
Tuan D membawa Liana ke dimensi lain. Mengulang ke-23 tahun yang lalu dimana detik-detik Liana akan dilahirkan. Pria itu menggenggam tangan Liana, memejamkan matanya untuk berkonsentrasi. Di ikuti Liana yang juga memejamkan matanya.
Kini Liana masuk disebuah jalanan yang penuh peperangan. Mobil berterbangan dan terjatuh meledak dan hancur. Manusia berlarian karena teror Drakula yang mengancam nyawa mereka.
Liana melihat para penyihir mengeluarkan kekuatannya mengusir para drakula yang ingin menyerang manusia. Disamping itu Liana juga melihat sesama drakula yang saling menyerang. Tentu saja drakula baik itu adalah pengikut Tuan D dan Ratu Bella. Liana dapat mengetahui jika ia seorang Ratu karena dengan melihat pakaiannya gaun merah yang anggun dan sebuah mahkota kerajaan yang melingkar di kepalanya.
"Diakah Ratu drakula?" Tanya Liana pada Tuan D yang ada disampingnya.
"Iya, dia Ratu sekaligus Ibu ku," jawab Tuan D
"Ibumu sangat cantik, kau mewarisi ketampanan mu dari dirinya," ucap Liana memuji.
Kemudian Wanita itu melihat di belakang Ratu Bella ada seseorang yaitu Tuan D. Tentu saja Liana mengenalnya karena saat itu Tuan D sudah dewasa, dia berumur 97 tahun saat itu.
Tuan D tengah bertarung melawan Monster mengerikan itu, terlihat kekuatan Tuan D yang terserap oleh monster itu. Tuan D berusaha melepaskan dirinya dan akhirnya berhasil.
Kekuatan yang diserap tak sampai habis mungkin separuhnya, tetapi Tuan D masih belum aman. Ia bahkan diseret oleh monster kegelapan yang wajahnya sangat mengerikan. Ia mempunyai sayap yang lebar, taring yang panjang dan wajahnya yang melepuh berwarna gelap. Matanya merah menyala, tidak jelas pria atau wanita. Monster itu bersiap terbang dan melayang, Tuan D tidak mampu melepaskan dirinya dari jeratan monster. Ratu Bella berbalik dan berteriak. "D bertahanlah,"
Saat Ratu Bella hendak menolongnya dan menghentikan waktu di depannya, sebuah tombak dari arah belakang Ratu Bella berhasil menghunus tepat di jantung monster itu.
Monster itu berteriak menggemakan suara beratnya hingga mengundang perhatian manusia dan drakula lainnya.
"Aaaarrrrrgghhhh....." Teriak Monster itu seraya melepaskan cengkeramannya menjatuhkan Tuan D dan kemudian menghilang.
Tuan D terjatuh namun ia segera menggunakan kekuatan agar segera melayang dan tidak jatuh ke tanah.
Ratu Bella berbalik mendekati seseorang yang menghunuskan tombak itu.
"Kau... Kau manusia baik yang menyelamatkan anakku, terimakasih. Aku berhutang budi pada mu, siapa nama mu?" ucap Ratu Bella diakhiri pertanyaan, lalu kemudian melihat wanita itu kesakitan memegangi perutnya yang tengah hamil besar.
"Astaga kau, apakah kau mau melahirkan?" Tanya Ratu Bella
Wanita itu berusaha berbicara dengan mengatur napasnya. Ratu Bella berusaha menopangnya berdiri.
"Aku Alexandra. Tolong, bawa aku pulang dan panggilkan orang tuaku," ucapnya
"Di-dia Ibuku?" Tanya Liana yang ternganga melihat perjuangan Ibunya saat hendak melahirkannya.
"Iya, dia ibumu dan aku berhutang padanya," ucap Tuan D. Liana kembali melihat peristiwa itu.
"Baik, bayangkan saja rumahmu dan orang tuamu lalu sebutkan dimana mereka," ucap Ratu Bella
Wanita itu menurut dan membayangkan rumahnya serta orang tuanya yang tak lain adalah mantan mertuanya. Karena kedua orang tua kandung wanita itu telah tiada, sedangkan mertua aslinya berada diluar pulau, sehingga ia memanggil mantan mertuanya yang tinggal di dekat rumahnya saat itu.
Dengan segera Ratu Bella membawa wanita itu diikuti oleh Tuan D yang masih merasa lemah karena kekuatannya diambil. Sesampainya dirumah Alexandra, Ratu Bella membaringkannya di ranjang dan menyelimutinya serta memberikannya minum.
