Cinta Nadhira

Cinta Nadhira
Bab 60 Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Matahari sudah ada di atas kepala menunjukkan kalau hari sudah siang, Pak Arifin pulang dari kebunnya yang kini sedang panen buah Jeruk.


Sebagian dari hasil panen nya ia kirim ke Pondok Pesantren tempat di mana Nadhira dulu menuntut ilmu, sebagian lagi akan membawa ke rumah Abah Rahman, sekalian Pak Arifin dan keluarga nya menjenguk Nadhira yang sudah tinggal dengan Abah Rahman.


Pak Arifin sampai di rumahnya untuk mengambil air es, karena hawa begitu panas yang ngeborong jeruk jeruk Pak Arifin meminta untuk di bikinin es, ya walaupun itu hanya es yang dikasih rasa rasa dan semacamnya.


''Sudah pulang Pak?'' Tanya Bu Susi pada sangat suami.


''Iya Bu, tolong bikinin es,''


Bu Susi melangkah pergi mengambil termos dan beberapa es batu, Bu Susi mengambil dompet nya di laci kamarnya.


''Sudah Bu,'' Tanya Pak Arifin pada istri nya.


''Sebentar Pak, Ibu mau ke warung dulu beli rasa rasa,'' jawab Bu Susi melanjutkan langkah nya ke warung yang tak terlalu jauh dari rumahnya.


Pak Arifin yang kepanasan mengipasi dirinya dengan kopyah yang tadi ia pakai.


''Bapak sudah pulang?'' Tanya Herman yang baru pulang dari pabrik tempat ia bekerja.


''Ia Lhe,'' Jawab Pak Arifin terus mengipasi wajahnya yang kepanasan.


''Mending Bapak mandi dulu dech, biar lebih seger.'' suruh Herman pada sangat Ayah.


''Percuma Bapak mandi, sebentar lagi bakalan balik lagi ke kebun, Bapak pulang cuma mau ambil Es.'' tuturnya menghentikan kipasan nya.


''Och, Herman kira sudah selesai panen nya Pak,''


''Oia, Bapak tidak lupa kan yang mau di bawa ke Pondok Pesantren dan juga kerumah Abah Rahman.'' tanya Herman.


''Sudah Bapak ambilin, itu ada di dalam tadi Ibu nya yang naruh.'' Jawab Pak Arifin.


Herman mengangguk dan memasuki rumahnya, Herman mengernyit kan dahinya saat melihat satu karung buah jeruk di dalam rumahnya.


''Bapak? emang ini nggak kebanyakan ya,'' Tanya Herman keluar lagi dari dalam rumahnya.


''Kalau kebanyakan ya tinggal kasih pada tetangga di sini lagi Lhe,'' jawabnya santai.


Herman hanya menghembuskan nafas kasar nya, melihat satu karung yang Bapak nya bawa pulang.

__ADS_1


''Tapi nggak sampai segitunya juga kali Pak? setengah nya saja sudah cukup di bagi dua,'' Gumam Herman pelan sambil melangkah masuk kembali ke dalam rumahnya.


Herman menaruh tas ransel nya di meja makan, Herman lantas mengambil satu karung lagi buat membagi dua buah jeruk nya, agar sangat Ayah membawanya ke kebun kembali.


''Segini banyak buat apa coba, mau jualan di dalam Pondok Pesantren,'' gerutu Herman terus memisahkan jeruk jeruk nya, hingga tersisa separuh.


Kemudian Herman mengambil satu kresek yang agak besar buat tempat buah jeruk yang akan di bawa pada Adiknya yang ada di kota Surabaya.


Lalu Herman membagi bagi lagi jeruk jeruk untuk para tetangganya, hitung hitung buat sedekah juga.


Setelah selesai semuanya, Herman masuk ke kamarnya, di rasanya handuk yang tergantung di belakang pintu lalu menuju ke kamar mandi guna membersihkan diri.


Tak butuh waktu lama Herman sudah selesai mandi dan bergegas menuju teras rumahnya, siapa tau sangat Ayah masih ada di sana.


Namun Pak Arifin sudah balik ke kebun nya lagi untuk mengantarkan es rasa rasanya pada semua orang yang sedang bekerja di sana.


''Yach, sudah berangkat lagi,'' Gumam pelan Herman.


