Cinta Nadhira

Cinta Nadhira
Bab 6 Di ajak ke Surabaya


__ADS_3

"Ya sudah Abang ajak Kakak pulang saja, di rumah ada Abah kok.'' kata Hendri pada Abangnya.


"Iya sebentar lagi Dek?'' Jawab Dayat yang masih duduk di samping Uminya.


"Dayat pulang saja, biar Hendri yang nungguin Umi di sini.'' ucap sang Umi pelan.


"Iya Umi.''seru Dayat dan menghampiri Alvy sang istri.


"Ya sudah kalau gitu Abang ke rumah dulu ya Dek?!'' kata Dayat yang di angguki oleh Hendri dan sang Umi.


"Ayo sayang? ke rumah Umi dulu.'' Ajak Dayat.


"Iya, Ayo Dhira kita kerumah Umi dulu.'' Alvy mengajak Nadhira juga.


Namun Nadhira menolaknya dan berkata. ''Nadhira di sini saja Neng?'' ujar Nadhira lembut.


Alvy menatap sang suami, Dayat yang di tatap mengerti lalu mengangguk pada sangat istri.


"Baiklah kalau itu mau kamu, Aku titip Umi ya Nadhira.'' kata Alvy pada Nadhira.


Nadhira mengangguk pelan.


Dayat dan juga Alvy beranjak dari tempat duduk nya dan melangkah keluar ruangan menuju ke parkiran Rumah Sakit,


Marsya yang ada di gendongan sang Ayah bertanya.


"Abi...? kakak Diyha mana, kok ndak ikut Masya pulang?'' Tanyanya polos.


karna Marsya tidak bisa bilang huruf R, jadi sebut Dhira dengan Diyha.


"Kak Dhira lagi jagain Mbah Uti dulu di Rumah Sakit.'' sahut Alvy sang Ibu.


"Kak Diyha jagain Mbah Uti bel dua sama Om di lu mah cakit.'' tanya Marsya lagi.


"Iya sayang? jadi Marsya main sama Abi dan Umi dulu ya.'' Jawab Dayat pada sang putri.


Mobil yang di kendarai Dayat melaju dengan cepat, menuju ke kediaman orang tuanya, dalam perjalanan Marsya terus saja ber celoteh, celotehan yang tidak di mengerti oleh sang Ayah, Dayat hanya mengabaikan celotehan putrinya.


Karena tidak mengerti mau jawab apa.


Marsya kesal karna omongannya tidak di tanggepi oleh sang Ayah.


"Kok ndak omong agi cih Bi.'' Tanyanya kesal.


Dayat dan Alvy tersenyum mendengar pertanyaan si kecil.


Dan tak terasa mobil yang di kendarai Dayat sudah memasuki pelataran rumahnya.


rumah yang lumayan besar dengan halaman luas yang di tanami dengan beraneka bunga_bunga.


Kupu_kupu pada berhinggapan di bunga_bunga tersebut, mengalihkan perhatian Marsya, Marsya yang melihat kupu kupu langsung minta di turunin dari gendongan sang Umi.


Marsya berlari menghampiri kupu_kupu tersebut, karna kupu_kupunya terbang Marsya berteriak memanggil sang Abi.


"Abi upu_upunya telbang, Masya mau upu_upu itu.'' ucapnya menangis.


"Nggak bisa di tangkap sayang kupu_kupunya, lagian kasian juga kalau di tangkap kupu_kupunya, entar yang ada kupu_kupunya mati gimana. Ucap Dayat pada Marsya sang putri.


"Tapi masya mau upu_upu itu Bi? Ucapnya lagi menunjuk kupu kupu yang sudah tinggi.


"Nggak boleh sayang? entar kupu_kupunya mati, Marsya berdosa karna tak sengaja telah membunuh kupu_ kupunya.'' Ujar Alvi menasehati Marsya yang masih kecil.


"Kita ambil bunga saja yuk, lebih bagusan bunga ketimbang kupu_kupu.'' ucap Alvi lagi.

__ADS_1


Akhirnya tangisan Marsya berhenti,


sang uma mengambil beberapa bunga untuk Marsya.


Marsya memanggil Ibu nya dengan sebutan Uma.


🌺🌺🌺🌺


Lama berdebat dengan Marsya di halaman rumahnya, Dayat membuka pintu rumahnya yang kebetulan tidak di kunci oleh sang Abah.


"Assalamu'alaikum.'' Ucap Dayat sambil melangkahkan kakinya menuju ke tempat Abahnya berada.


"Waalaikum salam.'' jawab sang Abah.


Dayat langsung mencium tangan Abahnya di susul Alvy dan juga Marsya.


"Sudah menengok Uminya Yat.'' Tanya Abahnya.


"Sudah Abah.''Sahut Dayat duduk di samping sang Abah.


"Sudah lebih baik kok Abah? Hendri sama Nadhira yang jaga Umi sekarang.'' Ujar Dayat memberi tahu Abahnya.


"Nadhira siapa, cewek Hendri kah.'' tanya sang Abah penasaran.


"Bukan Abah, Nadhira itu santri di Pesantrennya Alvy.'' jawab Dayat yang di angguki Abahnya.


"Soalnya Abah baru denger nama itu.'' Ucapnya Abah nya Dayat.


"Iya Abah, Nadhira baru dua bulan di Ponpes.'' ucap Alvi.


"Biasanya Alvy selalu bawa Yusro kalau kemana-mana.'' tanya Abah Dayat lagi.


