Cinta Nadhira

Cinta Nadhira
Bab 63 Candaan Nadhira


__ADS_3

Jam 7 malam orang tua Eza dan juga Hera baru pulang, di perjalanan pulang Bu Yati berceloteh membicarakan tentang Nadhira.


''Ternyata Nadhira cantik juga ya Pak?''


''Iya, jadi kita nggak salah pilih calon istri buat Putera kita,'' sahutnya.


''Semoga saja Nadhira dan Eza berjodoh ya Pak,'' tuturnya pada sang suami.


* Di rumah Eza *


Hera mondar mandir di teras rumahnya karena kedua orang tuanya belum pulang juga.


''Ngapain sich Dek mondar-mandir kayak gitu, sebentar lagi mereka bakaln pulang kok Dek?''


''Tapi Hera khawatir Mas, Ibu sama Ayah dari sore perginya sampai malam juga belum pulang,'' Jawabnya menghela nafas panjang.


''Itu Ayah sama Ibu sudah pulang,'' kata Eza pada Hera menunjuk ke arah Sangat Ibu dan juga Ayah-nya yang memasuki halaman rumah nya.


Hera menghampiri kedua nya dengan wajah cemberut nya, karena sang Ibu hanya bilang cuma sebentar saja perginya, makanya dia tidak ikut mereka pergi.


''Ibu sama Ayah baihonh banget sich, bilang nya hanya sebentar, tapi jam segini baru pulang,'' Gerutu Hera menghentakkan kakinya.


''Sebenarnya Ibu dan Ayah pulang dari tadi, tapi masih mampir buat beli ini,'' Ujar Bu Yati menunjukkan makanan yang di pesan olehnya.


''Lagian Adik minta di beliin kayak ginian, sudah tau bakalan antri di sana,'' celetuk Pak Andi.


''Ya salah Adek juga sich minta di beliin itu sama Ibu dan Ayah,'' Tukas Eza pada Adeknya.


''Dari tadi dia mondar-mandir dan ngedumel karena Ibu dan juga Ayah belum pulang,'' Adu Eza pada kedua Orang tuanya.


''Sudah sudah, jangan berdebat lagi, kita masuk yuck Ayah capek nich?'' Ajak Pak Andi pada istri dan kedua Putera puteri nya.


Eza merangkul sang Adik memasuki rumah nya mengikuti langkah orang tuanya.


Bu Yati menaruh pesanan Puteri bungsunya di meja makan, lalu Bu Yati menata nya di atas piring, dan menyuguhkan pada kedua anaknya.


Lantas Bu Yati bergegas ke kamarnya untuk mengganti bajunya.


Di ruang tamu Eza dan juga Hera menikmati oleh-oleh dari Ibu nya yang setengah hari keluar rumah.

__ADS_1


''Enak banget ya Mas?''


''Iya enak, kamu nggak salah memesan ini pada Ibu,'' kata Eza pada Hera.


''Tadi ngaduhin Hera pada Ayah dan Ibu, sekarang malah ikut menikmati kue Hera,'' tukasnya mengambil piring dari hadapan kakak nya.


Eza terkekeh renyah dan mengacak acak rambut Hera adiknya.


Hera hanya memelototi sang kakak dan menghindari Eza yang sedang mengacak acak rambut nya.


''Berantakan rambut Adik Mas?'' Rengek Hera.


Eza tersenyum dan beranjak dari duduk nya seraya berkata, ''Setelah selesai makan langsung tidur ya,'' pesan Eza pada sang Adik tersayang nya sebelum masuk ke dalam kamarnya.


Hera mengangguk pelan dan menjawab nya, ''Siap, laksanakan,'' Ucapnya pada sang kakak.


Hera menaruh sisa kuenya di Kulkas karena perutnya sudah tidak muat lagi dengan kue kue tersebut.


Lalu Hera bergegas menuju kamar nya. Bukannya tidur malah Hera memainkan ponsel nya hingga larut malam.


Sedangkan Eza di dalam kamarnya sedang belajar mengulang pelajaran yang tadi siang di berikan oleh sang Guru.


Hanya di saat Eza sedang sendirian di dalam kamar nya foto ber bingkai itu di keluarkan oleh sang empu.


