Cinta Nadhira

Cinta Nadhira
Bab 52 Akhirnya selesai


__ADS_3

*Di Kamar*


Nadhira membaringkan tubuh lelahnya diatas kasurnya, tanpa mengganti baju terlebih dahulu, Nadhira begitu lelah dan kakinya sudah terasa kaku karena berjalan mengitari tempat tempat yang rame di sekolah nya. Tanpa ia sadari Nadhira sudah melayang jauh mengitari alam mimpinya.


Hendri yang ingin mengajak sang Adik untuk makan siang hanya menghembuskan nafas dengan kasar. Melihat Nadhira sudah terlelap tidur.


Hendri berjalan menuju meja makan sendiri, melewati tatapan dari Abahnya yang sedang menonton siaran langsung.


''Hendri... !!'' panggil Abah Rahman.


''Iya Abah?'' jawab Hendri menghentikan langkah nya.


''Adik kamu kemana, kok nggak ikut makan.'' Tanya nya.


''Adik lagi tidur Abah, Hendri nggak tega bangunin nya.'' jawab Hendri.


''Mungkin dia capek Abah, selama 2 hari ini muter-muter.'' tambah Hendri.


Abah Rahman mengangkat satu alisnya mendengar ucapan putranya. ''Muter-muter gimana maksud kamu Dri?'' tanya Abah Rahman.


''Emang ada ya sekolah hanya muter-muter nggak jelas githu.'' Tanya nya lagi.


''Kan lagi di Mos Bah, para senior memberi tugas kemarin, pada semua siswa baru.'' Tutur lembut Hendri.


''Ya sudah kamu makan saja sana.'' Ujar Abah Rahman, mengusir lembut putra nya.


Hampir menjelang waktu sholat Magrib Nadhira masih belum bangun dari tidur nya. Dia masih bergelut dengan alam bawah sadar nya.


Umi Upik mendatangi kamar putrinya yang masih meringkuk di bawah selimut nya.


''Sayang ayo bangun, kita makan?'' Umi Upik mengguncang tubuh Nadhira perlahan-lahan.


''Ada apa Bu?'' Tanya Nadhira masih memejamkan mata nya.


Sang Umi hanya tersenyum melihat Putri kesayangan nya yang masih belum sadar dari mimpinya.


''Ini Umi sayang, bukan ibu?'' Tukas Umi Upik duduk di pinggir ranjang Nadhira.


Nadhira memicingkan mata nya melihat sang Umi yang duduk di samping nya.


Nadhira bangun dari tidurnya dan memilih duduk di samping sang Umi. Nadhira hanya cengengesan mengingat dirinya memanggil Ibu pada Umi nya barusan.

__ADS_1


Umi Upik mengelus punggung Nadhira seraya berkata, ''Kamu cepat mandi gich, nanti kemaleman lagi mandinya, mentang mentang lagi libur sholat nya, lantas tak mau mandi.'' Ujar sang Umi mengelus puncak kepala Nadhira.


Nadhira terkekeh. ''Masak ia Nadhira nggak mau mandi Umi, kan bau kalau sampai nggak mandi.'' sahutnya mencebik kan bibirnya.


Nadhira turun dari tempat tidurnya, dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa lelahnya karena sudah dua hari ini dia keliling sekolahan untuk meminta tanda tangan teman sekolah dan para senior nya. Dia merasa sangat lelah. Nadhira memutuskan untuk berendam terlebih dahulu agar semua tubuhnya rilex.


Selesai mandi Nadhira menyisir rambut panjang nya. Nadhira hanya melihat sekilas alat alat make up yang di sediakan oleh sang Umi di kamarnya.


''Sayang? Nadhira.'' Panggil Umi Upik.


Nadhira buru buru menyambar hijab nya setelah mendengar panggilan dari sang Umi yang menyuruh nya makan.


Nadhira hanya mengikat hijab nya di leher saja, karena terburu buru sampai lupa tidak mengambil jarum pentul buat mengaitkan hijabnya.


''Umi...?''


''Ayo duduk di sini, Umi sudah menyiapkan makanan untuk mu.'' gumam Umi Upik.


Nadhira menurut dan mendudukkan diri di kursi dekat sang Umi.


''Jangan banyak banyak Umi? nanti malah nggak habis, kan mubadzir.'' tutur Nadhira menatap sang Umi.


''Segini banyak?!'' tanya heran Umi Upik.