"Semenjak Nadhira di Ponpes, Marsya nggak mau sama yang lain Abah.'' jawab Alvy yang memangku Marsya.


"Ya sudah kalian istirahat dulu sudah malam.'' Ucap Abahnya Dayat.


Dayat mengangguk dan melangkah menuju kekamarnya.


🌺🌺🌺🌺


Pagi hari Dayat, Alvy, Marsya dan juga sang Abah sudah siap untuk mengunjungi sang Umi di rumah sakit,


setibanya di rumah sakit mereka ber empat langsung menuju ruangan di mana Umi nya di rawat.


"Assalamualaikum.'' Ucap Dayat membuka pintu ruangan tersebut.


"Waalaikum salam.'' jawab Hendri.


"Gimana keadaan Umi Dek?!'' tanya Dayat duduk di tempat Hendri, sedangkan Hendri berdiri.


"Sudah baikan kok Bang.'' Jawab Hendri di sebelah Dayat.


"Oia.. Nadhira kemana? kok nggak ada.'' Tanya Dayat ketika tidak melihat Nadhira.


"Och Nadhira ke kantin beli makanan, dari kemarin di suruh makan dianya nggak mau, semalam di beliin nggak di makan, jadi Hendri suruh ke kantin saja pagi ini, mungkin dia malu kali Bang kalau makan disini.'' Ucap Hendri panjang lebar.


"Och ya sudah kalau gitu.'' kata Dayat tenang.


"Oia Abah, Umi minta pulang katanya sudah nggak apa_apa.'' Hendri memberitahu pada Abahnya.


"Biarin saja Umi nya di sini dulu.'' jawabnya


"Assalamu'alaikum.'' Ucap Nadhira membuka pintu.

__ADS_1


"Waalaikum salam", jawab mereka hampir bersamaan.


Nadhira langsung mencium tangan Alvy, Dayat dan Abah nya Dayat.


sang Abah hanya diam kaku melihat Nadhira yang hampir mirip dengan almarhum putrinya.


"abah kenapa?'' Tanya Hendri panik.


"Abah nggak apa_apa, cuma kaget saja lihatnya.'' jawab Sang Abah.


"Nggak usah kaget, itu hal yang lumrah kok Abah.'' celetuk Hendri.


"Ya nggak nyangka saja bakalan ketemu lagi dengan putri Abah.'' ucap Abahnya secara spontan.


"Istigfar Abah, Nadhira bukan Nada.'' ucap Dayat mengingatkan orang tuanya.


Nadhira hanya diam tidak mengerti apa yang di omongin keluarga dari Ustadnya.


Nadhira pamit keluar bersama Marsya dalam gendongnya.


"Kakak Diyha kok ndak ikut Masya pulang kemalen.'' tanya Marsya memulai obrolan nya.


"Kakak lagi nemenin Mbah Uti nya Neng Marsya di sini.'' Sahut Nadhira


"Masya kesepian ndak ada kakak Diyha.'' Ucap Marsya manja.


"Kan masih ada Abi sama Uma yang nemenin neng Marsya.'' Jawabnya


Sedangkan di dalam ruang perawatan Umi Hendri, Abahnya dan juga Dayat lagi berdebat.


"Abah sudahlah, Dhira bukan Nada, ini hanya secara kebetulan saja, wajahnya saja yang sama Abah? Adek kita sudah berpulang ke rahmatullah, Adek kita sudah bahagia di alam sana Abah.'' Ucap Dayat mengingat kan Abahnya.


"Abah hanya ingin memeluknya saja, apa salah, Abah kangen sama almarhum adekmu Yat.'' Ucapnya sedih, Dayat memeluk Abahnya.


Flashback on


3 Tahun yang lalu Nada adek dari Dayat dan juga Hendri meninggal karna kecelakaan, kecelakaan ithu merenggut nyawa Nada sang Adik.


Pada hari itu Nada ngotot banget ingin pergi ke rumah teman-nya dengan mengendarai motornya sendiri, waktu itu sang Umi tidak mengijinkan Nada membawa motor sendiri. tapi Nada tetap kekeh pergi bawa motor.


Dalam perjalanan ke rumah temannya Nada mampir membeli sesuatu pesenan temannya.


Dan tanpa ia sadari ada mobil melaju dengan kecepatan tinggi, disaat Nada melangkahkan kakinya untuk menyebrang jalan, tanpa sengaja Nada tertabrak mobil tersebut.


tubuh Nada terpental jauh, dan na'asnya lagi Nada sudah tidak bisa tertolong lagi.


Abah dan juga Hendri sangat shok mendengar bahwa Nada mengalami kecelakaan.


mereka langsung menuju kerumah sakit tempat Nada berada.


Darah segar terus mengucur dari kepala Nada, sehingga membuat sang Abah dan Hendri histeris di tempat kejadian.


Sang Abah juga sempat pingsan beberapa kali melihat sang anak sudah tidak bernyawa lagi.


Sejak saat itu sang Abah dan Hendri tidak seceria waktu masih ada Nada, senyumannya menghilang. cuma sang Umi dan Dayat saja yang menerima kepergian sang putri dan sang Adek.


Dayat mencoba ikhlas melepas kepergian Nada sang Adek, mana mungkin Dayat bisa melupakan kenangannya bersama sang adik.


πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰


maaf kakak kalau ceritanya membosankan,


baru pertama nulisnya. πŸ™πŸ™

__ADS_1


makasich


__ADS_2