
Nadhira di bawa ke tempat di mana di sana sudah ada sepasang kursi, dengan background tembok yang di hias dengan di kasih nama inisial dari Nadhira dan juga Eza.
Nadhira di duduk kan di kursi yang sudah di sediakan untuk nya, dan tak lama Eza juga di gandeng oleh sang Ibunda menuju ke sisi Nadhira, Eza di duduk kan di dekat Nadhira.
''Astaghfirullah hal adzim, jadi... yang akan menjadi tunangan aku kak Eza,'' Bhatin Nadhira dalam keterkejutan nya.
Hendri juga terkejut dan tak menyangka kalau yang akan menjadi tunangan Adik nya adalah Eza, teman dari teman Mas Herman. ''Ternyata dunia ini sempit banget ya,'' Gumam Hendri yang di dengar oleh sang paman.
''Maksud kamu apa Hendri?'' tanya sang Paman penasaran.
''Ya, bukan maksud apa apa sich paman, tapi yang akan jadi tunangan Adik sebentar lagi, adalah orang yang sudah sangat lama mengincar Adik untuk di jadikan kekasih nya,'' jawab Hendri seraya tersenyum.
Sang paman mengangguk, mengerti ucapan dari ponakan nya seraya berkata, ''Baguslah kalau orang yang jadi tunangan nya adalah seorang yang sangat sayang pada Nadhira, jadi paman tak perlu khawatir lagi,'' jawab sang Paman merasa tenang sekaligus lega melepas Nadhira pada seorang laki-laki yang bener bener sayang padanya.
Acara tukar cincin pun di mulai, Eza memegang tangan Nadhira yang begitu lembut, dan Eza pun mulai memasangkan cincin ke jari manis nya, begitu juga sebaliknya, Nadhira juga memasangkan cincin pada jari manis Eza.
Nadhira memaksakan senyuman nya agar terlihat senang di mata orang. Nadhira mencium tangan Eza, dan Eza juga mencium kening Nadhira, nampak semua tamu bertepuk tangan bahagia.
Acara tukar cincin pun selesai di lanjutkan dengan acara foto foto, sebagai kenang kenangan di kemudian hari.
Eza terus menyunggingkan senyuman nya di bibir tebal nya.
''Selamat ya sayang, kamu sekarang sudah ada seseorang yang akan jaga'in kamu,'' tutur sang Paman lembut seraya memeluk Nadhira yang sudah ia anggap Puteri nya sendiri, karena anak dari sang Paman dari Hendri semuanya laki-laki.
Nadhira mengangguk, ''Makasih Paman,'' sahut Nadhira masih dengan senyuman palsu nya, karena Nadhira sendiri tak menginginkan pertunangan ini terjadi, karena menurut Nadhira dia nggak bakalan bisa bebas seperti teman teman yang lain, ketika dia sudah mempuyai seorang laki-laki yang sudah mengikat nya.
''Paman titip Puteri Paman, jangan pernah sakiti dia karena dia adalah satu satunya Puteri perempuan Paman,'' Ucap nya dengan tegas sembari menepuk bahu Eza pelan.
__ADS_1
Eza mengangguk seraya berkata, ''Baik Paman, Eza akan menjaga Nadhira dengan baik,'' jawab nya penuh keyakinan.
Setelah selesai sang Paman menghampiri istri nya yang sedang mengobrol dengan keluarga Eza dan juga keluarga dari Nadhira sendiri.
Bu Susi nampak tersenyum melihat kedatangan Paman dari Hendri.
Pak Arifin dan pak Andi menghampiri nya dan berjabat tangan.
''Makasih Bapak sudah menyempatkan untuk datang kemari,'' Ucap Pak Arifin sopan.
''Iya Pak, saya langsung meminta ijin pada atasan setelah mendengar puteri ku tersayang akan bertunangan,'' jawab nya tersenyum.
Ayah Eza mengajak Paman Hendri keruang tamu untuk menikmati hidangan yang sudah tersaji.
Sedangkan Eza dan juga Nadhira nampak mengobrol di tempat yang tadi.
