
Matahari semakin meninggi, semangat Nadhira masih menggebu-gebu untuk segera mengumpulkan tanda tangan dari teman teman dan juga para seniornya. Ocehan Gisela tak ia dengar, Nadhira mengitari semua tempat untuk memperoleh tanda tangan, Nadhira menghampiri siswa siswi yang lagi berkumpul di lapangan, Nadhira juga mendatangi kantin, dan juga kelas kelas tempat siswa-siswi berada.
''Siang kak?'' sapa lembut Nadhira.
''Maaf mengganggu, Kita datang kemari untuk meminta tanda tangan kakak dan juga nama kakak?'' Tutur Nadhira menjelaskan pada senior yang berada di kelas 2.
Semua yang berada di dalam kelas memandangi Nadhira dan juga Gisela.
''Kalau kita kasih tanda tangan pada kalian berdua, lantas kita kita mau di kasih apa.'' tanya salah seorang siswa.
''Aku hanya bisa bilang terima kasih pada kakak semuanya.'' Jawab Nadhira dengan tenang.
Ada beberapa dari mereka siswa dan juga siswi menghampiri Nadhira. Mereka langsung mengambil buku dan bolpoin yang Nadhira letakkan di atas meja, Nadhira hanya menatap siswa-siswi dan tersenyum ramah pada mereka, yang sudah mau mengisi buku tulisnya.
''Sudah?!'' Ujar nya memberi buku yang di pegang nya pada Nadhira.
''Makasih kak, dan maaf kalau kita berdua sudah mengganggu waktu kakak kalian.'' Ucap Nadhira lembut sembari undur diri.
Baru beberapa melangkah, Nadhira sudah di panggil kembali oleh siswa tadi yang meminta hadiah padanya.
''Tunggu!'' Panggil nya.
Nadhira menghentikan langkah nya dan memutar badan untuk melihat siapa yang memanggilnya.
''Kita bersedia untuk tanda tangan.'' Ucap salah satu dari mereka.
Ya mereka ada sepuluh siswa, namun yang memberi tanda tangannya dengan sukarela ada 20 siswa dan siswi.
Walau ada rasa kesal yang sedang menyelimuti, Gisela tetap mengikuti Nadhira menuju tempat di mana siswa itu berada.
''Apa kakak semua nya mau tanda tangan, tapi kami tidak bisa memberi apa apa pada kakak.'' Tukas Nadhira masih ramah, sedangkan Gisela menggenggam erat tangannya.
''Tidak usah, tadi kita hanya bercanda saja pada kalian.'' sahutnya.
__ADS_1
Mereka semua membubuhkan tanda tangan beserta namanya di buku tulis Nadhira dan juga Gisela.
Nadhira mengangguk, ''Makasih kak?'' gumam Nadhira.
''Kalau githu kita pamit dulu?'' Ujarnya beranjak dari tempat nya dan memulai petualangan nya kembali. Menyusuri kelas kelas yang berpenghuni, meminta tolong dan belas kasihnya untuk memberikan tanda tangan nya pada mereka berdua.
''Nadhira, kita istirahat dulu ya.'' Gumam Gisela mendudukkan bokong nya pada kursi di luar kelas.
''Capek... ?'' tambah nya lagi.
Kini Nadhira memilih menuruti permintaan Gisela sang teman, yang baru beberapa jam ia kenal.
''Lagak e ae koyok wong lanang!'' tukas Nadhira menatap lurus kedepan.
''Penampilan boleh cowok, tapi tenaganya masih sama kayak cewek-cewek lainnya lah Ra?'' Ucap Gisela merajuk.
''Lagian kamu itu ngebet banget mau ngumpulin tanda tangan sekarang!'' Tanya Gisela ketus.
''Seng ngejak sampean sopo?'' Tanya balik Nadhira menatap nanar Gisela.
''Cowok ndak boleh senyum senyum sama cewek.'' Cetus Nadhira bercanda namun dengan expresi datarnya, agar sang teman mempercayai nya.
''Enak saja ngatain aku cowok, blaen wong iki.'' Tukas Gisela kesal.
Nadhira beranjak dari duduknya dan berkata, ''Mau ikut tak?'' Tanya Nadhira pada temannya.
''Sekarang giliran kamu yang ikut aku.'' Jawab Gisela yang sudah berdiri, dan dia menarik tangan Nadhira ke kelas senior nya di lantai 2.
Nadhira hanya mengikuti Gisela dari belakang, tangan Nadhira masih ia pegang layaknya seorang anak berusia lima tahun yang di ajak orang tuanya pergi ke tempat ramai.
''Gisel...?'' Panggil Nadhira.
''Kenapa.'' Tanya Gisela tanpa menoleh dan terus berjalan.
__ADS_1
''Boleh nggak, lepasin tanganku, lagian aku sudah besar masak harus di pegangin kayak gini.'' rengek Nadhira.
''Kalau di lepas yang ada kamu bakalan ilang.'' Ucap Gisela asal.
Nadhira tak bersuara lagi, dia masih mengikuti langkah Gisela yang entah akan membawa nya kemana. Nadhira pasrah melihat dirinya menjadi tontonan para siswa-siswi yang ada di lantai 2.
''Kenapa tangan dia di pegang kayak gitu ya.'' Siswa-siswi mulai berbisik.
''Takut hilang kali shay, makanya di pegangin kayak githu.'' Ucap yang lainnya juga.
Nadhira hanya mendengus kesal dengan kelakuan temannya yang terus menggandeng tangan nya.
''Abang...??'' panggil Gisela dengan nada manja pada seorang laki-laki tampan.
''Kenapa Dek?'' tanyanya.
''Abang, Gisel capek muter-muter dari tadi hanya untuk mengumpulkan tanda tangan sekaligus namanya juga.'' Rengek Gisela.
''Yang bersama kamu siapa.'' tanya Abang Gisela.
''Oia, Gisela hampir lupa sama teman baru Gisela Bang?!'' Ucap Gisela memperlihatkan gigi putihnya.
''Kenalin ini Abang aku Ra.'' Tukas Gisela memperkenalkan Abang nya.
''Ini Nadhira teman Gisel.''
Abang Gisela mengulurkan tangan nya, namun dia harus kecewa karena Nadhira hanya mengangkat kedua tangannyaπ saja dan menunduk.
''Bukan muhrim.'' Ucap Gisela menyambut uluran tangan sang Abang.
''Sebelum nya Nadhira minta maaf, bukan maksud Nadhira untuk tidak menyambut uluran tangan Abang.'' tutur Nadhira meminta maaf.
ππππ
__ADS_1
Jangan bosan baca karya receh ku ya kak. Makasih yang sudah mampir πππππππππ