Cinta Nadhira

Cinta Nadhira
Bab 72 Teka teki inisial N


__ADS_3

Setelah menginap semalam orang tua Nadhira pamit untuk pulang ke rumahnya, Ayah serta ibu Nadhira mengendarai motor untuk menemui Nadhira di Surabaya, dengan perjalanan 5 jam lamanya.


Ayah Nadhira sering berhenti untuk sekedar beristirahat di tempat yang teduh dan hanya sekedar ngopi saja untuk menghilangkan rasa kantuk nya yang menderanya.


Sesekali Bu Susi menghela nafas karena yang menjadi beban fikiran nya sudah clear, dan puteri nya tidak menolak dengan perjodohan ini, namun Nadhira meminta syarat agar tak buru buru menikah saja.


Karena Nadhira sendiri masih berumur 16 tahun masak langsung nikah sich.


Saat ini Pak Arifin dan Bu Susi sedang berada di rumah saudara Umi Upik, karena pesan Umi Upik orang tua Nadhira di suruh mampir dan memberi tahu dia juga, kalau Nadhira akan bertunangan.


Saudara Umi Upik adalah seorang perwira tentara dan sangat sayang pada Nadhira.


Keluarga mereka sangat memanjakan Nadhira, kalau Nadhira sedang main ke rumahnya, jadi mau tak mau Umi Upik menyuruh orang tua Nadhira untuk membari tahunya.


''Ibunya Nadhira kah,'' tanya nya.


''I-iya,'' jawab Pak Arifin gugup


Dia tersenyum pada Bu Susi dan juga Pak Arifin seraya berkata, ''Umi Upik sudah memberi tahu semalam, kalau Nadhira akan bertunangan minggu depan,'' Ucapnya memulai pembicaraan nya.


''Iya Bu, maksud kedatangan kami ke sini untuk mengundang Ibu beserta Bapak ke acara pertunangan Nadhira,'' sahut Bu Susi sopan.


''Kami bakalan datang ke sana, karena kami juga ingin melihat calon tunangan Nadhira,'' gumam nya.


''Iya, kami akan sangat senang dengan kedatangan keluarga Ibu ke gubuk kami,'' jawab Bu Susi yang menyebut rumah nya sebagai gubuk.


''Tak apa, kami tak butuh rumah bagus, yang kami butuhkan hanyalah orang nya. Percuma punya rumah bagus kalau ada tamu malah kabur tidak menjamu tamu nya,'' Ujarnya di selingi tawa'an.


Tak lama kemudian Bu Susi dan Pak Arifin pamit undur diri setelah mereka mengobrol cukup lama dan menjelaskan tentang perjodohan puteri nya.

__ADS_1


Sedangkan di rumah Eza sedang sibuk mempersiapkan barang barang yang akan di bawa ke rumah Nadhira sebagai hadiah, bermacam-macam pernak pernik sudah di siapkan oleh Bu Yati dan juga Pak Andi.


Eza nampak tak bersemangat akhir akhir ini, menjelang acara pertunangan nya.


Sedangkan Adhi dan Marvel selalu meledek Eza yang emang belum tau yang di maksud keduanya.


''Semangat dong bro, yang mau tunangan malah nggak bersemangat githu,'' ledek Marvel.


''Aku nggak bisa semangat Vel, yang mau jadi tunangan ku saja aku belum tau siapa dia,'' Ucap nya lemas tak ada semangat sama sekali.


''Idich, kalau lho nggak mau ya sudah gue ambil saja boleh!'' tanya Marvel serius.


''Sudah Vel, jangan di dengerin omongan Eza, entar kalau dia sudah tau yang akan menjadi tunangan nya malah bucin parah, dan nggak mau di tinggal juga,'' Ujar Adhi menggoda teman sekaligus tetangga dekat nya.


''Kalau kalian tau siapa yang bakalan jadi tunangan aku, kasih tau dong jangan bikin aku penasaran kayak gini,'' sahut nya sambil memohon pada kedua nya agar mereka memberi tahu Eza.


