
Lee semakin bergairah karena ia telah meminum obat penambah gairah yang telah dicampurkan pada minuman Tuan D yang sebenarnya adalah Lee.
Arin berpindah tempat kini ia duduk di pangkuan Tuan D. Seraya membuka kancing baju milik pria itu. Lee menyentuh bagian sensitif Arin yang menonjol dan terbuka lebar itu, di kecup leher jenjang wanita itu dan ingin sekali ia menghisap darah manisnya. Arin melenguh mengeluarkan suara yang membuat Lee makin tergoda.
Pria itu bahkan beranjak dari duduknya seraya menggendong Arin dan merebahkannya ke sofa panjang. Lee masih terbawa pengaruh obat yang tak bisa menahannya untuk tidak. Ia berada di posisi atas dan terus mencumbu bibir Arin tetapi pandangan Lee bukanlah wanita itu melainkan Trivia yang ada dipandangannya.
Tanpa sengaja gigi taring Lee mulai memanjang. Ia bersiap untuk menusuknya ke leher Arin. Arin yang masih sadar mendengar suara desis yang berat dan kemudian merasakan lehernya terkena benda yang runcing.
Wanita itu mencoba melihat Lee yang saat itu mendekap di lehernya. Arin merasa takut ketika melihat pria yang berada diatasnya bukanlah Tuan D. Ia mendorong tubuh Lee dan mulai ketakutan saat melihat gigi taring itu meruncing keluar.
"Siapa Kau!" pekik Arin yang kemudian memundurkan dudukannya seraya menaikkan bajunya yang sempat turun terbuka lebar
Lee sudah tidak sabar untuk menerkam wanita didepannya itu, tapi jika ia tetap menghisap Arin. Lee akan musnah.
Arin mulai beranjak dari sofa dan melempar benda-benda apapun ke tubuh Lee agar dirinya tidak mendekat. Lee terus berjalan mendekati Arin hingga Arin tak bisa mundur lagi, di belakangnya ada etales yang terpajang semua piala milik Tuan D
"Kau drakula, tolong pergi jangan hisap aku hiks hiks," ucap Arin menangis ketakutan seraya memegangi lehernya
Tuan D segera mengontrol Lee dari jauh dan menetralkan dirinya lagi. Jika tidak Ia takut Lee akan salah jalan dan menghisap Arin sebelum purnama. Itu akan menghancurkan dirinya sendiri.
Setelah mengirim kekuatan Tuan D pada Lee, pria itu kembali netral. Matanya yang merah kembali seperti semula berwarna coklat.
"Maaf, aku terpengaruh obat yang kau berikan," ucap Lee yang kemudian memundurkan langkahnya.
Arin yang sedari tadi menutup matanya kini perlahan membuka matanya dan melihat Lee yang mulai menjauh.
"Kau drakula jahat, pergi kau! Mana Tuan D" ucap Arin
"Sedari tadi yang menemui mu adalah aku, dia tidak ada di kantor ini," ucap Lee yang sedikit berbohong.
"Apa?! Jadi sedari tadi yang aku temui adalah kau? aku dan kau? Saling bercumbu? Aku berciuman dengan drakula?" Tanya Arin yang terperanjat tak percaya seraya mengusap bibirnya merasakan jijik.
__ADS_1
"Pantas saja aku merasakan ada sedikit rasa darah, darah apa itu?!" Tanya Arin dengan suara sedikit berteriak.
"Tikus," jawab Lee dengan polosnya
Arin berlari cepat ke toilet dan memuntahkan sesuatu dari perutnya. Ia juga menyiram dan membersihkan mulutnya agar tak dirasakannya bekas darah lagi.
Lee belum pergi, ia masih berada di ruangan itu karena perintah Tuan D untuk menemani Arin.
"Kau sangat menjijikan, pergi kau jangan dekati aku," ucap Arin mendorong Lee yang menghalangi jalannya untuk keluar ruangan.
"Terkunci? Hey kamu buka pintunya," pekik Arin seraya bertolak pinggang.
