Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Klien Besar


__ADS_3

Benar-benar ajaib tangan perias itu meskipun ia adalah pria dan sedikit feminim tetapi dia tahu benar mana bagian yang harus di tonjolkan atau disamarkan.


Nenek Anie kembali dengan beberapa obat dan air putih hangat untuk Kakek Ye sembari melihat Liana yang hampir selesai di rias.


Rambut Liana yang lurus di gerai dan di bentuk Curly yang cantik. Warna rambutnya yang sedikit kemerahan di berikan pewarna gelap dengan alat pewarna rambut yang di semprotkan seperti spray.


Bibirnya yang sedikit tebal dibagian bawah di beri lipstik berwarna pink fanta dan tidak semua bibirnya disapukan lipstik. Apa sih namanya ada yang tahu? Mungkin readers tahu maksudku hehe.


Pipinya di beri warna agak gelap di bawah tulang pipi, sehingga terlihat menonjolkan tulang pipi itu sendiri. Tak lupa Blush On berwarna pink di kuaskan dengan sangat tipis pada atas tulang pipinya. Shading pada bagian hidung diberi sedikit saja karena hidung Liana sudah mancung ke depan. Kemudian pada leher Liana yang jenjang di kalungkan dengan kalung imitasi dan berhias bunga kecil berwarna silver mengelilingi kalung bagian depan. sehingga leher jenjangnya tidak tampak panjang.


"Perfecto," ucap sang perias


Dengan bangga ia terus memandangi Liana yang cantik berkat hasil karyanya. Tidak sebenarnya Liana sudah sangat cantik.


Asisten perias itu memegang sebuah kaca kemudian menyuruh Liana untuk melihat penampilannya. Liana beranjak dari duduknya dan mendekati cermin panjang yang telah dipegang asisten perias itu. Begitu Liana mendekat ia lantas menyentuh pipinya sendiri dengan tertegun. Liana sendiri terkejut dengan penampilannya yang baru.


"Ini benarkah ini aku?" Tanya Liana.


"Yes baby, itu kamu," ucap pria gemulai yang kini berdiri di belakangnya.


Kemudian Liana mencoba untuk tersenyum dan tertawa kecil. Ia tak menyangka jika dirinya bisa cantik seperti seorang Princess. Kakek Ye ikut tersenyum setelah menelan beberapa butir obat. Sedangkan Nenek mendekati Liana merengkuhnya dan mengatakan sesuatu yang membuat Liana senang.


"Cucuku semuanya cantik, tetapi kamu lebih cantik Liana. Selalu menjadi Liana yang baik hati ya sayang," ucap Nenek sembari mencium pipi Liana.


"Nenek terlalu memuji, sebenarnya Aku baik jika orang itu baik juga terhadap ku,"


"Kakek senang kau berpikiran seperti itu. Tapi akan lebih baik jika keburukan dibalas dengan kebaikan karena suatu saat keburukan itu akan mengalah karena kebaikan itu sendiri," ujar Kakek Ye.


"Ya Kakek benar, terimakasih Kek, Aku akan berusaha baik pada semuanya," ucap Liana.


Kemudian Liana berangkat ke pesta pertunangan Arin. Tak lupa sebelum ia pergi, Liana mengucapkan terimakasih kepada sang perias.


Sementara di pesta pertunangan Arin, cincin telah melingkar di jari manis keduanya, semuanya turut bahagia. Acara pesta pun berlangsung meriah, banyak kalangan orang kaya dan konglomerat hadir di pestanya.


Rey asik berbincang dengan kolega bisnisnya sedangkan Arin juga sama halnya, ia sedang bersama teman-teman gengnya memamerkan berlian merah dan berkata jika Rey yang memberikannya untuknya.


Rey sedikit mendengar namanya di sebut, ia lalu pamit pada koleganya kemudian menemui Arin dan teman-temannya.


"Ada apa ini, kenapa namaku disebut? Kelihatannya ada yang seru?" Tanya Rey.


"Wah Rey, aku mau juga dong dikasih berlian merah kayak gitu," ucap Siena, teman Arin seraya menunjukkan batu berlian merah yang menggantung pada leher Arin.


