Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Kencan


__ADS_3

Malam yang ditunggu oleh kedua insan akhirnya datang juga. Steve yang sudah berpenampilan rapi, bersiap pergi ke rumah Trivia untuk makan malam dengannya. Mereka berencana untuk makan malam di sebuah restoran.


Sesampainya di depan pintu rumah Trivia, Steve nampak ragu. Entah apa yang dipikirkannya, pria itu mempunyai rasa trauma yang mendalam tentang cinta. Dan Steve sama sekali belum pernah memiliki seorang pacar. Sama halnya dengan Trivia hanya sekedar mencintai dan menyatakan perasaan namun belum sempat merasakan seperti apa memiliki seorang kekasih. Dan ini pertama kalinya mereka berkencan.


Ting Tong


Steve menekan bel rumah Trivia yang terlihat besar dan sangat sepi. Tentu saja sepi karena hanya dihuni oleh Trivia dan asisten rumah tangganya. Sedangkan Ayahnya mendekam di penjara mungkin butuh waktu lama untuk keluar karena persidangannya belum dimulai.


Ceklek.


Trivia membuka pintu, ada perasaan berdebar padahal wanita ini tidak pernah memiliki perasaan pada Steve tapi mengapa saat itu ia merasakan gugup. Aneh memang, mungkin saja Trivia belum sadar akan perasaannya.


Steve terpana menatap kecantikan wanita yang membuka pintu itu. Wanita yang didambakannya belum lama ini. Meski Trivia hanya berdandan sekedarnya saja, namun mampu mengalihkan pandangan Pria ini.


Tanpa berkedip, tanpa bicara, hanya terdengar degupan jantung yang berdebar dari masing-masing. Mereka terpana satu sama lain sepertinya seorang malaikat baru saja menembakkan busur panah cinta, tepat mengenai hati masing-masing.


"Hemmm, Ka-kau cantik sekali," puji Steve dengan suara terbata, ia segera tersadar dan membuka suara


Trivia tersenyum hingga tertunduk tersipu malu.


"Kau juga...juga tampan," balas Trivia sedikit ragu.


Steve juga tertawa kecil merasa senang karena Trivia memperhatikan penampilannya.


"Kita jalan sekarang?" Tanya Steve


"Yakin kita mau jalan? Tidak memakai kendaraan?" Tanya Trivia dengan candanya.


"Haha, maksud ku kita berangkat sekarang Nona?" Ucap Steve yang belum bisa menghilangkan kata 'Nona'


"Astaga sampai kapan kau terus memanggilku Nona?" Tanya Trivia.


"Bagiku kau adalah Nona di hatiku," ucap Steve


"Apakah kau menganggapnya Nona saja , tidak bisa menjadi Nyonya?" Tanya Trivia mulai dengan candanya tetapi Steve malah menanggapinya.


"Aku mau saja menjadikanmu Nyonya Steve, tapi apakah kau bersedia menerima aku yang hanya biasa saja," ucap Steve yang to the points.


"Ih kita bicara tentang apa sih? haha udah yuk nanti keburu tempat makannya tutup," ucap Trivia yang diakhiri dengan ajakan. Steve dengan refleks meraih tangan Trivia dan menggenggamnya.


Wanita itu terus menatap tangan yang di genggam hingga Steve membuka pintu mobilnya dan menyuruh wanita itu masuk. Hanya sebuah genggaman membuat hati Trivia beradu bahkan sulit bernafas. Bukan sakit, tapi ada gejolak yang ia rasakan.

__ADS_1


Trivia masih terpaku hingga Steve menyalakan mobilnya. Mobil butut yang sudah lama dan sering mogok. Namun Trivia nyaman duduk didalamnya.


"Mobil tua ini nyaman juga ya, kau pasti rajin merawatnya," ucap Trivia


"Yang membuat mu nyaman berada di mobil ini atau bersama denganku?" Tanya Steve seraya melajukan mobilnya.


"Mungkin keduanya, jawab Trivia jujur," dan seketika mereka tertawa kecil.


Disisi lain Liana sedari siang menghubungi Trivia, namun wanita itu tidak bisa dihubungi. Padahal Liana ingin menyampaikan pesan dari Tuan D jika malam ini mereka jangan keluar. Karena teror drakula akan berlanjut malam nanti.


"Haduh bagaimana ini? Kenapa semua orang tidak ku hubungi," Liana bergeming dengan dirinya sendiri.


"Tuan D, sayang?" Panggil Liana, namun ke kasihnya itu tak menjawab.


"Hemm mungkin Tuan D sibuk menyiapkan pasukannya. Semoga tidak terjadi apapun dengan keluarga dan sahabat ku," ucap Liana pada dirinya sendiri.


