
Nadhira yang duduk di samping sang Ibu terus menatap sang Ayah, tapi Nadhira tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun yang ingin dia ucapkan pada sang Ayah, yang dia kangenin selama ini.
''Sayang?'' sapa Bu Susi pada Puteri nya yang sedang termenung.
Nadhira menatap Bu Susi sekilas dan kembali menatap Pak Arifin sang Ayah.
Nadhira tau maksud dari sang Ayah dan juga Ibu nya datang ke rumah Abah Rahman, ''Pasti ada yang tak beres,'' pikir Nadhira masih menebak nebak.
''Ayah, apa ada sesuatu yang penting,'' tanya Nadhira memberanikan diri.
Pak Arifin hanya mengangguk pelan, dan masih menatap puteri nya.
''Kalau ada yang mau di omongin pada Nadhira, ngomong saja Pak,'' Ucap nya lagi.
Pak Arifin menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan.
''Sebenarnya Bapak kemari untuk membicarakan soal pertunangan kamu Ndok?'' tutur Pak Arifin menundukkan kepalanya.
''Deggg,'' jantung Nadhira terasa berhenti mendengar tentang pertunangan yang Ayah nya ucapkan barusan.
Namun Nadhira mencoba untuk tetap tenang dan terus mendengar kan ucapan demi ucapan yang Ayah-nya sampaikan.
Nadhira tersenyum seraya memutar otaknya yang terus memikirkan kata kata pertunangan.
''Mungkin sudah waktunya aku mengikuti kemauan dari orang tuaku, selama ini mereka berdua sudah mengikuti setiap keinginan ku, jadi sekarang waktunya aku yang mengikuti ucapan nya,'' bathin Nadhira berkecamuk.
''Kalau menurut Ayah orang itu baik untuk Nadhira terima saja, aku pasrahkan semuanya pada Ayah dan juga Ibu,'' Gumam Nadhira pasrah.
''Acara Lamaran nya akan di adakan minggu depan, Ayah harap kamu memaafkan Ayah karena ini semua salah Ayah, kamu berhak marah pada Ayah.'' sahutnya dengan perasaan sedih nya.
''Maksud Ayah apa Bu, Nadhira tak mengerti yang Ayah ucapkan,'' tanya Nadhira menatap sang Ibu.
''Gini Ndok, Ayahmu semasa muda nya punya perjanjian dengan seorang teman nya, teman nya berjanji akan menjodohkan anak anaknya kelak, agar tali silaturahim tetap terjalin, dan Ayahmu mengiyakan perjanjian tersebut. Bulan kemarin Ayah mu bertemu dengan teman nya dan dia pun langsung membahas masalah perjodohan tentang anaknya dengan kamu Ndok,'' jawab Bu Susi menjelaskan pada puteri nya.
__ADS_1
Nadhira mengangguk pelan, mengerti apa yang di rasakan sang Ayah, lantas Nadhira tersenyum walau di dalam hatinya terasa sakit dengan kenyataan ini, yang ternyata dia sudah di jodohkan sedari dia kecil.
Nadhira menghembuskan nafas dengan kasar seraya berkata oada sang Ayah.
''Ayah nggak usah menyalahkan diri Ayah, mungkin ini semua sudah takdir Nadhira, tapi Nadhira punya satu keinginan dan harus di penuhi,'' Tutur Nadhira tegas.
''Nadhira ingin melanjutkan sekolah Nadhira, kalau suatu hari nanti keluarga mereka memaksa Nadhira untuk segera menikah sebelum sekolah ku usai, Nadhira akan tolak itu semua, Nadhira masih umur segini masak harus punya suami, gimana Nadhira merawat suami Nadhira dan juga anak anak Nadhira kelak,'' Ujar Nadhira penuh dengan ketegasan.
''Iya Bapak janji, itu tidak akan terjadi, dan makasih sudah memaafkan Bapak,'' sahut Pak Arifin.
''Sekarang semua nya sudah kelar, jadi mari kita makan dulu,'' Ucap Umi Upik bangun dari duduk nya.
Semuanya mengikuti Umi Upik ke ruang makan yang lumayan besar, karena ruangan tersebut hanya di khususkan untuk menyambut tamu yang lumayan banyak.
