Cinta Nadhira

Cinta Nadhira
Bab 46 Kajian Kitab Kuning


__ADS_3

Setelah lama liburan di rumahnya, Nadhira kembali ke pondok pesantren lagi sebelum Nadhira di jemput oleh keluarga Dayat dan juga Hendri.


Seperti biasa Nadhira selalu mengikuti kegiatan ngaji Kitab kuning, sekolah diniah dan juga menghafal hafalan yang Ustadzah nya berikan.


Nadhira menjalani semua kegiatan di Pesantren nya dengan rasa sebagai sekaligus bahagia, karena banyak teman temannya yang masih belajar juga sama seperti Nadhira, walau di mata semua temannya Nadhira adalah gadis yang hebat, karena dalam sekejap saja dia sudah bisa menghafal yang di berikan Ustadzah nya.


Ada yang sempat bertanya pada Nadhira langsung mengenai biar bisa menghafal lebih cepat seperti dirinya, namun lagi lagi temannya kecewa dengan jawaban Nadhira kasih.


''Nadhira, apa sich rahasia nya agar bisa kayak kamu ini?'' Tanya Naomi Asrama lain.


''Nggak ada rahasia nya kok kak, cuma ya belajar saja sambil di ingat ingat dalam hati juga.'' Jawab Nadhira yang tak membuat Naomi puas dengan jawaban Nadhira barusan.


''Kalau masalah belajar aku juga sudah sering belajar Ra, tapi kalau sudah menyangkut hafalan, kayaknya aku paling susah dalam menghafal.'' Ujar Naomi duduk di depan Nadhira yang mau memulai mengaji.


''Nadhira dulu juga sama kayak kak Naomi, namun karena sering di baca kalau ada waktu senggang, jadi Nadhira masih ingat sedikit sedikit, terus Nadhira coba baca lagi, ech nggak taunya sudah hafal begitu saja.'' sahut Nadhira.


''Intinya adalah sabar, dengan kesabaran semuanya pasti bisa di lakukan dengan baik, kalau dengan grasa grusu malah akan kebalikan nya.'' pesan Nadhira menepuk tangan Naomi.


''Ya sudah kak Naomi, Nadhira mau mencari barokah nya Al-qur'an dulu ya.'' Ucap Nadhira sambil tersenyum pada Naomi.


''Ya sudah, kamu ngaji saja, aku ke ustadzah dulu.'' Sahut Naomi sekaligus pamit juga pada Nadhira.


Nadhira mengangguk dan mulai membuka Al-qur'an yang tadi sudah di buka namun di tutup kembali, karena harus menjawab pertanyaan dari Naomi.


Nadhira memulainya dengan bacaan Basmalah, dan melanjutkan membaca Surat Al-Kahf. Surat kecintaan Nadhira walau terdapat banyak ayat di dalamnya, namun Nadhira sering membacanya, sampai-sampai ada sebagian ayat yang dia hafal, namun tak membuat Nadhira menjadi orang yang besar hati.


Pujian demi pujian sering kali di lontarkan pada Nadhira, oleh sebagian teman pesantren nya, Nadhira hanya membalas dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Sebenarnya Nadhira tak menginginkan pujian tersebut, karena dengan pujian orang bisa menjadi tinggi hati, dan besar kepala juga, itu yang Nadhira takut kan dengan semua pujian yang di lontarkan teman teman di Pesantren nya.


Pagi harinya setelah sholat subuh, semua murid di pesantren Hidayatullah, mengikuti kegiatan ngaji kitab kuning.


Nadhira mengambil Kitab ''IRSHADUL IBAD'' nya, lalu berjalan menghampiri semua teman temannya yang sudah on time di sana, dengan bolpen berbagai merk untuk memaknai Kitab kuningnya tersebut.


Nadhira menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar, karena dia ketinggalan sebagian memaknai Kitab kuning nya.


Sang Kyai tak mungkin mengulang bacaan Kitab kuning nya untuk murid yang ketinggalan memaknai nya.


''Bolong lagi kan!'' gumam Nadhira pelan.


''Kenapa Dek?'' Tanya Yusro yang kebetulan lewat di dekatnya.


