
Kenapa buru buru pulang sich bro?'' seru Adi yang baru sampe di depan rumah Nadhira.
Ya, ketika Adi sampai di depan rumah Nadhira Eza sudah menunggu di sana dengan perasa'an yang bercampur aduk ketika melihat Nadhira tadi.
''Kenapa kamu di luar sich, bukan nya nunggu di dalam saja,'' Ujar Adi ketika sudah ada di hadapan Eza, tetangga sekaligus sahabat nya juga.
''Di dalam nggak ada temen nya,'' jawab Eza datar, ''Lagian kamu tadi nggak mau ikut ke sini,'' tambah nya lagi yang kini sudah menatap wajah sahabat nya yang terlihat begitu lelah karena baru pulang kerja.
''Bukannya aku nggak mau ikut, tapi aku kan sibuk kerja? dan aku juga tidak boleh ijin,'' jawab Adi pasrah.
''Ayo masuk Di,'' ajak bang Herman yang baru keluar dari dalam rumah nya, dan mendapatkan Adi masih berdiri saja di luar rumah nya.
Eza sengaja di tinggal oleh keluarga besar nya, agar dia bisa ngobrol banyak dengan Nadhira, tapi nyatanya Nadhira malah masuk ke dalam kamar nya, Eza mah bisa apa kalau tidak pulang ke rumah nya.
Flashback off.
****************
''Ayo bang di minum dulu, maaf cuma ada seperti ini saja?'' ucap nya dan mendudukkan diri di depan Eza.
''Nggak apa apa, ini saja sudah cukup kok?'' jawab Eza ramah. ''Kapan kuenya Nadhira akan pulang,'' tambah nya lagi.
__ADS_1
''Mungkin sebentar lagi Bang, Abang tunggu saja di sini,'' balas nya dengan menganggukkan kepalanya pelan, karena ada orang tua santri yang sedang berpamitan dengan cara menganggukkan kepalanya.
''Di sini lumayan rame kalau hati seperti ini ya,'' tanya Eza basa basi, karena dia tidak tau harus membahas apalagi dengan laki-laki yang ada di depan nya.
''Kalau libur sekolah memang selalu ramai Bang, tapi kalau hari hari biasa lumayan sepi, karena orang yang akan datng tidak akan bertemu dengan anak anak nya karena sedang sekolah,'' jawab nya santai seraya mengulas senyum di bibir nya.
''Kalau boleh tau, kegiatan Nadhira sendiri seperti apa di sini, sejak lima tahun kami bertunangan aku belum pernah masuk ke dalam Pondok Pesantren puteri,'' tanya Eza yang sedikit penasaran dengan kegiatan Nadhira selama berada di Pondok Pesantren.
''Aku juga belum pernah masuk ke sana juga sich Bang, tapi yang aku dengar dari pengurus puteri, Nadhira ikut mengajar di kelas Awal,'' jawab Imam pengurus laki-laki tersebut. (Kelas Awal yang di maksud adalah sekolah diniyah yang pertama).
Eza hanyak menganggukkan kepala nya pelan, karena Eza sendiri tidak pernah bertanya kegiatan yang di lakukan Nadhira selama ini, kadang kalau Eza sedang libur bekerja, dia hanya menjemput nya saja untuk sekedar bertemu dengan orang tuanya, dan itu pun hanya beberapa jam saja tidak sampai berhari hari.
''Memang Bang Eza tidak tau kegiatan dia gitu,'' tanya nya menyelidik, karena Eza sudah sangat lama bertunangan dengan Nadhira.
''Abah sama Umi pergi ke rumah orang tua Ustad Dayat, katanya di sana sedang ada acara,'' jawab nya mengernyitkan dahi nya karena Eza baru bertanya sekarang, padahal sudah hampir setengah jam dia datang dan dia baru bertanya pengasuh Pondok Pesantren tersebut.
''Jangan jangan Nadhira ikut Abah sama Umi lagi,'' sela Eza dengan keterkejutan nya.
''Ya nggak mungkin lah Bang, kan Umi dan Abah berangkat tadi pagi, sedangkan Nadhira kira kira berangkat dia jam yang lalu Bang?'' jawab nya dengan menggelengkan kepala nya pelan.
''Nah tuh sudah datang?'' seru Imam ketika mendengar bunyi mobil datang dan sedang menuju halaman Pondok Pesantren nya.
__ADS_1
''Hafal banget kamu ya dengan suara mobil mobil yang datang, atau mobil itu bukan mobil yang di tumpangi Nadhira lagi,'' gumam Eza tidak percaya dengan ucapan Imam, kalau mobil tersebut adalah mobil yang di kendarai oleh Nadhira.
Imam dan Eza lalu keluar dari ruang tunggu secara bersama'an, membuat Nadhira yang tengah membuka bagasi mobil terbelalak kaget melihat tunangan nya sedang berjalan menuju ke arah nya.
''Eza?'' sapa neng Laili ketika melihat tunangan Nadhira.
''Nadhira biar Imam saja yang mengeluarkan barang itu, kamu bantu aku bawa Zahra masuk saja, dan jangan lupa ajak juga tunangan kamu masuk,'' suruh neng Laili kepada Nadhira.
Nadhira mengangguk dan segera mengambil Zahra yang sedang tertidur di pangkuan Bunda nya.
''A-yo kak masuk?'' ajak Nadhira dengan gugup, karena sudah satu tahun ini Nadhira tidak bertemu dengan Eza.
Ya, walaupun mereka sudah tunangan sangat lama, Nadhira dan Eza memang jarang sekali berkomunikasi satu sama lain nya, tidak seperti pasangan yang lain nya. Yang setiap hari selalu memberi kabar dan setiap minggu berkencan. Nadhira hidup di lingkungan Pondok Pesantren, meski dia sudah di anggap keluarga sendiri oleh sang Kyai, Nadhira tidak pantas berbesar kepala dan bermain ponsel ketika berada di lingkungan pondok pesantren nya, ponsel Nadhira hanya akan nyala ketika dia sudah berada di kamar nya sendiri, hanya sekedar melihat lihat grub watsapp di kampus nya.
Eza berjalan mengikuti Nadhira yang sedang menggendong Zahra masuk ke dalam rumah neng Laili. ''Duduk kak?'' Ucap Nadhira ketika sudah ada di dalam rumah yang ia tempati selama 3 tahun ini.
Sebelum nya Nadhira berangkat dari rumah Hendri ke kampus nya, karena Hendri masih belum bisa jauh dari sang adik, tapi lama lama Hendri sadar kalau Nadhira berangkat dari rumah ke kampus nya sangat lah jauh, membutuhkan waktu 4 jam untuk sampai ke kampus nya, karena itulah Dayat mengajak Nadhira untuk kembali ke Pondok Pesantren lagi dengan persetujuan dari Hendri. Eza sendiri tidak pernah melarang Nadhira di mana dia tinggal, karena Eza sadar keluarga dari Hendri dan juga keluarga pondok pesantren nya sangat sayang dengan Nadhira.
''Nadhira, kamu temani Eza saja. Aku sudah menyuruh bi Inah bikinin minuman,'' tutur nya dengan mengambil alih Zahra di gendongan Nadhira.
Nadhira hanya bisa patuh dengan sang neng, karena mungkin ini semua sudah kewajiban nya sebagai tunangan yang dulu juga sudah pernah nikah Siri.
__ADS_1
(Nikah Siri saat bertunangan, mereka berdua takut melakukan hal hal yang bisa berujung zina, karena berpegangan tangan yang bukan muhrim nya juga bisa berdosa).