
Pagi itu hujan sedang melanda di kediaman Eza Ferdiansyah.
Eza yang sejak mengetahui dirinya akan di jodohkan dengan Puteri dari teman sang Ayah, dia sudah tidak mempunyai semangat lagi seperti kemarin kemarin nya sebelum dia mengetahui kebenaran nya kalau ia sudah di jodohkan sejk lama.
Sedangkan sang Adik selalu berceloteh menceritakan gadis yang akan menjadi tunangan sang Abang pada nya, namun Eza tidak menghiraukan ucapan demi ucapan dari Adiknya.
''Ich... Mas Eza? dengerin cerita ku,'' Ucap Hera menarik tangan Abang nya yang ingin segera pergi dari hadapan sang Adik.
''Adik nggak capek apa, dari kemarin selalu itu itu terus yang di omongin,'' Ucap Eza kesal.
''Mas Eza tidak menyukai gadis yang akan menjadi kakak ipar Hera,'' tanya Hera penuh dengan selidik.
''Kalau boleh jujur, Mas sudah mencintai seorang gadis Dek?'' jawab Eza dengan nada sedih nya.
''Mas Eza nggak bakalan menyesal dengan pilihan Ayah, Mas Adhi juga bilang begitu pada Hera,'' tukas Hera.
''Tapi Mas kan nggak tau gadisnya seperti apa,'' gumam Eza pelan.
''Salah sendiri, kenapa kemarin nggak mau ikut waktu di ajak ke rumah nya,'' ketus sang Adik.
''Mas nggak bakalan menyesal dech, yang pasti gadis itu cantik dan berhijab juga, ramah dan juga sopan,'' Ucap Hera memuji Nadhira yang akan menjadi calon kakak iparnya.
''Sudah lah Dek? Mas nggak mood untuk ngebahas masalah perjodohan ini, Mas serahkan semua nya padamu. Kalau menurut itu baik untuk ku ya menurut Mas baik juga,'' Ucap nya, menyerahkan semua keputusan pada Hera sang Adik.
Hera kesal dan pergi begitu saja dari kamar Eza kakak nya.
Hera ngedumel sejak dia keluar dari kamar Eza, Bu Yati yang melihatnya lantas menghampiri sang Puteri.
''Kenapa??'' Tanya sang Ibu.
''Itu Bu, Mas Eza nyebelin, Hera bilang kalau calon tunangan nya cantik, malah Mas Eza nggak percaya pada Hera, kan Hera jadi kesal Bu,'' Adu Hera pada Ibu nya.
''Sudah lah, biar saja Mas mu nggak percaya dulu, nanti setelah dia tau yang sebenar nya, dia bakalan tersenyum dan sangat berterima kasih pada Ayahmu,'' Ucap Bu Yati pada Putri nya.
__ADS_1
Hera mengangguk dan memilih untuk pergi ke rumah teman nya guna menyelesaikan tugas yang di berikan oleh Guru di sekolah nya kemarin.
Setelah mengambil tas sekolah nya, Hera pamit pada Bu Yati sang Ibu, ''Ibu, Hera pamit dulu ngerjain tugas di rumah teman,'' Ucap nya mencium tangan sang Ibu.
Hera mengayuh sepeda nya menuju ke rumah teman nya, di mana sang teman sudah menunggu di rumah nya.
''Maaf telat,'' Ucap Hera saat sudah Mencaggrak sepeda ontel nya.
''Kemana saja sich lho Ra,'' tanya teman nya.
''Sampai lumuti tau nggak nunggu nya,'' celetuk teman yang satu nya lagi.
''Ya maaf, aku kan masih ada urusan di rumah, jadi harus menyelesaikan urusan yang di rumah dulu,'' tutur Hera tak mau di salahkan.
Teman teman nya hanya mendengus mendengar perkataan Hera yang baru saja di lontarkan.
''Dasar Hera, kalau salah saja tak mau di salahkan, sedangkan yang lain bikin salah pasti langsung kena dech,'' gerutu teman Hera yang ada di belakang nya.
