
Sore harinya, seperti janji Liana pada Kakek Ye. Ia membawa Tuan D kerumahnya ayahnya. Yuan Ye sendiri sibuk dengan ritual barunya yang menebarkan darah hewan di sekeliling halaman rumahnya dengan maksud menyamarkan bau darahnya manusia.
Liana tertawa kecil seraya menggelengkan kepala atas kelakuan Ayahnya itu.
"Ayah, kau tidak perlu melakukan ritual itu. Cukup berdiam diri di rumah saja saat malam hari," sahut Liana yang berada didepan halaman rumah karena menyapa Ayahnya yang sedang sibuk dengan ritualnya.
"Hah tapi tidak ada salahnya kan kita melakukan ini, siapa tahu usaha ini tidak sia-sia," ucap Yuan Ye yang kemudian menyadari keberadaan Tuan D.
"Astaga Tuan D, maaf saya tidak bisa menyambut Anda dengan baik, tangan saya sedang kotor. Mari masuk Tuan, sebentar saya bersihkan diri dahulu," ujar Yuan Ye.
"Tidak apa-apa Tuan Yuan, saya kemari ingin menemui Kakek Liana," jawab Tuan D yang merasa sedikit panas karena hari masih sore.
Pria itu masih bisa menahan panas matahari tetapi tidak bisa berlama-lama, berbeda ketika ia masih memiliki cincin mistis. Jika memakainya Tuan D tak hanya bisa menemukan kecocokan jodohnya tetapi ia juga bisa merasakan berdetak dan tahan akan sinar matahari.
Meminum ramuan agar bisa menahan panas matahari pun hanya bertahan beberapa jam, itu Tuan D. Berbeda dengan pengikutnya seperti Lee, ia tidak dapat terkena sinar matahari. Meskipun hanya sebentar.
Dengan langkah berat pria itu mulai memasuki pintu rumah Yuan Ye. Kakek Ye yang berada di ruang baca merasakan ada aura mistis, bukan setan, dedemit atau bahkan aura kasih melainkan aura drakula.
Kakek Ye berdiri dengan tongkatnya. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya kemudian menghentakkan tongkat itu ke lantai.
Kreek
Seketika ada bunyi krek-krek dan retaklah tongkat kayunya itu.
"Biasanya jika aku mengeluarkan kekuatan itu tanah yang terkena hentakan tongkat akan retak, tetapi ini yang retak malah tongkatnya," gumam Kakek Ye yang kemudian memanggil Nenek Anie yang sedang mengambil obat untuknya.
"Sayangku Anie," pekik Kakek Ye yang selalu bersikap romantis pada istrinya itu
"Iya, ada apa? Aku sedang mengambil obat untukmu," ucap Nenek Anie seraya membawa obat yang ditaruh diatas nampan beserta air putih hangat untuk suaminya.
Kakek Ye yang masih berdiri bungkuk dengan tongkatnya yang retak menunggu kedatangan Anie. Saat melihat tongkat suaminya yang retak segera ia meletakkan nampan yang berisi obat dan minuman itu keatas meja. Kemudian membantu suaminya berdiri tegap.
"Aku tidak bisa mengeluarkan kekuatanku, malah tongkatku yang retak. Ada drakula yang datang mendekat kemari. Tolong bantu aku keluar dari ruang baca ini," ucap Kakek Ye
"Ahh kau ini sudah tua masih saja berlagak," sewot Nenek Anie yang kemudian mendudukkannya ke sofa bukan memapahnya ke luar ruang baca.
__ADS_1
"Kenapa kau mendudukanku?" Tanya Kakek Ye.
"Kau harus minum obat dulu, jika tidak jantungmu akan berdebar dan semakin susah untuk bernapas," ucap Nenek Anie
"Tentu saja jantungku berdebar karena aku masih hidup," ucap Kakek Ye
"Hemm bukalah mulutmu," titah Nenek Anie kemudian memasukkan obat kedalam mulut kakek Ye yang berbentuk pil dan berasa pahit. Hingga pria tua itu mengernyitkan kedua alisnya hingga menyatu. Nenek Anie segera mengambil gelas berisi minuman dan meminumkannya.
"Terimakasih sayang, hmmm sampai kapan aku terus meminum obat pahit ini," ucap Kakek Ye pelan seraya menghela napasnya.
"Sampai keadaan mu benar-benar sehat," ucap Nenek Anie seraya membelai rambut Kakek Ye yang memutih kemudian mengecup kening suaminya.
Liana sedari berada di depan pintu ruang baca yang terbuka lebar, ia melihat keromantisan kakek neneknya.
"Kakek...Nenek, kalian sudah tua tetapi selalu saja romantis seperti ini," ujar Liana yang tiba-tiba menyela di tengah-tengah adegan romantis orang tua itu.
"Karena kami saling mencintai, cinta kami tulus," ucap Kakek Ye secara terang-terangan membuat Nenek Anie sedikit malu.
