
Alvy mengajak Bu Susi dan Pak Arief untuk masuk ke dalam.
Bu Susi Ibu-nya Nadhira mengikuti langkah Alvy dan Dayat masuk ke dalam rumahnya.
sedangkan Nadhira dan Herman melangkah menuju ke Asrama.
''Mas Herman tunggu di sini saja dulu, Nadhira masuk ke Asrama dulu ya.'' kata Nadhira sang adik.
''Ya sudah cepat balik ke sini lagi Oke.'' Ucapnya.
''Siip 👍,Nadhira ke atas dulu.'' Ucapnya sambil menaiki tangga.
Karena Asrama yang ditempati Nadhira ada diatas.
Selama menunggu sang adik diruang tunggu Asrama Putri, Herman memainkan ponsel nya, foto-foto yang dia ambil tadi pagi Herman taruh di Story WA-nya (Watssapp).
'' Banyak juga yang mengomentari nich foto.'' Gumam Herman.
Tak lama kemudian Nadhira menghampiri sang kakak di ruang tunggu.
''Kenapa senyum senyum githu mas Herman.'' Tanya Nadhira penasaran.
Herman memperlihatkan ponsel-nya pada Nadhira sang adik.
'' Lho kok di post di sini sich Mas.'' Rengek nya
''Ya nggak apa-apa lah dek biar semua orang tau kalau Masmu ini punya adik yang sangat cantik.''
''Ich PD banget sich Mas bilang punya adik yang sangat cantik, lawong adiknya saja jelek gini juga.'' Ucap Nadhira memanyunkan bibirnya.
''Ya harus PD lah dek, kan emang kenyataan nya kaya githu.'' kata Herman tak mau kalah.
''Coba nich lihat komenannya teman-teman nya Mas.'' menyodorkan ponselnya pada sang adik.
Nadhira membaca tiap komenan yang di post Herman tadi.
''Benar kan bukan cuma Mas saja yang bilang kamu cantik, tapi teman-teman Mas juga banyak bilang kalau adik thu cantik.''
'' Iya tapi di sini nggak ada yang bilang sangat cantik githu yang Dhira omongin barusan.'' Nadhira menepuk bahu sang kakak.
''Ich jangan keras-keras kali mukulnya thu.'' Ucap Herman.
''Mas Herman sejak bergaul dengan Mas Adi dan yang lainnya bawaan nya selalu narsis, kesel dech liatnya Mas Herman jadi lebay kayak gini.'' celoteh nya saat sang kakak menjaihili-nya.
''Lha kan Mas dah dari dulu temenan sama Adhi dek, sebelum kamu ada di Pondok Pesantren ini.'' Jelasnya.
__ADS_1
''Iya Nadhira juga tau kalau itu Mas Herman.'' Ucapnya kesal
Tak lama kemudian orang tuanya menghampiri ruang tunggu yang ditempati oleh Nadhira dan juga Herman.
Sang Ibu melihat kedua Putra dan juga Putrinya, melihat wajah sang Putri yang lagi ngambek, lalu sang Ibu bertanya pada sang Putra tapi Herman cuma mengangkat bahunya.
Sang Ibu hanya bisa menghela nafas panjang dan menghembuskan secara pelan.
''Kalian ini kenapa sich, bertengkar terus kerja'annya, apa nggak capek bertengkar terus kayak gini.'' Tanya sang Ibu.
''Kita nggak bertengkar kok Bu, Dhira hanya kesel saja sama Mas Herman.'' Nadhira membuka obrolan nya.
''Ya sudah kalau githu Ayah dan Ibu pulang dulu ya, kamu baik baik disini jaga kesehatan dan jangan lupa makan tepat waktu.''
''Iya Ibu..? Ibu Nadhira sekarang bawel banget sich.'' Ucap Nadhira dan langsung memeluk sang Ibu.
''Ibu pulang dulu ya.'' pamitnya.
''Iya, kalian hati-hati di jalan ya.'' Nadhira mencium tangan sang Ibu dan juga sang Ayah, lalu yang terakhir mencium tangan sang kakak dan berkata.
''Jangan suka mainin anak orang Mas, kalau Mas Herman beneran suka sama kak Rara cepat suruh Ayah lamar kak Rara nya.'' pesan-nya pada sang kakak.
''Siap,.. adik tunggu kabar selanjutnya saja ya.'' tersenyum dan mengelus Kepala sang adik.