Rey merasa aneh, karena ia tidak pernah memberikannya. Ia lantas menatap Arin dengan isyarat mempertanyakan itu semua. Arin balas menatap Rey dengan wajah sedikit takut.


"Permisi sebentar ya, ada yang ingin saya bicarakan padanya," ucap Rey pada teman-teman Arin seraya menarik tangannya untuk menjauhi temannya dan berbicara ke tempat yang lebih sepi.


"Kalung siapa itu? Aku tidak pernah memberikannya," ucap Rey dengan nada tinggi tapi dipelankan. Pria itu sedikit cemburu, ia tak ingin jika kalung itu adalah pemberian dari pria lain.


"Hemm i-ini punya Liana, dia diberi oleh laki-laki tidak jelas. Kemudian Ayah marah dan menyuruhku untuk memakainya," ucap Arin mengarang cerita.


"Apa!? Laki-laki tidak jelas? Cih Liana di depanku dia sangat jual mahal, rupanya demi berlian itu ia rela memberikan dirinya," batin Rey yang sudah berburuk sangka pada Liana karena termakan ucapan Arin.


Kemudian nama yang mereka sebut kini hadir di pintu masuk, membawa sebuket bunga mawar merah untuk sang kakak tercinta. Semua orang yang menghadiri pesta itu menatap Liana penuh kekaguman. Ia seperti seorang Puteri kerajaan, cantik anggun. Hingga mereka semua berbisik-bisik.



Arin dan Rey mendengar bisikan dari para tamu dan membuatnya menoleh seketika untuk melihat siapa yang datang.


"Liana," ucap Rey tanpa berkedip.


"Huh dasar pria, tidak bisa menjaga matanya untuk tidak melihat wanita lain," ucap Arin yang pergi dengan menyenggol bahu Rey.


Liana mulai memasuki gedung mencari keberadaan sang kakak atau orang tuanya. Yuan Ye yang sama sekali tak melihatnya kemudian menghampirinya, ia sempat tak mengenali anaknya itu.


"Sayang kenapa kamu terlambat," ucapnya seraya merangkul puterinya kemudian membawanya masuk ke dalam.


"Maaf Ayah tadi perias yang merias kak Arin mendandaniku sebentar, jadi seperti ini. Apakah penampilan ku buruk? kenapa mereka semua menatapku seperti itu?," Tanya Liana.

__ADS_1


"Haha tidak sayang, justru kamu cantik sekali. Mereka menatap mu karena terpesona olehmu. Ayo Ayah kenalkan dengan rekan bisnis Ayah,"


Liana di kelilingi teman bisnis Ayahnya, banyak yang memujinya cantik hingga Liana risih dengan itu semua, ia lantas menanyakan keberadaan sang kakak.


"Yah, dimana kak Arin?" Tanya Liana


Belum sempat pertanyaan itu dijawab oleh Yuan Ye, Arin sudah berada dibelakangnya. Ia kalah cantik dibandingkan Liana. Semua mata para tamu tersorot akan penampilan Liana kala itu.


"Kenapa mencari ku?" Tanya Arin ketus.


"Kakak, selamat atas pertunangan mu," ucap Liana tersenyum tulus seraya memberikan sebuket bunga kemudian memeluknya, mencium pipi kanan dan kirinya.


Liana mendengar ucapan Kakeknya, ia berusaha membangun kembali hubungannya pada Arin. Tetapi Arin tidak senang, ia membalas dengan senyum tapi senyum yang dipaksakan.


Teman bisnis Ayahnya yang melihatnya disana ikut senang dengan keakraban kakak adik itu, terlebih Yuan Ye yang senang jika mendapat pujian.


Tak berapa lama sosok kehadiran yang ditunggu-tunggu Yuan Ye datang, klien terbesarnya. Jika bukan karena kliennya itu, perusahaan Yuan Ye sudah bangkrut sejak dulu.


Yuan Ye bersama istrinya segera menghampiri Kliennya itu, ia menyambutnya dengan sedikit membungkukkan badan. Semua perhatian tersorot pada pria yang baru saja datang itu.