"Triv, kau mau makan apa malam ini?" ucap Steve yang sebenarnya ingin mengorek informasi tentang makanan favorit Trivia.


"Apa saja, aku pemakan segalanya," jawab Trivia.


"Kalau begitu, ini ambil dan makanlah," ujar Steve yang memberikan sebuah pemukul kayu yang terbuat dari besi yang selalu ada di mobilnya.


"Apa ini? Kau pikir aku seperti Tasmania haha, maksud ku semua makanan apapun aku suka. Aku bukan pemilih," ucap Trivia.


"Ok. Hemm kau selalu bawa pemukul besi ini?" Tanya Trivia seraya memegang pemukul besi itu.


"Iya, aku seorang agen penyamar terkadang juga mengamankan situasi seperti perkelahian atau teror drakula yang sempat meneror tempat kita, semua senjata ku siapkan di mobil ini," jawab Steve yang dibalas anggukan oleh Trivia tanda mengerti.


Sesampainya di restoran favorit Steve, mereka langsung memesan menu makanan. Lobster dan Crabs adalah menu yang mereka pesan malam ini.


"Disini Lobsternya besar-besar kau pasti ketagihan," ucap Steve.


"Haduh jika kolesterol ku naik, aku akan menyalahkan mu hahaa," ucap Trivia.


"Haha ya jangan terlalu sering, sayang," ucap Steve tanpa sengaja menyebut kata sayang.


Dia lupa jika Trivia bukanlah kekasihnya. Wanita itu pun mengerutkan dahinya.


"Sayang?" Tanya Trivia memastikan jika pendengarannya tidak salah.


"Hemm apa?" Tanya Steve balik pura-pura tidak tahu. Ia takut jika merusak makan malamnya yang belum terjadi.

__ADS_1


"Ahh lupakan saja," ucap Trivia seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal


Tak berapa lama makanan pesanan mereka telah datang dan langsung dihidangkan di meja.


Steve mengambil tang kecil yang disediakan restoran itu untuk membuka cangkang kepiting yang sangat keras. Dengan gampangnya pria itu membuka, lalu memberikan kepiting yang telah dikupas itu untuk Trivia.


"Terimakasih," ucap Trivia dan mulai memakannya


"Hemmm...ehmmmm... ini enak sekali," ucap Trivia seraya mengunyah makannya.


"Kau harus coba Lobsternya juga, sebentar aku kupaskan," ucap Steve


"Tidak usah, aku bisa mengupasnya," tolak Trivia.


"Biar cepat," ujar Steve yang memperlakukan Trivia dengan istimewa. Tri merasa seperti ratu yang dilayani.


Setelah Steve mengupas kulit lobster yang juga sedikit keras, ia memberikannya pada Trivia. Wanita itu mencicipinya.


"Hemm ini lembut sekali dan enak. Astaga kau benar aku sepertinya akan ketagihan makan disini," ucap Trivia yang makan sembari memejamnya matanya untuk menikmati kelezatan daging Lobster itu.


Steve sedikit tertawa karena Trivia makan dengan lahapnya sampai-sampai belepotan di pinggir bibir. Bahkan saus lobster itu mengenai pipinya. Steve mengambil tisu dan mengusapkannya pada pipi yang terkena saus.


"Terimakasih, maaf aku makannya seperti ini haha," ucap Trivia lalu mengambil alih tisu yang dipegang Steve dan membersihkannya sendiri.


"Tidak apa, aku malah senang itu terlihat kau sangat menyukainya," ucap Steve


"Kau tidak makan?" Tanya Tri


"Iya ini lagi dikupas," ucap Steve seraya mengupas kulit lobster


Tri meraih air putih dan meneguknya kemudian ia pamit ke belakang.


"Toiletnya disebelah mana ya?" Tanya Tri


"Ini kau terus sampai pria gendut didepan itu lalu belok ke kanan," jawab Steve seraya menunjukkan dengan arahan tangannya.


"Aku permisi ke toilet sebentar ya, jangan dihabiskan hehe," ucap Trivia.


"Siap laksanakan," jawab Steve yang membuat Trivia terkekeh dibuatnya. Wanita itu pun segera pergi ke toilet.


Sudah 20 menit sejak Trivia pamit ke toilet, wanita itu tak kunjung kembali. Steve merasakan ada hal yang tidak beres. Ia pun menyusul Trivia.

__ADS_1


Sementara Trivia tidak dapat keluar dari toilet itu. Bukan karena pintunya macet melainkan ada drakula yang menyerangnya.


"Tolong siapapun tolong ada drakula," pekik Trivia berulang-ulang tetapi tidak ada seorangpun yang mendengar karena suara musik yang ada di restoran itu cukup besar.


__ADS_2