Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
With You


__ADS_3

"Sebenarnya aku tidak ingin orang lain yang bertanggung jawab. Aku ingin orang yang menghamilinya itu mempertanggungjawabkan perbuatannya. Aku juga tidak bisa menerima mu jika alasannya agar si bayi terlahir memiliki Ayah. Lantas bagaimana anakku mendapatkan penuh kebahagiaannya, pernikahan bukanlah sekedar tanggung jawab melainkan harus ada cinta didalamnya, ada kasih serta sayang yang tulus dengan begitu ada damai yang melindungi keutuhan rumah tangganya," ucap Yuan Ye


"Tapi kembali lagi melihat kondisi Arin yang mudah stress belakangan ini, maka urusan itu aku serahkan pada Arin saja, aku tidak mau dia semakin stress jika aku melarangnya ini itu terlebih lagi jika aku menolak lelaki yang mau menikahinya. Pesan ku jika kau ingin menikahinya, jangan kau permainkan dia. Kalau bisa cintailah Arin," timpal Yuan Ye lagi, sementara Lee menimbang ucapan Yuan Ye kembali. Apakah dia bisa mencintai Arin sedangkan hatinya masih tertancap untuk wanita bernama Trivia.


"Jadi dengan kata lain Tuan Yuan menerima Lee?" Tanya Tuan D yang duduk dibelakang kursi penumpang.


"Ya kalau aku pribadi, aku menerima keberadaan kalian. Meski kalian Drakula tetapi sifat kalian lebih baik dari pada manusia kebanyakan," ujar Yuan Ye.


"Ya sudah sekarang kita pulang, kau bicarakan hal itu nanti, sesampainya di rumahku,"


Tuan D bisa membaca pikiran Lee, pria itu ingin membantu masalah percintaannya sejak awal dengan mendekatkan Arin dengannya. Sekarang Arin sudah terpesona bahkan klepek-klepek dengan Lee tapi Lee sendiri belum bisa melupakan masalah hatinya dengan Trivia.


Cinta tidak bisa secepat itu berubah. Cinta lama akan menghilang bersamaan dengan cinta yang baru ia temui. Seperti yang pernah dikatakan Kakek Ye, pedoman yang ia ambil dari pepatah Jawa. Jika Lee terus bersama dengan Arin, bisa saja ia menjadi terbiasa dengan keberadaan Arin disisinya. Tidak munafik juga Lee membutuhkan belaian perempuan. Lelaki tetaplah lelaki jika melihat perempuan ia pasti akan tergoda meski tidak ada cinta dari dirinya namun perlahan cinta itu akan mengisi hatinya.


"Aku pernah tertarik dengan perlakuan Arin saat aku menyamar menjadi Tuan D. Aku juga tidak munafik, ku akui aku tergoda. Semoga saja aku bisa memberikan cintaku untuknya. Aku menarik perkataan ku, aku tidak bisa terus sendirian. Meskipun aku mampu," batin Lee setelah memikirkan perkataan Yuan Ye.


Beberapa jam berlalu, mereka telah tiba di depan rumah Yuan Ye. Setelah turun dari mobilnya, Tuan D pamit untuk menerima telepon dari bawahannya.


Sehari setelah pengakuan Ratu Bella, usaha Tuan D tidak merosot bahkan malah semakin meningkat. Kota yang saat itu dihebohkan dengan kabar mengejutkan pengusaha sukses ternyata seorang Drakula. Tuan D mendadak sangat terkenal dalam satu hari dan baru saja Tuan D mendapatkan panggilan untuk bertemu dengan Pimpinan Kota Bukares.


Sementara saat masuk ke dalam rumah, Yuan Ye mempersilahkan Lee untuk duduk. Sebelumnya pertemuan mereka adalah saat teror datang dan Yuan Ye menginjak tangan Lee. Saat itu Yuan Ye masih belum terbiasa dengan kehadiran drakula. Ia sangat ketakutan dan menyuruh Arin untuk tidak berhubungan dengan Lee. Namun seiring berjalannya waktu mereka kini berada dalam satu tempat duduk yang sama.


"Bagaimana, apakah kau telah meniti dengan baik ucapanku?" Tanya Yuan Ye kembali.


"Iya, Aku akan tetap menikahinya. Aku akan memberikan hatiku meski belum seutuhnya," ucap Lee dengan mantap


Tuan Yuan tersenyum lebar, ia pun memanggil Ayahnya, Ibunya serta istrinya. Tidak seperti saat Liana dilamar, Kakek Ye kali ini tidak menentang. Ia menerima lamaran Lee hanya saja Kakek menginginkan Arin tetap menjadi manusia. Dia tidak ingin kedua cucunya berubah menjadi Drakula.

__ADS_1


"Selain memberikan kebahagiaan dan cinta untuk Arin. Apakah kau bisa menjamin Arin untuk tetap menjadi manusia, haha bukan apa-apa Lee, aku tidak ingin semua cucu ku berubah menjadi drakula," ujar Kakek Ye


"Hemm Ayah selalu saja mempersulit, ini namanya sama saja ia tidak merestui hubungan mereka," batin Yuan Ye.


