
Nenek Anie memulai semedinya dan berfokus mengeluarkan sihir yang telah lama tertutup. Kemudian ia melontarkan sihirnya ke arah atas dan muncul sebuah gelombang yang terpancar. Gelombang itu hanya di dengar oleh kaum drakula.
Seketika drakula-drakula yang mendekat rumah sakit dan mulai memangsa manusia secara brutal kemudian pergi menjauh. Ratu Bella dan pengikutnya yang membantu mengamankan wilayah di bagian rumah sakit juga menutup telinga mereka sembari ikut menjauh dari rumah sakit itu.
Lee yang menjaga di depan terus menutup telinganya dengan sedikit berteriak hingga para suster melihatnya. Tentu saja bagi kaum manusia gelombang itu tidak terdengar. Hanya para drakula saja yang mendengarnya, suara gelombang itu memekakkan telinga mereka hingga ngilu menyakiti pendengaran.
Nenek Anie sudah tidak merasakan keberadaan kaum drakula. Tetapi dia merasakan ada beberapa yang masih berada di dekatnya.
"Lee, dia pasti drakula," gumam Nenek Anie.
Nenek keluar dari toilet dan menanyakan pada Liana dimana Lee berada.
"Dimana Lee?" Tanya Nenek Anie begitu keluar dari toilet.
"Dia di depan berjaga jika ada drakula jahat," ucap Liana keceplosan. Dia sebenarnya ingin menutupi tentang teror drakula itu.
"Drakula?" Tanya Nenek yang pura-pura tidak tahu.
"Duduk sini Nek, Liana akan ceritakan apa yang terjadi hari ini,"
Setelah duduk dan mendengar cerita dari Liana, Nenek merasa Lee bukanlah drakula yang jahat. Tetapi jika Kakeknya tahu, dia tidak akan terima keberadaan Lee di dekatnya.
Tidak berapa lama berita tentang teror di rumah sakit menghilang. Bukan berarti mereka akan aman dari teror selanjutnya. Hanya untu waspada saja untuk sementara mereka harus berdiam di rumah. Dan keluar jika sangat penting saja.
Ratu Bella yakin, gelombang itu berasal dari penyihir yang sekian lama di carinya. Ia ingin mencari keberadaan penyihir itu saat itu juga agar tidak kehilangan jejaknya lagi. Namun ia harus mengurus keluarganya terlebih dahulu menghadiri pemakaman adiknya secara manusiawi karena mereka tinggal di lingkungan yang berada berdampingan dengan manusia lainnya.
Kakek Ye mulai menunjukkan perkembangan. Ia sudah sadarkan diri. Dan merasa sudah sehat.
"Kakek, Aku senang kakek sudah sadar. Bagaimana keadaanmu kek?" Tanya Liana.
"Baik, aku bahkan merasa tidak sakit lagi jadi ayo kita pulang," ucap Kakek.
__ADS_1
"Kita tunggu dokter memeriksa ya," ujar Nenek Anie.
"Aku ingin pulang, aku merasakan ada aura kejahatan," bisiknya pada Anie.
"Tenang saja semua baik-baik saja," Nenek Anie meraih tangan Kakek dan menepuknya pelan.
"Kau? Bagaimana mungkin, kau sudah lama menutup sihir mu," bisik Kakek.
"Kakek dan Nenek ini bicara apa sih?" Tanya Liana.
"Hemm Liana bisakah kau membelikan Nenek sarapan. Rumah sakit ini sangat lama menyediakan sarapan. Nenek sudah lapar," ucap Nenek yang mencoba untuk mendapatkan privasi karena ingin berbicara banyak dengan Kakeknya.
"Baiklah, Kakek dan Nenek tunggu sebentar ya, kalau ada apa-apa telpon aja," ucap Liana dan kemudian keluar untuk membeli makanan.
Saat membuka pintu, Liana tidak menemukan keberadaan Lee. Wanita itu tetap keluar sembari mencari Lee dengan memanggilnya pelan. Lee muncul tiba-tiba dihadapan Liana hingga mengagetkannya.
"Astaga jin ifrit!" Ucapnya sedikit latah.
"Oke-oke tetapi ada apa?Bukannya kabar berita sudah mengatakan aman," ucap Liana sembari berlari kecil ke menuju ruangan Kakek Ye. Ruangan kamar itu telah di Pagari Tuan D sehingga Liana akan aman didalam.
"Jangan banyak tanya, lekas masuk!" Hardik Lee yang sedikit ketakutan.