''Sebentar lagi kok bro, lagian kenapa kamu harus penasaran sama thu gadis, kalau kalian saja sudah saling kenal dan juga kalian pernah jalan bareng,'' Ucap Adhi yang membuat Eza bsemakin bingung dan juga penasaran.


Eza langsung melemparkan botol minuman ke arah Marvel yang sudah mulai ngacir menghindari lemparan dari temannya.


Eza nampak lesu ketika melihat di dalam kamarnya terdapat banyak parcel yang sengaja di taruh di kamar Eza.


Sekilas Eza melihat isi dari parsel parsel tersebut, dan Eza mendengus ketika melihat ada sepasang cincin emas di antara parsel parsel yang ada di kamarnya.


Eza mengambil cincin tersebut dan di lihatnya cincin itu dengan saksama, karena cincin tersebut sudah di pesan Ibu nya jauh jauh hari.


Eza mengeluarkan salah satu cincin yang dia pegang, di dalam cincin ada inisial nama dari orang yang akan memakai nya.


''Huruf N dan yang satunya huruf E, siapa sebenarnya perempuan itu ya Allah,'' gumam nya menaruh kembali cincin yang dia pegang dan di letakkan nya kembali pada tempat semula.

__ADS_1


Eza lantas mengambil bantal dan lebih memilih tidur di lantai dengan karpet berbulu nya.


*-*-*-*-*-*-*-*-*


*Satu minggu kemudian*


Eza nampak sudah bersiap untuk menghadiri acara pertunangan nya dengan perempuan yang sudah di jodoh kan oleh sang Ayah.


Dan sampai sekarang Eza tidak tau menau siapa gadis yang akan menjadi tunangan nya sebentar lagi.


Dalam hitungan detik, Eza akan mempunyai seorang calon tunangan dan bahkan kelak dia akan menjadi istri nya.


''Sampai sekarang aku belum tau siapa gadis itu,'' gumam nya pelan sampai pintu kamarnya terbuka. Nampak Marvel, Adhi, Nathan, Teddy dan juga Rendy yang menerobos masuk ke dalam kamar Eza temannya.


''Santai saja bro, sebentar lagi lho bakalan bertemu dengan jodoh lho kok, dan nggak akan pernah menyesal,'' cakap Teddy gamblang semua temannya langsung memelototi Teddy takutnya semua yang di rahasiakan dari Eza akan terbongkar dengan siapa siapa, karena Eza sudah mengetahui nya terlebih dulu sebelum mereka semua mengejutkan temannya.


Kini Nadhira sudah berada di jalan, dan sebentar lagi bakalan sampai, Namun sang Umi meminta Hendri untuk menghampiri saudara Umi nya terlebih dahulu, agar mereka bisa berangkat bareng ke rumah Nadhira.


Nadhira sendiri nampak sangat gelisah di dalam duduk nya, Hendri mengerti apa yang membuat sang Adik menjadi gelisah seperti ini.


''Kamu tenang saja, kalau yang di ucap kan kemarin adalah benar, biar Mas yang akan ngasih tau pada mereka,'' Ucapnya pelan dan menepuk telapak tangan Nadhira sang Adik.


Nadhira hanya mengangguk pelan, tanpa menjawab ucapan Hendri, Nadhira lebih banyak diamnya dari pada dia berceloteh ria.


Mobil yang di tumpangi Nadhira dan keluarganya mulai melajukan kembali setelah menjemput keluarga yang lain


Paman Nadhira merasa begitu sedih, ketika tadi melihat wajah Nadhira yang muram, orang yang sangat menyayangi Nadhira adalah seorang perwira tentara, dia tak mau melihat gadis yang sudah ia anggap sebagai ponakannya sedih hanya gara-gara perjanjian konyol dari kedua belah pihak.


''Kenapa Umi harus ijinin Nadhira untuk menerima nya,'' tanya sang paman tadi sebelum mereka melajukan kendaraan nya.

__ADS_1


''Ini semua bukan hakku untuk mencegah Nadhira agar menolak permintaan kedua orang tuanya,'' jawabnya menjelaskan semua pada sang Adik.


BERSAMBUNG'''''''


__ADS_2