Cinta Nadhira

Cinta Nadhira
Bab 7 Pertanyaan pertanyaan Hendri


__ADS_3

14 Tahun hidup bersama sang Adik, tidak mudah melupakan semua kenangan saat bersamanya, Dayat mencoba untuk tegar menghadapi cobaan ini, tapi tidak dengan Hendri, Hendri terus menangis histeris saat jenazah sang Adik di masukkan ke liang lahat.


Setelah ikut menguburkan sang Adik tiba-tiba Hendri pingsan lagi, sama halnya dengan sang Abah yang terus menangisi kepergian Putri nya untuk selama_lamanya.


Semenjak saat ithu Hendri menjadi menjadi pendiam.


rumah yang dulu rame dengan canda tawa, kebawelan sang Adiklah yang membuat suasana rumah menjadi hidup dan berwarna.


Tapi dengan kematian Nada membuat suasana rumah seakan-akan ikut mati.


Sebulan berlalu kini Dayat memperistri(menikahi) anak Pak Kyai yang mempunyai Pondok Pesantren, karna Dayat orangnya pintar.


Tapi kehadiran Alvy tidak membuat suasana rumah kembali seperti dulu lagi, waktu masih ada Nada.


tak ada canda tawa dari sang Ayah mertua ataupun Adik Iparnya.


Akhirnya Alvy memutuskan untuk menetap di rumahnya sendiri, karna Alvy dan Dayat harus mengajar santriwan dan santri watinya.


Tak jarang Hendri menjenguk sang kakak di kediaman sang istri.


Dan tak terasa Dayat sudah di karuniai seorang putri, dengan begitu sang Abah mulai menerima kepergian Nada putrinya. Abahnya mencoba meng-ikhlaskan kepergian putrinya untuk selama_lamanya.


Begitu pula dengan Hendri, hanya do'alah yang bisa mengantarkan sang adik ke surga-nya Allah.


bukan dengan tangisan atau sebuah penyesalan, namun do'alah yang Nada butuhkan sekarang ini.


Flashback off


Sang Abah menitikkan air mata setelah satu tahun tidak menitikkan air matanya, di saat mengingat Nada sang putri.


"Sudah_lah Bah, ikhlaskan kepergian adik, adik sudah bahagia di surga-nya Allah.'' ucap Dayat mengingatkan Abahnya.


"Iya lhe, Abah cuma kangen sama adik kalian.'' kata sang Abah mengusap air matanya mencoba tegar.


"Abah ingat masih ada Umi di sini, kalau Abah sedih Umi juga sedih.'' Ucap sang istri (Umi nya)


"Iya Umi, Abah sudah ikhlas kok.'' jawabnya menepuk-nepuk tangan istrinya.


Hendri dan Dayat akhirnya tersenyum lega mendengar ucapan sang Abah.


Sedangkan di halaman rumah sakit Nadhira dan Marsya bermain kejar_kejaran, sambil tertawa ria.


"Etop_etop... Masya capek kak Diyha, itilahat dulu ya, Masya ndak kuat agi lalinya.'' ucap Marsya dengan nafas ngos_ngosan.


"Iya_iya, kakak juga capek ngejar neng Marsya, kita duduk di sana yuck.'' Ucap Nadhira menggendong Marsya ke tempat yang teduh.


"Masya aus kak, mau minum itu.'' kata Marsya menunjuk orang yang jualan di pinggir jalan dekat gerbang rumah sakit.


"Ayo kita ke sana.'' ajak Dhira sambil memegangi tangan Marsya. karna Marsya nggak mau di gendong.


"Pak es_nya 1 yea.'' ucap Nadhira


"Kok cuma catu kak, emang kak Diyha ndak aus.'' tanya Marsya saat Nadhira hanya membeli satu.


"Sudah nggak apa_apa,buat neng Marsya saja yea.'' jawab Nadhira tersenyum.


"Ya cudah, esnya minum bel dua ya kak.'' seru Marsya di angguki Nadhira.

__ADS_1


"Iya.'' Nadhira mengangguk.


" 5 ribu neng.'' ucap Bapak penjual es_nya.


"Ech iya Pak, ini uangnya.'' ucap Nadhira menyodorkan uangnya.


"Untung saja uangnya pas.'' batin Nadhira


Karena Nadhira tidak tau tujuan pertamanya nengnya(Bu' Nyainya) mengajak Nadhira.


makanya Nadhira tidak mempersiapkan keperluan kepergiannya bersama sang Nyai,


Nadhira hanya membawa uang 20.000(dua puluh) ribu saja, itu pun sisanya buat beli sarapan tadi pagi.


Karena Nadhira tidak mau di kasih uang sama Hendri buat sarapan tadi pagi di kantin.


(melase reck) 🀭🀭🀭


...🌺🌺🌺🌺...


Waktu asik minum es Marsya di kejutkan dengan kedatangan Hendri.


"Kok di minum sendiri es_nya.'' tanya Hendri pada Marsya.


