
Hendri pamit pada orang tuanya untuk menjenguk Nadhira di pesantren Abangnya, orang tua Hendri mengiyakan Hendri untuk menjenguk putri angkatnya.
Pagi pagi sekali, Hendri membawa mobilnya membelah jalanan Surabaya yang masih lumayan sepi diwaktu subuh.
Hendri mulai menaikkan laju kecepatannya saat melewati jalan Tol untuk mempersingkat perjalanan nya.
Tak butuh waktu lama, kini Hendri sudah tiba di halaman Pondok Pesantren yang Abangnya tempati.
Nadhira yang melihat mobil Hendri berhenti, ia lantas menghampiri Hendri sang kakak angkat dengan menggendong Marsya ponakan Hendri, tapi menurut Alvy Marsya juga ponakan Nadhira.
Hendri mengambil alih gendongan Marsya, dan bertanya.
''Ngapain di halaman luar Dek?'' tanya Hendri merangkul Nadhira untuk di bawa ke dalam rumah Abangnya.
''Masya yang minta kak Diyha Om?'' celoteh Marsya, Hendri yang gemas langsung mencubit pipi chubby sang ponakan.
''Takit Om? Om Endi nakal banget cih cama Masya, kecel deh.'' Gumam Marsya, Nadhira dan Hendri tertawa mendengar ucapan Marsya barusan.
''Sakit Sya, bukan takit, emang Marsya dapat dari mana kata kata seperti itu sich?!'' tanya Hendri pada sang ponakan.
''Ya Masya tau dirilah Om, bukan tau dalu capa capa?'' Ujar Marsya melipat tangan di dadanya.
Hendri mengacak-acak rambut Marsya, Marsya yang kesal dengan kelakuan Om nya hanya mengadu pada sang Abinya.
''Abi? Om Endi nakal, pipi Masya di cubitin terus.'' Ucap manja Marsya dengan cadel nya.
''Nanti Abi hukum Om Hendri ya, sekarang Marsya sama kak Dhira dulu ya.'' Sahut Dayat menyuruh Marsya menghampiri Nadhira yang ada di dapur.
Yusro dan Nadhira lagi asik ngobrol tidak tau kedatangan Marsya, mereka berdua mengobrol sambil menunggu air mendidih, untuk bikin teh buat Hendri dan juga Dayat sang Ustadz.
''Kakak kakak, Masya ada di cini?'' Ujar Marsya menarik narik gamis Nadhira.
__ADS_1
''Ech neng Marsya, kak Dhira nggak lihat neng Marsya, sumpah?'' ucap Nadhira menunjukkan 2 jarinyaβ.
''Ngoblol terus jadi Masya ada di cini ndak tau!'' sahut Marsya cemberut.
''Ya sudah Adek bawa neng Marsya ke dalam dulu, biar aku yang bikin tehnya Dek?'' Ucap Yusro menyuruh Nadhira membawa Marsya menemui Uma dan juga Abinya.
Nadhira mengangguk dan masuk ke dalam menghampiri Hendri,Alvy dan juga Dayat yang sedang bercengkrama dengan di iringi senda gurauan, menghilangkan rasa kangen karena sang Adek yang jauh berada bersama orang tuanya.
Nadhira mendudukkan Marsya didekat Alvy, Umanya Marsya.
''Duduklah Ra?'' Ucap Dayat ketika Nadhira mau undur diri kembali ke Asrama putri.
Nadhira yang patuh langsung saja mendudukkan diri di dekat Hendri sang kakak angkat.
''Gimana sudah siap untuk meninggalkan Nadhira cs sekarang.'' Tanya Dayat memulai pembicaraan nya.
''Insya Allah siap Ustadz?'' jawab Nadhira lembut sembari mengangguk.
''Kok Abang ngomong kayak githu sama Dek Nadhira sich! nyebelin banget.'' Tukas Hendri kesal karena menurut dia Abang nya menjelek jelekkan dirinya pada Nadhira.
''Emang itu kenyataan nya kan Hen, Abah selalu mengeluh karena kamu sering pergi sama teman temanmu, entah pergi ke mana Abah sama Umi juga nggak tau, masih mau ngelak juga?!'' Gumam Dayat, Hendri hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu pada Nadhira dan juga Alvy sang kakak ipar.
