Cinta Nadhira

Cinta Nadhira
Bab 23 Diki sang Playboy


__ADS_3

Di ruang tamu Herman mendengarkan musik India ke sukaan nya Nadhira.


Sedangkan di dalam kamar yang bernuansa pink Nadhira joget-joget dan nyanyi-nyanyi sambil menyisir rambut panjang-nya.


tak lupa juga sisirnya di bikin mic.


...🎤🎤🎼🎼🎼🎤🎤...


+ Switha…ho……


Thu Hai shola satrasa likipel lerkhi Hai khema leki.


Tujpe yedil ageya, Hai … tujpe yedil ageya.


_ Thu Hai shola satrasa likapel lerkha Hai khema


leka.


Mere dhe dettu Cagheaya, hai… mere dhe dettu cageya…


Sedang asik-asiknya menyanyi, tiba-tiba musiknya di matikan sama Herman sang kakak.


Lalu Herman menghampiri kamar Nadhira dan memanggilnya.


"Adik…Adik…!!!'' teriak Herman sambil mengetuk pintu kamar sang adik.


"Apa sich Mas ganggu Dhira saja.'' ucap Nadhira kesal dan bergegas membuka pintu kamarnya.


Nadhira masuk ke kamarnya lagi, dan duduk di ranjangtempat tidurnya.


"Lama banget sich dek? ngapain aja di dalam.'' tanya Herman, masuk ke kamar Nadhira.


"Sejak kapan Mas ku ini jadi seseorang yang kepo.'' ucap Nadhira memangku tangannya.


"Ya sejak adekku mulai remaja?'' jawab Herman mencubit pipi chubby Nadhira.


''Nyebelin banget sich Mas Herman nich!'' ucap Nadhira memanyunkan bibirnya.


"Jadi ikut nggak nich dek, entar kesiangan malah bilang panas lagi.'' ucap Herman melangkah keluar dari kamar adiknya.


"Emang Mas Herman mau ngajak Nadhira ke mana sich? bikin Dhira penasaran saja.'' tanya Nadhira, namun nggak di respon oleh Herman.


"Ayo Dek cepetan?'' Panggil Herman.


"Sebentar kali Mas, Nadhira masih pakek jilbab nich?'' jawab Nadhira aga keras.


Tak lama kemudian Nadhira keluar dari kamarnya.


Nadhira menghampiri sang kakak yang sudah bosan menunggunya di ruang tamu.


"Ayo mas, Nadhira sudah siap.'' Ujar Nadhira memandang kakaknya.


Herman sang kakak menatap Nadhira tanpa mengedipkan matanya.


tatapan yang sangat aneh menurut Nadhira sang adik.


" Woy!! ngelamun bae, ayo berangkat.'' ucapnya lagi sambil mengibas- ngibaskan tangannya di depan wajah sang kakak.


Herman yang terkejut langsung mengedipkan matanya dan mengalihkan Pandangannya ke arah lain.


" Ternyata adikku sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, pantas saja banyak yang suka sama Adikku.'' Gumam Herman pelan.


Herman beranjak dari tempat duduknya dan memegang hidung Nadhira sambil berkata.


"Ternyata Adikku sudah tumbuh besar ya, pantesan banyak yang ngelirik.''


"Mas Herman apaan sich? kan cuma ngelirik doang Mas, belum tentu suka dan juga sayang sama Nadhira.'' sahut Nadhira melepaskan tangan Herman dari hidungnya.


"Ayolah berangkat.'' ucap Herman mengambil ponselnya yang ada di atas meja.

__ADS_1


Herman menggandeng tangan Nadhira menuju sang Ibu dan juga Ayah-nya.


" Herman dan Adik pergi dulu Bu, Yah.'' pamit Herman dan juga Nadhira pada kedua orang tuanya.


"Ya sudah hati-hati di jalan ya.'' ucap Bu Susi.


" Iya Bu?'' Sahut Nadhira.


Herman dan Nadhira mencium tangan Ayah dan juga Ibunya secara bergantian.


"Jangan malam-malam pulangnya.'' pesan Ayah-nya.


" Oke siap Ayah?!'' jawab Herman sambil membawa Nadhira keluar menuju ke motornya.


"Ayo Dek naik.'' suruh Herman yang di angguki Nadhira.


Nadhira naik ke atas motor sang kakak. dan Herman langsung menstater motornya.


"Pegangan dek takut jatuh.'' Seru Herman pada sang Adik.


"Jangan kenceng-kenceng lah Mas? bawa motornya, Dhira kan takut.'' ucap Nadhira menepuk bahu Herman.


Dalam perjalanan, Nadhira ingat mau bertanya pada sang kakak.


" Mas.'' Ucap Nadhira takut takut.


"Iya kenapa Dek?'' jawab Herman melirik sang Adik dari kaca spion motornya.


"Di kamar Nadhira ada ponsel baru, ponsel siapa Mas.'' tanya Nadhira.


"Ya ponsel adik lah, emang ponsel siapa lagi?'' jawab Herman cengengesan.