''Ternyata yang di jodohkan untuk ku adalah Adik Nadhira,'' kata Eza memulai pembicaraan nya agar menghilang kan rasa canggung nya.
''Apa Adik Nadhira tidak senang dengan perjodohan ini,'' Tanya Eza sedih, karena melihat Nadhira yang tidak merasa senang.
''Nadhira bukannya tidak senang kak, tapi Nadhira masih ingin melanjutkan sekolah Nadhira dulu, Nadhira tak mau buru buru menikah,'' gumam nya, ******* ***** ujung hijabnya
''Adik tidak usah khawatir dengan itu, aku juga tidak mau buru buru menikah, lagian aku juga belum punya pekerjaan tetap, bagaimana bisa memikirkan menikah secepat itu,'' sahut nya pelan.
-''Tak apa apa walau harus menunggu kamu lama Dik, asal sudah ada ikatan seperti ini saja, aku sudah sangat senang,'' bhatin Eza.
''Makasih kak, mau mengerti keadaan Nadhira,'' ucapnya mengangkat kepala nya seraya tersenyum menatap Eza yang ada di samping nya.
__ADS_1
Jam 7 malam semua keluarga dari Eza sudah pulang, hanya tersisa keluarga Hendri dan juga Paman nya yang belum pulang, karena masih menunggu Nadhira yang masih kangen kangenan dengan semua keluarga nya, sebelum dia balik lagi ke rumah Umi Upik.
Setelah puas acara kangen kangenan nya, Nadhira berpamitan dengan kedua oy tua nya dan juga pada sang Abang.
''Nadhira balik dulu ya Mas, jagain Ibu dan Bapak untuk Nadhira,'' pesan Nadhira pada sang Abang.
''Iya, Mas akan ngejagain Ibu dan juga Bapak disini, kamu yang rajin sekolah nya Ok,'' jawab Herman memeluk sang Adik yang mulai meneteskan air matanya.
''Jangan nangis githu dong, masak sudah cantik gini masih nangis saja, entar yang ada cantik nya ilang lho,'' Ujar Herman sediky meledek sang Adik.
''Ich, Mas Herman apa'an sich nggak lucu tau nggak,'' seru Nadhira mencubit pinggang sang Abang.
''Aduch,'' Herman mengeluh kesakitan sembari mengelus elus yang di cubit Nadhira sang Adik.
''Rasain, lagian Mas Herman ledekin Nadhira sich, kesel dech jadinya,'' ucapnya cemberut, lalu menghampiri sang Ibu yang sedang mengobrol dengan Umi Upik di dekat mobilnya. Dengan mengangkat sebagian gamisnya ia menghampiri Umi beserta sang Ibu.
''Sudah selesai,'' tanya Hendri tiba-tiba dari dalam mobil nya.
''Mas Hendri ngagetin Nadhira saja, emang ya semua cowok nyebelin,'' Ucap nya menghentak kan kakinya.
''Ibu, Nadhira pamit ya, sehat sehat di rumah,'' kata Nadhira menghambur pada sang Ibu.
''Iya, kamu juga baik baik di sana ya ndok?'' jawab sang Bunda mengelus elus pundak sang Puteri.
''Assalamu'alaikum,'' Ucap Nadhira setelah melepaskan pelukan nya dengan sang Bunda.
''Waalaikum salam,'' jawab sang Bunda melambaikan tangan nya ketika mobil yang Nadhira tumpangi mulai melaju meninggal kan halaman rumah nya.
__ADS_1
Setelah mobil tak nampak lagi sang Bunda bergegas masuk ke dalam rumah nya, karena di dalam sana masih banyak sanak saudara nya yang belum pulang dari rumah Nadhira. Mereka memilih menginap di sana karena lumayan jauh jarak rumahnya dari rumah Nadhira sekaligus silaturahmi karena sudah lama juga mereka nggak bertemu karena sanak saudara dari Ibu Nadhira merantau di kota seberang, jadi inilah momentum yang baik untuk melepaskan rasa rindu nya selama ini.
BERSAMBUNG