''Kalau kamu masih pergi pergi nggak jelas sama teman kamu, Abang nggak akan bolehin Nadhira untuk tinggal di rumah, yang hanya akan menjadi satpam dan pengasuh Umi saja!'' tukas Dayat tegas pada Adik bungsu nya, setelah kematian Nada Hendri lah yang menjadi saudara bungsu nya, karena orang tuanya tak mungkin punya anak lagi karena faktor usia dan juga sudah malu karena sudah menjadi nenek buat Marsya.
''Iya iya, Hendri janji nggak bakalan kelayapan lagi, tapi Adik Nadhira tetap ikut ke rumah, di rumah sepi tau nggak Bang, nggak kayak di sini rame walaupun bising namun ada kegembiraan sendiri.'' tukas Hendri membela diri.
''Ujian sekolah sudah selesai tinggal nunggu pengumuman kelulusan nya saja, Nadhira beneran mau pulang ke rumah nya liburan besok.'' Tanya Dayat yang di angguki oleh Nadhira.
''Ya jelas pulang ke rumah nya lah Bi, masukan sekolah baru Nadhira akan tinggal bersama Umi dan juga Abah di Surabaya.'' sahut Alvy menjelaskan pada suaminya kalau Nadhira bakalan pulang ke rumahnya liburan besok.
''Benar begitu Nadhira.'' Tanya Dayat memandang Nadhira, Nadhira yang di pandang memilih menundukkan kepalanya dari pada bertatap muka langsung dengan Ustadz nya, walaupun sudah menjadi kakak angkat nya, namun Nadhira masih merasa malu jika harus berhadapan dengan Ustadz satu ini.
__ADS_1
''Benar Ustadz,Nadhira sudah kangen sama orang tua Nadhira dan Abang Nadhira.'' sahut Nadhira masih menundukkan kepalanya.
''Ya sudah, kalau begitu kamu boleh pulang besok, gimana?'' Gumam Dayat.
''Biar Hendri saja yang mengantarkan Adek ke rumahnya besok Bang.'' Pintar Hendri, Dayat langsung mengangguk permintaan sang Adek.
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
Keesokan harinya Hendri mengantarkan Nadhira pulang ke rumahnya pada Sore hari, Nadhira sendiri sudah memberi tahu Herman Abang nya kalau ia akan pulang pada sore hari.
Di rumah Herman teman temannya sudah berkumpul untuk menyambut kedatangan Nadhira, terutama Eza dia sudah tak sabar ingin melihat wajah gadis pujaan nya.
Hari ini benar-benar bahagia untuk semua orang yang ada di rumah Herman.
Semua yang di bicarakan kemarin ia lakukan deng sungguh sungguh, hanya karena akan kedatangan Nadhira yang akan pulang dari Pondok Pesantren nya untuk liburan, sebenarnya belum liburan Pondok Pesantren, namun Dayat dan juga Alvy mengijinkan Nadhira pulang cepat, agar rasa kangen Nadhira cepat terobati dengan lama tinggal bersama orang tua dan juga Herman Abang nya.
Sepanjang perjalanan Nadhira selalu menyunggingkan senyum nyanya, Hendri sesekali melirik ke arah Nadhira yang sedang tersenyum.
''Kayaknya senang banget.'' Tanya Hendri sekilas melirik Nadhira dan kembali fokus melihat ke depan.
''Ya senang saja kak, mungkin karena sudah lama tak bertemu Ibu dan Ayah juga kak.'' Gumam Nadhira tersenyum.
''Kalau kamu senang, kakak juga senang kok Dek? kakak harap kamu juga betah di rumah kakak besok kalau sudah pulang ke Surabaya.'' Sahut Hendri.
Nadhira tersenyum dan berkata, ''Insya Allah ya kak, do'ain yang terbaik saja untuk Nadhira.'' tukas Nadhira memainkan tali tas kecil nya.
''Pasti, kakak akan selalu berdoa untuk kamu Adikku tersayang?!'' Ujar Hendri mencubit pipi tembem Nadhira.
Nadhira hanya mendengus kesal karena di cubit oleh Hendri, kakak sambungnya.
ππππ
__ADS_1
Jangan bosan baca Karya receh ku ya kak, makasih yang sudah mampir πππππππ