
Hendri datang dan langsung duduk di samping Nadhira, kini Nadhira di apit oleh dua orang yang begitu menyayangi nya.
''Adek belum sholat Ashar ya?!'' Tanya Hendri pada Nadhira sang Adik.
Nadhira menggeleng, ''Belum Mas.'' sahut Nadhira tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
''Ya sudah sholat dulu gih sanah Dek.'' suruh Hendri, yang langsung di anggukinya.
''Nadhira tinggal dulu ya kak, atau kakak juga mau sholat.'' tanya Nadhira pada semua tamunya.
''Sebenarnya iya.'' Ucap sang sopir.
''Di samping rumah ada Mushola, kalian semua bisa sholat bareng di sana.'' Ujar Abah Rahman pada tamunya.
Mereka bergegas menuju ke Musholla yang ada di samping rumah Hendri.
Nadhira yang mengantar sendiri semua tamu tamunya ke Musholla.
''Kakak bisa sholat di sini, Nadhira pamit ke kamar dulu.'' tuturnya dan berlalu menuju kamarnya guna bersih bersih dan menunaikan kewajibannya sebagai umat Muslim.
Eza dan semuanya menunaikan ibadah sholat Ashar nya, sang Sopir yang menjadi imamnya.
Sedangkan di kamar Nadhira baru selesai mandi dan memakai baju muslim nya, Nadhira langsung memakai mukenah nya, sajadah yang terbentang dan mengarah ke arah kiblat pun sudah siap ia gelar, Nadhira sholat Ashar di dalam kamarnya, tak mungkin kan ia ke Musholla dengan banyak laki laki di di sana.
Ketika sudah bermunajat kepada Allah SWT, dia langsung melipat mukenah beserta sajadah nya.
Nadhira asal mengambil jilbab dan diapun langsung keluar kamar setelah merapikan jilbabnya.
Mungkin dia lupa atau gimana, jilbab tersebut adalah pemberian Eza pada malam itu.
Eza ternganga melihat penampilan Nadhira sekarang, dn Eza melihat kearah jilbab yang Nadhira kenakan yang ternyata adalah pemberian nya, saat pasar malam waktu Nadhira mau berangkat ke Ponpes nya.
''Teryata dia masih memakai jilbab pemberian ku yang harganya seberapa.'' Gumam Eza tersenyum, Abah Rahman menyadari tatapan Eza pada sang Putri yang mengisyaratkan ketertarikan nya.
''Kalian satu kota, apa satu desa sama Nadhira.'' Tanya Abah Rahman membuyarkan lamunan Eza.
''Kita satu kota namun beda desa Bah.'' sahut Marvel yang di anggukinya.
''Kalau boleh tau kalian semua kelas berapa sekarang.'' Tanya Abah Hendri.
''Kamu masih kelas 2 SMK Abah.'' sahut Marvel lagi, sedangkan yang lainnya hanya mengangguk kan kepalanya.
''Otomatis kalian semua sudah pada punya pacar semua dong.''Seru Abah Rahman saat mengajak mereka mengobrol.
''Kami masih Jomblo Bah, namun yang dua ini sudah mempunyai istri dan juga anak.'' tutur Nathan menunjuk sang pelatih dan Sopirnya.
__ADS_1
''Iya iya, kalau itu Abah sudah tau kalau dua ini sudah pada menikah.'' Sahut Abah Rahman dan di tertawakan oleh semua orang di ruang tamu tersebut.
Sang pelatih dan Sopirnya terkekeh mendengar celetukan dari Nathan.
Beberapa saat kemudian sang Umi menghampiri Abah Rahman dan membisikkan sesuatu padanya.
''Ya sudah kalau kalian bisa pindah ke dalam.'' Tutur Abah Rahman beranjak dari duduknya.
Semuanya pada kebingungan dengan ucapan Abah Rahman, yang menyuruhnya pindah ke dalam.
''Kok di suruh pindah, ada apa ini.'' Tanya Marvel pada Eza, Eza tidak menjawab dia hanya mengangkat kedua bahunya saja.
''Sudah nggak usah banyak nanya, kita ikuti Abah saja.'' Ujar Teddy yang kebetulan di sebelah Marvel.
Kini semuanya beranjak dari duduknya, dan mengikuti langkah Abah Rahman dan juga Hendri yang berjalan lebih dulu.
sedangkan Nadhira sudah ikut sang Umi saat Umi nya berbisik pada sang Abah.
