
Marvel dan lainnya sudah selesai mandi dan iapun sudah rapi, namun tidak dengan Eza yang masih berpeluh, Eza belum bersih bersih karena dia masih memikirkan tentang Nadhira yang dekat dengan Hendri, Eza merasa Nadhira sudah banyak berubah, dia tidak pemalu lagi di depannya, namun dia makin hari makin cantik.
Eza yang sedang melamun di kagetkan oleh Nathan yang baru selesai mandi.
''Woy! ngelamunin apa sich lho sob.'' Tanya Nathan penasaran dan menyenggol nyenggol Eza.
''Ganggu orang saja sich lho Than.'' sahut Eza melangkah pergi ninggalin Nathan di ruang ganti menuju ke kamar mandi yang di suruh gunakan untuk Eza dan kawan kawannya.
Sepeninggal Eza, Nathan mengerutu nggak jelas, layaknya seorang anak kecil yang minta di belikan ice cream.
Di dalam Eza belum juga menyirami tubuhnya yang berkeringat.
sampai-sampai bajunya basah terkena keringat tersebut
''Apaan sich lho Za, mungkin Nadhira sudah menemukan tambatan hatinya, jadi kamu nggak usah ngarep banyak akan mendapatkan hatinya Nadhira.'' Gumam Eza dan memperingati dirinya sendiri.
Tiba-tiba pintu di gedor dari luar karena eA tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.
''Dor...dor...dor...''
''Za! lho nggak apa apa kan di dalam.'' tanya Nathan khawatir.
''Apa sich Nathan, ganggu orang lagi mandi saja, aku belum selesai mandi nich, kamu keluar dulu saja nanti aku menyusul.'' Ujar Eza dari kamar mandi.
''Kirain lho kenapa napa, bikin gue khawatir saja.'' gerutu Nathan, karena yang di khawatirin malah asik asikan ngelamun di dalam kamar mandi.
Eza menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.
''Ini semua gara-gara aku mikirin kamu Nadhira, kamu selalu ada di dalam di fikiran ku, setiap saat malah.'' Ucap Eza mulai menyirami sekujur badannya.
Sedangkan di kantin semua teman Eza sudah memesan makan, karena sebentar lagi mereka akan berkeliling kita Surabaya.
Marvel sendiri sudah memberikan kertas yang di berikan oleh Nadhira kepada sang sopir, dan sopir sendiri sudah menyetujuinya akan mampir ke rumah Hendri.
''Ech... Nathan! mana Eza, kok belum keluar juga dia.'' tanya Marvel saat melihat Nathan berjalan ke mba mbak untuk memesan makanan.
__ADS_1
Sesudah memesan Nathan berjalan menghampiri Marvel yang emang duduk sendirian di pojokan.
''Eza masih bertapa di kamar mandi, untuk mendapatkan hati Nadhira nanti sore.'' cetus Nathan ngasal.
Marvel terkekeh mendengar perkataan Nathan sahabat nya.
Marvel tak heran kalau Eza bakalan lama lamain mandinya, karena dia sedang memikirkan sang oujaan hatinya takut di ambil orang.
''Mungkin dia masih memikirkan hal yang tadi pagi itu Nathan.'' ucap Marvel dan tersenyum miring.
''Bro, nggak usah senyum kayak githu kali, ngeri aku lihatnya.'' seru Nathan pada Marvel, Mari menepuk bahu Nathan dengan botol air mineral yang sudah tinggal separuh.
Nathan cekikikan melihat Marvel, ''Lagian pakek acara tersenyum githu.'' ucap Nathan lagi sambil melihat di sekitarnya.
''Eh, Eza belum kesini juga, entar ada apa apa lagi di dalam kamar mandi, betah banget dia di dalam kamar mandi.'' celetuk Nathan yang belum juga melihat batang hidung sahabat satunya.
''Biarin sajalah, mungkin dia lagi memikirkan si Do'i takut di gebet yang lain, secara Nadhira sekarang sudah banyak yang berubah darinya, dia makin cantik, makin pintar mungkin juga, dan bijaksana kayaknya, terus laki-laki mana yang nggak tertarik pada Nadhira yang sekarang.'' Ucap Marvel panjang kali lebar.
