Cinta Nadhira

Cinta Nadhira
Bab 55 Penyesalan Maya


__ADS_3

Hendri menghampiri Nadhira di kamar nya, pintu kamar di buka dengan pelan agar tidak mengganggu sang Adik.


Nadhira menatap ke arah pintu yang di buka, Nadhira menyunggingkan senyuman manisnya pada Hendri Abang nya. Walau masih terasa nyeri di bagian bibir nya yang terluka.


Hendri berjalan menuju tempat tidur Nadhira, duduk di pinggir ranjang sang Adik seraya bertanya.


''Gimana keadaan mu sekarang Dek? tanya lembut Hendri.


''Nadhira nggak apa apa kok Mas?'' jawabnya lembut dan mencoba tersenyum.


Hendri menatap wajah sang Adik lekat lekat, wajah yang begitu cantik.


''Maafkan Mas Hendri ya, Mas tak bisa melindungi kamu.'' tutur Hendri dengan nada sedih.


''Ini bukan salah Mas Hendri kok, ini salah cewek crazy itu yang tiba-tiba menampar Nadhira begitu saja.'' Ucap Nadhira kesal mengingat kejadian kemarin yang menimpa nya.


''Aku juga salah sich, nggak bisa balas perbuatan dia ke aku.'' Gumam nya lagi.


Hendri mengelus puncak kepala Nadhira dan berkata. ''Kamu jangan khawatir, cewek crazy nya sudah mendapatkan hukuman dari pihak sekolah, tapi kalau sampai kejadian kayak gini terulang kembali Mas Hendri pastikan dia akan menyesal seumur hidup!!'' Ucapnya geram.


''Jangan aneh anech dech Mas?'' Ujar Nadhira menenangkan emosi Hendri yang mulai membuncah di ubun ubunnya.


Hendri mengobrol sampai lupa waktu kalau Nadhira butuh istirahat yang cukup.


Adzan Ashar sudah mulai berkumandang di setiap Masjid dan Musholla sekitar rumah Hendri. Umat muslim mulai mendatangi Masjid dan juga Musholla untuk melaksanakan sholat jamaah bersama.


Umi Upik menghampiri puteri dan juga puteranya di kamar Nadhira.


Sekilas Umi Upik mendengar tawaan dari keduanya, sampai sampai sang Umi di bikin penasaran, Umi Upik langsung mendorong pintu kamar puteri nya.


Nadhira dan Hendri menatap langsung ke arah pintu yang di dorong.


''Umi kok nggak ngetuk pintu dulu sich.'' Ujar Hendri bercanda.


''Berani sama Umi ya.'' Sahut Umi Upik menjewer telinga puteranya.


''ich sakit Umi?'' Ringis Hendri memegang telinganya yang habis di jewer.


''Lagian kamu nggak sopan banget sama Umi?!'' cetus Umi Upik.


''Ya kan Hendri niru Umi?'' jawab Hendri cengengesan.

__ADS_1


''Ada apa Umi?'' tanya lembut Nadhira mengalihkan perhatian nya.


''Nggak ada apa apa kok, Umi cuma lihat keadaan kamu saja, gimana sekarang?!'' Jawab Umi Upik.


''Alhamdulillah sudah baikan Umi? kalau boleh besok Nadhira pengen masuk sekolah.'' tuturnya dengan nada sedih.


''Jangan besok dech Dek?'' Ujar Hendri.


''Nadhira sudah sembuh kok Mas.'' Rengek Putri pada sang Abang.


''Pokok nya nggak boleh, ya nggak boleh!!'' tukas Hendri dengan nada tinggi.


Umi Upik memandang putera nya, ''Nggak boleh ngomong githu!'' Ucap nya pada sang Putera.


''Lagian Adek ngeyel banget Umi?'' Sahut Hendri menatap Umi nya dan juga Nadhira


Nadhira cemberut dan membaringkan tubuh nya ke kasur, dia pun menutupi semua tubuh nya dengan sebuah selimut yang lumayan tebal.


Umi Upik mengangkat dagunya pada sang Putera, sedangkan Hendri hanya bisa mengangkat bahunya.


''Ya sudah kita keluar saja, biar Adekmu istirahat di sini.'' ajak Umi Upik, Hendri mengikuti sang Umi nya keluar dari kamar Nadhira.