"Bertahanlah aku akan memanggilkan orang tuamu," ucap Ratu Bella tetapi ditahan oleh Lauren yang saat itu juga mengikuti Ratu Bella.
"Biar aku saja yang memanggil mereka, dirimu masih diperlukan untuk menyerang drakula jahat itu," ucap Lauren
__ADS_1
"Baiklah, aku mengandalkan mu, dan Kau D berjaga disamping Nyonya Alexandra," pesan Ratu Bella dan kemudian pergi.
Tuan D membawa Liana mengikuti Lauren untuk pergi mencari orang tua Alexandra. Orang tua itu berada di rumah sakit. Raline menantunya juga akan melahirkan.
"Siapa wanita itu," Tanya Liana menunjuk Lauren.
"Dia tanteku, dan dia baru saja meninggal diserang Boscha," ucap Tuan D
"Astaga, aku turut berduka," ucap Liana dan kemudian kembali ke pandangannya saat itu. Liana berada di rumah sakit.
Dimensi ini seperti terlihat nyata, karena Liana melihat seperti dirinya benar-benar berada disana.
"Apakah Kau Tuan Ye?" Tanya Lauren
"Kau drakula, untuk apa kau kemari hah?" Tanya Kakek Ye.
"A-aku kesini karena Alexandra menyuruhku untuk memanggil kalian. Wanita itu sedang kesakitan sepertinya akan melahirkan. Ikutlah dengan ku, Aku akan mengantar kalian," ucap Lauren
Kakek Ye sedikit tidak percaya tetapi Nenek Anie takut jika itu benar dan Alexandra membutuhkan mereka. Akhirnya mereka ke rumah Alexandra dengan kekuatan Lauren. Setelah itu Kakek Ye mengucapkan terimakasih, dengan cepat Lauren meraih tangan pria tua itu dan memberi tanda pada telapak tangannya. Kakek Ye merintih kesakitan dan mengusir Lauren.
"Haha maaf Tuan Ye, darahmu sangat menggiurkan," ucap Lauren sembari tertawa dan pergi.
"Dasar Drakula!" Desis Kakek Ye.
"Mereka baik ayah," bela Alexandra.
"Tidak semua drakula seperti itu, contohnya suami ku, meski ia berubah menjadi drakula tetapi aku masih manusia kan?" Jawab Alexandra lalu mengeluh kesakitan karena mulas seperti ingin ada yang keluar dari rahimnya.
Liana masih terus mengikuti mereka, dan bahkan melihat proses persalinan yang membuat Liana terharu. Beberapa menit kemudian Liana lahir. Alexandra lemas setelah kelahiran Liana.
"Cucu ku, dia cantik sayang. Dia seperti mu," puji Nenek yang berhasil membantu persalinan Alexandra. Ia menggendongnya lalu setelah dibersihkan, dia menyerahkan bayi itu pada Alexandra.
"Aku akan memberikan nama Liana Evelyn, bagaimana menurut Ibu dan Ayah," tanya Alexandra.
"Nama itu cantik dan bagus," jawab Kakek Ye.
Tuan D memperhatikan Liana yang sedang menangis.
"Kenapa menangis?" Tanya Tuan D
"Aku terharu melihat perjuangan Ibuku melahirkan ku, oh ya dimana kamu? Bukankah ibumu menyuruhmu untuk menjaga Ibuku?" Tanya Liana.
"Aku berada dibalik pintu kamar dan menyaksikan mu lahir," ucap Tuan D tersenyum.
"Kakek membawaku kemana?" Tanya Liana smebari melihat Kakeknya yang sudah pergi membawa Liana
"Kita ikuti Kakek atau tetap disini?" Tanya Tuan D
"Ikuti Kakek,"
__ADS_1
Setelah itu Tuan D mengantar Liana ke peristiwa dimana Kakek Ye membawanya.
"Kakek menaruh mu di sebuah peti yang sudah ia oleskan darah hewan di luar petinya, untuk menyamarkan aroma mu, karena kau baru lahir dan pasti akan menjadi incaran para Drakula," ucap Tuan D yang menerangkan apa yang Kakek lakukan saat itu.
Setelah itu Kakek menutupnya dengan portal pelindung. Dan pergi menyusul Nenek dan Alexandra.
