
Adzan subuh sudah berkumandang, terdengar sangat merdu dan indah sekali alunan tersebut,Nadhira menyingkap selimut tebal nya seraya mendudukkan diri di pinggir ranjang, kemudian dia merentangkan kedua tangannya guna mengendurkan otot otot tegangnya.
Suara derap langkah terdengar dan tak lama kemudian pintu kamar Nadhira di ketuk dari luar, dan terdengar suara panggilan.
''Adek?'' panggil Hendri sambil mengetuk pintu.
''Iya Mas? Nadhira sudah bangun kok.'' Jawab Nadhira dari dalam seraya berjalan ke arah pintu.
Di bukanya pintu kamar nya dan di sana sudah berdiri Kakaknya. Hendri melipat kedua tangannya dan menopang badannya ke tembok kamar Nadhira.
''Nadhira sudah bangun kok Mas ku yang ganteng.'' Ujar Nadhira mau memegang pipi Hendri, namun dengan cepat Hendri mundur menghindari tangan Nadhira.
''Mas sudah punya wudhu, cepetan wudhu habis itu kita sholat Jama'ah.'' ujar Hendri seraya melangkah pergi, namun belum jauh Hendri melangkah, Nadhira bergumam dan di dengar oleh Hendri.
''Calon Imam yang baik.'' Gumam Nadhira, Hendri menghentikan langkahnya dan berbalik mengahadap Nadhira yang ada di belakang nya.
''Ngomong barusan?!'' Tanya Hendri menatap Nadhira.
Nadhira yang di tatap hanya bisa garuk garuk nggak jelas dan berkata. ''Nggak ada yang ngomong kok Mas? suer!'' Ucap Nadhira dengan menunjukkan 2 jarinya.
''Sudah lah jangan di bahas, cepetan aku tunggu di Musholla.'' Ujar Hendri tegas pada Nadhira sang Adik.
Dengan cepat Nadhira mengambil mukenah nya setelah selesai ambil air wudhu, dia segera menuju ke Musholla di mana di sana dia sudah di tunggu oleh Abah Rahman dan juga Umi Upik.
Seperti biasa Nadhira mencium tangan kedua orang tua angkatnya, selama hampir 2 minggu ini Nadhira melakukan rutinitas tersebut, karena ingin berbakti dan juga rasa terima kasihnya pada mereka yang sudah sangat baik padanya.
Nadhira mengikuti langkah sang Umi yang menuju ke dapur untuk mempersiapkan sarapan buat keluarganya.
''Lho, kenapa ngikutin Umi?sudah lapar ya?'' Tanya Umi Upik pada Nadhira putri nya, Nadhira menggeleng.
''Terus mau ngapain sayang?? ngikutin Umi dari tadi.'' Tanya lagi sang Umi.
''Nadhira ingin membantu Umi nyiapin sarapan?'' Ujar Nadhira takut takut pada Umi nya.
''Tidak usah bantuin, Umi bisa kok? lagian di dapur juga ada mbok Nah yang bantuin Umi.'' Tutur Umi Upik lembut seraya mengelus puncak kepala Nadhira.
__ADS_1
''Hari ini kamu mulai sekolah, lebih baik kamu siap siap dari sekarang, agar tidak telat ke sekolah nya.'' tambah nya, Nadhira cemberut karena tidak boleh membantu Umi nya di dapur.
''Ya sudah! kalau githu Nadhira siap siap sekarang.'' Ucapnya mengembungkan pipi chubby nya.
Hendri yang melintas di dapur melihat sang Adik lagi mengembungkan pipi nya merasa gemas, Hendri menghampiri Nadhira yang terus berjalan namun dengan menunduk.
Hendri berdiri di depannya dan Nadhira langsung menabrak nya.
Duukk!!.
Nadhira mendongak melihat siapa yang ia tabrak, ''Lho Mas Hendri kok berdiri di sini sich, ngehalangi jalan Nadhira saja.'' Gerutu Nadhira pada kakaknya.
''Lagian kalau jalan tuh lihat jalannya, jangan nunduk terus? jangan jangan uangnya jatuh ya.'' Tanya Hendri menyelidik.
Nadhira menggeleng dan menunjuk ke arah Umi Upik yang sedang sibuk memasak di dapur dengan Mbok Nah.