''Mungkin yang di katakan Umi ada benernya.'' Bisik Hendri sambil terus melangkah, dan menutup pintu kamar sang Adik dengan perlahan.


''Kenapa sich aku harus menerima tamparan dari orang gila kayak senior itu, kenal juga nggak? malah mendapatkan gajian tamparan!'' Gumam Nadhira kesal mengingat dia di tampar berulang kali.


''Awas saja, kalau Mas Hendri beneran pacaran sama cewek crazy itu, Aku unyel unyel tu cewek biar mampus!!'' Geram Nadhira di atas kasur nya.


*-*-*-*-*-*-*-*-*-*


Di tempat lain, Maya mendapatkan hukuman dari orang tuanya.


Maya selama satu minggu tidak di perbolehkan untuk keluar rumah, dan selama satu minggu itu juga Maya di skors pihak sekolah nya, gara-gara kesalahan yang ia perbuat pada adik kelasnya.


Maya menggerutu atas sikap Ayah beserta Ibu nya, yang semena mena menghukum nya di dalam rumah.


Maya yang setiap harinya selalu keluar masuk Mall, kini dia hanya bolak balik dalam rumahnya saja, kesal pasti tapi itulah hukuman dari Ayah dan Ibu Maya.


orang tuanya tidak mendidik Maya buat menjadi orang perusuh di sekolah nya, tapi itu semua tergantung dari pergaulan dan juga pertemanan nya, yang suka urakan.


Maya mengacak-acak rambut nya seraya bergumam. ''Kenapa aku nggak dengerin perkataan Arini kemarin, dekat belum tentu pacaran kan.''

__ADS_1


''Huch!!'' desis Maya menyesali perbuatan nya.


''Kalau sudah kayak gini, mana mau Hendri sama cewek brutal kayak gue.'' Ucap Maya pelan.


Pulang sekolah Arini mendatangi rumah Maya sepupu nya. Dengan mengendarai motor bututnya yang selalu menemani hari harinya, untuk menuju ke sekolah maupun ke tempat kerjanya.


Arini memarkirkan motor nya di halaman rumah Maya, Arini membuka helm nya dan melangkah ke rumah Maya yang di sana sudah ada Om beserta tantenya yang lgi duduk santai di teras rumahnya.


''Assalamu'alaikum, sore Om, tante.'' Ucap Arini sopan pada orang tua Maya.


''Waalaikum salam, sore juga Rini.'' jawab Papi Maya.


Arini mencium tangan Om dan tantenya dan bertanya.


''Maaf Om, Maya ada?'' tanya Arini pelan.


''Masuk saja, Maya ada di kamar nya kok Rin?'' jawab mama Maya lembut.


''Ya sudah, Arini mau menghampiri Maya dulu tante?'' pamit Arini pada kedua Om dan tante nya.


Mama Maya mengangguk, Arini pun berlalu menuju ke kamar sang sepupu yang sedang mendapatkan hukuman dari papa mama nya.


Tok tok tok.


Arini mengetuk kamar Maya.


''Siapa?'' tanya Maya malas.


''Ini aku Maya?!'' jawab Arini dari luar kamar Maya.


Dengan malas Maya melangkah membuka pintu kamar nya yang ia kunci, karena sang mama hanya berceramah setiap masuk ke kamar nya.


''Nggak kerja.'' tanya Maya setelah membuka pintu nya.


''Kerja, shift malam.'' jawab Arini masuk ke dalam sebelum sepupu nya menyuruh dia masuk.


''Och? ada apa kesini.'' tanya Maya melipat kedua tangannya dan menaruh di dada sambil menyandarkan tubuh nya ke pintu kamar nya.


''Ya nengokin sepupu akulah, lagian kamu juga bikin gara-gara di sekolah.'' jawab Arini sarkas.


''Aku kan sudah memperingatkan kamu kemarin, tapi kamu malah mengikuti perkataan si Vina itu kan?!'' Tukas Arini menjelaskan pada sepupu nya.

__ADS_1


''Iya juga sich, semua salahku. Aku selalu gegabah membuat keputusan dan selalu mendengar kan perkataan Vina, gue bener bener nyesel Rin.'' Sahut Maya menyesali perbuatannya.


Makasih buat yang sudah mau mampir di karya receh ku iniπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2