"Aku berada disana, melihatmu menangis di dalam peti. Aku berpikir untuk menjagamu disana karena Nyonya Alexandra sudah dijaga Nenekmu. Tetapi kau malah menyentuh portal pelindung mu dan membukanya. Dari situlah aku tahu kau mempunyai energi supermoon. Dan itu akan membahayakan dirimu," Ucap Tuan D
"Jadi bukan Kau yang membuka portal pelindung yang dibuat kakek? Ternyata akulah biangnya," ucap Liana.
Lalu beberapa drakula mendekati Liana, Tuan D menghajar drakula itu namun drakula lain terus berdatangan sehingga Tuan D hampir kewalahan.
Disisi lain Monster itu kembali kali ini ia mengincar wanita yang telah menusuknya dengan tombak. Nenek Anie melindungi Alexandra sekuat tenaganya tetapi nenek terjatuh. Tak berapa lama Kakek Ye datang dan mencoba menghentikan monster itu, tetapi terlambat.
Kakek Ye dan Nenek Anie keluar dan ikut menghentikan peperangan. Mereka berdua bersama penyihir lainnya menyatukan kekuatan mereka. Dengan waktu yang bersamaan D mengeluarkan kekuatan merahnya juga dan melontarkan kekuatannya pada drakula-drakula yang mendekati Liana. Dalam sekali tebasan kekuatan merahnya, 20 drakula jahat yang didepannya musnah dalam sekejap.
Tuan D menggoda Liana karena menangis terus-menerus hingga bayi itu tertawa. Kakek Ye datang melihat Tuan D yang menggoda Liana. Saat pria itu ingin menggendongnya. Nenek Anie mengusirnya.
"Jadi seperti itu kisahnya, Kamulah drakula yang menggenggam jemariku, membuatku tertawa," ucap Liana.
"Haha ya dan saat itu aku menyesal karena tidak membuat tanda ditelapak tanganmu sehingga aku sempat kehilangan dirimu," ucap Tuan D seraya tertawa kecil.
"Lihatlah rawa-rawa tempat kakek menyembunyikan mu perlahan berubah menjadi rumah, dan kini sebuah pertokoan. Apakah kamu ingat tempat itu?" Ucap Tuan D yang kemudian memutar-mutar dimensi itu dari waktu ke waktu.
Liana menganga dibuatnya dia tak habis pikir, selama itu setiap purnama Tuan D terus menunggu Liana ditempat itu. Hingga pertemuan mereka yang pertama, tidak sebenarnya itu pertemuan kedua. Saat Liana beranjak dewasa dan meminta tolong padanya yang sedang menghisap cerutu sembari bersandar di mobilnya.
"Sebenarnya Aku sudah mengenalimu saat itu, dari tatapan mata yang persis dengan ibumu. Tapi aku justru takut berhadapan denganmu karena aku seorang drakula. Aku takut dengan kata penolakan, sehingga aku membuat jebakan agar kau mau menuruti ku, haha aku egois ya," ucap Tuan D yang mengakui perbuatannya saat itu.
Liana menatap Tuan D, masih dijalan pertokoan saat Liana dikejar preman dan bertemu dirinya. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher Tuan D dan mendekatkan wajahnya. Menatap Tuan D dari dekat perlahan bibirnya disatukan ke bibir pria drakula itu. Liana mengecup bibirnya tanpa paksaan. Tuan D terkejut dibuatnya, pria itu membalas kecupan dengan lembut. Terasa napas mereka saling bertukar dan semakin memanas. Tuan D tak ingin dirinya lebih panas. Ia seorang drakula bukan manusia. Ia takut jika Liana akan menjadi santapannya, ini masih hari kelahirannya. Pria itu melepaskan kecupannya kemudian.
"Sayang," Ucap Tuan D
"Jangan bawa aku lebih dari ini, meski aku sangat ingin lebih lama mengecup mu. Tapi aku tidak ingin menyedot darahmu sampai habis," ucap Tuan D
"Haha Aku rela sayang. Selamat ulang tahun drakula ku. Terimakasih atas ketulusan mu,"
"Terimakasih Ratu ku," ucap Tuan D yang mengecup kening Liana kemudian dimensi itu kembali. Mereka sekarang berada dikamar Liana.
"Aku merubah pikiranku, terlalu lama menunggu satu tahun," ujar Liana.
"Apa maksudmu?" Tanya Tuan D dengan mengerutkan alisnya.
"Aku ingin kau menikahi ku secepatnya! Kali ini akulah yang egois haha," ucap Liana dengan tawa kecil dan manisnya.
"Dengan senang hati Ratu ku, besok aku akan melamar mu," jawab Tuan D
****
Kalau ada yg typo maaf author ngantuk 🙏
__ADS_1