
Pak Santo menghentikan obrolan nya karena anak buah nya menghampiri.
''Pak, semuanya sudah selesai, mau di bawa sekarang,'' tanya sangat pekerja.
''Kalau sudah selesai bawa ke rumah langsung ya,'' jawab Pak Santo.
Sang pekerja mengulurkan nota pada Pak Santo, nota tersebut berisi jumlah buah jeruk jeruk tersebut. Dan di sana sudah tercantum angka yang harus di bayar oleh Pak Santo pada Pak Arifin.
Pak Santo mengulurkan tangan yang berisi uang yang sudah di hitung lebih dulu, takutnya kurang dengan jumlah yang ada di nota nya.
''Ini Fin, lho hitung dulu takutnya kurang,'' suruh Pak Santo.
''Nggak usah, aku percaya kok sama kamu?'' sahutnya.
''Ya sudah kita bahas ini lagi di lain waktu Oke,'' kata Pak Santo beranjak dari duduknya.
''Iya,'' jawab Pak Arifin singkat.
''Kapan kapan aku akan datang ke rumahmu, boleh tak,'' cakap Pak Santo.
''Ya boleh lah, masak nggak boleh,''
''Lagian aku bakalan senang kalau kamu main main ke gubuk ku,'' tambah Pak Arifin.
Pak Santo terkekeh, ''Kebalik Fin, malah rumah aku yang kayak gubuk,'' jawabnya asal.
''Mana ada rumah juragan Jeruk di sebut gubuk,'' Ujar Pak Arifin.
Pak Santo dan Pak Arifin sama sama tertawa dengan kekonyolan masing-masing.
''Bisa betah ya, yang jadi istri lho Santo?'' Gumam Pak Arifin.
''Ya pasti betah lah Fin, kan di kasih belanja dan juga di kasih kehangatan,'' ucapnya vulgar.
''Woy!! ingat umur,'' celetuk Pak Arifin.
Pak Santo hanya nyengir kuda di gituin oleh kawan lamanya.
''Kalau lho beneran jadi besan ku, bisa bisa aku juga ikutan eror ni otak,'' canda Pak Arifin.
''Biarin sajalah, kan besan se ia sekata, sengklek bareng bareng,'' tawanya.
__ADS_1
''Sudah sudah pulang sanah, hari mulai petang nich, aku juga mau pulang juga,'' Ujar Pak Arifin mengusir Pak Santo .
''Tega banget lho ngusir gue Fin?'' sahut Pak Santo.
''Ya sudah gue pulang. Assalamu'alaikum,'' Ucap Pak Santo menyalakan sepeda motor nya.
''Ingat Fin, gue mau dateng ke rumah lho,'' pesan Pak Santo sebelum pergi.
''Waalaikum salam. iya, aku nggak bakalan lupa kok, jangan bawel,'' jawab Pak Arifin sekaligus meledek nya.
Pak Santo tertawa sambil melajukan motor nya menuju ke rumahnya, karena para pekerja nya mungkin sudah dari tadi sampai di rumahnya.
Sedangkan Pak Arifin hanya menggeleng kan kepalanya, tak percaya bisa bertemu lagi dengan kawan lamanya yang sudah lama tidak bertemu dengan nya selama beberapa tahun ini.
Pak Arifin juga melajukan motor nya menuju ke rumahnya, karena kemungkinan besar istri nya sudah menunggu nya di rumah, karena sudah menjelang malam namun belum pulang juga.
Suara motor Pak Arifin terdengar ke dalam rumah, karena motor Pak Arifin memakai knalpot brong, yang suara nya bikin gaduh seluruh Desa, kalau sedang di pakek Herman Putera nya.
''Sampai malam gini Pak?'' tanya Bu Susi menghampiri suaminya.
''Iya Bu, tadi masih ngobrol sama kawan lama,'' jawabnya.
''Iya Bu, tadi nggak sengaja bertemu di kebun, jadi ke enakan ngobrol di sana,''
''Bapak kebiasaan kalau bertemu dengan teman lamanya, mbok ya di ajak ke rumah?'' Gumam Bu Susi.
