Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Pelajaran


__ADS_3

Steve menyusul Tri yang sudah lama ke toilet tetapi tak kunjung kembali. Ia khawatir jika Trivia sakit perut setelah memakan hidangan tadi.


Disisi lain Lee mendengar lewat telepatinya, jika Trivia dalam bahaya, pria itu langsung meninggalkan kantor Tuan D dan buru-buru menyelamatkan Trivia.


Pintu toilet Trivia tidak berhasil di buka oleh wanita drakula yang menyerangnya, tetapi drakula yang baru saja berubah itu tak kalah cerdik. Dia naik ke atas pintu toilet yang atapnya terbuka, kemudian turun menyerang Tri. Trivia makin menjerit dan menahan serangannya dengan tangannya. Lengannya terluka terkena cakaran segera ia membuka pintu toilet lalu berlari keluar. Tetapi ia tetap tak bisa keluar dari toilet wanita karena dihadang oleh drakula lainnya.


Steve menerobos masuk ke dalam toilet wanita. Ia menendang drakula yang mulai mendekati Trivia. Drakula itu terjatuh dengan segera Tri berlari dan bersembunyi di belakang Steve.


Wanita drakula yang terjatuh bangkit berdiri dan yang drakula yang satunya lagi bersiap menerkam. Steve mengeluarkan pistol yang selalu ia bawa di pinggangnya. Lalu pistol itu diarahkan ke jantung drakula yang terdekat darinya.


Dor


Setelah itu Steve membidik lagi ke arah drakula yang terjatuh tadi


Dor


Tembakannya tepat mengenai sasaran dan drakula itu jatuh.


"Kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" ucap Steve seraya memegangi kedua pipi Trivia yang gemetar.


"Steve antar aku pulang aku takut," ucap Tri ketakutan.


"Tenanglah, ada aku disini," ucap Steve menenangkan Trivia dengan mendekapnya ke dalam pelukannya yang hangat.


Lee yang baru saja tiba disana, terlambat menolong Trivia. Dia malah melihat wanita itu berpelukan dengan Steve. Bertambah sakitlah hatinya. Lee kembali ke kantor Tuan D dengan perasaan sedih, sesuai perintah Tuannya pria itu harus menemani Arin di dalam sana dan menjaga kantornya dari serangan drakula jahat.


Lee menjatuhkan makanan yang terbungkus di meja ruangan Tuan D.


"Makanlah," seru Lee dengan dinginnya.


"Hah apa itu, aku tidak ingin memakan makanan yang tidak jelas," ucap Arin


Suasana hati Lee sedang tidak senang, ia menatap Arin dengan tatapan menakutkan hingga membuat bulu kuduk Arin berdiri. Dengan cepat wanita itu meraih makanan di meja.


Arin membuka bungkusan yang bentuknya tidak karuan. Wanita itu tak ingin memakannya namun melihat pria menakutkan di hadapannya yang sewaktu-waktu bisa memangsanya, ia tak punya pilihan lain dan harus memakannya


Wanita itu memakannya dengan memejamkan matanya. Ia tak menyangka makanan yang dilihatnya sangat tidak karuan bentuknya tetapi sangat enak ketika dimakan. Terlebih lagi perutnya yang sudah lapar sedari pagi membuatnya terus melahap.


Arin melahapnya seperti orang kelaparan hingga belepotan dan tersedak-sedak. Lee memperhatikan tingkah Arin yang tadinya belagu akhirnya memakan makanan itu juga dengan sangat lahap bahkan hampir habis.


"Minumlah, Kau tahu? Jangan melihat sesuatu dari bentuknya. Kau baru tahu kan makanan itu ternyata sangat enak. Begitu juga dengan manusia. Kau harus melihat hatinya, jangan fisiknya," ucap Lee menyerahkan segelas air putih kepada Arin sembari menasihatinya.

__ADS_1


Arin segera meminumnya karena makanan itu terhenti di tenggorokannya. Kemudian ia menyeka air minum yang membasahi dagunya serta makanan yang menempel di pinggir bibir dengan blazer di lengannya. Lee dengan segera mengambil tisu dan menyeka makanan yang belepotan di pinggir bibir Arin. Wanita tak jadi mengotori blazernya.


Wanita ular itu terkejut dengan perlakuan Lee, seorang drakula tetapi perhatian dengannya. Tetapi perhatian Lee tak lebih dari sekedar sebuah tantangan untuk menaklukan hati Arin.


Lee mencoba tersenyum meski hatinya tak ingin. Ia mencoba memahami sikap Arin yang sombong dan ingin menang sendiri.


"Terimakasih," ucap Arin setelah Lee membantu membersihkan sisa makanan yang jatuh di pinggir mulutnya.


"Kau hamil anaknya siapa? Kenapa kau mengejar Tuan D, seharusnya yang kau kejar, Ayah dari anakmu itu," ucap Lee dengan perlahan.


"Rey, dia tidak mengakuinya bahkan menuduhku jika itu anak orang lain," Arin tertunduk mengakuinya. Wanita itu ternyata punya sisi malu.


"Aku...aku tidak ingin Liana menikah dengan Tuan D karena aku ingin lebih dulu yang menikah. Dan lagi Tuan D seorang yang tampan, berkharisma dan kaya raya," ucap Arin


"Kau orang yang tidak tahu malu, haha. Aku sebenarnya iba melihat mu, tetapi aku juga tidak suka dengan sikapmu. Kau menuntut semua orang untuk menuruti keinginan mu. Rasanya aku ingin cepat-cepat menghabisi mu dan menghisap seluruh darahmu," ucap Lee dengan kasar.