''Emang dulu Nadhira tidak cantik ya Vel, kan Nadhira emang cantik dari dulu kali Vel, lho saja nggak lihat dia dengan benar.'' sahut Nathan yang mungkin buat dirinya sangat benar, kalau Nadhira emang cantik dari dulu, namun Nadhira yang sekarang adalah Nadhira yang sudah mau menuju ke kedewasaan nya.
Nathan yang melihat Eza berjalan ke depan untuk memesan makanan nya.
''Tuh si Do'i keluar juga dari kamar mandi, mungkin dia sudah kisut semua kulitnya makanya dia nyusahin mandi nya.'' Ujar Nathan yang di susul tertawa oleh Marvel dan juga Teddy.
Eza yang melihat sahabat tertawa bahagia, menghampiri nya dengan penuh tanda tanya.
''Akankah mereka mentertawakan ku, karena kekonyolan yang aku perbuat barusan.'' Batin Eza berkecamuk memikirkan hal yang pagi ia lihat.
Eza menghembuakan nafasnya frustasi mungkin. tapi jangan sampai bunuh diri ya Do'i atau Mas nya🤭🤭.
''Kenapa kalian tertawa kayak gitu, kenceng banget, sampai terdengar keluar.'' Ujar Eza setelah sampai di meja para sahabatnya.
''Apa sich lho Za, kepo banget jadi orang, dateng -dateng ngomel-ngomel, kayak perempuan lagi dapet saja, jangan sensi jadi orang, kayak gue dong slow orangnya.'' seru Marvel yang langsung kena jitakan dari Eza.
''Sakit Za!'' teriak Marvel memegangi dahinya yang kena jitak.
__ADS_1
''Lagian lho kalau ngomong kayak perempuan saja, lemes bener thu mulut.'' kata Eza meledek Marvel dan menjejali mulut Marvel dengan krupuk yang ada di depannya.
Bukannya marah, Marvel hanya bisa bersyukur karena mendapatkan krupuk gratis.
''Alhamdulillah, dapat krupuk gratis.'' seru Marvel berucap syukur.
''Kata siap gratis, bayar sendiri gue nggak mau bayarin lho.'' Sahut Eza ketus sambil melotot ke arah Marvel sahabatnya.
''Kan bukan gue yang jejali Za, tapi lho yang memasukkan ke mulutku.'' Ucap Marvel tak mau kalah.
Lama Marvel dan juga Eza berdebat, sampai sampai pesanan makanannya menjadi dingin.
''Kan makananku dingin, lho sich dari tadi ngoceh terus Vel!'' Ucap Eza menyalahkan Marvel, Marvel mengerutkan dahinya mendengar perkataan dari sahabatnya yang menyalahkan atas dinginnya makanan yang ia pesan.
''Sudah, nggak usah berdebat lagi! buruan makannya, sopirnya sudah manggil tuh.'' celetuk Teddy menghentikan perdebatan Marvel dan juga Eza.
Buru buru mereka berdua menghabiskan makanannya, walaupun sudah dingin tapi perutnya sudah minta diisi.
Semua nya menaiki mobil yang di sewa oleh sekolah nya.
''Jadi kita mampir ke alamat ini.'' Tanya Sopir pada Marvel yang duduk di sebelah nya.
''Jadi dong Pak? lagian aku pengen tau itu rumah, sampai-sampai Do'i ada di sana.'' Ucap Marvel asal.
sedangkan sang Sopir hanya mengerutkan alisnya karena tak mengerti dengan perkata'an Marvel.
''Marvel!'' panggil Eza, Marvel hanya menoleh sekejap dan membiyarkan Eza yang sedang menatap nya.
Teddy dan Nathan hanya menyimak kedua sahabat nya, hanya gara-gara satu gadis, sampai membuat keduanya layaknya kucing dan anjing yang saling berebut makanan, namun Nadhira bukanlah makanan yang gampang ia rebut dari siapapun.
👉👉👉👉
Makasih kakak, semoga kalian semua tidak bosan dengan karya recehku ya kak?.
like, komen, vote dan favoritkan ya kak.
__ADS_1
Makasih 🙏🙏😘💕💕