lima juta, sini tas paman!" Ucap Yuan Ye yang masih memikirkan tasnya.
"Tasnya akan semakin mahal paman karena tas itu bisa menyingkirkan kepala drakula yang terjepit hehehe," ucap Doni dengan candanya.
"Dasar kamu ya, jalan pelan-pelan Don. Sepertinya ada klinik di dekat sini," perintah Yuan Ye.
"Dona dan Paman lihat di sebelah kiri, Arin dan aku lihat disebelah kanan ya, cari kliniknya biar gak kelewatan," pinta Doni seraya melihat ke arah kanan.
"Stop Don, stop!" Pekik Raline dari belakang.
Doni lalu menepikan mobilnya dan berhenti.
"Kenapa Tante?" Tanya Doni.
__ADS_1
"Itu kliniknya didepan persis tuh, kiri jalan. Lampunya balihonya mati, atau sudah tutup?" Tanya Raline.
"Iya bener itu kliniknya, mungkin rusak lampunya Tante," ucap Dona.
"Yaudah ayo kesana," perintah Yuan Ye.
Doni segera melajukan mobilnya pelan dan berhenti di depan klinik. Semuanya turun kecuali Doni dan Dona, mereka berdua trauma jika ada drakula lagi.
Klinik itu terlihat menyeramkan, seperti bangunan yang sudah tua dan tidak terawat. Yuan Ye berjalan di depan yang disambut petugas keamanan.
"Selamat malam pak, mau berobat atau periksa?" Tanya petugas keamanan itu.
"Ya dua-duanya," jawab Yuan Ye nyeleneh.
"Tidak bisa pak, harus salah satu. Jika periksa saja dan tidam ambil obat, Anda masuk ke kiri. Kalau periksa dan ambil obat sekalian masuknya ke sebelah kanan," jelas petugas keamanan itu.
"Haduh ada-ada aja kliniknya," batin Raline.
"Ya salah pilih sebelah kanan," ucap Yuan Ye kemudian masuk ke ruangan sebelah kanan.
Sembari menunggu panggilan dokter mereka duduk di ruang tunggu. Para perawat berkerumun melihat siaran langsung dari salah satu stasiun televisi. Terlihat mereka saling beragumen masing-masing. Yuan Ye mencuri dengar pembicaraan mereka kemudian mendekati perawat yang bergerombol di belakang meja apotik.
"Ehem, maaf ada berita apa?" Tanya Yuan Ye pada perawat itu.
"Ini ada siaran televisi yang bilang kalau di dekat tol ini terjadi penyerangan dari drakula-drakula, polisi baru saja mengamankan. Kok bisa ya jaman sekarang masih ada drakula. Saya hampir gak percaya," ucap perawat.
Perawat yang mendengarnya langsung bergantian mendekati Yuan Ye dan bertanya langsung seperti para reporter. Mereka semuanya langsung kena tegur dari dokter yang memeriksa.
Arin masuk kedalam setelah namanya dipanggil.
"Cakaran ini apakah bisa menjadikan saya berubah jadi Drakula dok?" Tanya Arin yang paranoid sendiri.
"Haha sebenarnya saya tidak tahu, tetapi jika dilihat dari lukanya sepertinya tidak," jawab sang dokter sedikit ragu tetapi dia akhirnya berkeyakinan pada dirinya sendiri.
Doni dan Dona masing-masing memainkan gadgetnya, namun wanita itu melihat sekelebat bayangan yang berseliweran. Dia pun kembali ketakutan, paranoid melanda.
"Doni kunci pintunya dan matikan Gadgetmu!" Perintah Dona yang lantas meringkuk menyembunyikan dirinya agar tidak terlihat dari kaca jendela.
"Tanggung nih aku lagi mabar," jawabnya yang masih fokus dengan layar hapenya.
Duuuug Duuug
Terdengar bunyi suara kaca yang di ketuk sangat kencang. Dona tak berani melihat siapa yang mengetuk mobil itu. Sedangkan Doni masih fokus dengan main game di ponselnya.