Arin ikut memperhatikan pria berjas dengan sepatu pantofel, jam tangan dan kacamata hitam yang ia pakai semua bermerek. Membuat Arin terpesona terlebih saat pria itu membuka kacamatanya. Semua wanita bahkan pria pun tertarik dengan pria yang baru saja datang.


"Astaga jantungku berdebar, pria itu sangat tampan Liana," ucap Arin dengan mata yang tersihir cinta.


Liana yang berdiri didepannya sedari tadi tidak melihat pria itu, saat Arin mengatakan itu barulah ia memutar badannya dan berbalik. Liana juga berdebar melihat seseorang yang sangat ia kenal berdiri di tengah gedung.


Deg Deg Deg


"Tu-tuan D," gumamnya.


"Tuan terimakasih atas kedatangan Anda di pesta pertunangan anak saya, saya sempat mengira jika Anda tidak akan datang ke pesta kecil kami," ucap Yuan Ye merendah.


"Mana mungkin Saya tidak datang di pesta pertunangan calon kakak ipar saya sendiri," ucap Tuan D yang membuat tubuh Yuan Ye terkunci.


"Calon kakak ipar? Itu artinya dia kekasihnya Liana," batin Yuan Ye


Raline segera mencari keberadaan Arin dan memberitahukan soal kalung itu. Sementara Liana pergi menghindari karena Tuan D sudah kelewatan. Dengan enaknya dia mengatakan jika Arin adalan calon kakak iparnya.


"Maaf Tuan, maksud Anda calon kakak ipar?" ucap Yuan Ye.


"Saya kekasihnya Liana dan sebentar lagi Saya akan menikahinya, jadi bukankan Arin akan menjadi kakak ipar saya nantinya?" Tanya Tuan D


"Maaf Tuan, Liana tidak pernah bercerita jika kekasihnya itu adalah Tuan,"


"Saya juga baru mengetahuinya," ucap Tuan D sedikit berbohong.


"Dimana mereka?" Tanya Tuan D


"Mereka?"


"Yang bertunangan?"


"Oh Maaf, mari Tuan silahkan temui mereka,"


Sementara itu, Raline meminta Arin untuk melepaskan kalung itu. Arin dengan keras kepala tidak ingin melepaskannya.


"Ibu, ini kalungku. Aku tidak akan melepaskannya," ucap Arin dengan berbisik seraya berpikir apa yang akan dikatakan teman-temannya jika kalung itu ternyata bukan miliknya.


"Arin, ini Tuan D. Klien besar Ayah, dimana Rey?" Ucap Yuan Ye seraya mengenalkan Arin pada kliennya itu kemudian mencari keberadaan Rey.


Arin menjawabnya dengan gelengan kepala kemudian menyapa Tuan D


"Halo Tuan trimakasih telah datang di acara pertunangan saya, silahkan nikmati pestanya Tuan," ucap Arin memaniskan senyumnya.


Tuan D terlihat tidak senang karena kalung pemberiannya dipakai wanita lain yang bukan untuknya. Raline takut jika Tuan D marah sedangkan Yuan melupakan soal kalung itu. Sementara Liana pergi bersembunyi.


"Kau terlihat buruk dengan kalung itu. Kalung itu ku berikan untuk Liana, bukan untukmu," seru Tuan D dengan nada sengaja mengeras, hingga seluruh tamu menyaksikannya.

__ADS_1


"Ah maaf Tuan bukan seperti itu, Liana sendiri yang meminjamkannya pada Arin," ucap Raline membela


Yuan Ye baru menyadari soal kalung itu, ia lantas menyuruh Arin melepaskan kalung itu dengan gerakan bola mata yang melotot keluar. Arin ketakutan, rencananya untuk pamer habis sudah. Kini dimata temannya dia tak lebih dari seorang pembohong.


Kalung pun dilepas dan diserahkan kembali pada Tuan D. Tuan D mengambilnya.


