
*Rumah Nadhira*
Di rumah Nadhira orang tua Eza Ferdiansyah di sambut baik oleh Bu Susi dan juga Pak Arifin.
''Assalamu'alaikum,'' Ucap Bu Yati ramah.
''Waalaikum salam,'' Jawab Bu Susi tak kalah ramah.
Bu Susi menjabat tangan Bu Yati Ibunya Eza dengan mengumbar senyuman.
''Mari masuk,'' Ajak Bu Susi.
Bu Yati mengangguk dan mengikuti langkah Bu Susi ke ruang tamu yang tak terlalu besar, namun terasa sejuk dan juga sangat nyaman.
''Cuma berdua saja,'' Tanya Bu Susi.
''Iya Bu, Bapak nya anak anak nggak ngajak mereka,'' jawab Bu Yati terus terang.
''Ya nggak apa apalah, mungkin besok mereka berdua bisa main main ke sini juga,'' tutur Bu Susi.
''Oia Bu, ini di makan dulu, saya tinggal ke dapur dulu ya,'' Pamit Bu Susi beranjak dari duduk nya.
''Iya Bu, maaf merepotkan?'' Ujar Bu Yati nggak enak hati.
''Nggak repot kok, ya sudah saya tinggal dulu sebentar?'' melangkah pergi setelah Bu Yati mengangguk.
Tak lama kemudian Pak Arifin dan Pak Andi memasuki ruang tamu setelah Bu Susi masuk ke dapur. Pak Andi duduk di samping istri nya di sofa panjang, sedangkan Pak Arifin duduk di depan kawan lamanya.
''Kenapa nggak di ajak sekalian anak anak nya Bro?'' Tanya Pak Arifin.
''Dia masih sekolah belum pulang waktu aku berangkat ke sini,'' Jawab Pak Andi.
''Masih sekolah, yang cewek apa yang cowok yang masih sekolah Bro,'' Tanya Pak Arifin dengan ke kepoan nya.
''Dua dua'nya masih pada sekolah Fin, yang satu sudah kelas 3 SMA sekarang, dan yang paling kecil masih kelas 4 Sd.'' Cakap Pak Andi.
Pak Arifin mengangguk pelan seraya bergumam. ''Jadi yang mau di jodoh kan masih sekolah juga,'' Gumam Pak Arifin pelan sehingga nggak ada yang mendengar.
Bu Susi keluar dengan nampan yang berisi 3 gelas teh hangat. Dengan perlahan Bu Susi menaruh gelas gelas tersebut di atas meja.
__ADS_1
''Ayo di minum Pak, Bu,'' Suruh nya.
''Iya makasih,'' tutur Bu Yati tersenyum.
''Cuma ada teh nich Bu, maaf ya?'' Ucap Bu Susi meminta maaf.
''Nggak apa apa kok Bu, lawong bukan orang jauh ini,'' Sahut nya memegang tangan Bu Susi.
''Kalau telefon dulu pasti aku sembelih tahu dech,'' Celetuk Pak Arifin berniat untuk bercanda pada para tamunya.
''Kalau cuma nyembelih tahu di rumah malah tiap hari Fin?!'' cakap nya.
''Ha-ha-ha, sama saja kalau githu,'' jawab Pak Arifin sembari terkekeh renyah.
Pak Andi juga ikutan tertawa melihat kekonyolan kawan lamanya yang tidak berubah sama sekali.
''Anak-anak kamu pada kemana Fin,'' tanya Pak Andi menghentikan tawa nya.
Pak Arifin terdiam sejenak dan menjawab pertanyaan dari Pak Andi.
''Anakku yang satu pergi ke rumah tunangan nya. Kalau yang satunya dia sedang sekolah,'' ucapnya tak menerus kan perkata'an nya.
''Puteri ku tak pernah pulang ke sini,'' jawab Pak Arifin santai.
Bu Yati yang mendengar bahwa puteri yang akan di jodoh kan dengan Putera nya tidak pernah pulang, Bu Yati mulai mempunyai fikiran buruk pada puteri Pak Arifin.