''Ya sudah Mas pamit ya, Assalamu'alaikum.'' ucap Herman bergegas keluar dari ruang tunggu dan menghampiri orang tuanya yang sudah menunggu di luar.
2 Bulan kemudian liburan sekolah nya telah tiba, dan Nadhira dijemput oleh Hendri sang kakak angkat.
''Adik Dhira.'' Teriak Yuli.
''Ada adiknya Ustad Dayat nyariin kamu, sekarang dia ada diruang tunggu.'' Ucap Yuli memberi tahu pada Nadhira.
Nadhira berjalan menuju ke ruang tunggu di mana disana sudah ada Hendri yang sedang menunggunya.
''Sudah lama Mas di sini.'' Tanya Nadhira ketika sudah sampai di ruang tunggu.
''Nggak juga kok dek, Mas baru sampai disini, siapa yang bilang sama adek kalau Mas Hendri nunggu di sini.'' tanya Hendri, karena Hendri tidak menyuruh Mbak mbak nya untuk memanggil Nadhira.
''Ada Mbaknya tadi yang bilang sama Nadhira.''
''Och...?.''
''Gimana dek, jadi nggak.'' Tanya Hendri
''Jadi apanya Mas, Nadhira tidak mengerti maksud Mas Hendri itu apa.'' Nadhira bertanya balik pada Hendri sang kakak angkat.
__ADS_1
''Jadi ikut ke Surabaya nggak, Umi dan Abah sudah nungguin adek di rumah.'' Ucapnya memperjelas.
''Tapi Nadhira harus minta ijin sama Umi di sini Mas.'' khawatir takut tidak Diijinkan.
''Adik tidak usah khawatir lagi, mereka sudah tau semua kok, sebelum Mas Hendri kesini Abah sudah memberi tahu pada Mertuanya Bang Dayat, kalau aku bakalan kesini untuk menjemput kamu.'' Ucap Hendri menjelaskan pada Nadhira yang terlihat sedikit khawatir.
''Terus kapan berangkat nya.'' Tanya Nadhira antusias karena Nadhira sendiri sudah kangen sama Umi dan juga sang Abah yang ada di Surabaya.
''Nanti sore kita berangkat dek.'' Jawab Hendri.
''Ya sudah Nadhira mau beres beres dulu ya Mas.'' Ucapnya semangatsemangat dan beranjak dari tempat duduk nya.
''Nggak usah bawa baju ezt dek, dirumah sudah ada kok.'' kata Hendri saat Nadhira melangkahkan kakinya.
''Och githu..?, ya sudah kalau githu.''
''Dek Dhira duduk saja disini temenin Mas, Mas Hendri ada didalam rumah kak Alvy suntuk banget, Abang ngoceh ngoceh nggak jelas githu.''
''Emangnya Ustad bilang apa sama mas Hendri.'' tanya Nadhira yang kembali duduk ditempatnya semula.
''Abang adek bukan Ustad.'' Ucap Hendri saat mendengar Nadhira memanggil Dayat dengan kata Ustad.
''Tapi dia Ustad nya Nadhira mas.''
''Tapi dia Abang nya Mas, jadi dek Dhira harus manggil Mas atau Abang sama kayak Mas Hendri manggil.''
Nadhira menghela nafas mendengar perkataan dari Hendri kakak angkat nya.
''Ya sudah terserah Mas Hendri saja dech, Nadhira ngikut, Oia emangnya Abang ngomong apa sama Mas Hendri.'' Tanyanya
''Dia bilang harus bener bener jaga kamu selama ada di sana, nggak usah di bilang aku juga bakalan jagain kamu kok dek.''
''Cuma ngomong githu aja kayak orang denger apa githu mukanya, kan Abang cuma ngingetin Mas Hendri saja nggak lebih.'' menasehati sang kakak angkat.
''Membela Abang nich ceritanya.'' Ucapnya ketus.
''Nadhira bukannya ngebela Abang githu Mas, Dhira cuma mengerti apa yang diucapkan oleh Abang ada benarnya juga, karena kata Umi Mas Hendri suka pergi sama teman-teman nya githu, mungkin itu juga yang disampaikan oleh Abang pada Mas Hendri'' kata Nadhira panjang lebar.
Akhirnya si Hendri mengerti apa yang di katakan oleh Abang dan juga Nadhira sang adik angkat ada benarnya juga.
👉👉👉👉
Terimakasih buat kakak yang selalu dukung karya receh Al-mahyra.
jangan lupa like, komen dan votenya kk.
__ADS_1
Makasih 🙏🙏🙏