Cinta Ku Tuan Drakula

Cinta Ku Tuan Drakula
Salah Orang


__ADS_3

Raline memberikan kopi buatannya pada Yuan Ye, belum lagi kopi itu diletakkan Yuan Ye langsung mengambil dari tangan Raline dan menyeruputnya. Pagi itu benar-benar membuatnya kalang kabut. Pasalnya jaringan internet rusak dan dia bahkan tidak dapat menerima atau mengirim file apapun.


"Sayang, antarkan aku ke supermarket sekarang," pinta Raline


"Sepagi ini? Suruh saja Doni atau Arin. Aku sedang menghubungi operator jaringan. Sama sekali tidak ada jaringan internet," keluh Yuan Ye.


"Kita harus berjaga-jaga bukan jika nanti teror itu menjadi berkepanjangan. Jika terlalu lama kita tidak akan bisa keluar," ucap Raline


"Konyol, di dalam rumah terus pun mereka bisa saja masuk kemari, memangnya drakula itu zombi yang tidak bisa menembus rumah?" ucap Yuan Ye


"Kita berdiam disini hanya memperkecil masalah dan mencari amannya, tetapi belum tentu kita terhindar dari aman itu sendiri," timpalnya lagi.


"Tapi sayang tidak ada salahnya kan kita membelinya sekarang," ucap Raline


"Pergi dengan anak-anak saja ya, maaf aku sibuk dengan pekerjaanku sayang," ucap Yuan Ye seraya mengecup pipi Raline agar wanita itu tidak mengganggu pekerjaannya lagi.


"Hemm ya sudahlah Aku pergi dengan Doni, aku tidak mau dekat dengan Arin untuk sementara ini," ucap Raline


"Ibu, kau pikir aku akan berubah jadi drakula haha, haaaa aku drakula," ucap Arin yang kemudian menirukan suara Drakula.


"Tunggulah Tante, Aku yakin pemerintah kota pasti akan memberantas semuanya dengan cepat. Apalagi pria gagah kemarin pasti akan memusnahkan semua drakula itu," ucap Dona yang masih tergila-gila dengan Steve.


"Tidak bisa, dia milikku. Aku bahkan sudah mempunyai nomer teleponnya," ucap Arin bangga.


"Haaa bagaimana bisa?"


"Bisa saja, semalam aku bahkan mengirimnya pesan dan dia akan kemari sebentar lagi," ucap Arin menyombong dan kemudian ia bergegas untuk mandi.


"Arin dapat nomernya dari mana? Atau dia hanya mengerjai ku?" gumam Dona.


"Tante pergi dengan sopir saja ya, Aku lagi patah hati," ucap Doni yang masih kesal dengan pacarnya.


"Hemm nanti Tante belikan ponsel khusus gaming keluaran terbaru," ucap Raline yang mengiming-imingi keponakannya dengan ponsel gaming.


"Sama aku aja Tante, Aku mandi dulu ya," jawab Dona.


"No no no, Tante nyuruhnya aku, yaudah yuk langsung cuss. Doni gak usah mandi," ucap Doni yang langsung beranjak saat mendengar kata akan dibelikan ponsel.


"Huuh kalian tuh ya, kalau ada hadiah aja baru mau, dasar! Ya nanti, Tante mandi dulu," ucap Raline.


Sementara itu Arin sudah wangi dan bersiap untuk menunggu Steve yang akan datang pagi itu. Tak berapa lama Asisten rumah tangganya datang dan masuk memberikan segelas susu. Arin segera meminumnya tetapi entah kenapa dia merasa mual.

__ADS_1


"Hueeek, aduh ini susu kapan mbak kok rasanya gak enak," ucap Arin.


"Itu kan baru beli Non, kemarin pagi juga Non minum itu tidak apa-apa," ucap pembantunya.


"Yasudah sana bawa kedapur lagi," perintah Arin kemudian Asisten itu pergi.


Arin merasa mual lagi, ia kemudian ke toilet dan menumpahkan semua susu yang ia minum tadi. Setelah itu ia merasa pusing hingga merebahkan tubuhnya di kasur.


"Aku mual dan pusing, kenapa pertanda ini seperti orang hamil," gumam Arin seraya berpikir menghitung hari dimana ia terakhir menstruasi


"Astaga, aku sudah melewatkan tanggal haidku, ini tidak mungkin kan? Aku dan Rey selalu memakai pengaman ketika melakukannya," gumam Arin yang panik sendiri.


"Semoga hanya masuk angin saja," batinnya.


