
"Haha bunuh saja aku, aku tidak akan memanggilnya!" Tantang Lee seraya memegang lukanya
Kemudian Lee berpura-pura lemah, disaat yang tidak mereka sangka Lee menghujaninya dengan serangan bertubi-tubi. Namun lagi-lagi Lee kalah. Meskipun Lee tidak memanggil Tuan D, tetapi pria itu tahu jika pengikutnya telah diserang. Tuan D datang dengan beraninya, tanpa pasukan apapun. Tanpa pengikut lainnya, ia datang sendiri.
"Musuh lamaku, suka sekali kau menyiksa anak buah ku. Kenapa tak mencari ku langsung, kalian tak mampu?" Tantang Tuan D
"Jangan sombong kau Pangeran! Kenapa kau tak kembali ke istana? Kau cukup pengecut untuk bersembunyi dengan waktu yang lama," ucap Drakula berekor.
"Kau telah menyakitinya, inilah pembalasanku!" Seru Tuan D yang langsung membalas serangan Drakula berekor itu.
"Tuan kenapa kau kemari! Awas Tuan, Dia datang bertiga," ucap Lee yang mengatakan jika dua lainnya bersembunyi dan setelah Lee mengatakan itu dua drakula berkulit melepuh lainnya datang menyerang Tuan D
Tuan D masuk ke dimensi lain. Bukan dunia, bukan planet lain. Ia masuk ke dimensi sihir kegelapan Drakula tersebut. Lee tak bisa menjangkaunya. Tuan D telah menghilang dari bumi, lantas segera Lee menemui Ratu Bella
"Ratu, pangeran D telah dibawa musuh jahat. Aku tak tahu siapa mereka. Mereka tadinya berdua tetapi dua lainnya menghilang dan tiba-tiba muncul mengeroyok Tuan D dan membawanya ke dimensi lain. Mereka drakula dengan kulit menyeramkan, bertanduk dan berekor menyerupai iblis," adu Lee pada Ratu nya
"Mereka DAS, Drox, Az dan Soa mereka anak-anak monster kegelapan. Monster itu memiliki anak hubungannya dengan iblis dan melahirkan tiga iblis yang mirip dengannya. Ini bahaya, aku tidak bisa masuk ke dimensinya," ucap Ratu Bella
"Lalu bagaimana Ratu, apa yang harus ku lakukan," ucap Lee yang merasa bersalah.
"Kau tidak perlu merasa bersalah, yang bisa menyelamatkannya hanya Liana," ucap Ratu Bella
Sementara itu, Liana bermimpi buruk. Ia berada di sebuah tempat yang tidak ia kenal. Dia melihat Tuan D diserang dan terjatuh bersimbah darah.
"Dimana aku, itu... Tuan D," pekik Liana. yang kemudian menghampiri Tuan D yang sudah tak berdaya.
Tuan D tak melihat Liana, ia sepertinya pingsan. Namun samar-samar ia mendengar suara Liana.
"Sayang banguunnn!" Liana memangku Tuan dan mencoba membangunkannya dengan terus mengguncang-guncangkan tubuh Tuan D seraya menangis
"Hahaa mudah sekali memancing wanitanya," ucap Az
"Kalian! Siapa kalian!" ucap Liana yang kemudian teringat akan wajah pria drakula yang pernah menyekapnya, merantainya di ruangan gelap. Seperti itulah mereka tetapi berbeda, bukan drakula yang sama. Karena tidak berekor dan bertanduk.
Liana merebahkan tubuh Tuan D dibawah, wanita itu memundurkan langkahnya dan bersiap menyerang meski ia sendiri tidak tahu caranya.
__ADS_1
"Kalian mau membunuh tunangan ku, hiks...hiks..," ucap Liana dengan tangisannya.
"Haha kemarilah cantik, Aku hanya ingin memilikimu," ucap Drox yang tergoda dengan bau darah Liana.
Ia mendekat dengan wajah penuh gairah. Liana merentangkan tangannya kedepan. Tak ada apapun yang keluar, namun saat Drox sudah mendekat, Liana memejamkan matanya dan tanpa disadari ada kekuatan yang muncul dari tangannya.
Drox terpental jauh dengan tubuh yang kemudian berasap. Ia meronta kepanasan.
"Ahhh tubuhku! Tolong aku... aaaaargghh panaaaaass!" Pekik Drox yang meronta kepanasan kemudian menghilang entah kemana.
"Kau berani sekali menyerangnya!" Pekik Soa
"Hah apakah itu kekuatanku? Jadi seperti itu caranya," ucap Liana yang menyadari kekuatannya keluar. Wanita itu bersiap mengeluarkan kekuatannya lagi. Ia memejamkan matanya dan entah mengapa tubuhnya melayang.
Scraaaatzzzz
Cahaya putih besar bersinar dan menembus tubuh dua drakula berekor didepannya. Mereka berdua kesakitan dan kemudian pergi menghilang.