"Kak Diyhanya ndak mau, atanya di culuh abisin Masya.'' jawab Marsya jujur.


"Emang cuma beli satu saja.'' tanya Hendri pada Nadhira.


Nadhira mengangguk.


"Ya sudah ayo beli lagi buat kak Dhira.'' kata Hendri beranjak pergi.


"Nggak usah kak.'' cegah Nadhira.


"Nggak apa_ apa, ayo aku belikan buat kamu.'' ajak Hendri.


"Beneran nggak usah kak, Dhira nggak suka es.'' ucapnya berbohong.


"Yasudah kalau nggak mau beli es, kita ke kantin beli minuman dingin saja yuck.'' Ajak Hendri sambil menggendong Marsya sang pona'an.


Nadhira hanya mengangguk dan mengikuti langkah si Hendri menuju ke kantin rumah sakit.


Sesampainya di kantin rumah sakit, Hendri menyuruh Nadhira duduk di bangku kantin.


"Mau makan apa.'' tanya Hendri pada Nadhira.


"Masya ndak lapang, Masya masih enyang.'' jawab Marsya.


"Om bukan nanyain Marsya, tapi Om nanyain kak Dhira.'' jawab Hendri gemez sama sang pona'an


Marsya hanya cengengesan menanggapi perkataan Hendri sang Om.


"Makan ya, aku pesan kan.'' tanya Hendri lagi.


"Nggak usah kak, Dhira masih kenyang kok.'' sahut Nadhira tak ingin merepotkan Hendri.


"Kamu hanya makan tadi pagi ini sudah siang lho.'' ucap Hendri.

__ADS_1


"Nadhira emang hanya makan 2 kali saja kok kak.'' jawabnya jujur.


"Kenapa gituu.'' tanya Hendri penasaran.


"Nggak apa_apa kok kak? sudah kebiasaan Nadhira seperti itu.'' jawabnya menundukkan kepalanya.


"nggak boleh di biasain, kebiasaan buruk jangan di pelihara.'' Hendri memperingati Nadhira.


Nadhira cuma mengangguk.


"Oia... kamu nggak bawa baju ganti.'' tanya Hendri tiba-tiba, Nadhira menggeleng.


"Emangnya kak Alvy tidak bilang mau ke sini.'' tanya Hendri.


Lagi_lagi Nadhira hanya menggelengkan kepalanya.


"Pasti ini anak cuma bawa uang pas_pasan.'' batin Hendri.


Hendri memperhatikan Nadhira dengan seksama, dandanan dan cara bicaranya sama persis dengan almarhum adiknya. Hendri jadi penasaran dengan Nadhira.


"Sudah lama berada di Pondok Pesantrennya kak Alvy.'' tanya Hendri mulai mengirrk informasi Nadhira.


"Belum lama kak? masih 2 bulanan berada di sana.'' jawab Nadhira lembut.


"Kalau boleh tau, kelas berapa sekarang.'' tanyanya lagi.


"Kelas 2 MTS(Madrasah Tsanawiyah).'' jawabnya masih menundukkan kepalanya.


"Pindahan sekolah berarti ya.'' Hendri terus bertanya pada Nadhira.


"Iya kak?!'' jawabnya.


"Betah nggak berada di Pondok Pesantren kak Alvy.'' tanya Hendri terus memberikan pertanyaan pada Nadhira.


"Alhamdulillah mulai betah kak.'' jawab Nadhira takut takut.


"Biasanya kalau pindahan gitu sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, apalagi sekarang sudah canggih, cewek seumuran kamu gini pada pegang HP.'' celetuk Hendri.


"Apa kamu nggak kepikiran sama HPnya.''


"Awalnya sich iya kak, tapi Dhira tidak mau mengecewakan orang tua Dhira, dan juga kakak Dhira kak.'' jawab Nadhira tampa sungkan(malu).


"Karena ini semua Dhira yang minta sama orang tua, jadi Dhira harus berusaha ikhlas menerimanya, mungkin dengan Dhira belajar di Pondok Pesantren tanggung jawab orang tua Dhira berkurang, karna tidak usah menjaga Dhira lagi.'' jawabnya panjang lebar.


"Aku salut sama pemikiran kamu Dhira, jarang_jarang seseorang punya pemikiran seperti kamu ini.'' puji Hendri.


"Makasih kak, Dhira hanya mencoba ikhlas saja, hanya dengan ikhlas semuanya terasa nyaman dan bahagia, belajar dari kakak yang lain di Pondok Pesantren.'' kata Nadhira.


Hendri memberi 2 jempol buat Nadhira yang punya fikiran dewasa, sifatnya yang lemah lembut membuat Hendri kepincut dengan Nadhira,


Bukan kepincut buat di jadikan pacar, melainkan kepincut dengan semua sifat dan sikapnya Nadhira.


πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰


makasih kkπŸ™πŸ™


mohon dukungannya ya kakak sekalian πŸ€­πŸ™

__ADS_1


__ADS_2