"Ich yang bener Mas Herman? Dhira nggak pernah beli ponsel baru tau.'' Ucap Nadhira memanyunkan bibirnya.


"Lha beneran lah dek? masak Mas bohong sich dek.'' sahut Herman yang masih tetap fokus menyetir motornya.


"Menurut Adik siapa lagi.'' tanya Herman balik.


Nadhira hanya cengengesan nggak jelas, lalu berkata.


"Makasih ya Mas Herman?'' ucap Nadhira memeluk sang kakak.


" Iya, ama-sama Dek.'' Jawab Herman menepuk-nepuk tangan Nadhira yang sedang memeluknya.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Sedangkan di sekolah SMAN 1 Surabaya Hendri sedang fokus latihan Basket bersama teman tim basketnya.


Karena sebentar lagi bakal tanding dengan sekolah lain, jadi Hendri dan yang lainnya harus giat berlatih.


1 Jam sudah, Hendri dan kawan-kawannya berlatih, akhirnya Pak Bowo sang pelatih menyuruh Murid-muridnya beristirahat sejenak,


untuk melepas lelah karena jam latihannya di tambah.


"Semuanya istirahat dulu, dan jangan lupa nanti siang setelah sekolah bubar balik lagi ke sini?!'' ucap Pak Bowo.


"Siap pak.'' jawab mereka serentak.


Hendri dan Diki melangkah keluar lapangan mengambil botol minumnya.


Setelah minum Hendri membuka tasnya dan langsung mengambil ponselnya.


Hendri melihat-lihat album galery di Ponselnya.


tanpa sengaja Diki melihat foto-foto Nadhira bersama Marsya.


Diki duduk di samping Hendri dan bertanya.


"Foto siapa ithu Dri", tanya Diki kepo.

__ADS_1


"Kepo banget lho jadi cowok!'' jawab Hendri ketus.


"Siapa sich Dri cantik banget? boleh dong di kenalin sama tu cewek.'' ucap Diki ceplas ceplos.


"Nggak ada kenal-kenalan.'' ucap Hendri jutek.


"Uch kenapa githu Dri, cewek lho ya.'' tanya Diki ngasal.


"Bukan cewek gue, tapi dia Adik gue.'' jawab Hendri masih melihat foto foto Nadhira.


"Ya sudah kita iparan dari sekarang, gimana.'' ujar Diki.


"Ogah gue punya ipar play boy kayak lho, Fitri mau lho kemanain Ki?!'' tanya Hendri sambil terus memandang foto Nadhira yang sedang memangku Marsya.


"Kapaan liburan ya Dik? gue sudah kangen sama Adek gue, pengen cepat-cepat nyamperin dia.'' tutur Hendri pada Diki.


"Emangnya dia lagi ada di mana sekarang Dri, kok bilang kangen?'' tanya Diki penasaran.


"Sekarang dia ada di Pondok Pesantren, jadi gue kangen banget sama dia.'' ucap Hendri sedih.


"Nggak usah sedih githu, sebentar lagi liburan kok, jadi lho puas-puasin nengokin dia di Pondok pesantren.


kalau dia liburan juga bawalah dia main-main ke sini lah Dri.'' ucap Diki yang penasaran sama Nadhira.


"Di foto saja cantik, apalagi orangnya ya?'' gumam Diki tapi masih bisa di dengar oleh Hendri.


"Jangan harap lho bisa deketin Adik gue, gue nggak bakalan biarin Adik gue deket-deket sama cowok Playboy kayak lho.'' ucap Hendri tegas.


"Masak cuma kenalan saja tidak boleh sich Dri, pelit banget sich lho. orangnya saja belum kesini lho dah ngelarang gue untuk deket-deket sama dia sich, jadi penasaran nich gue.'' Ujar Diki, Hendri menimpuk Diki dengan botol minumnya.


"Kalau sudah liburan gue ikut lho ke Pondok Pesantren tempat Adikmu ya?'' ucap Diki sedikit memohon.


"Baiklah kalau lho memaksa.'' ucap Hendri.


"Ya sudah yuck ke kelas, sebentar lagi Bel masuk berbunyi.'' ajak Hendri pada Diki sang teman.


Mereka berdua berjalan menuju ke Kelasnya.


di pertengahan jalan Hendri dan Diki berpapasan dengan Ratna,


Ratna yang emang suka sama Hendri hanya menundukkan kepalanya jika bertemu dengan Hendri, lalu Hendri bertanya pada Ratna.


"Dari mana.'' tanya Hendri


" Ehm…dari kantin.'' ucap Ratna malu.


"Ya sudah aku duluan ya.'' pamitnya.


Hendri mengangguk.


setelah kepergian Ratna, Diki berkata.


" Kenapa nggak di tembak sich Dri.''


"Kalau di tembak, matilah anak orang Ki, gimana sich lho!'' ucap Hendri bercanda.


"Bukan tembak kayak githu, tapi nyatain isi hati lho pada dia?!'' kata Diki geram.


Hendri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


membuat si Diki menjadi penasaran.


👉👉👉


jangan pernah bosan baca karya Al-mahyra.


jangan lupa like, komen dan votenya.


makasich 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2