Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Kalung Yang Di Rebutkan


__ADS_3

Masih di kediaman keluarga Yuan Ye, semua orang sudah bersiap termasuk Arin, mereka menunggu Liana yang selalu tidak pernah tepat waktu.


"Liana, cepatlah!" Teriak Raline sang Ibu yang sudah tidak sabar melihat pertunangan anak pertamanya.


"Huh kita tinggal saja Bu, nanti kita terlambat," ucap Arin.


"Hah anak itu selalu jam karet, Ayo kita tinggal saja," sahut Dona dengan mulutnya yang dimiringkan keatas.


"Tunggulah sebentar Arin," ucap Yuan Ye.


"Sudah sana kalian pergi saja, nanti Liana dan Aku kan bisa menyusul naik mobil satunya," ucap Kakek Ye.


"Maaf Aku kesiangan, ayo kita pergi," jawab Arin seraya turun dari tangga.


Semua mata tertuju pada benda yang tergantung di leher Liana. Benda itu bercahaya dengan kilauan merah yang cantik.


Setibanya Liana di lantai dasar, Arin mendekatinya dan memegang kalung di leher Liana.


"Dari mana kamu dapatkan ini? Kamu mencurinya ya!" Tuduh Arin seraya memegang kalung berlian merah itu.


"Tidak! Ini pemberian pacarku," ucap Liana sedikit sombong, ia sengaja menyombongkannya di depan Arin.


"Pacarmu? pacarmu bukan pencuri kan?" Tanya Raline serius.


"Ayah penasaran dengan pacarmu, siapa dia? Kapan-kapan perkenalkan pada Ayah," sahut Yuan Ye dengan senyuman lebarnya.


"Dia bukan siapa-siapa hanya seorang yang sederhana," jawab Liana


"Hah, benar, Tidak mungkin ada pria kaya yang tertarik dengan Liana. Lihat saja dandanannya sekarang, dandanannya biasa saja, kamu mau ke pesta atau ke kampus?" Cibir Dona


"Dandananmu terlalu sederhana Liana, sedangkan kalung itu tidak cocok kamu pakai," Doni tak kalah mencela.


"Benar itu cocoknya aku pakai! Sini kemarikan kalung itu! Nanti yang ada bukannya aku yang menjadi sorotan. Tetapi Kamu, Aku tidak mau ya jika itu terjadi karena ini hari pertunangan ku," ucap Arin seraya berusaha melepas kalung yang dipakai Liana.


"Tidak, ini punyaku dan hanya aku yang boleh memakainya," ucap Liana seraya memegang kalung miliknya agar tidak terampas.


"Sudah berikan saja dulu pada kakakmu, dia itu yang mau tunangan dan kalung itu cocok dipakai dengan gaunnya sekarang," ucap Raline yang menyetujui perkataan Arin.


"Itu kalung milik Liana kenapa kalian memperebutkannya?Apakah pacarnya mengijinkan kalian memakainya?" Hardik Kakek Yuan yang tak kalah membela Liana.


"Hemmm begini Ayah, aku rasa Arin ada benarnya. Jika Liana tetap memakainya maka Dia yang akan menjadi sorotan publik sedangkan ini pestanya Arin, seharusnya dialah yang menjadi sorotan bukan Liana," ucap Yuan Ye mencoba menengahi.

__ADS_1


"Tapi aku ingin memakainya Ayah, itu kalungnya sangat cantik. Jika aku memakainya pasti teman-teman Ayah juga akan membicarakannya bukan? Terlebih Bos dan Klien besar Ayah juga akan datang," ucap Arin mencoba merayu sang Ayah.


Yuan Ye terlihat berbinar ketika membayangkan jika Arin memakainya pasti akan datang pujian untuknya juga. Sedangkan Liana menatap tidak senang.


"Baiklah, begini saja Liana kalung itu tolong pinjamkan sebentar untuk Arin ya? Hanya sekedar kalung kan? Selesai acara kamu akan mendapatkannya kembali," ucap Yuan Ye mencoba berbicara baik-baik pada Liana.


Liana bersikeras tidak memberikannya, tetapi Arin tiba-tiba berlutut dihadapannya demi mendapatkan pinjaman kalung itu. Liana kemudian meminjamkannya dengan syarat yang ia lontarkan.


"Arin, kau ini ... ," Kakek Ye tidak senang dengan perilaku Arin yang memaksa.


"Tidak apa Kek, Kak bangunlah. Baiklah, Aku akan meminjamkannya padamu. Tapi dengan syarat," ucap Liana.


"Apa syaratnya?" Tanya Arin.


"Aku ingin selama seminggu ini, aku yang memakai mobilmu dan selama seminggu juga kamu harus melayani keinginan ku," ucap Liana dengan tawa dihatinya.


Arin tidak langsung mengatakan iya, ia berfikir keras terlebih dahulu. Demi sebuah berlian merah yang senilai milyaran pasti banyak pujian yang dituai untuknya.