''Dia sekarang sudah sukses, dia menjadi pemborong sekarang Bu, bahkan dia yang ngeborong buah Jeruk kita Bu,'' cakap Pak Arifin pada istri nya,
Pak Arifin menceritakan semua pada istri nya, terutama janji dulu yang mengatakan akan menjodohkan anak anak nya kalau sudah pada dewasa.
Bu Susi hanya termngu mendengar ucapan suaminya, dalam fikiran nya terlintas hal hal buruk.
''Iya kalau anaknya baik, kalau nggak baik kan Puteri ku yang bakalan menanggung keburukannya.'' Batin Bu Susi.
''Sudahlah jangan terlalu di fikirkan, toh itu semua cuma janji anak muda jaman dulu, lagian kalau puteri kita nggak setuju Bapak nggak akan memaksa kok bu?'' Tutur Pak Arifin membuyarkan lamunan Bu Susi.
Bu Susi yang sudah sudah sadar dari lamunan nya, langsung mengucapkan Istighfar karena sudah punya pikiran buruk sangka pada Putera seseorang.
Bu Susi tersadar kalau ucapan nya keliru, dia juga sempat berfikir kalau Putera nya juga nakal, namun setelah menemukan tambatan hatinya, Herman tidak lagi nakal, perubahan dia bisa di bilang sangat drastis. Herman sekarang tidak lagi pergi malam dan pulang pagi.
''Bu mana yeh Bapak?'' Ucap Pak Arifin pada istri nya yang masih berdiri di teras rumahnya.
__ADS_1
''Iya Pak, sebentar?'' jawab Bu Susi menghampiri Pak Arifin yang sudah duduk di meja makan.
''Ibu masih ngapain sich di teras rumah,'' tanya Pak Arifin pada istri nya.
''Ibu tidak ngapa ngpain kok Pak, hanya Ibu kepikiran ucapan Bapak yang tadi itu?'' jawab Bu Susi sambil mengaduk tehnya.
''Bapak kan sudah bilang jangan terlalu di fikirkan,'' ucap Pak Arifin.
''Gimana Ibu nggak mikirin Pak, dia itu menginginkan Puteri kita, ia kalau Putera teman Bapak baik, kalau dia sudah suka memukul puteri kita gimana Pak?'' Tutur Bu Susi panjang lebar.
''Ibu tidak boleh Mengjude seseorang, kalau dia kebalikannya gimana,'' Gumam Pak Arifin pelan.
''Ya sudah Bapak pergi mandi dulu,'' pamit Pak Arifin pada Bu Susi setelah meminum teh hangat nya.
Bu Susi hanya mengangguk pelan, lantas ia duduk di tempat suaminya barusan.
Bu Susi menepuk-nepuk dahinya karena fikiran buruk itu selalu muncul di fikiran nya, ''Do'a terbaikku hanya untuk puteri dan juga Putera ku,''
''Aku pasrah kan semua ini padamu Tuhan?'' Gumam nya melihat Pak Arifin yang baru masuk ke kamar mandi.
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
*1 Minggu kemudian*
Orang tua Eza Ferdiansyah datang ke rumah Nadhira, tanpa sepengetahuan Eza maupun Nadhira, sedangkan Herman saat itu lagi bepergian dengan tunangan nya, jadi dia tidak tau kedatangan orang tua Eza.
Hera yang sendirian di rumah hanya menyibukkan diri dengan ponsel barunya. Dan tak lama kemudian Eza pulang dari sekolah nya melihat keadaan rumahnya sangat sepi.
''Adek, Ibu sama Ayah kemana?'' tanya Eza membuka sepatu di teras rumah nya.
''Ibu sama Ayah bilang mau ke rumah kawan nya Mas?'' Jawab Hera.
''Tumben mereka pergi ke rumah kawan nya, kok kamu nggak ikut,'' tanya Eza lagi karena biasanya Adeknya selalu menempel kalau Ayah sama Ibunya bepergian.
''Adek nggak boleh ikut Mas sama Ibu, katanya sich cuma sebentar saja di sana,'' Sahut Hera dengan nada sedih nya.
''Ya sudah nggak usah sedih lagi, kan sekarang sudah Mas di sini,'' bujuk Eza pada Adek nya.
Hera mengangguk pelan dan melanjutkan browsing tentang ilmu Kebidanan.
BERSAMBUNG
__ADS_1