Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Sebastian Bebas


__ADS_3

Tuan D, Liana, Trivia dan Marni sudah berada di kantor polisi. Sekarang mereka sedang duduk dan berbincang bersama pengacara Sebastian dan pengacara Yuan Ye. Inspektur polisi masih menunggu kehadiran Yuan Ye, sedangkan kesaksian Liana sendiri telah di catat oleh sekretaris polisi.


Tak berapa lama terdengar bunyi sepatu pantofel pria yang sedang menuju sebuah ruangan khusus apakah akan dilakukan proses hukum atau hanya dengan kekeluargaan. Yuan Ye terkejut melihat Liana yang telah dulu berada disana, pasalnya, saat itu Liana ijin akan kerumah Tuan D. Tetapi karena di tempat itu masih ada Tuan D sehingga Yuan Ye menahan amarahnya.


"Silahkan duduk Tuan Yuan, mohon tunggu sebentar. Kami akan panggilkan Tuan Sebastian yang meminta pengajuan untuk damai," ucap Moses inspektur yang saat itu menanganinya.


Sementara Sebastian di panggil, Yuan Ye menatap tak senang ke arah Tri sembari berkata padanya, "Aku tak ingin melihatmu dekat dengan Liana lagi!" Seru Yuan Ye.


Trivia beranjak dari duduknya dan mendekat ke tempat duduk Yuan Ye, Marni membantunya berjalan seraya memapahnya. Tri kemudian berlutut seraya menggenggam tangan Yuan tetapi di tepis oleh pria tua itu.


"Tuan Yuan, Saya meminta maaf atas kesalahan Ayah saya. Tolong Tuan maafkan. Karena keselamatan Ayah saya juga sedang di ancam oleh bos drakula," ucap Tri dengan kejujurannya.


"Hahahaha ... Kau bicara apa Trivia, hahaha kalau ingin mencari alasan carilah yang benar. Ini pakai bawa-bawa nama drakula segala. Sudah tahun 2021 inu bukan jamannya drakula lagi," ucap Yuan Ye dengan tawa renyahnya.


"Maaf Tuan Yuan, memang benar di wilayah kita sedang berkeliaran seorang drakula. Sampai saat ini kami sendiri belum bisa menangkap drakula itu sendiri. Tetapi kami sudah menemukan tujuh jasad dengan luka yang sama di bagian leher," ujar Inspektur yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka kemudian menyelanya.

__ADS_1


"Apa?! Jadi benar apa yang saya dengar dari pengacara saya. Jujur sampai sekarang saya sulit percaya!" Ucap Tuan Yuan.


Liana ingin sekali menyuruh Tuan D memperlihatkan wujudnya saat menjadi Drakula di depan Ayahnya. Tetapi itu akan mempersulit dirinya nanti. Sementara Liana harus menjaga image Tuan D, karena status Tuan D lah kini Liana memegang kartu As sehingga Ayahnya tidak berani menyinggungnya.


"Saya tidak bisa memaafkan, itu adalah tindak pidana sama dengan penculikan dan menyerahkan kepada drakula sama saja dia berencana membunuh putri saya kan?" Timpal Yuan Ye.


"Ayah, om Sebastian memang salah tetapi dia terpaksa. Harus menyerahkan Liana kepada Drakula jahat itu karena dirinya juga terancam," ucap Liana


"Bukti apa yang mengatakan jika dia juga terancam?" Tuan Yuan berkelit.


Sebastian datang kemudian dengan kedua polisi yang mengawalnya, ia di dudukan di samping inspektur dan sekretarisnya. Terlihat sorot mata Sebastian yang kosong, ia memikirkan istrinya yang di tahan di sebuah ruangan. Semua orang terdiam menatap Sebastian.


Liana menghampiri Tri dan menyuruhnya untuk berdiri. Trivia menurut karena dirinya masih sakit terutama pada bagian kepalanya. Tuan D ikut menengahi ia pun mengambil posisi untuk berbicara.


"Semua manusia tidak ada yang sempurna Tuan Yuan, mereka memiliki banyak kesalahan dan pelajaran kita semua untuk memberikan kesempatan. Tuan Yuan bisa mencabut tuntutan itu dengan syarat," ucap Tuan D pada Ayah Liana.

__ADS_1


Tuan Yuan akhirnya mencabut tuntutan yang kasusnya belum masuk ke dalam pengadilan. Sebastian bebas dengan syarat dan harus menandatangani beberapa berkas baik Sebastian, Tuan Yuan dan Liana.


Setelah semua selesai, Liana, Ayahnya dan Tuan D sudah pamit pulang. Trivia bersama dengan Marni menunggu Sebastian mengambil beberapa barang. Sebastia akhirnya bebas. Namun terlihat Sebastian tampak tidak senang. Ia memikirkan istrinya dan ingin segera pergi dari tempat itu.


"Ayah, Tri ingin menanyakan sesuatu. Apakah Ayah menyembunyikan Mama di lantai bawah di dalam ruang kerja Ayah?" Tanya Trivia saat menemani Ayahnya mengambil barang yang di sita.


"Ba-bagaimana kamu tahu?" Pekik Sebastian terkejut.


"Mbak Marni melihat ruang kerja Ayah dan juga ruang bawah tanah itu terbuka lebar. Dan Kaca jendela rumah kita pecah. Aku takut jika Mama melarikan diri," ucap Trivia.


"Ahh ini semua gara-gara Steve! Kalau saja dia tidak mencampuri urusanku. Mama mu pasti kelaparan saat itu dan berusaha keluar dari rumah seperti itu, Shiiit! Kau juga bisanya menyusahkan aku!" Pekik Sebastian seraya mendorong Trivia.


Trivia hampir saja terjatuh jika tidak ada tangan besar yang sigap menangkapnya. Sebastian membelalakkan matanya bukan karena terkejut melainkan ingin membuat perhitungan pada orang itu. Tri menoleh dengan cepat.


"Steve," ucap Tri seraya berdiri.

__ADS_1


__ADS_2