
⚠️ Warning mengandung unsur 21+⚠️
-----------------------🔥🔥🔥--------------------------
Pagi itu, matahari telah menampakkan dirinya dan telah meninggi hingga panasnya memasuki celah jendela kamar Tuan D.
Liana masih tertidur akibat permainan semalam. Panas cahaya matahari itu mengenai bahu Liana. Wanita itu merintih kesakitan. Namun matanya masih terpejam dan terasa berat untuk membukanya.
Dimitri terbangun mendengar rintihan kecil yang keluar dari bibir Liana. Pria itu segera menutup korden jendela kamarnya ketika tahu panas matahari mengenai bahu Liana.
"Apakah itu sakit? aku akan menghapus sakit mu," ucap Tuan D pelan.
Ia segera mengusap bahu Liana yang terkena panas matahari juga mengusap luka di lehernya bekas gigitan suaminya sendiri. Luka di bahu dan lehernya sudah menghilang dan perihnya sudah tak terasa lagi. Wanita itu harus beradaptasi dengan wujudnya yang baru, seorang wanita drakula.
Liana membuka matanya, melihat ke sisi kirinya. Seorang pria yang dilihatnya pertama kali ketika membuka mata. Pria itu tersenyum, kemudian membelai pipi Liana yang merona.
"Pagi mentari ku, kau tidur sangat lama. Bergegaslah mandi, siang ini penobatan Raja dan Ratu akan dilakukan," ujar Tuan D
"Iya, kau membuatku kewalahan semalam. Aku mandi dulu," Liana kemudian bergegas mandi namun bagian sensitifnya sangat sakit dan terasa tidak nyaman karena darah kering yang keluar.
"Kemarilah, duduk dan buka lebar paha mu," titah Tuan D.
Liana pun duduk seraya menutupi gunung kembarnya dengan tangannya.
"Kenapa masih malu, aku telah melihat semuanya. Aku hanya ingin menyentuh luka dibagian sensitif mu. Agar kau tidak kesakitan lagi," bisik Tuan D.
Pria itu mulai meraba dengan tangannya di bagian yang sakit. Mengusapnya dengan lembut. Liana memejamkan matanya merasakan sentuhan lembut dari tangan suaminya. Seketika sakit itu hilang. Namun suaminya tak melepaskannya. Pria itu malah memainkan buah kacang yang membuat Liana tergelitik geli dan membuat tubuhnya meremang.
"Liana, kau seperti candu. Aku menginginkannya lagi, apakah boleh?" Bisik Tuan D yang duduk di belakang Liana.
Satu tangan pria itu memainkan bagian bawah paling sensitif yang membuat Liana bergetar. Sementara tangan satunya memeluk tubuhnya dari belakang dengan sesekali meremas dua gundukkan yang selalu membuat Tuan D gemas melihatnya.
Tuan D menciumi punggung Liana, terasa napas pira itu membuat punggungnya terasa dingin. Wanita itu terdesaah panjang dan lembut. Tuan D senang mendengarnya ia menciumi leher Liana dan membuat tanda di sekujur tubuhnya yang putih dan halus.
Liana semakin bergairah dengan permainan suaminya. Ia pun berbalik mengalungkan tangannya di leher prianya. Menyentuh rahang tegasnya dan mencumbunya dengan penuh hasrat.
__ADS_1
Wanita itu kini mengambil alih, ia duduk di pangkuan Tuan D memaju-mundurkan pinggulnya membuat nuklir yang padam kembali aktif.
"Akhhh...sayang kau sangat liar," bisik Tuan D kemudian mengigit telinga Liana dengan gigitan kecil.
"Sayang...aku bisa mencium aroma darahmu. Aku....entahlah ini aneh, aku menginginkan darahmu," ucap Liana.
"Hisaplah jika kau mau, aku akan mengajarimu caranya," ujar Tuan D seraya ikut memaju-mundur kan pinggulnya.
Liana belum memasukkan nuklir itu ke dalam goanya. Wanita itu masih membuat rangsangan kecil. Liana mendengar napas Tuan D yang semakin memburu, ia pun mulai memasang nuklir dengan tepat dan dengan pelan-pelan.
"Hhhaaassss sempit dan enak sayang, kau semakin pintar," puji Tuan D.