"Aku ingin seperti kalian nanti jika aku dan suamiku beranjak tua," ucap Liana yang kemudian berpikir jika dirinya tua maka Tuan D akan selalu muda. Kemudian dia menggelengkan kepalanya tak ingin berpikir macam-macam.
"Dia ada di bawah, diruang tamu," ucap Liana dengan jelas
Ada sedikit rasa takut dalam dirinya ketika akan mempertemukan kedua orang tua itu.
"Kalau begitu ayo kita turun, nanti ke buru hari gelap dan para drakula itu berdatangan," ajak Nenek Anie kemudian membantu Kakek Ye keluar dari ruang baca.
Liana ikut membantu Kakek berjalan. Jarak ruang tamu dari ruang baca membutuhkan 25 langkah kaki sedang. Tetapi jika berjalan bersama dengan Kakek Ye membutuhkan setidaknya 40 langkah kaki serta kesabaran.
Tuan D semakin tidak tenang, ia merasakan kakek tua itu sudah berjalan mendekat. Ia berpangku tangan dengan menyatukan kedua tangannya membentuk sebuah genggaman dan menundukkan kepalanya.
Deg deg
Langkah kaki Kakek Ye terhenti ketika ia merasakan aura drakula yang semakin kuat. Terlebih saat ia melihat Tuan D sedang duduk di hadapannya kini. Tuan D mengangkat wajahnya dan melihat Kakek Ye dengan raut wajah tak suka, pria tua itu membelalakkan matanya. Terlihat ada pancaran api membara dari dalam dirinya. Ia marah, tak ingin drakula itu menyentuh keluarganya.
"Kau!" Pekik Kakek Ye dengan suaranya disertai geraman bagaikan harimau yang siap menerkam.
__ADS_1
"Kakek Ye," gumam Tuan D yang hampir tak terdengar oleh orang lain.
Yuan Ye masuk ke dalam ruang tamu dengan pakaiannya yang kotor, ia berlari kecil berniat ingin segera membersihkan diri namun ia datang disaat tak tepat.
"Kau drakula! untuk apa kau kemari!" Pekik Kakek Ye dengan jelas dan terdengar di telinga Yuan Ye
Nenek Anie terkejut mendengar apa yang diucapkan Kakek Ye.
"Kakek, jangan bicara seperti itu," ucap Liana agar kakeknya tak berbicara dengan kasar.
Tuan D beranjak berdiri kemudian Liana berjalan mendekatinya dan berdiri disamping Tuan D seraya menggenggam tangannya.
"Liana pergi, jangan dekati dia! Dia drakula yang bisa memangsamu kapan saja!" Ucap Kakek Ye dengan amarah menggebu.
"Tuan D drakula?" gumam Yuan Ye.
Yuan Ye menoleh dan membalikkan badan melihat kakeknya lalu beralih menatap Tuan D dengan tatapan tak percaya jika Tuan D adalah Drakula.
Tuan D membalas genggaman tangan Liana dengan semakin mengeratkan genggaman mereka.
"Apa yang Ayah maksud? Dia Tuan D, klien besarku dan dia juga tunangan Liana," ucap Yuan Ye seraya menjelaskan siapa pria itu. Ia takut jika Ayahnya salah menilai orang.
"Iya Yuan Ye, dialah Drakula! Dia juga yang membunuh Alexandra," ucap Kakek Ye
"Tidak, tidak seperti itu Kakek! Liana bisa menjelaskan," ucapan Liana terpotong karena Tuan D ikut berbicara.
"Tuan Yuan Ye, saya memang drakula. Tetapi saya tidak berniat jahat apalagi dengan keluarga ini. Saya sangat mencintai Liana, putri Anda dan cucu Anda Kakek Ye. Dan saya ingin memperjelas. Saya ataupun keluarga saya tidak pernah menyakiti Alexandra. Tetapi dia dibawa oleh Monster kegelapan," ucap Tuan D
"Arrgggh apapun itu Kau tetap lah drakula. Kau itu bukanlah manusia! Kalian tidak bisa bersama! Aku tidak akan pernah menyetujui cucuku berhubungan denganmu, apalagi menikah denganmu!" Hardik Kakek Ye dengan jelas menolak hubungan itu.
Liana menitikkan air mata, ingin sekali ia menyela dan membela kekasihnya, namun Tuan D melarangnya. Tuan D melepaskan genggaman itu dan melangkah ke depan mendekati Kakek Ye.
Pria itu adalah Pangeran Drakula yang dihormati oleh bangsa drakula. Tetapi kini ia berlutut dihadapan Kakek Ye meminta restu untuk hubungan yang sangat terlarang.
"Saya mencintai Liana, restuilah kami. Saya rela dihukum katakan apa yang harus saya lakukan agar Kakek Ye dapat menerima saya dan hubungan ini," ucap Tuan D dengan sangat tulus dengan hati yang bergetar. Kakek Ye merasakan pria ini sangat tulus namun apa boleh buat. Tuan D tetaplah drakula dan hubungan itu tidak akan pernah bisa menyatu.
__ADS_1