''Kenapa Lhe?'' tanya Bu Susi menghampiri Herman yang berdiri di tengah pintu.


''Nggak apa apa Bu,''


''Oia Bu, Bapak sudah balik ke kebun,'' tanya Herman berbalik menghadap sang Ibu.


''Ya sudah kalau gitu Herman ke kebun dulu yah, mau balikin ini buah jeruk nya kebanyakan,''


''Iya. Hati-hati di jalan,'' Bu Susi mengingat kan puteranya yang lumayan bleteran kalau bawa motor.


Herman mengambil kunci motor nya di dalam kamar, kemudian dia melakukan motor sport nya dengan separuh karung buah jeruk di depannya.


Selama di perjalanan menuju kebun nya Herman meng gerutu.


*-*-*-*-*-*-*-*-*


*Sore hari*


Pak Arifin menaikkan rumputnya ke atas motor yang biasa dia naiki untuk ke sawah maupun ke kebun, karena tak mungkin kan ke sawah membawa motor bagus, sedangkan para maling sedang mengincar motor motor bagus yang ada di sawah ataupun di sekitar nya.


Pak Arifin yang kebetulan sudah mau pulang dari kebun nya. Tak sengaja bertemu dengan pembeli buah jeruk yang ada di kebun nya, yang kebetulan membawa uang guna membayar jeruk jeruk yang sudah di borong nya tadi.

__ADS_1


Orang yang ngeborong buah jeruk nya, ternyata adalah kawan lama dari Pak Arifin. Ya Pak Santo yang kini menjadi pemborong atau bisa di bilang dengan juragan yang sering kali tengkulak buah Jeruk.


''Arifin ya,'' Tanya Pak Santo.


''Iya, ini siapa ya,'' tanya balik Pak Arifin yang kemungkinan besar lupa dengan wajah kawan lamanya.


''Jangan gitu lah Fin, masak lho lupa sama gue,'' jawabnya.


''Iya beneran, aku nggak ingat sama kamu,'' Ucap Pak Arifin lagi.


''Aku Santo, kawan lho dulu,'' cakap nya melipat kedua tangan di dadanya.


Pak Arifin yang tak ingat apapun mulai memutar otaknya dengan keras. Sehingga sekelebat bayangan bayangan saat bersama dengan pak Santo pun muncul, dan barulah Pak Arifin mengingat orang yang mengaku kawan lamanya.


''Ini beneran lho Santo?'' tanya Pak Arifin menjabat tangan Pak Santo kawan lamanya.


Pak Santo tersenyum smirk, ''Pura-pura lupa padahal ingat kan, apa lho mau melupakan janji kita dulu,'' seloroh nya.


''Aku beneran lupa Santo, bukan pura pura githu,'' sahut Pak Arifin membela diri dari tuduhan kawan lamanya.


Pak Santo mengernyitkan dahinya, mendengar ucapan dari kawan lamanya.


Pak Santo yang di rundung penasaran pun mulai bertanya pada Pak Arifin, ''Oia Fin, lho sudah punya anak berapa sekarang?''


''Alhamdulillah, sudah dua Santo,'' Gumam Pak Arifin bersyukur.


''Kamu sendiri sudah berapa nich Putri nya,'' tambah Pak Arifin.


''Alhamdulillah juga sama kalau githu Vin, gimana janji kita dulu, jadikan kita besanan,'' tuturnya.


''Sebenarnya aku sudah punya besan sich Santo?'' lirih Pak Arifin, mengingat janjinya dulu kalau mereka berdua punya anak, mereka berdua sepakat untuk menikah kan putra putri nya kelak kalau sudah dewasa.


''Sudah menikah semuanya!'' tanya Pak Santo kaget.


''Cuman anak laki-laki ku saja sich baru tunangan sebulan yang lalu.


Pak Santo terus bertanya pada Pak Arifin. ''Kalau cuma satu yang tunangan, kan masih sisa satu kan?''


''Iya juga sich, tapi Puteri ku masih kecil, dia masih sekolah untuk saat ini,'' sahutnya mencoba tersenyum.

__ADS_1


Pak Santo ngangguk ngangguk dan keduanya terkekeh bersamaan.


BERSAMBUNG


__ADS_2