"Kau yang mengajariku," ucap Liana dengan ekspresi wajah sangat bergairah.
Tuan D meremas gundukan itu kemudian memainkan benda kenyal dengan isapan-isapan kecil terkadang pria itu menghisapnya sangat dalam. Ia juga membuat stempel kepemilikan pada gunung kembar istrinya.
"Come on baby,..." ucap Tuan D yang menginginkan gerakan itu semakin cepat. Liana kemudian bergerak dengan cepat.
Namun keduanya sama-sama belum pada tahap akhir. Dan masih menginginkan posisi yang lain.
"Kau ingin gaya apa?" Tanya Tuan D
"Kuda," ujar Liana yang membuat Tuan D terkekeh.
Liana kemudian menungging sementara Tuan D memperhatikan pinggul Liana yang indah sembari memasukan senjata panjangnya.
"Emmmmhhh," Liana melenguh ia menikmati permainan suaminya terkadang pelan terkadang cepat.
Tuan D membalikkan posisi Liana dan merebahkannya ke ranjang.
"Aku ingin keluar," ujar Tuan D
Liana hanya mengangguk sembari menggigit bibir bawahnya. Permainan mereka kali ini sedikit lebih lama dan akhirnya mereka mencapai klimaksnya.
Tuan D menjatuhkan dirinya disamping Liana, berbaring miring dan menatap istrinya dengan penuh cinta. Liana juga memiringkan tubuhnya menghadap Tuan D seraya berkata, "Sayang aku ingin mencicipi darah mu," ujar Liana yang sedang kelaparan mencari darah.
__ADS_1
"Kau mau hisap di bagian mana, hemm," ucap Tuan D
"Seperti di film-film biasanya di bagian leher," ujar Liana yang membuat Tuan D terkekeh.
Tuan D beranjak duduk dan mengajak Liana untuk duduk di pangkuannya. "Tusukkan taring mu dan tekan sedalam mungkin. Ketika darah itu keluar kau harus menghisapnya segera, jika tidak maka darah itu akan menetes dan jatuh berceceran. Sedikit susah karena harus menggunakan bantuan lidah juga," ucap Tuan D mengajari caranya.
"Taring ku? Memangnya aku punya taring?" Tanya Liana seraya memeriksa giginya dengan jari apakah ia mempunyai taring yang meruncing tajam.
Tuan D mencubit pelan pipi Liana dan tertawa kecil, "Taring mu akan keluar dengan sendirinya saat naluri mu berkata aku menginginkan darahmu," jelas Tuan D.
"Kau akan mencobanya,"
Liana mendekatkan hidungnya pada leher suaminya, ia mengendus aroma darah yang terasa lezat dan merasakan aliran darah itu.
Benar kata suaminya, taringnya keluar ketika Liana sudah tak sabar untuk menghisap darah suaminya sendiri. Liana kemudian menekan taringnya ke dalam.
Cresskk
Darah keluar, taring yang tertusuk dalam itu kembali ia cabut dan Liana segera mengambil darah yang keluar dengan cara menyedotnya.
Tuan D memejamkan matanya, menikmati tempo dari setiap hisapan.
"Sayang darahmu terus mengucur, bagaimana cara menghentikannya," ucap Liana dengan polosnya.
"Dia akan berhenti jika kau tak menyedotnya secara terusan," ucap Tuan D. Liana tak menyedotnya lagi, namun ia masih menjilati sisa darah yang keluar semakin sedikit.
Tuan d terasa sedikit geli. Dia tak pernah memberikan darahnya pada wanita lain.
"Apa kau sudah puas?" Tanya Tuan D
"Hemm sedikit, karena aku menginginkannya lagi. Tapi aku takut darahmu akan habis hehe," ucap Liana dan lagi-lagi suaminya terkekeh geli.
"Haha kau bisa mencicipinya nanti, sekarang mandilah. Apa kau tau tahu? Ibu dan yang lainnya sedang menunggu dibawah," ucap Tuan D yang mendapat panggilan dari Ibunya sedari tadi bahkan sebelum mereka melakukannya. Namun Tuan D sedikit mengabaikan.
"Maaf Bu, tunggulah sebentar. Kami akan bersiap. Tadi Aku dan Liana sedang bermain, kau harus pahami keadaan ku hehe," ujar Tuan D.
__ADS_1