Nadhira mengambilkan nasi untuk Ayah serta sang Ibu, tak lupa juga Nadhira mengambilkan makanan untuk Abah Rahman, dan Umi Upik, sedangkan Hendri yang baru datang tak ia ambilkan.
Hendri sudah mengulurkan piringnya pada Nadhira, namun di tolak mentah mentah sama Nadhira.
''Mas Hendri kan punya tangan, ambil saja sendiri,'' cetus Nadhira dingin.
''Kenapa sich Dek, galak banget hari ini, Mas kan nggak punya salah hati ini,'' Ucap Hendri dengan nada di bikin sesedih mungkin.
'''Adikmu mau tunangan minggu depan,'' tutur Abah Rahman pada Hendri.
''Apaa!!!'' Ucap Hendri dengan ke kagetan nya.
''Adik kok nggak bilang sama Mas sich, kenapa di terima sich Pak,'' tanya Hendri pada Pak Arifin dan juga Nadhira.
Nadhira hanya menaikkan kedua bahunya, tanda tak tahu menahu.
Hendri nampak cemberut mendengar Adiknya akan bertunangan.
''Secepat ini sich Dek, gimana kalau laki-laki nya minta cepat nikah nya,'' Gumam Hendri.
__ADS_1
Pak Arifin hanya menghela nafas tak enak hati dengan sikap nya yang sembarang terima orang.
''Minggu depan kami semua akan mengantarkan Nadhira ke rumah nya. Karena Nadhira harus sekolah dulu,'' Gumam Abah Rahman yang di angguki oleh Pak Arifin.
''Baiklah, kami tunggu di rumah,'' jawab Pak Arifin dengan senyuman nya.
Nadhira tanpak biasa saja menanggapi kalau dirinya akan mempunyai tunangan, Nadhira sendiri tidak bertanya siapa yang akan jadi tunangan dia, dengan orang mana dia akan bertunangan, Nadhira begitu pasrah dengan keputusan yang ayahnya putuskan untuk nya.
Nadhira nampak melamun memikirkan bayangan wajah wajah yang akan menjadi tunangan nya minggu depan.
''Kalau aku sampai mendapatkan orang yang galak, jangan salahkan aku kalau orang tersebut mendapatkan bogeman dari ku,'' bisik Nadhira di dalam kamar nya.
''Huch, kenapa harus sekarang sich, di saat aku sudah mulai bergabung dengan Grub tari, ada saja halangan nya,''
''Mungkinkah aku masih bisa sebebas kemarin dalam mengambil sebuah keputusan,'' Gumam nya pelan.
Nadhira mengacak rambut nya yang lumayan panjang, sehingga menjadi berantakan.
''Masya Allah,'' Ucap Hendri dengan Keterjutan nya.
''Apa apa'an sih kamu Dek?'' tegur Hendri pada Nadhira yang sudah mirip dengan sundel bolong.
''Apa sich Mas, masuk tiba-tiba dan nggak tau kenapa takut githu lihat Nadhira,'' celetuk Nadhira menyisir rambut nya yang sangat berantakan.
''Gimana dong Mas, apa Nadhira masih di bolehin ikut gabung dengan Grub tari Mas Fajar,'' tanya Nadhira sedih.
''Kenapa harus nggak boleh ikut gabung sich Dek??'' jawab Hendri yang tak mengerti sepenuh nya ucapan Nadhira barusan
''Maksud Nadhira sama laki-laki yang akan jadi tunangan Nadhira Mas,'' teriak nya kesal, karena jawaban Hendri tak sesuai dengan pemikiran Nadhira.
''Kirain sama orang di Studio yang nggak bolehin, ya Adek ngomong lah sama dia besok, kalau kamu ikut Grub tari, ingat jangan ada yang sembunyikan dari dia, kalau laki-laki itu melarang kamu untuk melakukan ini itu, kamu harus gercep (gerak cepat) memutuskan sesuatu buat kebaikan kamu, karena laki-laki seperti itu suka ngatur ngatur,'' jelas Hendri panjang lebar membahas Nadhira yang ikut gabung dalam Grub tari Artis komplek.
''Itu yang Nadhira pikirkan sekarang Mas, semoga laki-laki nya O'on ya, yang selalu nge bolehin Nadhira untuk hal lainnya,'' sahut nya menghela nafas lega.
__ADS_1
BERSAMBUNG