''Kitab ku bolong lagi kak Yus?'' Ucap Nadhira sedikit manja.


Nadhira mengangguk mengerti, dan tersenyum pada sang pengurus.


''Makasih ya Kak?'' Ucap Nadhira, Yusro mengangguk dan menjawab.


''Iya sama-sama Dek?''


''Ya sudah, kakak mau kebelakang dulu ya, Kyai mau menerangkan isi dari Kitab yang kamu pegang sekarang.'' Pamit Yusro dan mengingat kan Nadhira juga.


Memang benar yang di katakan sang Pengurus barusan, sang Kyai akan menerangkan isi( artian) dari kitab tersebut.


''Jangan ada yang ngobrol, dengerin dengan benar makna dari sebuah Kitab yang kita baca saat ini.'' Ujar sang Kyai mengingat kan semua muridnya.

__ADS_1


Sang Kyai mulai menerangkan dengan jelas dan mudah di mengerti oleh semua Santrinya.


โญDiriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda (Ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih utama dari dua perkara tersebut, yaitu iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama muslim). Baik dengan ucapan atau kekuasaan nya atau dengan harta nya, atau dengan badan nya.


Rasulullah SAW bersabda, (barang siapa yang pada waktu pagi hari tidak mempunyai niat untuk menganiaya terhadap seseorang maka akan diampuni dosa-dosa nya yang telah lalu. Dan barang siapa pada waktu pagi hari memiliki niat memberikan pertolongan kepada orang yang dianiaya atau memenuhi hajat orang islam, maka baginya mendapat pahala seperti pahala Haji yang Mabrur).


Dan Nabi SAW bersabda (Hamba yang paling dicintai Allah Taโ€™ala adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling utama adalah membahagiakan hati orang mukmin dengan menghilangkan laparnya, atau menghilangkan kesusahan nya, atau juga membayarkan hutang nya. Dan ada dua perkara, tidak ada sesuatu yang lebih buruk dari dua tersebut, yaitu syirik kepada Allah dan mendatangkan bahaya kepada kaum muslimin).


Baik membahayakan atas badan nya, atau harta nya. Karena sesungguh nya semua perintah Allah kembali kepada dua masalah tersebut. Mengagungkan Allah dan berbuat baik kepada makhluk nya, sebagaimana firman Allah Taโ€™ala, Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat. Dan firman Allah Taโ€™ala, dan Hendaklah kamu bersyukur kepada Ku dan kepada kedua orang tuamu.


Semua Santrinya mengangguk, ada sebagian yang mencatat di buku catatan, ada juga yang hanya membawa satu lembar kertas yang mereka selipkan di dalam kitab, guna menulis keterangan dari sang Kyai yang di anggap penting.


Nadhira sendiri membawa buku catatan yang di khusus kan untuk menulis semua keterangan kitabnya di buku yang ia bawa.


''Ya sudah kalau begitu kegiatan hari ini kita tutup dengan bacaan Alhamdulillah.'' Ujar sang Kyai yang langsung di ikuti oleh semua santrinya, baik santri perempuan maupun santri putra.


''Ya sudah, yang masuk sekolah hari ini cepat mandi dan setelah itu pergi ke sekolah masing-masing.'' Pesan sang Kyai sebelum semua muridnya kabur ngibrit mencari kamar mandi kosong buat buru buru ke sekolah nya.


Sedangkan Nadhira melihat kesibukan semua teman teman nya dari musholla yang ada di Pondok Putri.


Sekarang Nadhira hanya bisa melihat teman temannya berebut kamar mandi, untuk segera mandi agar tidak telat ke sekolah nya.


Hari hari seperti inilah yang bakalan Nadhira kangenin, setelah kepergian nya ke Surabaya, Nadhira menatap ke sekeliling nya, melihat suasana rame, bising, pertengkaran, dan perbedaan pendapat, semua lengkap di dalam Pondok Pesantren.


Nadhira memejamkan matanya sejenak, karena dia belum yakin akan meninggalkan Pondok Pesantren tempat ia belajar, dan pindah ke Surabaya berkumpul dengan keluarga Ustad nya.


๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘‰

__ADS_1


Jangan bosan baca karya receh ku ya kakak, dan Makasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•


__ADS_2