"Aku harus secepatnya menikah, itu tuntutan Ayahku. Apakah aku salah mencoba merayu Tuan D. Jika saja pria yang tadi meminum obat gairah ku adalah dia. Mungkin saja rencanaku akan berhasil. Dengan begitu Tuan D akan menikahiku dan memberiku status," ucap Arin yang membuat Lee bertambah kesal. Ia lalu menggendong Arin dan membawanya keluar.


"Hey turunkan aku, kau mau apa!" Teriak Arin.


Lee membuka pintu balkon dari ruang kerja Tuan D yang berada di lantai dua. Kemudian terbang ke atas membuat Arin ketakutan. Pria itu terus terbang keatas hingga gedung-gedung di bawahnya terlihat tampak kecil. Lalu menjatuhkan Arin begitu saja.


Arin sangat ketakutan lalu memejamkan matanya tak ingin melihat. Kemudian pria itu menangkap Arin saat wanita itu hendak mendarat ke tanah. Arin membuka matanya saat tahu Lee menangkapnya dan segera berpegangan dengan mengalungkan kedua tangannya ke leher Lee.


"Bagaimana perasaanmu jatuh dari ketinggian. Kau ingin status yang tinggi kan? Jika kau mati, status itu tidak berarti apa-apa bagimu," ucap Lee dengan menatap Arin.


Wanita itu membalas tatapan Lee yang dingin dengan napas yang memburu karena masih takut akan perbuatan Lee padanya.


"Kau menangkap ku? Kau tidak akan menjatuhkan ku lagi kan?" Tanya Arin.


"Kalau kau menyebalkan, akan ku jatuhkan dirimu seperti tadi," Ancam Lee


"Tidak, aku masih ingin hidup. Aku janji tidak akan bersikap menyebalkan lagi," ucap Arin


Lee telah mendarat di tanah tetapi wanita itu masih dalam gendongannya.


"Turunlah atau ku jatuhkan," ucap Lee


Arin masih tak sadar jika mereka telah mendarat ke tanah, ia masih saja menatap Lee. Seperti Arin mulai menyukai Lee.


Lee menjatuhkan Arin begitu saja, ia tak peduli jika wanita itu tengah hamil muda.

__ADS_1


"Aahh, kau jahat. Jika aku keguguran bagaimana?" Pekik Arin.


"Jika aku jahat, aku tak akan menangkap mu dan akan membiarkan mu mati terjatuh. Bukankah kau akan senang jika kau keguguran?" Ujar Lee.


"Aku tidak sekejam itu," ucap Arin yang kemudian beranjak berdiri.


"Kau, sedari tadi kau bisa mengeluarkan ku dari ruangan itu kan? Kenapa kau menahan ku sampai semalam ini," ucap Arin yang baru sadar jika ia ditipu oleh Lee


"Aku hanya ingin memberimu pelajaran. Pertama, kau tidak bisa memaksakan kehendak mu. Kedua, jangan melihat sesuatu dari fisik. Ketiga, status tidak berarti apa-apa. Keempat, kau cantik dan seksi tapi kau jahat," ucap Lee yang kemudian pergi meninggalkan Arin.


"Keempat? Itu tidak ada hubungannya dengan ini," teriak Arin yang kemudian juga pergi menuju mobilnya. Tetapi kunci mobilnya ada di dalam tas, sedangkan tas Arin ada di dalam ruang Tuan D.


"Hey siapa namamu, hey.... aku tidak bisa pulang! Tas ku masih di dalam ruangan Tuan D. Hey....," Teriak Arin seraya menghentakkan kakinya ke tanah


Arin terus bergumam tidak jelas, tiba-tiba Lee datang dari belakang dan menyerahkan tas milik Arin.


"Sebaiknya kau cepat pulang dan jangan berhenti untuk mampir ketempat lain, teror drakula kembali menyerang," ucap Lee seraya menyerahkan tas milik Arin.


"Hah? Bukankah kau drakula?" Tanya Arin tak mengerti.


"Aku drakula baik, mereka yang meneror adalah drakula jahat dan ingin memperbesar klan mereka, cepat pulang!" titah Lee.


"Kau tidak mengantarku? Jika aku di cakar oleh drakula lagi bagaimana? Dan siapa namamu?" Tanya Arin dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Lee antar dia pulang," tiba-tiba terdengar suara Tuan D dari telinganya.


"Tapi Tuan, di dekat kantor ada drakula yang..." ucapan Lee terputus karena Tuan D menyelanya.


"Aku akan kesana, kau antarkan Arin hingga rumahnya. Jika menarik perhatian wanita jangan setengah-setengah haha," ucap Tuan D.


Lee mau tidak mau mengantarkan Arin pulang. Di dalam mobil itu Lee sama sekali enggan berbicara. Hatinya masih mengingat jelas apa yang dilakukan Trivia dan Steve. Sementara Arin terus menatap Lee tanpa berkedip. Ia baru menyadari jika Lee sangat tampan.


Sesampainya di depan rumah Yuan Ye, Lee keluar dari mobil dan pergi tanpa pamit. Arin tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara pintu mobil yang tertutup.


"Dingin sekali sikapnya, tapi aku menyukainya," ucap Arin yang perasaannya gampang sekali berubah-ubah.


Disisi lain, di kediaman Trivia. Steve pamit pulang setelah mengantar Tri. Namun wanita itu menarik lengan Steve dengan pelan.


"Steve tak bisakah kau berjaga disini, anggap saja aku menyewa mu malam ini sebagai bodyguard ku," pinta Trivia.


"Haha dari pada kau memintaku untuk jadi bodyguard mu, kenapa kau tak memintaku untuk jadi kekasihmu?" Tanya Steve yang membuat Trivia diam seribu bahasa.

__ADS_1


__ADS_2