Cinta Nadhira

Cinta Nadhira
Bab 47 Kesedihan Asrama kenanga


__ADS_3

Setelah pengumuman kelulusan, Nadhira mulai membereskan pakaian nya, beserta kitab-kitab yang selalu ia pelajari selama berada di Pondok Pesantren.


Rasa sedih mulai menyelimuti perasaan Nadhira, rasa tak rela untuk meninggalkan semua teman temannya yang sudah baik padanya selama berada di sana, tak ada sedikit orang pun yang membully atau perasaan iri padanya.


Bahkan semua Santri di sana sudah mengetahui kalau Nadhira di angkat anak oleh orang tua Ustadz nya, semuanya tetap baik pada Nadhira.


Nadhira menghembuskan nafasnya dengan kasar, ''Sebenarnya Nadhira masih betah berada di sini, ya Allah berikan petunjuk terbaikmu pada hamba kalau pilihan ini sudah tepat.'' Gumam Nadhira pelan, Nadhira memejamkan matanya sejenak, dan di samping nya sudah ada Yuli dan juga Santi, mereka berdua mendengar gumaman Nadhira barusan.


Yuli dan juga Santi tak menyangka kalau selama ini mereka dekat dengan Adik Ustad nya, ya Santi dan Yuli baru seminggu mengetahui perihal Nadhira di angkat sebagai anak oleh mertua Alvy sang neng. Mulai tahun lalu Yuli sudah punya pikiran yang tidak tidak pada Nadhira teman Asrama nya, namun Yuli tidak mengungkit kedekatan Nadhira bersama sang Ustad dan juga Adiknya.


Kini semua Santri sudah mengetahui, jikalau Nadhira adalah Adik Dayat Ustad nya.


''Jangan lupakan kita di sini ya.'' Tutur Santi yang di angguki oleh Nadhira.


''Nadhira nggak bakalan lupa sama kalian semua, kakak sudah baik sama Nadhira selama ini, jadi mana mungkin Nadhira melupakan kalian.'' Tukas Nadhira dengan nada sedih, mata Nadhira mulai berkaca kaca mengingat setiap hari selalu bersama sama.


Tak lama setelah itu Abah Rahman beserta istrinya dan juga Hendri sudah tiba di halaman Pondok Pesantren putra, Santri putri yang melihat kedatangan Orang tua Ustad nya sudah tiba, dia lantas berlari memberi tau pada Nadhira yang lagi asik berpelukan dengan semua teman Asrama nya.


''Nadhira, orang tua Ustad sudah ada di depan, secepat itukah kamu akan meninggalkan kami semua.'' Ujar santri yang lari tadi.


Nadhira mengumbar senyum manisnya pada semua orang yang ada di dalam Asrama nya, Nadhira mencoba untuk tegar menjelaskan kepada semua teman temannya.


''Nadhira akan sering main kesini kok kak, masih boleh kan Nadhira main di Pesantren ini.'' Tukas Nadhira tersenyum, namun hatinya seperti teriris sembilu.


''Ya tentu boleh dong?'' ucap mereka hampir bersamaan dan tertawa karena mengucapkan kata-kata yang sama.


Alvy menghampiri Nadhira di lantai atas karena Asrama Nadhira ada di lantai dua.


Alvy menapaki kakinya di tangga, langkah demi langkah ia berjalan untuk sampai di Asrama Nadhira.

__ADS_1


Santri yang berpapasan dengan Alvy menundukkan kepalanya, dan memberi salam pada setiap Santrinya yang ia temui di lantai atas.


''Nadhira.'' Panggil Alvy, semua mata memandang ke arah pintu di sana sudah ada sang neng yang memanggil Nadhira.


''Sudah siap?'' Tanya Alvy yang di angguki oleh Nadhira, semua santri yang ada di sana mencium tangan sang neng, karena jarang jarang sang neng mau masuk ke Asrama nya.


''Kalau sudah kita turun, Abah sama Umi sudah menunggu kamu di rumah?'' Ujar Alvy lembut.


''Iya neng? sebentar lagi Nadhira akan menemui Abah dan juga Umi di bawah.'' jawab Nadhira tak kalah lembut dari Alvy istri Ustad nya.