Dua langkah lagi Liana sampai didalam ruangan Kakek Ye tetapi Boscha datang menghadangnya. Liana mundur ketakutan, segera Lee mendekat dan memasang badan untuk Liana. Boscha mengeluarkan kekuatan jahatnya untuk melukai Lee tetapi malah Liana yang terkena. Nenek dan Kakeknya segera keluar dan ketika membuka pintu kamarnya.
Screeettt
Terlambat, sihir itu tepat mengenai kepala Liana dan seketika membuatnya tak sadarkan diri. Untuk saja kekuatan yang dikeluarkan bukanlah kekuatan untuk membunuh melainkan membuat pingsan tak berdaya.
Nenek dan Kakeknya kini berhadapan dengan Boscha. Mereka kemudian beradu kekuatan. Lee ikut membantu, namun Lee sangat lemah karena dia sudah terkena serangan Boscha sebelumnya.
"Pantas saja aku merasa masih ada beberapa drakula di rumah sakit ini, ternyata selain Lee. Pria ini juga drakula. Siapa dia?" Batin Nenek Anie.
__ADS_1
"Haha Nenek kau kepo sekali, panggil saja Aku Tuan Bos. Kalau belum puas siapa namaku maka hafalkan hingga masuk ke dalam otakmu, namaku Boscha hahaa," ucap Boscha tak sopan.
"Kurang ajar, rasakan ini," Kakek Ye kemudian menyerang pria drakula di depannya, tetapi serangannya malah dikirim balik oleh Boscha dan mengenai Kakek.
Hidung Kakek Ye berdarah, Boscha sangat kuat, bahkan sihir Nenek Anie, yang mengeluarkan gelombang menyakiti telinga para drakula tidak berpengaruh pada drakula yang bernama Boscha.
Drakula itu juga mengirim balik kekuatan Nenek Anie hingga menyakiti wanita tua itu. Boscha bisa saja mengambil nyawa ketiganya. Tetapi dia hanya membuatnya tak berdaya.
"Darahnya tidak enak jika ku santap, tidur panjangkan kalian hahaha," ucap Boscha tertawa riang.
Lee yang terjatuh tak dengan tubuh yang sekarat kemudian mengirimkan telepati kepada Tuan D dan Ratu Bella jika Liana dalam bahaya. Tak butuh waktu lama ketika mendengar Liana dalam bahaya, Tuan D terbangun dengan kejut yang tak bisa diartikan.
"Ma, Liana dalam bahaya. D ingin keluar," bisik Ratu Bella ditengah keramaian manusia.
"Baiklah," Nenek Mary kemudian membuka portal ghoib yang terpasang di peti matinya.
Ketika Boscha akan membawa Liana, Tuan D tiba-tiba hadir dan langsung mengarahkan kekuatan merah ke tubuh Boscha. Kali ini adik yang menjadi musuhnya, adik yang memusnahkan sang raja yang tak lain adalah ayahnya sendiri, tak dapat lari dan mengelak.
Terlihat tubuh Tuan D mengeluarkan kepulan asap merah dan hitam. Matanya merah menyala dan urat-urat di tubuhnya keluar dari permukaan.
Adiknya itu merasakan sakit yang luar biasa. Hingga tubuhnya meringkuk. Tak hanya sekali kekuatan itu diarahkan padanya. Tuan D melontarkan kekuatannya tanpa jeda hingga Boscha kepanasan karena Tuan D menyerap semua kekuatan Boscha hingga tak tersisa dan kemudian musnah. Tak ada lagi yang namanya Tuan Bos atau Boscha.
Setelah Boscha musnah, Tubuh Tuan D lemas hingga jatuh berlutut. Kemudian ia menangisi kepergian adiknya. Meski Tuan D membencinya namun dari lubuk hati yang terdalam Boscha tetaplah adiknya yang pernah ia sayang.
"Maafkan Aku," ucap Tuan D lirih.
Tuan D membaringkan Kakek di ranjangnya serta membaringkan Nenek Anie di sofa dan membuat mereka berdua tak ingat apapun. Kejadian tentang Boscha dan mengirim Lee pulang ke rumahnya.
Tuan D juga membawa Liana ke kediamannya karena tak ada tempat di ruang perawatan itu. Ia tak tega melihat Liana jika harus berbagi tempat tidur dengan Neneknya di sofa yang sempit itu.
"Kau akan ku bawa ke rumahku, tidak apa kan sayang," ucap Tuan D yang kemudian mengecup pucuk kepala Liana dan Whuuuus menghilang.
__ADS_1