Hendri dan Abah Rahman hanya menyunggingkan senyumnya. Mendengar istri dan anak angkat nya berdebat di meja makan.


''Kamu denger tuh, Umi kamu lagi mengomeli Adikmu.'' Ucap Abah Rahman pada Hendri sang putra.


''Tau tuh Bah, cewek 2 suka debat tiap hari.'' Gumam Hendri pelan karena takut terdengar sang Umi.


Malam hari nampak begitu rame di rumah Abah Rahman, karena anak anak di sekitaran rumah yang di tempati Nadhira pada berkumpul untuk Les privat sama Nadhira.


Nadhira waktu itu meminta ijin pada kedua orang tuanya akan menjadi guru Les privat anak anak sekitaran rumahnya, dan Abah Rahman pun menyetujui, begitu pula dengan sang Umi dan juga Hendri.


Sering kali Hendri ikut serta mengajari anak anak yang datang ke rumahnya untuk Les privat.


Dengan begitu rumah Abah Rahman tak pernah sepi lagi dari gurauan dan canda tawa dari anak-anak.


*-*-*-*-*-*-*-*-*


*Keesokan harinya*

__ADS_1


Jam 6 pagi Nadhira sudah siap dan juga rapi dengan seragam sekolah nya. Namun dia hanya memakai hijab kecil untuk menutupi kepalanya karena masih ingin membantu sang Umi dan juga Mbok Nah di dapur.


''Neng Nadhira duduk saja, biar mbok yang nyelesain ini.'' Gumam Mbok Nah.


''Biar Nadhira saja Mbok, sebentar lagi selesai kok?'' Sahut nya yang di angguki oleh Mbok Nah.


Nadhira membantu cuci barang yang di pakek untuk memasak barusan. Kebetulan Umi Upik lagi membangunkan puteranya, karena sehabis sholat ia tidur lagi.


Sesampainya di kamar Hendri ternyata dia juga sudah rapi, dan mau keluar dari kamarnya dengan menenteng sepatu di tangan kiri nya.


''Kirain belum bangun.'' Ucap sang Umi pada puteranya.


''Hendri sudah bangun dari tadi kok Umi.'' Jawabnya dengan penuh kelembutan.


''Ya sudah ayo makan, Adikmu sudah menunggu di meja makan.'' Ajak Umi Upik.


Hendri mengikuti Umi nya dari belakang menuju meja makan. Nadhira menata makanan yang sudah siap di meja makan nya.


Hendri melirik Nadhira, karena masih belum memakai hijab nya, cuma memakai iket yang menutupi rambut panjang nya.


''Hijab putihnya mana Dek?'' Tanya Hendri.


''Belum Nadhira pakek Mas, takutnya kotor pas ada di dapur tadi.'' jawab Nadhira pelan dan melangkah pergi.


''Mau kemana sayang?'' tanya sang Umi yang melihat puterinya pergi.


''Nadhira ke kamar dulu Umi, mau ambil hijab sama tas juga.'' Sahut Nadhira, Umi Upik mengangguk Nadhira pun bergegas masuk ke kamarnya dan memakai hijab nya, setelah itu dia buru buru keluar dari kamarnya, tangan kanannya menyambar tas ransel nya.


Selesai makan Nadhira dan Hendri berangkat ke sekolahnya menggunakan motor sport nya.


Tak butuh berapa lama mereka berdua sudah sampai di sekolahnya, Hendri nampak memarkirkan motor nya di parkiran sekolahnya.


Senior yang melihat Hendri berboncengan dengan Nadhira mengerutkan alisnya, oantasbdia buru buru memberi tahu Maya teman kelasnya yang suka sama Hendri.


Di lain kelas Gisela bertanya pada Nadhira, ''Ra kamu terkumpul berapa tanda tangan nya.'' Tanyanya.


''Kayaknya 100 lagi dech.'' jawab Nadhira membuka buku yang terdapat banyak tanda tangan.


''Masih mau nambah.'' Tanya Gisela.


''Kayak nya nggak dech Sel, ini sudah cukup. Lagian kakiku juga sudah pegel muter muter sekolahan ini.'' Ucapnya lesu, Gisela hanya menepuk pundak temannya.

__ADS_1


👉👉👉👉


Jangan bosan baca karyaku ya kak. dan jangan lupa dukung karyaku dengan cara like, komen atau vote ya kak. Makasih 🙏🙏🙏😘😘💕💕💕💕💕


__ADS_2