''Kenapa dengan Umi.'' Tanya Hendri penasaran.
''Nggak boleh bantuin masak?'' Ujar Nadhira manja pada Kakaknya.
Hendri menonyor dahi Nadhira pelan seraya berujar, ''Lagian kamu anech sich Dek, sekarang kamu harus siap siap untuk berangkat ke Sekolah.''Ucap Hendri.
Nadhira menghampiri Hendri di ruang tamu yang sedang mengobrol dengan Abah Rahman.
''Lho Adek belum siap juga?!'' Tanya Hendri karena melihat Nadhira masih memakai handuk di kepalanya dan bukan hijab.
''Nadhira bingung Mas? barang barang yang kemarin di suruh kumpulin di bawa juga ke sekolah.'' Tanya polos Nadhira.
''Iya Dek? itu kan untuk Mos nanti di sekolah, untuk semua siswa baru.'' Jawab Hendri, Nadhira mengangguk mengerti.
''Tapi nggak bakalan di bully kan Mas?'' Tanya Nadhira lagi.
''Nggak ada bullyan kok Dek, tenang saja.'' sahut Hendri menenangkan sang Adik.
-''Tak bully, namun hanya di kerjain saja oleh senior senior yang ada.' Gumam pelan Hendri, takutnya malah di dengar Nadhira sang Adik.
__ADS_1
Nadhira mengambil hijabnya yang sudah ia setrika jauh jauh hari, hanya untuk masuk sekolah dengan rapi.
''Selesai?'' Gumam Nadhira berputar di depan kacanya, dan bergegas membereskan barang yang akan dia bawa ke sekolah sebentar lagi.
Nadhira keluar dari kamar dan mendudukkan bokong nya dekat dengan sng Umi.
''Kenapa sayang?'' Tanya Umi Upik lembut.
''Nadhira takut kena bully-an di sekolah nanti?'' jawab Nadhira malu.
Abah Rahman terkekeh mendengar ucapan Nadhira putri angkat kesayangan nya.
''Udah ach cepat makan, entar Mas Hendri telat lagi ke sekolah nya.'' tukas Hendri seraya mengambil sarapan yang sudah di ambilkan sang Umi.
Nadhira juga mengikuti Hendri, makan dengan begitu cepat, takut nya malah di tinggal pergi oleh sang kakak.
''Hendri, jaga Adik kamu di sekolah.'' Pesan Abah Rahman pada putranya.
''Abah tenang saja, Hendri bakalan jagain Adik Hendri yang paling cantik nich?!'' sahut Hendri dengan begitu percaya diri.
Nadhira masih saja dengan mode manyun nya seraya berujar. ''Mas? bisa nggak kalau Nadhira, nggak usah pakek beginian.'' Ucap Nadhira, namun Hendri menggeleng kan kepala nya pertanda tak boleh melepasnya.
Selesai sarapan keduanya berangkat ke sekolah setelah pamit dan juga mencium tangan orang tuanya, Hendri menaiki motor sport nya menuju ke sekolah yang sebentar lagi bakal ia tinggalkan untuk meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi.
Tiba di sekolah nya Nadhira memakai barang barang yang di bawa tadi dari rumahnya, karena permintaan Seniornya.
Hendri membantu sang Adik memakai kan barang tersebut, kalung dari tali rafia dengan bandulan kardus yang bertuliskan nama burung Camar, dan tak lupa pula topi yang terbuat dari bola sepak. Setelah selesai memakai semuanya Hendri membawa sang Adik ke kelas barunya, guna bergabung dengan teman lainnya yang sedang menunggu kedatangan semua teman temannya.
''Duduklah disini.'' Perintah Hendri pada sang Adik.
Nadhira mengangguk dan tak mengeluarkan suara sepatah katapun, mereka pada memandangi Nadhira yang di antar oleh kakak seniornya.
Tak lama setelah Nadhira menduduki tempat duduknya yang ia pilih, datanglah seorang gadis tomboy yang langsung duduk di samping Nadhira, Nadhira hanya melirik teman di samping nya, tak berani untuk bertegur sapa karena dari segi penampilan nya saja membuat Nadhira takut menyapanya.
👉👉👉👉
__ADS_1
Jangan bosan bacanya ya kak.
Makasih buat yang sudah mampir🙏🙏😘😘😘💕💕