Alvy keluar dari Asrama Nadhira, dia turun dan langsung menemui Mertua nya.


''Bagaimana, Nadhira sudah siap?'' tanya Umi Rahman pada menantunya.


''Nadhira sudah siap Umi? namun Nadhira bilang sebentar lagi akan menemui Umi dan juga Abah.'' tutur Alvy lembut dan duduk di samping mertuanya.


Nadhira mendatangi satu persatu Kamar di lantai atas, untuk pamit pada semua nya dan juga meminta maaf kalau dia selama ini punya salah, meski tidak disengaja oleh Nadhira.


''Nadhira pamit ya kakak dan juga Adik adik, Nadhira minta maaf kalau Nadhira punya salah sama kalian, semoga kakak dan adik yang di sini bisa memaafkan Nadhira.'' Tutur Nadhira sedih namun masih bisa tersenyum untuk menutupi kesedihan nya.


''Kami pasti akan Kangen banget sama Adik Dhira, dan kami juga minta maaf kalau kami punya salah.'' Ucap pengurus Asrama sebagai perwakilan.


Nadhira mengangguk, Nadhira mengucapkan setiap kata kata yang sama untuk pamit ke semua orang di sana, sedangkan barang barang Nadhira sudah ada di depan, karena Alvy menyuruh santri Putra untuk mengambil barang Nadhira. Namun santri putra menunggu di depan pintu Pondok putri, Yuli, Santi dan juga Selvy yang membawa barang Nadhira dari Asrama nya.


''Ya sudah Nadhira pamit ya kak, jangan lupa undang Nadhira kalau kalian mau meryd.'' Pesan Nadhira sebelum memeluk ketiganya.


Yuli, Santi dan Selvy tertawa renyah mendengar candaan Nadhira.


Hendri menggandeng tangan Nadhira membawanya menemui Umi serta Abahnya di dalam.

__ADS_1


Yuli, Santi dan juga Selvy melihat keakraban keduanya. mereka bertiga tersenyum karena Nadhira akan berkumpul dengan orang-orang baik.


Sedangkan di lain tempat, orang tua Nadhira sudah menunggu kedatangan putri nya walau hanya sebentar namun itu sudah membuat rasa kangen Ibundanya bahagia.


''Nadhira lama banget ya Pak sampai di sini nya.'' Gumam Bu Susi yang sudah tak sabar lagi untuk memeluk sang putri.


''Sabar Bu, mungkin Nadhira masih berkemas dan sekarang sudah dalam perjalanan pulang ke sini.'' Jawab Pak Arifin namun biasa di panggil Pak Arief.


Di perjalanan Nadhira mencoba bertanya pada Hendri, karena ini bukan jalan menuju ke Surabaya.


''Mas Hendri nggak salah jalan kan?'' tanya Nadhira menatap Hendri.


Hendri membalas tatapan Nadhira sejenak, dan kembali fokus pada jalanan.


''Kita mampir ke rumah kamu sebentar Ndok, Ibu sama ayah kamu sudah tau kalau hari ini kamu pulang ke rumahnya sebentar.'' Ucap Umi Rahman pada Nadhira.


Nadhira menoleh kebelakang, menatap sang Umi, ''Ibu sama Ayah kok bisa tau Umi?'' Tanya polos Nadhira.


Hendri mengacak jilbab Nadhira karena gemas dengan Adik di sampingnya.


''Ya jelas taulah Dek? kan tadi Umi sudah memberi tahu Ibu sama Ayah kamu.'' Jawab Hendri sambil tersenyum.


''Mas Hendri nggak usah ngacak-ngacak kayak gitu, rusak kan jilbab Nadhira.'' tukas Nadhira kesal dan melotot pada Hendri.


Abah Rahman dan sang istri hanya tertawa melihat putra dan juga putri nya akrab, Umi Hendri melihat suaminya yang sedang tertawa merasa senang, dengan kehadiran Nadhira di rumahnya membuat rumah menjadi hidup lagi dengan canda tawa dan juga obrolan obrolan kecil mereka.


👉👉👉👉


Jangan bosan baca karya receh ku ya kak, dan makasih yang sudah mampir 🙏🙏😘😘😘💕💕💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2