Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Ajakan Kencan


__ADS_3

Trivia sudah diperbolehkan pulang tetapi ia tidak langsung pulang melainkan mengunjungi Ayahnya yang tertangkap lagi.


"Ayah, aku tidak habis pikir. Ternyata selama ini Ayah menafkahi kami, hasil dari menggelapkan uang?" Tanya Trivia yang saat itu butuh kepastian.


"Tidak, maksud ku iya. Tapi aku menggelapkannya baru tiga bulan ini. Itu pun karena Ayah kesal dengan jabatan posisi ketua Ayah tergantikan dengan anak yang lebih muda. Padahal Ayah telah mati-matian bekerja disana bertahun-tahun lamanya. Seakan-akan Ayah tidak dihargai makannya Ayah berbuat seperti itu, ditambah lagi saat itu Ibumu membutuhkan darah manusia," jelas Sebastian


"Lalu dimana dia? Kau sudah bertemu dengannya?" Tanya Trivia.


Sebastian hanya mengangguk dan bingung harus menjawab pertanyaan itu bagaimana.


"Jawab Yah," timpal Trivia.


"Dia sekarang berubah menjadi drakula seutuhnya," jawab Sebastian.


"Hah drakula?" Tanya Trivia memastikan lebih pasti.


"Tetapi dia menjadi pengikut dari drakula yang baik. Ayah sepertinya akan lama berada di tahanan. Kau tak apa kan jika sendiri di rumah?" Tanya sang Ayah.


"Mungkin itu pengikut drakula yang pernah menyelamatkan Liana," batin Trivia.


"Ya aku bisa menjaga diriku sendiri, Ayah aku pulang dulu. Ayah juga jaga kesehatan ya, Love you," ucap Trivia seraya memeluk Ayahnya


Mereka masih bisa berbicara secara tatap muka dan bisa berpelukan. Karena pengadilan belum memutuskan hukuman yang didapat Sebastian.


Trivia beranjak dari duduknya dan pulang ditemani mbak Marni. Saat Trivia hendak keluar, ia bertemu dengan Steve yang sedang mengobrol dengan rekannya di teras kantor.


"Trivia," sapa Steve.


"Hai," jawab Trivia canggung.


"Mau ku antar pulang?" Steve menawarkan tumpangan.


"Hemm," Trivia melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10.00 malam.


"Sebenarnya aku mau, tapi jika kau tidak keberatan," ujar Tri.


"Haha kau aneh sekali, aku yang menawarkan tentu saja aku tidak keberatan. Ayo," ajak Steve seraya menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.


Tetapi melihat Trivia yang berjalan pelan membuat Steve tak sabar dan segera menggendongnya lalu berjalan menuju mobilnya. Trivia terperangah tak percaya dengan apa yang dilakukan Steve. Ia lantas meminta turun.


"Turunkan aku Steve," pinta Trivia.


Steve tidak mendengar dan terus berjalan hingga sampailah mereka di depan mobil. Steve menyuruh mbak Marni membuka mobilnya pintu yang kebetulan tidak ia kunci.


"Mbak tolong buka pintu mobilnya," ucap Steve yang sudah berdiri di samping sisi mobil.


Mbak Marni segera membuka pintu mobil di bagian depan, di samping tempat kemudi. Steve mendudukkan Trivia di kursi depan. Mbak Marni duduk di kursi belakang Kemudian Steve berlari kecil memutari mobilnya menuju kursi di bagian kemudi.


Steve duduk dan mulai menyalakan mobilnya, sedangkan Trivia menatapnya kesal.


"Kenapa?" Tanya Steve sembari menjalankan mobilnya pelan.


"Aku tidak suka dengan perbuatan mu seperti tadi. Itu tidak sopan," ujar Trivia.


"Maaf, aku hanya membantumu karena kau terlihat kelelahan," jawab Steve.


"Ya, terimakasih. Tapi sebaiknya kau harus minta ijin dulu, apakah aku mengijinkannya atau tidak," ujar Trivia.


"Baik Nona," balas Steve.


"Aku sudah bukan Nona mu lagi kan?" Tanya Trivia


"Masih, karena saat ini aku sedang menjadi sopir mu," jawab Steve dengan senyuman.


Trivia tertawa kecil mendengar ucapan Steve kemudian ia tak sengaja menatap Steve yang juga sedang menatapnya. Segera Trivia memalingkan pandangannya ke arah lain.


Perjalanan ke rumah Trivia cukup jauh dan membuat mbak Marni ketiduran. Wanita itu membuka pembicaraan.


"Ini kedua kalinya kita bertemu di kantor polisi, sebenarnya siapa kau?" Tanya Trivia.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku seorang agen penyamar. Aku bekerja jika dibutuhkan untuk menyelidiki sebuah kasus. Dan terkadang aku membantu para polisi untuk mengamankan lokasi kejahatan atau teror," jawab Steve panjang lebar.


