
Sesampainya Nadhira turun dari Bus dan di lanjutkan dengan jalan kaki menuju ke rumahnya yang tak seberapa jauh dari jalan raya.
Nadhira memilih jalan kaki dari pada menelefon sang Abang di rumahnya.
Nadhira pengen membuat kejutan pada semua sanak keluarganya yang besar kemungkinan sudah berkumpul di rumahnya, menyambut kedatangan calon anggota barunya di dalam keluarga Arifin.
Di perjalanan ke rumahnya, Nadhira selalu menganggukkan kepalanya saat bertemu para tetangganya yang menyapa dia
"Kok jalan kaki Ndok?" Tanya sang tetangga ramah.
"Iya Pak, pengen jalan kaki saja," jawabnya sopan sembari menyunggingkan senyuman pada tetangganya.
"Nadhira duluan ya Pak?" Pamit Nadhira sopan.
"Ya sudah hati hati," ucapnya menatap kepergian Nadhira yang kini mulai tumbuh remaja.
"Cantik," gumamnya.
Herman menatap ponselnya sedari tadi,menunggu kabar dari sang Adik yang ia tunggu. Herman mulai gusar dalam menanti kabar dari Nadhira yang sedari tadi di tunggu telefonnya.
Herman yang mondar mandir tidak mengetahui kedatangan Nadhira yang sudah ada di belakang punggungnya.
Nadhira memeluk sang kakak dari belakang karena sudah lama tidak bertemu, membuat Nadhira sangat kangen pada kakaknya yang sebentar lagi akan mempersunting kekasih hatinya.
Herman yang kaget langsung berbalik pada orang yang memeluknya dari belakang.
"Adik?" Gumam Herman membalas pelukan Nadhira.
"Kenapa nggak telefon Mas sich Dek?" Tanya Herman.
Nadhira menjawab, "Nadhira nggak mau merepotkan Mas Herman, lagian Nadhira pengen membuat kejuta pada semua orang."
"Nakal ya sekarang, pakek acara kejutan segala," ujar Herman memencet hidung mancung Nadhira.
"Ya sudah ayo kita temui Ibu sama Ayah?" Ajak Herman menggenggam jemari Nadhira Adiknya.
Nadhira mengangguk dan mengikuti langkah sang kakak untuk menemui orang tuanya yang sudah sangat merindukan kedatangan Nadhira sejak dari kemarin kemarin nya.
"Assalamualaikum," ucap Nadhira mematung.
"Waalaikum salam," jawab Bu Susi yang lagi mengobrol dengan saudara jauhnya.
Bu Susi tertegun melihat Nadhira ada di depannya. Lama Bu Susi menyadari kalau itu adalah Putrinya yang di kangeni.
Ya Nadhira masih memakai masker nya, karena masih di wajibkan memakai masker saat berada di perjalanan.
"Herman, ini siapa," tanya Bu Susi pada putranya.
__ADS_1
"Masak Ibu nggak mengenali sich siapa dia?" Tanya Herman.
Bu Susi menggeleng pelan seraya berkata, "Siapa Lhe??"
"Ibu benar benar tidak mengenali Adik," tanya Herman lagi.
"Adik..., Adik yang mana," gumamnya pelan.
Nadhira masih belum beranjak dari tempatnya ia berdiri. Nadhira hanya menatap sang Ibu yang penasaran pada dirinya saat ini.
"Ibu? Ini Nadhira," kata Nadhira membuka masker yang ia pakai.
Baru setelah itu Bu Susi langsung menghambur kepada sang putri, dan memeluknya dengan erat, melepsa rasa kangen nya yang selama ini ia pendam.
Nadhira tersenyum dia membalas pelukan dari sang Ibu, seraya berujar.
"Maafkan Nadhira ya Bu, karena Nadhira jarang pulang?" Bisik pada Bu Susi.
"Nggak apa apa kok sayang, Ibu maklumi kamu kok. Lagian kamu sekarang sudah jauh di tambah lagi kegiatan sekolah kamu saat ini," gumamnya melepas pelukannya karena sang Ayah menghampiri Nadira serta Bu Susi.
"Ayah??" Sapa Nadhira dan menghambur kepada sang Ayah yang baru saja muncul.
"Sayang," sahut Pak Arifin memeluk putrinya.
"Kamu sendirian pulangnya,"
Sang Ibu dan Ayah nya mengelus punggung Nadhira.