''Ini yang di bilang cewek baik, yang sekolah saja tak pernah pulang ke rumahnya. Gimana mau menjadi istri dan Ibu yang baik untuk suami dan anak-anak nya kelak?'' Batin Bu Yati.
''Jangan bercanda lho Fin, masak puteri lho nggak pernah pulang ke rumah ini sich?'' Tanya Pak Andi.
''Aku nggak bercanda kok Bro, dia emang tidak pulang ke rumah ini, iya kan Bu?'' Jawab Pak Arifin dan meminta dukungan pada sangat istri yang dari tadi hanya menjadi pendengar yang baik.
''Iya Pak, puteri kita nggak pulang ke sini, lagian kalau dia pulang ke rumah pasti jauh, kan sekolah nya di Surabaya,'' Tukas Bu Susi. Yang sukses membuat Pak Andi dan Bu Yati membelalakkan matanya, yang mengetahui kalau puteri dari teman lamanya berada di kota Surabaya.
''Yang benar saja kamu itu Fin, emang sekolah apa sampai jauh di kota Surabaya,'' Tanya Pak Andi lagi.
''Puteri ku bernama Nadhira, dia masih kelas 1SMA, namun dia di angkat sebagai anak oleh Abah Rahman, jadi Puteri ku di boyong ke kota Surabaya,'' Jelas Pak Arifin pada Pak Andi dan Bu Yati orang tua Eza.
Bu Yati menghela nafas panjang, ada kelegaan yang luar biasa di relung hatinya setelah mendengar penjelasan dari Pak Arifin.
__ADS_1
Bu Yati mulai menelusuri setiap tembok yang terpampang foto foto Nadhira dan juga Herman.
Namun Bu Yati tidak begitu jelas melihat wajah Nadhira, karena terlalu jauh menurut nya.
Bu Susi yang melihat Bu Yati menatap ke arah foto Nadhira mengerti.
''Ibu mau lihat Puteri kami,'' Ucap Bu Susi blak blakan.
Bu Susi mengambil Album yang ada di dekatnya dan memberikan pada Bu Yati orang tua Eza.
''Iya kita kemari untuk membahas masalah perjanjian kita kita dulu, iya kan Fin?'' Ujar Pak Andi menatap Pak Arifin.
Pak Arifin mengangguk pelan, namun tak lama kemudian Pak Arifin berkata.
''Kalau anak-anak kita tidak saling suka dan salah satu dari mereka ada yang nggak mau, jangan sampai memaksakan kehendak kita, Oke,'' Pesan Pak Arifin pada temannya Pak Andi.
''Iya, aku juga memikirkan hal itu juga kok Fin? kamu tenang saja,''
''Lagian ini kan perjanjian waktu kita belum tau apa itu memiliki,'' Ujar Pak Andi.
''Iya Ndi, kita sebagai orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk anak-anak kita di masa depan,'' Seru Pak Arifin.
Bu Yati masih sibuk dengan Album foto yang di berikan oleh Bu Susi, Bu Yati terus membolak-balikan Album tersebut.
Foto foto yang ada di dalam Album adalah foto foto Nadhira mulai dari SD, ada juga waktu di Pondok Pesantren juga yang berfoto rame rame di sana, dan ada beberapa foto yang di ambil waktu ada di pantai bersama Herman Abang nya, Risa dan juga Adhi.
Bu Yati menepuk tangan suaminya dan berbisik, ''Ini seperti Adhi,'' Ucap nya pelan dan menunjuk ke arah foto.
Pak Andi mengambil Album foto dari tangan istri nya, dan melihat dengan sangat teliti kalau kalau orang yang ada di dalam foto bukanlah Adhi tetangga nya. Melainkan orang lain.
''Kenapa Ndi?'' Tanya Pak Arifin.
''Kayaknya aku mengenal seseorang di foto ini,'' jawabnya menunjukkan foto tersebut pada Pak Arifin.
''Och ini Adhi teman Herman putera ku,'' jelasnya.
Pak Andi dan Bu Yati mengangguk pelan.
,,,
__ADS_1
Akankah Nadhira dan Eza berjodoh??