"Saya tidak ingin hal seperti ini terulang kembali," ucap Tuan D kemudian pergi menghampiri Liana. Ia tahu wanita itu bersembunyi di depan pintu toilet wanita.


"Tak bisakah kau mencari persembunyian yang lebih baik sayang?" Ujar Tuan D.


"Hmm soal kalung itu, maaf," ucap Liana dengan menundukkan kepalanya.


Tuan D melepaskan kalung imitasi dengan hiasan bunga putih dan menggantinya dengan kalung pemberiannya.


"Kamu lebih pantas memakainya sayang," bisik Tuan D setelah mengalungkannya pada leher Liana. Mereka kemudian saling berpandangan. Saling terpesona dan memujinya dalam hati masing-masing


"Wanita ini sungguh cantik, ahh apalagi darahnya. Aku harus menahannya. Aku tidak ingin menjadi monster untuknya," batin Tuan D.


"Aku baru tahu pria ini begitu lembut dibalik sisi kejamnya, sepertinya aku semakin mencintainya," batin Liana , ia lupa jika Tuan D bisa membaca pikirannya hingga Tuan D tertawa kecil dibuatnya.


"Astaga," Liana baru menyadarinya.


"Itu curang, kamu selalu bisa membacaku. Tapi Aku tidak bisa membaca pikiranmu. Apakah semua drakula bisa membaca pikiran sepertimu?" Timpal Liana.


"Tidak, hanya beberapa. Aku dan Adikku dan beberapa pengikut ku," jawabnya.


"Sejak kapan tuan bekerjasama dengan Ayahku?"


"Sudah lama, sebelum kita bertemu waktu itu. Aku juga tidak tahu jika dia Ayahmu,"


"Jadi Tuan, Apa pekerjaan mu?" Tanya Liana


"Aku pemilik sekaligus CEO, perusahaan yang aku kelola di bidang konstruksi dan pertambangan dan perhiasan," jawabnya


"Sebanyak itu?"


"Umurku 120 Liana, tak heran jika aku mempunyai usaha sebanyak itu. Jika Aku manusia mungkin aku sudah peyot dengan gigi ompong dan kau pasti tidak mau dengan ku," ucap Tuan D seraya terkekeh.


"Hahaha ... Maaf aku tidak maksud menertawakan, tapi kau lucu haha ... ." ucap Liana tertawa lepas dengan memegangi perutnya.


"Haha aku tahu kau sedang membayangkan diriku yang setua itu haha," sahutnya


"Ahh tidak seru setiap yang ku bayangkan yang ku fikirkan kau selalu mengetahuinya, nanti aku kasih password biar tuan D tidak bisa membaca pikiran ku,"


Sementara itu, Yuan Ye dibuat malu dengan perbuatannya sendiri.


"Kau membuat Ayah malu," ucapnya pada Arin.


"Ayah aku hanya ingin membuatmu senang,"


"Awalnya Ayah senang, tetapi Ayah tidak tahu jika kekasih Liana itu orang terpenting di perusahaan Ayah.


Rey mendekat dan bingung kenapa Arin, Ayah dan Ibunya memasang wajah tidak senang. Rupanya Rey sejak tadi dibelakang sehingga ia tidak tahu apa yang terjadi.


"Ada apa ini?" Tanya Rey.


"Tidak apa-apa hanya kesalahpahaman," jawab Raline.


Kemudian Tuan D datang bersama Liana yang menggandeng lengan Tuan D.


"Ada yang ingin ku umumkan pada kalian," ucap Tuan D dengan wajah serius.


"A-apa itu?" Tanya Yuan Ye penasaran.


"Aku akan menikahi Liana besok," ucap Tuan D.


Mendengar hal itu Yuan Ye seperti terkena serangan jantung, ia senang hingga terpaku, terlebih lagi dengan Raline. Sedangkan Arin tidak menyukainya, ia kemudian berfikir bagaimana menggagalkan rencana pernikahan adiknya.

__ADS_1


Sementara Liana terkejut, bukankah saat itu Tuan D pernah bilang akan menikahinya setelah Liana menyelesaikan kuliahnya.


__ADS_2