Suara ketukan itu kembali terdengar. Dengan gemetaran Dona akhirnya mengintip di balik jari yang menutupi wajahnya. Ada perasaan lega setelah tahu yang menggedor kaca jendela itu adalah Arin.
__ADS_1
"Hah rupanya kau," ucap Dona seraya membuka mobil yang terkunci.
Semuanya masuk, Raline masuk paling akhir namun sebuah tangan memegang pundaknya dengan sedikit penekanan. Raline berbalik dan kemudian berteriak setelah tahu siapa yang memegang pundaknya.
"Drakuliiii," teriaknya
Semua melihat keluar apa yang terjadi sehingga Raline berteriak, bukannya segera masuk tetapi wanita itu malah terpaku seraya berteriak.
"Bu masuk," ucap Arin seraya menarik tangan Ibunya kemudian si Drakula wanita itu mencoba meraihnya dan mendekat.
Dor Dor Dor
Sebuah peluru tepat mengenai jantung drakula dan menghentikannya. Drakula itu jatuh tersungkur tepat di kaki Raline. Wanita itu terpaku dengan mata terbelalak dan jantung yang berdebar kencang.
Yuan Ye keluar dari mobil dan mencoba menenangkan Raline. Pria muda yang menembak itu mendekati mereka dan menyuruh untuk segera pulang.
"Tempat ini tidak aman, pulanglah dan sebaiknya jangan keluar rumah untuk beberapa waktu," ucap Pria muda bertubuh kekar di pakaian rompinya tercantum sebuah nama Steve.
Dona dan Arin terpana melihat pria muda dari dalam mobil. Mereka menganga melihat ketampanan dan keberanian pemuda itu.
"Terimakasih telah menolong kami," ucap Yuan seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan di balas oleh pria didepannya.Arin yang melihatnya kemudian keluar dan ingin berjabat tangan juga.
"Terimakasih, Saya Arin, ka-kamu Siapa," tanya Arin dengan wajah yang dimaniskan.
"Steve," jawabnya yang juga berjabat tangan.
Kemudian Dona tak mau kalah, ia juga keluar dari mobil dan ingin berjabat tangan dengan Steve. Namun Steve segera pergi dengan alasan harus mengamankan tempat lain.
"Maaf saya harus mengamankan tempat lain. Pulang dan berhati-hatilah," ucapnya dengan penuh wibawa kemudian pergi dengan pistol di tangannya.
Yuan Ye menyuruh semuanya masuk mereka pun menurut. Dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Didalam mobil Yuan Ye memperhatikan tingkah Arin yang tersenyum sendiri.
"Arin, kamu baru saja di putuskan Rey sebaiknya kamu memperbaiki hubunganmu dengannya. Apa kamu tidak malu baru bertunangan sudah di putuskan? Jangan malah mencari pria lain,"
"Ah aku sudah membencinya Ayah, baru tunangan saja sudah main tangan," ucap Arin yang kembali kesal.
"Besok kita kerumah mereka dan meluruskan masalah ini. Urusan mereka masih mau melanjutkan pertunangan ini atau tidak setidaknya kita menjelaskan perkara sebenarnya agar tidak berkepanjangan," ucap Yuan Ye
"Perkaranya sudah jelas, Arin yang salah paman. Sebaiknya jangan kesana karena hanya bikin malu keluarga kita," ucap Doni yang asal bicara.
"Astaga apa itu," pekik Doni seraya menunjuk kearah depan.
Semuanya melihat ke arah yang di tunjuk Doni, terlihat seorang wanita sedang di hisap darahnya oleh drakula pria.
"Ih bukan, itu orang pacaran," ucap Dona yang memukul bahu Doni dengan pelan.
__ADS_1
"Astaga bikin paranoid aja," ucap Raline.
"Haha, aku kira itu drakula yang hisap rupanya orang pacaran di pinggir jalan hehehe..."