"Kalau berlian itu ku pakai pasti teman-teman ku banyak yang iri. Astaga aku tak bisa membayangkan wajah mereka, pasti mereka akan makin terpesona," batin Arin.


"Bagaimana? Mau tidak, kalau tidak ya sudah," ujar Liana.


"Aku mau, aku mau, sini kemarikan kalungnya," ucap Arin seraya bangkit berdiri dan langsung mengambil kalung yang masih terpasang cantik di leher Liana.


Kalung itu memang terpasang cantik di leher Arin karena riasan dan pakaiannya yang mendukung. Tetapi perias yang disewa Arin melihat iba pada Liana.


Perias dan asistennya rupanya belum pulang, saat mereka bertengkar Perias itu menyaksikannya dan menggelengkan kepalanya akan sikap Arin.


Ketika mereka sudah keluar rumah dan bersiap naik ke mobil. Kakek Ye merasakan sakit pada lambungnya.


"Sayang kamu tidak apa-apa, kita kerumah sakit ya?" Ucap Anie Istrinya.


"Kakek kenapa Nek?" Tanya Liana,


"Asam lambung ku naik, sepertinya Kakek tidak bisa ikut," ucapnya.


"Ayah mau ku antar ke rumah sakit?" Tawar Yuan Ye.


"Tidak usah, jangan khawatirkan Aku, kalian pergilah!" Tolak Kakek Ye dan menyuruh mereka untuk tidak usah khawatir dan segera pergi.


"Maaf kakek kami tinggal dulu ya, kalau ada apa-apa langsung segera hubungi aku," pinta Yuan Ye.

__ADS_1


Kakek menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak ikut yah, Aku ingin menjaga Kakek," ujar Liana.


"Jangan, ada aku disini, kamu pergi saja. Ini acara pertunangan kakakmu, kamu harus datang agar keluarga kita terlihat harmonis," Nenek Anie menasihati.


Kehadiran keluarga yang lengkap di tengah acara penting sangat menjadi perhatian publik untuk menilai apakah keluarga mereka harmonis. Dan itu juga berdampak pada perusahaan karena dengan keluarga saja mereka peduli apalagi dengan karyawan.


"Liana ayo cepat!" Ajak sang Ayah


"Liana naik mobil Arin saja Yah, mobil ini sudah penuh dengan kehadiran Dona , Doni, dan mbak Marni," pinta Arin pada Ayahnya.


"Ya sudah Liana kamu berangkat sama sopir kita ya, Ayah, Ibu kami pergi dulu," ucap Yuan Ye pada Liana dan kemudian berpamitan dengan Ayah Ibunya.


"Hati-hati Nak," ucap Anie pada Yuan


"Sudah sana, berangkatlah," ucap Kakek Ye dengan memegangi perutnya yang terasa sakit.


Liana akhirnya menuruti perkataan Nenek dan Kakeknya kemudian ia melangkah pergi. Tetapi sang perias memanggilnya.


"Tunggu, nama kamu Liana?" Tanyanya seraya mendekati Liana.


"Iya benar, ada apa? Apakah Kakak saya belum melunasi pembayarannya?" Tanya Liana.


"Oh bukan itu sudah selesai. Saya ingin meminta ijin untuk merias kamu menjadi lebih cantik. Tulang pipi kamu, rahang, hidung dan mata sangat cantik saya ingin menyulapnya, tolong ijinkan saya," ucap Perias menawarkan dirinya ia ingin menantang dirinya sendiri untuk membuat wanita itu menjadi cantik.


Sebenarnya Liana sudah cantik tetapi make up yang Liana gunakan hanya sekedarnya dan terlihat biasa saja. Perias itu hanya ingin memoles bagian yang harus ditonjolkan.


"Maaf bukannga saya tidak mau, tapi saya tidak punya uang untuk membayar jasa anda nantinya," tolak Liana secara halus.


"Tidak usah sya memberikannya gratis, mau ya cantik?" pinta sang perias yang bergender pria yang sedikit feminim itu.


"Baiklah," jawab Liana ragu.


Kemudian pria feminim itu dan asistennya membuka kembali peralatan riasnya. Mereka merias Liana di ruang tamu, sedangkan kakek dan neneknya masuk kembali. Kakek duduk berisitirahat di ruang tamu seraya menyaksikan Liana. Kemudian Nenek Anie mengambilkan obat di dalam.


Kakek tersenyum melihat cucunya, ia tak sengaja menitikkan air mata ketika melihat Liana di rias. Kenangan masa lalunya teringat kembali, ada misteri kelam yang tak bisa ia ceritakan pada siapapun termasuk Yuan Ye. Hanya Kakek dan Neneknya lah yang tau kisah mistis dan menyeramkan itu.


 


Apa ya kira-kira 😳 ayok tebak yok

__ADS_1


kisah mistis yang membuat Liana akhirnya mempunyai kekuatan membuka portal goib.


__ADS_2