''Ya sudah istirahat dulu gich sana, sebentar lagi tunangan Mas mu bakalan datang.'' Ucap Pak Arifin lembut pada Putri nya.
Nadhira tersenyum dan mengangguk, namun sebelum dia melangkah pergi Nadhira merengek. ''Tapi Nadhira nggak mau istirahat?''
''Terus maunya apa coba Adekku sayang?'' Gumam Herman merangkul sang Adek.
''Mau mandi...'' rengek nya terkirim malu karena banyak orang yang melihat tingkah manja Nadhira.
''Udah ach! Nadhira mau mandi dulu,'' ujarnya berlalu masuk ke kamarnya seraya tertawa renyah dengn kekonyolan nya barusan.
Nadhira mengambil handuk dan membawa serta baju ganti ke kamar mandi. Sebelum sampai di kamar mandi Nadhira di sapa oleh saudara jauhnya yang juga datang di acara lamaran Herman kakaknya.
''Nadhira kah?'' tanyanya menatap Nadhira.
Nadhira tersenyum dan mengangguk pelan, ''Iya Mas,''
''Waduh bikin pangling sekarang ya,''
Nadhira tertawa renyah, ''Mas Al bisa saja, pangling karena Mas Al nggak pernah main ke rumah Nadhira.'' tuturnya lembut.
__ADS_1
''Iya juga sich, Mas terlalu sibuk sekarang ini,''
Nadhira mengernyit kan dahinya. ''Sibuk sama cewek yang mana lagi nich?'' ledek Nadhira.
''Bu...'' Al tidak menerus kan ucapan nya karena langsung di potong sama Nadhira.
''Ya sudah Nadhira pamit mandi dulu Mas, takutnya kak Rara keburu dateng namun Nadhira belum mandi?'' pamit Nadhira yang langsung di angguki oleh Alvaro saudara jauhnya.
''Iya dech,'' jawab Al melangkah pergi menemui Herman yang ada di teras rumahnya, di sana sudah di hias sedemikian rupa agar waktu tukar cincin agak berbeda dari orang orang lainnya.
''Mewah banget ya, acara lamaran saja pakek di hias kayak gini,'' cakap Alvaro menepuk punggung Herman.
''Biasa saja kok, ini semua rencana Adik.'' jawab Herman.
''Nadhira yang merencanakan ini semua, untukmu?'' tanya Alvaro heran.
''Iya, Adik bilang biar jadi kenangan yang tak terlupakan.'' sahut Herman menyuruh sepupu nya duduk di sampingnya.
''Adik mu juga sangat hebat sekarang dan satu lagi yang patut di puji.'' seloroh Alvaro.
''Apa'an?'' tanya Herman penasaran.
''Satu kata,''
''Iya apa'an, jangan bikin aku penasaran dech.''
''Cantik!'' tutur Alvaro berbarengan dengan kedatangan Eza dan teman temannya.
Herman menepuk punggung Alvaro seraya berkata, ''Sebentar ya, aku tinggal ke sana dulu,'' Ujar Herman beranjak dari duduk nya lalu melangkah menghampiri Adi, Eza dan juga lainnya.
''Wich selamat ya Bro, akhirnya gue kalah telak dari lho.'' Ucap Adi menjabat tangan Herman dan mengadu punggung nya dan menepuk nepuk pelan.
''Lho saja yang nggak niat untuk melamar Risa, di gebet orang baru nyahok lho.'' Gumam Herman terkekeh.
''Oia bro, cewek cantik ku sudah dateng belom, gue kangen banget nich sama cewek cantik yang satu ini.'' Rengek Adi layaknya anak kecil.
''Ya pasti dateng lah bro, masak acara lamaran Abangnya gadis cantik nggak mau hadir sich, lho saja yang dodol?'' menonyor kepala Adi yang sedang merajuk.
''Aku pengen lihat gadis cantik dong Her?'' pinta Adi sedikit memohon.
''Jangan macem-macem, Adek lagi mandi dia baru datang, makanya lama mandi nya, mungkin dia masih berenang di kamar mandi.'' canda Herman yang mengundang gelak tawa dari semua orang yang mendengar nya, termasuk Eza juga yang menyunggingkan senyuman nya.
👉👉👉👉
jangan lupa mampir juga di karya receh ku ''Keinginan Anastasya''
Makasih 🙏🙏🙏💕💕
__ADS_1