"Pantas saja kau selalu mempunyai ide briliant dan selalu berinisiatif," ucap Trivia.


"Seperti yang ku lakukan saat ini," ucap Steve.


"Maksudmu?"


"Ya, aku berinisiatif menggendong mu, agar kau tidak terlalu kelelahan," jawab Steve.


Trivia tidak menjawab ia hanya tersenyum, dia tidak nyaman dengan pembicaraan itu. Steve sendiri bingung apa yang harus ia lakukan agar menarik perhatian Trivia.


"Apakah dia masih memiliki hati untuk Lee?" batin Steve.


Sesampainya di rumah, Steve langsung pamit. Ia sengaja tidak mampir karena tidak ingin membuat Trivia lelah.


Baru saja masuk ke rumahnya, wanita itu mencari kaca ruang tamu yang pecah. Seperti yang pernah Marni ceritakan tetapi ia tidak menemukan kaca yang pecah.


"Mbak, apa mbak Marni yang mengganti kaca itu?" Tanya Trivia.


"Ya non, saya meminta tukang kaca untuk membetulkannya," ucap Marni.


"Lalu berapa uang yang kau keluarkan? Aku harus mengganti uang mu," ucap Trivia.


"Tidak perlu Non, karena Tuan Steve sudah membayar orang itu. Dia yang membantu saya mencari tukang kaca," jawab Marni.


"Kenapa tadi tidak bilang sih mbak? Hemm," ucap Tri sedikit kesal tetapi dia tidak marah. Karena Mbak Marni seharian menjaganya dan berada disampingnya.


Tri lalu menelepon Steve untuk mengucapkan terima kasih, namun pria itu tidak mengangkat ponselnya. Trivia langsung mengiriminya sebuah pesan.


"Maaf, aku baru tahu jika kau yang mengganti kerusakan kaca di ruang tamu ku. Terimakasih untuk hal itu dan berapa yang harus ku ganti," Trivia menulis pesannya itu dan mengirimkannya.


Steve segera membaca, rupanya ia sengaja tidak langsung menjawab teleponnya tadi. Dan ia juga sengaja tidak langsung membalas pesan. Ia ingin tahu seperti apa Trivia jika dia membalasnya sangat lama.


"Kok gak bales sih, telepon juga gak angkat. Mungkin lagi nyetir. Tunggu aja kalau gitu, aaaahhh capek banget," ucap Trivia sembari memijit kepalanya dan merebahkan dirinya di sofa. Kepalanya sudah tidak dibalut perban, tetapi ia belum boleh terlalu banyak berpikir atau bergerak.


Trivia menyalakan musik dari ponsel dan menikmati alunan musiknya seraya memejamkan mata hingga akhirnya wanita itu tertidur pulas. Mbak Marni yang ingin membangunkannya jadi tak enak hati. Akhirnya ia menyalakan lampu redup dan mengambil selimut dari kamar Trivia lalu menyelimutinya.


"Pria itu belum juga membalas ku," gumam Trivia dengan mata yang di picingkan karena terkena silau cahaya dari layar ponselnya.


Trivia menulis kan pesan kembali, "Apa kau sudah tidur?"


Wanita itu melangkah menuju lemari pendingin untuk mengambil air minum. Ia meneguk langsung dari botolnya. Setelah itu ia melangkah pergi menuju kamar.


Sesampainya di kamar, Trivia mengecek kembali layar ponselnya untuk melihat apakah Steve sudah membalasnya. Namun Pria itu tak kunjung membalas.


"Apa dia marah? Tapi apa alasannya marah?" Tanya Trivia dari dalam hatinya.


Wanita itu tidak sabar menunggu, ia lantas menelepon Steve di jam dua pagi.


Tut....Tut....


Bunyi nada tersambung dan ia berharap Steve mengangkatnya. Di sisi lain, Steve ternyata masih terjaga. Ia terus melihat ponselnya berdering. Sengaja pria itu tak mengangkatnya meskipun ia ingin sekali mendengar suara Trivia.


"Ini namanya metode tarik ulur Tri, aku ingin kau mengejar ku sesekali hehe," gumam Steve.


Hingga bunyi dering itu mati, Steve belum juga mengangkatnya.


"Jika Kau menelepon hingga tiga kali aku akan mengangkatnya," ucap Steve.


Dan terjadilah dering sekali lagi, sudah dua kali Trivia menelepon hingga bunyi dering itu habis.


"Aku telepon sekali lagi, jika kau tidak mengangkatnya, aku akan marah," ucap Trivia pada dirinya sendiri.


Dering ketiga kalinya, Steve tersenyum senang. Kini ia bersiap mengangkat namun sebelumnya pria itu sengaja mengatur suaranya agar terdengar serak seperti bangun tidur.