"Aku tidak menguncinya, pintu itu sudah rusak dan harus di buka dari luar. Duduklah dan tunggu saja hingga Tuan D kembali. Kemungkinan besok," ucap Lee asal bicara
"Sudah dulu ya, aku takut jika berlama disini bisa-bisa aku menyantap mu jadi makananku," ujar Lee yang kemudian menghilang meninggalkan Arin
Dia tidak benar-benar pergi karena Tuan D menyuruhnya menemaninya, tetapi Lee sendiri tidak menyukai Arin.
"Dia telah meremas dadaku, menciumku menyentuhku dan sekarang meninggalkanku begitu saja, dasar drakula mesum. Huff rencana ku gagal lagi. Bagaimana ini perut ku akan semakin membesar," ucap Arin
Ia pun terus menunggu dan mencoba berteriak agar seseorang mmembukakan pintunya. Tetapi tak ada yang mendengar. Arin mencari nomer telepon kantor tetapi yang ada ponselnya mati saat itu juga. Sedangkan pesawat telepon yang ada di ruangan itu tidak dapat dipakai karena terkunci dan Arin tidak tahu sandi kuncinya.
"Astaga apakah aku akan bermalam disini? Aku saja belum sarapan," gumam Arin
Tuan D sengaja menghukum Arin di ruangan itu. Ia juga sengaja membuat portal di ruangannya agar jika Arin berteriak, tidak akan yang mendengarnya.
"Lee temani lah dia, ajak bicara dan belikan dia makanan ya. Ingat jangan memberinya Tikus," pesan Tuan D lewat telepatinya.
"Tuan maafkan saya, bisakah Anda menyuruh saya tugas yang lain. Dia sedang hamil dan itu membuat darahnya sangat segar tercium. Aku takut tidak dapat mengontrol emosiku," ucap Lee sembari curhat agar Tuan D melepaskannya
"Tidak, hanya kau yang bisa melakukan tugas mu ini. Jika kau berhasil membuat Arin luluh padamu Aku akan menghadiahkan mu darah manusia dan bisa kau santap tanpa menunggu bulan purnama," ucap Tuan D yang akan menjanjikannya darah manusia, tentu saja Tuan D akan membeli kantung darah di rumah sakit.
__ADS_1
"Astaga darah, aku ingin darah yang banyak," ucap Lee
"Boleh, asalkan Arin tergila-gila padamu," ucap Tuan D
"Haha kau menghinaku ya Tuan, Trivia saja menolak ku apalagi Arin," ucap Lee
"Move on lah, dia bukan jodohmu," ucap Tuan D
"Baiklah akan ku lakukan demi darah segar, akhirnya aku bisa makan darah manusia hahaha babay darah Tikus," ucap Lee yang tertawa senang dan membayangkan lezatnya darah manusia.
"Aku kira kau lebih menyukai darah muda," ucap Tuan D
"Tidak Tuan, darah muda itu milik bang haji Rhoma, darah muda darahnya anak remaja, ishh ngomong apa aku ini," ucap Lee dengan candanya.
"Ini di Bukares, tidak ada bang haji Rhoma. Jadi jangan takut jika kau ingin menyantap darah muda,"
"Darah muda tidak enak tuan. Kurang kental darahnya. Aku suka yang sedikit pahit, tidak terlalu kental dan tidak terlalu encer, yang sedang-sedang saja yang penting dia setia," ucap Lee
"Sudah-sudah seperti lagu Malaysia saja,"
Dan telepati pun terputus bukan karena sinyal tetapi karena Tuan D malas berbicara dengan Lee yang tidak nyambung.
"Sayang, sudah sore aku pulang ya. Jaga dirimu, kau ingin di sini atau di rumah orang tuamu?" Tanya Tuan D
"Aku masih ingin disini ada banyak barang yang harus ku rapikan. Aku juga ingin memasang wallpaper di dinding rumah ini," jawab Liana
"Ya sudah berhati-hatilah, kemari," ucap Tuan D yang memeluk Liana erat
"Aku menemui mu setiap waktu, tetapi kenapa rasa rindu ini tak pernah pudar. Malah semakin rindu," ucap Tuan D
"Itu karena kau sudah terbiasa dengan kehadiranku, jadi jika tidak ada aku maka kau akan merasa kesepian, benarkan?" ucap Liana.
__ADS_1
"Ya kau benar, Aku mencintai mu," ucap Tuan D kemudian mengecup kening kekasihnya dengan sangat lembut.