
Bu Siti memaksa Nadhira untuk menerima buah tersebut.
Nadhira melirik Abang nya lalu menatap Bu Siti seraya berkata. ''Ini kebanyakan Bu, Nadhira nggak bisa menerima nya,'' tuturnya lembut dan begitu sopan.
Bu Siti berujar, ''Terima saja Neng, sebagai ucapan terima kasih ku pada Neng Nadhira, karena sudah mengajari gembul ku dengan sangat telaten, sampai akhirnya dia menjadi peringkat ke 4 kemarin,'' ucap nya senang.
Nadhira terpaksa menerima pemberian Bu Siti, ''Terima kasih lho Bu, sudah beliin Nadhira buah, mana banyak banget lagi,'' tutur Nadhira sembari tersenyum.
''Ya sudah, kalau githu Nadhira pamit dulu Bu, Ibu Ibu lanjutin saja belanja nya, Nadhira mau pulang menghabiskan buah buah ini,'' Seru Nadhira menutupi mulut nya karena tertawa, mentertawakan dirinya karena sudah bersikap konyol.
''Nadhira pamit ya Ibu Ibu tersayang, Assalamu'alaikum,'' Ucap Nadhira melangkah kan kakinya menuju ke rumahnya karena sudah merasa capek.
''Waalaikum salam,'' Jawab Ibu Ibu komplek hampir bersama'an.
''Neng Nadhira sudah cantik, sopan, pintar pula dalam mendidik anak anak kecil,'' Seru salah satu Ibu komplek yang anaknya juga ikut Les pada Nadhira.
''Iya Bu, Gembul saja nakalnya minta ampun, dikit-dikit dapat panggilan dari wali kelasnya, tapi kemarin dia mendapatkan pujian dari Guru Guru lainnya, dan bikin aku kaget sekaligus senang karena dia sekarang peringkat ke 4 di kelas nya,'' Ucap Bu Siti dengan penuh semangat.
''Kok Gembul sich Bu, bukannya Geby ya,'' ucap Abang tukang sayur yang mengetahui nama anaknya Ibu Siti.
''Itu panggilan sayang dari Neng Nadhira Bang,'' celetuk Ibu yang lagi memegang sayur bayam dan beberapa bumbu di tangannya.
''Anakku juga dapat panggilan khusus, ada yang di panggil Kof, Moza, Centil, Centini, cantik juga ada,'' seloroh Ibu Ibu itu.
''Anakmu dapat panggilan apa?'' Tanya Bu Siti penasaran.
''Gemoy, kata Celine waktu di tanya Gemoy thu apa, jawabnya gemuk namun lincah,'' Jelasnya.
''Nama nama itu kan mudah di ingat Bu,'' cakap Abang sayur.
__ADS_1
''Anakku masih kecil, kalau sudah besar aku bakalan anterin dia untuk Les di mari,'' Ujar nya.
''Sudah ach Bang, ini berapa semua nya,'' tanya Ibu Gemoy.
''Lima belas ribu Bu,'' jawabnya.
Ibu Gemoy membayar dengan uang pas dan langsung pamit pada Ibu Ibu rumpi di komplek nya.
''Ibu Ibu, saya duluan ya Bu? takutnya Gemoy bangun dan nyariin ibunya yang montok ini,'' pamit nya sembari berceloteh hal hal konyol.
Semua nya mengangguk dan satu persatu mulai meninggalkan Abang sayur.
''Punyaku semua nya berapa Bang?'' tanya Bu Siti.
''Buahnya tadi kelengkeng sama Apel, kelengkeng nya 3 bungkus dan Apel nya 2 bungkus,'' jelasnya.
''Semuanya delapan puluh lima ribu Bu,'' Ucap Abang sayur nya.
Abang sayur melanjutkan perjalanan nya untuk menjajakan sayur sayuran nya yang tinggal sedikit lagi.
Abang sayur tak henti henti nya berteriak. ''Sayur... sayur??''
''Ayo Bu sayur nya sudah datang minta di kukus dan di bikin kuah juga,'' Seru Abang sayur memanggil para pembeli nya.
''Yur.... Sayur??'' Teriak nya lagi karena sebagian rumah sudah sepi di tinggal penghuninya untuk melewati hari minggu nya bersama keluarga tercinta.