Liana melayang dan setelah itu ia baru sadar jika dirinya melayang kemudian wanita itu terjatuh keras ke bawah.
"Sayang bangunlah, kau berjanji tidak akan meninggal ku kan! Hiks ...hiks..." ucapnya penuh kesedihan.
"Darah, dia pasti membutuhkan darahku," ucap Liana kemudian mencari benda tajam disekitar. Namun disekitarnya sesuatu yang berwarna cahaya putih abstrak dengan asap dan tak ada apapun.
Liana teringat akan antingnya, ia pun menusukkan sisi tajam antingnya ke ibu jarinya, Liana menusuknya dengan sangat keras dan menyakiti ibu jarinya. Meski tak banyak darah yang keluar tetapi ada tetesan kecil yang keluar. Liana memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut Tuan D.
Tuan D tetap tak bereaksi. Liana kembali menyakiti ibu jarinya agar keluar darah lebih banyak. Kini darah yang keluar lebih banyak. Liana menekan ibu jarinya agar semakin banyak darah yang keluar kemudian membuka mulut Tuan D dan meneteskan darahnya disana.
Tuan D mengecap, kemudian mulai menggerakkan lidahnya. Liana merasakan Tuan D menjilati darah yang keluar dari ibu jarinya. Pria itu tanpa sadar menyedot lebih banyak dan kemudian ia tersadar lalu membuka matanya dengan kasar.
"Sayang, kau... kenapa kau menyakiti dirimu!" Tuan D marah lalu Liana memeluknya dengan tangisan yang pecah.
"Hiks... hiks...aku hanya ingin kau sadar. Aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku," ucap Liana, Tuan D melepaskan pelukan wanitanya dan berkata serius.
"Aku hanya pingsan, maaf aku tak sengaja menghisapnya, Sayang... jangan pernah melakukan itu. Jika aku tak segera sadar bisa-bisa aku menyedot semua darahmu, meski itu membuatku kembali bertenaga. Darahmu sangat lezat sayang dan aku takut tak bisa mencegahnya. Janji ya jangan pernah lakukan itu," ucap Tuan D kemudian dari arah belakang Liana. Drakula jelek itu kembali datang dan ingin menyerang mereka.
__ADS_1
Tuan D dengan segera menghalaunya dan mengeluarkan kekuatan merahnya lalu dengan secara bersamaan ia membawa Liana keluar dari dimensi itu.
Liana terbangun dengan kasar membuka matanya dan merasakan ibu jari sebelah kirinya terluka
"Ini bukan mimpi, Tuan D...sayang..." ucap Liana dan memanggilnya dengan lirih.
Terasa matanya basah dan sembab, wanita itu menyadari jika tadi bukan mimpi.
"Bagaimana bisa aku berada di dimensi lain, aku seperti mimpi, tapi ini nyata," ucap Liana
"Sayaaaang...datang lah padaku, kau baik-baik saja kan?" pekik Liana tetapi dengan suara dipelankan.
Cling
Tuan D datang didepan ranjangnya dengan napas beradu dan tubuh yang limbung, tubuhnya penuh luka dan berasap. Liana segera bangkit dari ranjangnya dan menghampiri Tuan D.
"Sayang kau terluka, ayo ku bantu kau berbaring di ranjang ku," titah Liana yang kemudian memapah tubuh Tuan D yang lemah. Ia masih bisa berjalan meski sedikit dipapah.
Tuan D berbaring di ranjang Liana, wanita itu membuka pakaian kekasihnya untuk melihat luka yang diterimanya.
"Astaga kau terbakar, luka ini? Melepuh dan mengeluarkan darah," ucap Liana kemudian beranjak untuk mengambil perlengkapan p3k.
Namun Tuan D menarik tangannya, Liana kembali terduduk. Tuan D mencoba untuk beranjak duduk kemudian memegang tengkuk Liana dan menciumnya secara ganas.
"Aku tidak memerlukan perlengkapan medis mu, aku membutuhkan ciuman mu, cukup sentuh lukaku dan luka itu akan membaik," bisik Tuan D dan kemudian kembali mencium bibir Liana.
Mereka bercumbu dengan penuh kehangatan, sembari itu tangan Liana menyentuh luka Tuan D di dada. Dengan ajaibnya Liana mengeluarkan kekuatannya dan tubuh pria itu menutup meski masih menyisakan bekas luka namun telah terobati oleh cinta Liana.
Tuan D melepaskan ciumannya, ia takut terbawa suasana dan lepas kendali.
"Aku menyayangimu," ucap Tuan D
"Aku juga sangat menyayangi mu," balas Liana
Tuan D membelai Liana dengan lembut dan kemudian ia beranjak berdiri. Menyuruh Liana kembali tidur.
__ADS_1
"Aku sudah membaik karena cintamu, kembalilah tidur. Aku pulang ya," ucap Tuan D dan kemudian mencium kening Liana sebelum ia benar-benar pergi.