Tak bosan bosan Eza menatap foto Nadhira yang sedang tersenyum manis, yang diam diam Eza mengambil nya saat berada di taman waktu itu.


''Kamu cantik banget sich Ra?'' Gumam Eza mengelus foto Nadhira.


''Kapan kita bisa bertemu lagi Nadhira, kemarin kita bertemu namun bodohnya aku tidak mengajakmu ngobrol, kamu tau nggak Ra, aku tu kangen banget sama kamu, tapi aku tak mempunyai hak itu untuk kamu,'' Lirihnya


''Semoga kita bisa bertemu lagi di lain hari,'' Gumam Eza memeluk foto Nadhira dalam tidur nya.


Tak butuh waktu lama Eza sudah terlelap dalam tidur nya, dan menjelajahi setiap lika liku di alam mimpi nya.


Hera yang lagi asik main game hanya bisa mengeluh saat dia kalah. Sampai jam 3 dini hari Hera baru memejamkan matanya karena mungkin sudah sangat mengantuk.


*-*-*-*-*-*-*-*-*


*Di Surabaya*

__ADS_1


Pagi hari Nadhira di ajak berolahraga mengelilingi komplek rumah nya. Banyak orang yang menyapa Nadhira saat mereka tak sengaja bertemu di jalan.


Ya, memang benar Nadhira cukup di kenal di area komplek rumah nya, karena kegigihan Nadhira dalam mengajar Putera puteri nya sampai ada yang mendapat kan peringkat di sekolah nya, walaupun sang anak cuma mendapatkan peringkat ke 4 di kelas nya, sang Ibu sudah sangat bersyukur dengan pencapaian puteri nya yang tergolong bodoh.


''Olahraga Neng?'' sapa Ibu Ibu yang sedang berbelanja


''Iya Bu biar tambah sehat dan langsing juga,'' jawab Nadhira dan sedikit bercanda pada Ibu tersebut.


Karena Nadhira sudah biasa bercanda dengan Ibu ibu komplek sekitaran rumah nya'.


''Jangan langsing langsing Neng, nanti ada angin malah ikut terbang lagi,'' balas Ibu tersebut membuat Abang tukang sayurnya tertawa terpingkal pingkal.


''Jangan buang Air di celana lho Pak?'' canda Nadhira pada tukang sayur yang sedang di kelilingi oleh Ibu Ibu komplek yang sedang berbelanja.


Hendri hanya tersenyum melihat Adik nya sangat akrab dengan Ibu Ibu komplek.


Hendri hanya menjadi pendengar yang baik untuk Nadhira sang Adik.


''Neng Nadhira mau buah?'' tanya Bu Siti.


''Nggak Bu, Neng nggak bawa uang, boleh kredit nggak Bang!'' Candanya.


''Abang nggak punya tabungan gesek Neng, jadi tak kenal sama yang nama nya kredit,'' jawab Abang sayur membalas candaan Nadhira.


''Kalau Abang pengen tau tabungan gesek, ya tinggal duduk saja terus gesekin thu pantat,'' celoteh Nadhira yang tanpa di sensor.


''Adek, nggak boleh ngomong githu?'' Tegur Hendri pada Nadhira Adiknya.


''Nggak apa apa Mas, Neng Nadhira hanya bercanda saja kok,'' Ucapnya menatap Hendri yang sedang menegur Nadhira.


''Nggak apa apa Mas Hendri, Neng Nadhira sudah biasa bercanda sama kita kita ini, biar nggak suteres memikirkan uang belanjaan tiap hari,'' Seru salah satu Ibu komplek membela Nadhira.


Nadhira tersenyum menatap Hendri Abang nya. Dan Bu Siti tadi yang menawarkan buah pada Nadhira menghampiri Nadhira dan juga Hendri yang berdiri tak jauh dari mereka.


Bu Siti memberikan buah kelengkeng dan juga buah Apel pada Nadhira.


''Ini buat Neng Nadhira,'' Ucap Bu Siti mengambil tangan Nadhira dan memberikan tas kresek yang berisi buah buahan.


Nadhira menolak pemberian Bu Siti, karena menurut Nadhira sangatlah banyak.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2