Tak berapa lama ponsel Arin berdering, ia meraihnya dan menatap layar ponselnya untuk tahu siapa yang menghubunginya


"Steve," pekik Arin yang kesenangan.


"Ha-halo Steve," jawab Arin yang suaranya dimanis-maniskan.


"Aku sudah dekat dengan lokasi rumah yang kamu share, kamu di rumah yang mana?" Tanya Steve.


"Benarkah, secepat itu? Aku di rumah warna cream yang rumahnya paling besar," ucap Arin.


Arin langsung berlari kecil menuruni anak tangga saking bahagianya. Kemudian terdengar suara bel rumah yang langsung dibuka oleh sang asisten.


"Selamat pagi, Saya Steve polisi kota. Benarkah ini rumahnya Arin Estera Ye?" Tanya Steve yang sudah berpakaian polisi.


"Iya benar pak," ucap asisten yang bingung untuk apa seorang polisi bertemu dengan Arin.


"Bisa saya bertemu dengannya?"


"Ehm tunggu sebentar ya saya panggilkan. Silahkan masuk," ucap asisten itu.


"Saya menunggu disini saja, terimakasih," ucapnya


Kemudian Asisten itu masuk dan memanggil Arin yang baru saja sampai di bawah anak tangga.


"Itu Steve?" Tanya Arin pada asistennya yang dijawab anggukan kepala olehnya.


Arin kegirangan dan langsung menemuinya. Steve yang menunggunya bersandar di pilar teras juga membelakangi pintu rumahnya.

__ADS_1


"Kenapa dari belakang pawakannya sedikit berbeda ya, ini agak gemuk," gumam Arin.


"Ehem, Steve?" Panggil Arin yang langsung membuat pria di depannya berbalik.


Arin melayangkan senyumannya, kemudian membelalakkan matanya dan senyumnya menjadi datar.


"Halo Arin, saya Steve," ucap Steve yang bertubuh sedikit gemuk ditambah dengan perutnya yang buncit.


"Hah? Ka-kamu Steve yang kemarin menolong saya di klinik?" Tanya Arin memastikan.


"Saya rasa kita belum pernah bertemu," ucapnya


"Astaga sepertinya saya salah orang, hemm maaf, sebaiknya anda pulang saja," ucap Arin.


"Pulang? Saya kemari untuk kencan yang kamu tawarkan," ucap polisi yang bernama Steve yang lain.


"Tidak jadi, karena kamu bukan Steve yang saya maksud, maaf," ucap Arin yang kemudian berbalik dan ingin masuk ke dalam rumah.


Pria polisi itu merasa dipermainkan, ia menarik lengan Arin dan menuntut Arin untuk memenuhi janji kencannya. Pria polisi itu memang tidak setampan Steve yang semalam tetapi tampangnya juga tidak buruk. Hanya saja banyak jerawat yang mengitari wajahnya.


Akhirnya Arin memutuskan untuk pergi dengannya dari pada ribut dan berakhir dengan masalah.


"Yah, Arin pergi dulu," pamit Arin


"Mau kemana?" Tanya Yuan Ye


"Arin mau kencan paman, hahaa tapi sepertinya Arin salah orang," ucap Dona yang mencibirnya.


"Diam kau," ucap Arin marah kepada Dona.


"Apa maksudnya?" Tanya Yuan Ye tak mengerti.


"Dia akan kencan dengan Steve, dia pikir pria itu yang semalam menyelamatkan kita tetapi ini Steve yang berbeda haha, Arin...Arin, Dia Steve polisi kota, berbeda dengan Steve yang kemarin Agen Intelijen," jelas Dona


"Sudah Yah, Aku pergi dulu. Aku tidak ingin berdebat,"


"Tidak diluar sedang tidak aman," ucap Yuan Ye yang kemudian membuat Arin tersenyum.


"Kalau begitu Ayah saja yang berbicara dengannya," ucap Arin.


Ayahnya kemudian menemui Steve didepan, ia ingin mengatakan untuk jangan pergi kemana-mana, tetapi begitu melihat Steve yang didepan itu entah kenapa Ayahnya sangat mempercayai jika pria itu dapat menjaga Arin.

__ADS_1


"Oh kalian mau pergi ya, ya sudah sana hati-hati ya," ucap Yuan Ye


"Gimana sih Ayah, tadi katanya mau ngelarang pergi, eh ini malah disuruh pergi, huh siapa yang mau kencan sama Steve ini, buncit, jerawatan lagi," gerutu Arin pelan seraya mengernyitkan dahinya pada sang Ayah yang tersenyum lebar dan menyuruhnya untuk segera pergi.


__ADS_2