Setelah sampai di tempat yang di tujuan Abah Rahman, Marvel, Nathan, Eza beserta lainnya di kejutkan dengan hidangan yang sudah siap santap.
bermacam-macam menu yang ada di depannya.
Kebetulan sang Umi menggelar karpet karna ruang makan juga tak mungkin bisa menampung orang banyak.
''Ayo makanlah Pak pelatih semuanya, jangan sungkan sungkan.'' timpal Hendri yang di angguki pelatih dari Eza.
''Jadi merepotkan kami ke sinin.'' ujar sang sopir.
''Nggak repot kok, ini semua kebetulan sudah ada, saat tadi Nadhira bilang mau bawa teman-temannya mampir ke rumah.'' Sahut Abah Rahman dan tersenyum.
Nadhira yang memang tidak kelihatan sejak tadi ikut Umi nya, Eza bengak bengok mencari keberadaan Do'inya.
''Di makan cepat, nggak usah bengak bengok nyari Nadhira.'' senggol Marvel pada Eza.
Eza terdiam sesaat dan melanjutkan suapan nya hingga tandak tak tersisa.
Abah Rahman menghampiri mereka lagi namun mereka sudah selesai dengan makanannya.
''Lho, cepat amat makannya, ini nasinya masih penuh juga, kalian hanya makan sedikit ya?!'' Tanya Abah Rahman pada semuanya.
''Kami sudah kenyang Abah, sebelum kita kesini sudah mampir di warung, jadi masih kenyang.'' Ucap Nathan malu malu.
''Ya sudah nggak apa apa, Ndok?'' panggil Abah Rahman pada Nadhira yang lagi ngobrol dengan sang Umi.
''Iya Abah?'' Sahut Nadhira menghampiri Abahnya.
__ADS_1
''Beresin ini sayang?'' Ucap Abah Rahman lembut, Eza terperangah mendengar Nadhira di panggil sayang oleh Abah Rahman.
Nadhira dengan cepat beresin semuanya di bantu Bibi Ani yang kerja di rumah Abah Rahman.
Marvel dan lainnya masih betah duduk di wah beralaskan karpet, mereka sudah tidak canggung lagi dengan Hendri dan juga Abah Rahman.
Eza deg degan Abah Rahman duduk di sampingnya, namun Eza mencoba untuk tenang dan tersenyum saat Abah Rahman memandang nya.
''Kyaknya kamu kenal banget dengan putri Abah.'' Tanya Abah Hendri pada Eza.
''Nggak terlalu kenal kok Abah, kami hanya beberapa kali bertemu saat itu.'' pungkas Eza, Abah Rahman mengangguk pelan.
''Apakah rumah Adik dekat dengan Nadhira.'' tanya Abah Rahman lagi.
''Lumayan jauh Abah, saya hanya mengenal Abangnya saja.'' jawab Eza takut takut.
''Maksud kamu Herman ya.'' tanyanya lagi. yang langsung di angguki Eza.
Abah Rahman tersenyum mengetahui hal ini, ada yang mencintai putri kecilnya.
Tiba-tiba sang pelatih berujar, ''Kami mohon pamit Abah, takutnya kemaleman sampai di rumah.''
''Ya sudah, kalian hati hati jangan ngebut bawa mobilnya, ingat ada anak yang nunggu di rumah.'' Pesan Abah Rahman pada pelatih dan semuanya.
''Iya Abah, makasih semuanya, dan maaf kalau merepotkan.'' kata sang sopir mencium tangan Abah Rahman.
Nadhira beserta Umi nya keluar guna menemui mereka semua.
''Kalau ke Surabaya lagi, jangan lupa mampir ke sini ya.'' Ucap Umi nya Hendri tersenyum.
''Insya Allah Umi, kalau kesini lagi bakalan mampir.'' sahut sang pelatih nya.
semua menyalami keluarga Hendri dan juga Nadhira.
Nadhira menjabat tangan Eza dan tersenyum kikuk saat di lihatin oleh pria di depannya.
''Sudah, ayo pulang?'' Nathan menyenggol lengan Eza sambil tersenyum miring, Nathan sebenarnya masih belum rela meninggalkan Nadhira.
Eza melangkahkan kakinya mengikuti teman temannya yang sudah pada keluar dari rumah Hendri dan Nadhira.
👉👉👉👉
Makasih kakak yang sudah dukung karya receh Al-mahyra.
like, komen, vote dan favorit kan ya kak. Makasih 🙏🙏😘😘😘💕💕💕
__ADS_1