"Ayah, biarkan saja Arin yang memilih jalan hidupnya. Kita sebagai keluarga harus mendukung apapun keputusannya," sahut Raline yang sedari tadi diam, Yuan Ye menganggukan kepalanya ia juga sependapat dengan yang dikatakan Raline, Istrinya.


"Haaaah," ujar Kakek Ye menghela napasnya dengan kasar.


"Kau menyayangi Arin juga kan sayang?" sahut Nenek Anie mengelus lengan suaminya yang sudah berkeriput.


"Ya sudahlah kalau begini aku bisa apa, Aku merestui kalian. Tapi kau harus menikah dengan Arin besok. Pernikahan sederhana saja, karena aku ingin kembali ke desaku," ucap Kakek Ye yang pasrah dengan keadaan.


Setelah kepala keluarga itu setuju, Yuan Ye memanggil Arin untuk ke bawah. Liana, Dona dan Doni ikut penasaran mereka menyusul Arin dan hanya menguping di belakang dinding ruang tamu. Lebih tepatnya di sofa ruan keluarga. Ketika Arin sudah berada di ruang tamu, ia terkejut dengan keberadaan Lee yang duduk disana.


"Arin kemarilah, duduk di samping Lee," sahut Yuan Ye dengan tersenyum


Arin tidak tahu apa yang Ayah dan Lee bicarakan malam itu yang terbilang hampir larut. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam tetapi Yuan Ye masih menyambut Lee dengan baik.


"Ada apa Ayah?" Tanya Arin dengan gugup.


"Lee melamar mu, ia ingin menikahi mu. Jika kau setuju, Kakek Ye menyarankan untuk menikahkan mu esok hari," sahut Yuan Ye tanpa basa basi.


Sementara wanita yang duduk disamping Lee melongo kecil, jantungnya berhenti seketika. Bukan berhenti melainkan ia tak bisa bernapas saking terkejutnya.


"Me-me-menikah? A-ayah tidak bercanda kan?" Tanya Arin memastikan.


"Tanyakan saja pada Lee," ujar Yuan Ye tertawa kecil.

__ADS_1


Arin menatap ke arah Lee, pria itu tergugup seketika. Padahal sebelum Arin datang, dengan lancar ia mengutarakan keinginannya itu.


"I-iya A-arin," ucap Lee kemudian mengambil napasnya dalam. Pria itu meraih tangan Arin dan mengutarakan keinginannya.


"Aku...aku... ingin menikahimu, apakah kau bersedia... menikah....denganku?" Ungkap Lee.


"Hah? Ka-kau serius? Hmm Aku tahu saat itu kau mengiyakan keinginan ku karena merasa kasihan dengan ku, jadi Aku memikirkan kembali ucapan ku saat di kastil. Kau tidak perlu melakukan itu, aku tidak ingin membuat mu merasa terbebani," ucap Arin.


"Tidak... aku tidak merasa terbebani, mungkin saat ini aku belum mempunyai perasaan itu . Tapi mulai saat ini aku akan mulai menyayangimu. Aku yakin perasaan cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Itu pun jika kau mau bersama ku," ucap Lee dengan yakin.


Arin menangkap tatapan Lee yang tajam, tetapi ia sendiri kalut. Tiba-tiba rasa trauma muncul, ia takut ditinggalkan setelah pernikahan itu terjadi. Seperti hari pertunangannya yang terdahulu, ditinggalkan belum ada selang sehari. Dan luka itu membekas.


"Ayo kak terima Lee, dia bisa dipercaya. Tidak seperti Rey yang hanya mencintai fisikmu," bisik Liana dari balik dinding namun kakaknya tidak dapat mendengar ucapan Liana.


"Arin, jika kau tidak bisa mengambil keputusan sekarang lebih baik kau memikirkannya dengan matang," ucap Yuan Ye


Arin tersenyum kemudian melihat jemari tangannya yang masih belum dilepaskan oleh Lee.


"Aku bersedia menikah dengan mu Lee, Aku harap cinta itu muncul setelah kita pernikahan," jawab Arin dengan mantap dan tanpa keraguan.


Senyum kebahagiaan terlihat dari kedua insan disana, bukan hanya mereka saja namun semua keluarga yang menjadi saksi momen lamaran itu.


Keesokan harinya, Arin dan Lee serta keluarga inti mendatangi kantor catatan sipil. Mereka melakukan pernikahan disana tanpa adanya tamu lain, hanya keluarga saja. Meski sederhana namun sangat berarti untuk Arin.


Siang itu Kakek Ye dan Nenek Anie kembali ke desanya setelah menghadiri pernikahan Arin dan Lee. Sebelum Kakek Ye pulang, dia berpesan dengan berbisik pada Lee.


"Lee, aku memang merestui kalian. Tapi jangan kau buat Arin menjadi drakula sepertimu, awas saja kau!" Ancam Kakek Ye secara diam-diam. Lee pun mau tak mau menyetujui permintaan orang tua itu.

__ADS_1


__ADS_2