"Hallo," ucap Steve dengan nada malas dan serak.


Trivia kaget jika Steve mengangkatnya.

__ADS_1


"Ka-kau belum tidur?" Tanya Trivia yang jelas-jelas dia mendengar suara Steve yang lemas, berat dan serak.


"Hmm ini siapa?" Tanya Steve masih dengan suara yang dibuat seperti bangun tidur.


"Ini aku Tri," jawab Tri


"Ehemm...hemm," Steve sengaja berdehem agar terlihat menormalkan suaranya lagi. Padahal memang sudah normal.


"Maaf Tri aku tidak melihat layar ponsel. Aku terbangun mendengar bunyi telepon. Ada apa hemm?" Tanya Steve kemudian.


"Hmm aku sebelumnya mengirimi mu pesan, apa kau tidak membacanya?" Tanya Trivia.


"Tidak, sehabis mengantarmu aku langsung merebahkan diriku ke sofa tapi malah tertidur. Memangnya ada apa?" Tanya Steve berbohong lagi. Pria itu bahkan tertawa tapi tidak mengeluarkan suara tawa.


"Aku ingin mengucapkan terimakasih karena kau telah mengganti kaca ruang tamu ku yang rusak, dan aku ingin menggantinya. Hmmm berapa yang harus ku ganti?" Tanya Trivia.


"Tidak perlu, aku tulus membantumu," ucap Steve


"Ayolah, kau sudah banyak membantu ku. Aku bahkan ingin membalas kebaikanmu," ucap Trivia.


"Hemm jika kau ingin membalasnya, bagaimana jika besok kau menemaniku makan malam," ucap Steve memberikan ide yang sebenarnya adalah sebuah ajakan kencan. Seraya menggigit kukunya kemudian. Ia takut Trivia menolak permintaannya


Tri terkejut dengan ajakan Steve. Wanita itu mengingat-ingat hari esok apakah ada acara lain atau tidak. Dan haruskah ia pergi makan malam.


"Kau ingin mengajakku kencan?" Terka Trivia.


"Tidak, tapi jika kau berpikir seperti itu tidak masalah bukan?" Tanya Steve.


"Baiklah, Aku juga tidak ada acara lain," jawab Trivia.


"Yes," ucap Steve yang tidak sengaja terucap


"Haha, kau sesenang itu?" Ledek Trivia


"Hemm haha ya bagaimana aku tidak senang, jika besok ada wanita yang sangat cantik ingin menemani ku makan malam," ujar Steve salah tingkah.


"Jangan terlalu memuji bisa-bisa aku besar kepala," ucap Trivia.


"Itu kenyataan, tapi jika kepalamu membesar, aku akan menusuknya dengan jarum agar kempes kembali," jawab Steve dengan candaannya.


"Haha konyol,"


Obrolan mereka menjadi panjang kali lebar dengan candaan dan tawaran. Disaat semuanya terlelap tidur. Steve dan Trivia malah asyik bercanda tawa lewat telepon.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul empat pagi. Steve mengakhiri obrolan itu agar Trivia bisa kembali tidur.


"Sudah dua jam kita telepon, sudah dulu ya kau harus banyak istirahat," perintah Steve.


"Aku sudah tidur tadi malam ditambah candaanmu, yang bikin aku ketawa mana bisa aku tidur lagi. Terlebih lagi aku sudah banyak istirahat di rumah sakit. Dan itu membosankan," curhat Trivia.


"Besok akan ku buat harimu menyenangkan," ucap Steve.


"Benarkah? Baiklah akan ku tunggu hari esok. Ya sudah kalau begitu, bye," ucap Trivia.


"Iya, Bye," jawab Steve yang sebenarnya masih ingin berbicara banyak. Ia menunggu Trivia mematikan sambungannya.


"Kenapa belum ditutup?" Tanya wanita itu.


"Kau yang meneleponnya, jadi kaulah yang menutup," ucap Steve.


"Kau kan laki-laki harusnya kau yang menutupnya,"


"Mana bisa? Dimana-mana itu ladies first," ucap Steve


"Kalau begitu tidak usah di matikan saja biar pulsaku habis dan kau yang menggantinya haha," ancam Trivia.


"Jadi kau tidak ingin mematikan teleponnya karena masih ingin mendengar suaraku yang seksi ini ya? Hayo akui saja," Terka Steve.


"Ihh enggak, iya-iya aku tutup," ucap Trivia yang langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia takut jika dibilang suka dengan suara Steve.

__ADS_1


Sebenarnya bukan suara Steve yang ia suka, tetapi baru saja pria itu dapat membuat Trivia tertawa senang dan sejenak melupakan semua masalahnya.


__ADS_2