Hari minggu tak banyak para Ibu Ibu berbelanja, karena mereka akan mendatangi Mall, Mall untuk berbelanja mingguan sekaligus makan di luar.
*-*-*-*-*-*-*-*-*
__ADS_1
Di tempat lain Pak Andi memanggil Eza Putera nya ke ruang tamu, sang Ayah ingin membicarakan masalah tentang perjodohan nya dengan seorang gadis, namun sang Ayah tidak memberi tahukan nama gadis tersebut, yang membuat Eza kesal dan marah.
''Ayah Eza tidak mau di jodohkan, apalagi ini dengan gadis yang Eza tak kenal. Ayah!! jaman sekarang sudah tak ada lagi kata di jodohkan oleh orang tuanya, lagian Eza masih sekolah dan sekarang Ayah mau menjodohkan Eza dengan seorang gadis, anaknya teman Ayah?'' Sungut Eza.
Pak Andi hanya terdiam mendengar kan ucapan demi ucapan yang di lontarkan Putera nya, dalam artian Pak Andi sudah memaksa anaknya untuk kepentingan dirinya sendiri.
''Eza, ini akan menjadi yang terbaik buat kamu di masa depan, Ayah cuma mau yang terbaik untuk Putera Ayah,'' Ujar Pak Andi pelan, mencoba menurunkan ego tuanya.
''Coba pikirkan sekali lagi, kalau kamu setuju Ayah akan melamar nya untuk mu, gadis ini tak hanya cantik, namun dia juga pintar dan juga sopan,'' imbuh Pak Andi.
''Satu lagi, Adhi mengenal gadis tersebut karena Ayah melihat gadis itu foto bareng dengan Adhi,'' tuturnya.
Eza memeras otaknya saat sang Ayah bilang kalau Adhi kenal cewek yang akan menjadi istri nya kelak, ''Namun siapa gadis itu, aku tak mengenalinya siapa dia sebenarnya,'' Gumam nya pelan sehingga Pak Andi tak mendengar gumaman Eza.
Eza menghela nafas panjang agar emosi nya stabil, Eza beranjak dari duduk nya meninggalkan Pak Andi seorang diri di ruang tamu.
Bu Yati menghampiri Putera nya di dalam kamar, Bu Yati mengajak Putera nya mengobrol dengan pelan, agar Putera nya memahami keinginan Pak Andi Ayah-nya.
Tak ada Ayah yang akan membawa Putera nya dalam kesusahan.
''Lhe, coba di pikir pikir lagi apa yang di omongin Ayahnya barusan, Ibu dan juga Ayah mu tidak akan memaksa kalau kamu tidak mau, Ibu hanya mau yang terbaik buat masa depan kamu itu saja kok,'' Ucap Bu Yati pelan seraya mengelus punggung Eza Putera nya.
''Tapi Bu, kenapa harus ada perjanjian konyol seperti itu sich, yang berdampak pada Putera nya yang tak tau menau tentang masalah perjanjian tersebut.'' Tukas Eza dengan nada amarah.
''Kalau kamu menyetujui nya, minggu depan kita bakalan ke sana lagi, pikirkan baik baik, karena Ibu dan Ayah tak akan memaksa kamu untuk menyetujui perjanjian yang Ayahmu ucap kan semasa mudanya dulu.'' Jelas Bu Yati dan pergi meninggalkan Eza sendiri di kamar nya.
Eza mengambil foto yang ber bingkai di laci mejanya, di pandangi wajah cantik Nadhira yang tersenyum tanpa ada rasa beban sama sekali.
''Nadhira, mungkin kamu bukan jodoh aku yang di takdir kan oleh Allah untuk ku, namun aku mau kamu yang menjadi istri dan Ibu dari anak anakku kelak, menjalani masa tua bareng,'' Gumam nya mengelus foto Nadhira.
__ADS_1
''Apa yang harus aku lakukan sekarang?'' lirih nya, membaringkan tubuh lelah nya di atas kasur dengan masih memegang bingkai foto Nadhira, tak terasa Eza pun terlelap dalam tidur nya.
BERSAMBUNG