''Nggak usah ngehujat kayak gitu kali, aku mendengar nya,'' Ucap Hera ngasal.
Tanpa basa basi lagi Hera dan semua nya menyelesaikan PR (pekerjaan rumah), yang di berikan oleh sang Guru kemarin.
''Hebat kan gue, bisa saja aku kerjain ini semua di rumah, tanpa capek capek aku ke sini,'' gumam Hera pada teman nya.
Karena Hera cukup pintar di sekolah nya, jadi teman teman nya selalu mengajak Hera untuk belajar di rumahnya, dalam artian untuk mencontek yang di kerjakan Hera.
''Tadi saja ngomel ngomel nggak jelas, sekarang mau lihat catatan Hera,'' gerutu Hera pada semua nya.
Semua nya hanya menanggapi ucapan Hera hanya ocehan canda'an saja.
Hera termasuk gadis yang sangat potensial dalam segala hal. Maka dari itu Eza sang Abang ingin mengabulkan cita-cita dari Adiknya, yang ingin menjadi seorang bidan.
Eza tak pernah punya fikiran untuk menikah muda, karena dia ingin membiayai kuliah sang Adik, agar cita-cita nya tercapai di kemudian hari.
__ADS_1
Namun hal yang tak pernah Eza pikirkan bakalan terjadi tak lama lagi, karena sang Ayah sudah menetapkan acara Lamaran nya minggu depan dari sekarang, pupus sudah harapan Eza ingin mengabulkan cita-cita sang Adik.
''Kenapa harus sekarang sich Lamaran nya. Kan masih ada waktu satu tahun lagi atau tiga tahun lagi,'' gumam Eza mengacak-acak rambut nya.
''Aku harus gimana sekarang, sedangkan aku tak punya pekerjaan untuk menafkahi anak orang, aku saja masih bergantung pada Ayah dan juga Ibu,'' gumam nya lagi.
Eza yang frustasi, hanya bisa mondar mandir di dalam kamar nya, sembari mencari solusi agar dirinya bisa menerima gadis tersebut.
*-*-*-*-*-*-*-*
Sedangkan di tempat lain, Nadhira sedang mengajari anak anak komplek seperti biasa.
Namun tatapan Nadhira menuju ke arah orang yang sangat ia kenal, yakni Ayah dan juga Ibu nya yang sedang menghampiri nya.
''Tumben tumbenan, Ayah dan Ibu datang ke sini, ada hal penting apakah yang ia bawa kemari,'' Gumam Nadhira pelan.
Nadhira menyudahi kegiatan nya, memulangkan semua muridnya lebih awal, karena ada sang Ibu yang datang untuk sekedar menjenguk Nadhira.
''Adik adik, kalian sekarang pulang cepat ya, karena kak Nadhira kedatangan Ibu serta Ayah kakak. Jadi maaf ya untuk semua nya,'' Ucap Nadhira pada semua murid nya sembari meminta maaf.
''Nggak apa apa kok kak, kak Nadhira temui saja orang tuanya, kamu ngerti kok pasti kak Nadhira sangat kangen pada mereka kan,'' Ujar seorang anak yang biasa di panggil Gemoy.
''Makasih ya Adik adik,'' jawab Nadhira sambil mengulurkan tangan nya yang di cium oleh semua murid muridnya.
Setelah Adik adik kecil pulang ke rumah masing-masing, Nadhira menghampiri orang tuanya di ruang tamu.
Nadhira mencium tangan orang tuanya yang sedang asik mengobrol dengan Umi Upik dan juga Abah Rahman.
''Ibu sama Ayah sudah lama nunggu Nadhira,'' tanya nya duduk si samping sang Ibu.
''Nggak terlalu lama kok,'' jawab Bu Susi.
Sang Ayah hanya menatap Puteri nya yang sudah tumbuh remaja dan juga cantik, karena sang Ayah hampir satu tahun tidak menemui Puteri nya yang menetap di Surabaya, di kediaman orang tua angkat nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG